Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Menyebalkan



POV Yoel.


Aku berjalan masuk ke dalam kastil yang begitu besar, kastil yang hampir seluruhnya berwarna emas terlihat sangat megah. Beberapa saat aku melewati gerbang pintu masuknya di sana terdapat seorang wanita berpakaian putih berjongkok sembari melamun.


Kenapa Irine duduk di sini?


"Ah! kenapa kekasihku termenung di sini?" sahutku seketika ia menatapku.


Senyum diwajahnya terasa sangat bahagia, wanita itu memelukku. Rambut emasnya seakan mengunci pandanganku.


"Bagaimana kau bisa di sini?" tanya Irine sembari melepaskan pelukannya dan memegang tanganku erat.


Kali ini tatapanku seakan terkunci pada mata birunya yang seperti berlian, berlian itu berlinang air mata namun tidak ingin meninggalkan berliannya.


"Aku ingin menemuimu," balasku.


"Lalu bagaimana dengan Zui? dia melarang kita bertemu."


Aku heran mendengar perkataan Irine, Zui sama sekali tidak pernah melarangku bertemu Irine. Aku menggelengkan kepalaku membuat Irine kembali tersenyum.


Namun beberapa saat kemudian mimik wajah Irine berubah, dia menundukkan wajahnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.


Aku menariknya untuk masuk ke suatu ruangan, tidak nyaman berbicara di sini. Aku menariknya masuk ke dalam ruangan kedap suara, tempat Zui selalu menyendiri. Aku tahu itu karna aku pernah sekali melihatnya menangis sendiri di dalam sini.


Kebetulan ruangan ini tidak pernah terkunci dan aku mendapat izin dari Zui untuk memasukinya. Irine juga pasti tahu ruangan apa ini. Ruangan serba biru laut ini sangatlah nyaman, tidak ada AC ataupun jendela di sini namun udaranya sangat segar.


Hanya ada monitor besar yang terpasang di dinding namun hanya Zui yang bisa menyalakannya. Di sini sama sekali tidak ada kursi jadi kami berdiri tepat di tengah ruangan kecil itu.


Aku menatap Irine yang juga menatapku, mata kami saling bertemu dan tidak ingin melepaskan.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Irine lagi.


Aku sama sekali tidak baik - baik saja, aku sampai kehilangan kendali kemarin dan memeluk Zui. Tapi saat melihat Irine hatiku berkata semuanya akan baik - baik saja. Aku tidak yakin keluarga Charles akan membantu kami, sudah hal yang pasti jika mereka ingin memisahkan kami setelah mendengar kabar ini. Tapi aku tidak ingin itu terjadi.


"Aku baik - baik saja saat melihatmu," ucapku mencium tangan lembut Irine.


"Lalu? bagaimana keadaan di luar?" tanya Irine membuatku menggeleng - gelengkan kepala.


"Sama sekali tidak baik, semuanya menjadi kacau."


"Lalu? bagaimana keadaan Zui?"


"Bagaimana keadaanya?" tanya Irine lagi ketika tidak mendengar jawaban dariku.


"Rin, bagaimana keadaanmu?" tanyaku membuat Irine tertegun.


Tanpa aba - aba apapun, wanita di depanku mematung seakan mencari jawaban yang harus di ucapkannya.


"Aku baik - baik saja!!" tegas Irine.


"Betul?"


Irine menganggukkan kepalanya tiga kali, lalu kembali berbicara. "Bagaimana hubungan kita?"


"..." aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan Irine lagi.


Aku dan Irine tahu betul bagaimana para petinggi, tidak mungkin mereka membiarkan kami lolos begitu saja.


"Hanya satu persen," ucap Irine menatapku dengan serius.


"Hanya satu persen kita bisa selamat dari petinggi, 99 persennya kita akan dipisahkan."


"Apa rencanamu?" tanyaku.


Irine tersenyum sangat serius, sepertinya Irine sudah tahu apa yang akan dilakukannya.


Di sisi lain, Zujy baru saja kembali dari rumah sakit. Mereka berpisah di gedung NZ, Leo mengarah ke ruangannya sedangkan Zujy mengarah ke perusahaan Dirni.


Semalam ia sudah melakukan apa yang diperlukan untuk skandal Irine dan sekarang ia harus mengurus Perusahaan Dirni dulu. Ia sudah menyuruh Yoel membuat surat klarifikasi di media sosialnya dan ia juga sudah menulis surat klarifikasi jika surat Yoel tidak berhasil.


Oh ya, ketua tim manajemennya sudah tertangkap namun para pemegang saham ingin mengambil kembali saham mereka. Seharusnya semuanya sudah berakhir jika para pemegang saham tidak ingin mengambil saham mereka lagi.


Di ruangan meeting Zujy terus berusaha meyakinkan para pemegang saham dan sebagiannya membatalkan rencananya untuk mengambil sahamnya.


