
"AHHHHH."
Irine terbangun dari mimpi indahnya setelah mendengar teriakan Zujy. Irine mengucek - ngucek matanya berusaha untuk duduk.
"Rin!! Bangun! Perilisan game itu hari ini!!" ucap Zujy segera berlari menuju kamar mandi.
Irine tersenyum menatap Zujy. Setelah bersih - bersih kemarin, Ayah Zujy menyuruh mereka segera ke kota untuk menghadiri rapat penting yang harus mereka hadiri sebagai penerus perusahaan NZ.
Dan kini mereka berada di kamar Zujy, setelah kemarin sampai larut malam setelah menghadiri rapat.
Irine melirik ruangan yang tidak asing ini, kamar yang amat besar berwarna biru langit serta dipenuhi barang mewah serta modern.
Irine beranjak dari duduknya.
"Hai lampu gantung."
Irine terkekeh dengan suasanan kamar yang megah ini setelah dua tahun lebih berada di rumah yang kecil dan sederhana.
"Nona, nona sudah bangun?" ucap pelayan wanita mengetuk pintu kamar.
"Iya."
"Nyonya menunggu untuk sarapan di bawah."
Irine kembali menyahut iya lalu berjalan memasuki kamar mandi dan mencuci wajahnya. Ia melirik Zujy yang tengah mandi di balik kaca transparan yang buram.
"Zui!!"
"Ahh!! Aku lupa kunci! Keluar Rin!!" teriak Zujy.
Irine terkekeh. "Tidak kelihatan! Buram!!" setelah itu ia keluar.
Irine berjalan melewati lorong yang megah dan langkahnya terhenti di ruang keluarga, ia menatap Arka yang tengah bermain ps.
"Nanaa!! Kakak kembali!!" Teriak Irine di lantai atas menatap Arka yang bermain di lantai bawahnya.
"Kak Irine? kenapa kakak di sini? mana kakakku?" tanya Arka menatap Irine yang berjalan turun melewati tangga.
"Akhirnya libur juga, aku kangen padamu Nana! Kau sekarang umur 10 tahunkan?!" ucap Irine ingin memegang kepala Arka namun ditahan Arka.
"Kakak belum menjawab pertanyaanku."
Irine melepas tangan Arka dari tangannya.
"Hah!? Semakin besar kau semakin tidak sopan!"
Irine menatap tajam Arka yang juga menatap tajam Irine.
"Bukankah kakak juga sama."
Arka berjalan menjauh menuju tangga turun.
"Aku tidak mirip denganmu, nana..." Irine menghela nafas dan kembali menaiki tangga memikirkan betapa miripnya sikap Arka dengan Ayah Arka.
"Padahal wajahmu mirip tante Runi."
"Dasar anak itu!! Apa dia tidak belajar sopan santun!!" gumam Irine kesal.
Irine memasuki ruangan dan terkejut dengan makanan mewah yang terletak di atas meja panjang yang mewah. Ia segera duduk di salah satu kursi.
"Rin, apa kabar?"
Irine melirik ke depan dan tersenyum kaku menatap nyonya besar keluarga dirni dan ibu dari Zujy.
"Baik tante." Irine yang tadinya hendak makan seketika memperbaiki duduknya.
"Kebiasaan - kebiasaan," gumam Irine.
"Makan saja, jangan pedulikan tante," ucap Runi yang duduk di depan Irine.
"Tante belum makan."
Runi terkejut dengan perkataan Irine. "Kau masih saja bersikap seperti ini, ini bukan di kastil jadi sekali - kali melanggar aturan tidak apa - apa," ucap Runi tersenyum.
Irine tersenyum lebar dan makan dengan lahap.
Zujy keluar dari kamar mandi sembari memakai baju lengan panjang dan rok pendek, ia melirik sekitar memastikan keberadaan Irine.
Ia tidak memakai kontak lensnya sekarang karna berada di rumahnya, ia juga tidak menutupi wajahnya dengan poni. Walau begitu banyak pelayan yang berada di rumah ini, para pelayan tidak mungkin membeberkan identitas Zujy karna status Ayahnya. Bahkan para pelayan tidak sanggup menatap mata semua anggota keluarga Dirni.
Dan sebagian pelayan berasal dari kastil keluarga Dirni yang berada di Amerika tempat Zujy tumbuh besar sebelum menetap di Indonesia bersama ibunya yang adalah orang Indonesia asli.
Ia membuka pintu lalu berjalan melewati lorong serta tersenyum kepada pelayan yang dilihatnya.
Langkahnya terhenti menatap ps yang menyala di ruang keluarga, ia memanggil pelayan dan menanyakannya.
Pelayan membalas pertanyaan Zujy lalu segera mematikan ps dan menyimpannya.
Zujy juga sempat menanyakan ayahnya dan pelayan memberitahu bahwa ayahnya kembali ke Amerika.
Zujy naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar adiknya, namun tidak ada jawaban.
"Mana mungkin jam segini masih tidur, atau Nana di Amerika?" Zujy membuka pintu kamar Arka dan tidak ada seorangpun di dalam.
"Syukurlah." Zujy kembali turun ke lantai 3 setelah mengecek kamar Arka.
Ia takut kalau Arka marah dan merusak barang - barang lagi namun hatinya lega melihat kamar dan sepenjuru rumah tidak ada yang berubah.
Zujy memasuki ruang makan dan terkekeh menatap Irine yang makan dengan lahap.
Ia menyapa ibunya lalu duduk di samping Irine dan ikut makan.
Setelah selesai makan mereka mulai berbicara.
"Temani aku pergi, Pak Fin ternyata diliburkan," ucap Zujy memperhatikan pelayan yang membereskan piring mereka.
"Maaf, aku tidak bisa. Ayahku kembali ke Indonesia hari ini, aku harus bertemu dengannya, hehe."
Irine beranjak dari duduknya setelah berpamitan dengan Runi, ia menuju kamar Zujy untuk mandi sebelum pergi.
"Mmm, jadi aku sendirian."
Zujy beranjak dari duduknya dan terhenti saat menatap Arka yang mendekatinya.
"Kakak tambah cerewet," ucap Arka memeluk Zujy.
"Nana, kakak merindukanmu. Kau tambah tinggi."
Arka terus memeluk Zujy, Runi hanya tersenyum menatap Arka lalu Zujy.
"Kakak sudah kembali, aku merindukan kakakku."
Zujy melepas pelukan Arka lalu mencium kening Arka.
"Kau mirip sekali dengan Ayah."
Arka tersenyum melihat kakaknya yang cerewet telah kembali, kakaknya yang asli.
"Mau menemani kakak untuk membeli game baru?"
Arka mengangguk.
"Zui, Arka. Ibu mau pergi ke perusahaan sekarang."
Zujy dan Arka mengangguk dan Runi berjalan menjauh.
Bersambung