Namun salah satu pemilik saham yang mempunyai 50% saham di perusahaan Dirni tidak ingin membatalkan rencananya dan tetap pada tujuannya yaitu mengambil sahamnya kembali. Zujy sedikit heran padahal lelaki itu malah akan rugi jika mengambil sahamnya namun ia tetap bertekad pada tujuannya.


Lelaki tinggi yang umurnya mungkin setera dengan Agler, berambut hitam itu adalah salah satu pemegang saham tertinggi di perusahaan Dirni. Jika ia mengambil kembali sahamnya mungkin semua pemegang saham di bawah 50% akan mengambil sahamnya juga.


Zujy terus mencoba membujuknya dan ia mengiyakan dengan satu syarat. "Saya tidak akan mengambil sahamku jika anda mau menikah dengan anakku," ucapnya membuat semuanya terkejut.


Pasalnya di ruangan ini semuanya tahu bahwa Zujy sudah bertunangan dengan Leo namun ia tetap membuat syarat itu, mana mungkin Zujy menerimanya.


Setelah menerima penolakan mentah - mentah dari Zujy, ia kembali tersenyum.


"Kalau anda tidak mau aku akan mengambil sahamku."


"Tuan Grissham! anda sudah tidak sopan!" ucap salah satu pemegang saham yang sedikit lebih tinggi darinya namun orang tua itu terus tersenyum.


"Pikirkan baik - baik nona, anak saya cukup tampan dibandingkan tunanganmu sekarang. Saya akan mengatur pertemuan kalian jadi bersiaplah dengan baju yang dikelilingi berlian dan rambut yang terbalut berlian, anda harus terlihat cantik," kekeh Tuan Grissham berjalan pergi meninggalkan ruangan meeting.


Di dalam hati Zujy sudah mengumpat sedari tadi, bagaimana bisa orang tua tidak tahu sopan santun itu malah mengejeknya. Gaun berbalut berlian? omong kosong apa itu, Zujy tidak perlu memakai gaun berlian hanya untuk menemui anak itu.


'aku hanya merugikan para desainerku kalau memakai berlian untuk menemui anakmu,' gumam Zujy dalam hati.


Ia sudah tidak menyukai orang tua itu sejak masuk ke perusahaan ini, orang itu sangat sombong dan licik. Tidak ada yang menyukainya di sini.


"Ayahnya saja seperti itu, bagiamana dengan anaknya," gumam Zujy seketika menerima pesan dari nomor tidak dikenal.


?? : Hi Lady, Saya Devan Grissham. Sepertinya Ayahku merepotkanmu. Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu.


Membaca namanya sudah jelas dia siapa. Zujy kembali menyimpan hp dengan kasar dan menyudahi meeting hari ini.


Zujy berjalan keluar dan membalas pesan lelaki itu. Terpaksa Zujy membalasnya.


"Ya." ketiknya singkat.


Zujy tidak berniat membalas lelaki itu dengan ramah.


Tidak ada balasan darinya hingga sejam, Zujy tersenyum. Sepertinya ia sudah malas membalas pesan Zujy yang terkesan jutek.


Dan seketika Zujy menerima telpon dari seseorang ketika berada di ruangannya.


"Ada apa?" tanya Zujy menerima telpon dari Irine.


"Aku dan Yoel ingin mengadakan konferensi pers!"


Zujy seketika terdiam, ia sudah memikirkan hal itu sejak lama namun ia ingin mengirim surat klarifikasi dulu. Jika tidak berhasil barulah melakukan konferensi pers.


"Jika surat klarifikasi Yoel dan aku tidak berhasil baru kita akan mengadakan konferensi pers, untuk sementara Irine cobalah meyakinkan para fans melalu media sosial. Katakan semuanya hanya salah paham!" ucap Zujy.


"Aku ingin mengatakan yang sebenarnya."


Zujy kembali terdiam, jika Irine mengatakan yang sebenarnya akan lebih cepat menyelesaikan masalah namun bisa membuat Yoel menjadi buruk di mata media karna hanya anak angkat yang tidak tahu berasal dari mana, sedangkan jika Irine berbohong maka hubungan mereka tidak akan bisa berlanjut lagi.


Namun pilihan pertama ditentang para petinggi keluarga Charles, entah karena apa atau mereka ingin melindungi Yoel?


"Tidak bisa, para petinggi menentangnya," ucap Zujy seketika sambungan telpon terputus.


Irine menutup sambungan telponnya dan menatap Yoel, ia sudah tahu Zujy akan berkata seperti itu.


Sekarang pilihan lainnya Irine akan mencari tahu siapa Yoel sebenarnya, Ayahnya hanya mengatakan Yoel adalah sepupunya. Yoel juga tidak pernah terbuka tentang keluarganya.


"Yoel, ceritakan tentang keluargamu," ucap Irine menatap Yoel sangat serius.


Yoel mengangguk, sudah sejak lama ia ingin memberitahu Irine namun tidak menemukan waktu yang tepat.


Bersambung.