
Pov Irine
Keseharianku di rumah sakit terbilang membosankan, aku tidak diizinkan bermain game online dan bergerak terlalu banyak. Rasanya aku baru saja terluka parah.
Setiap hari aku mengunjungi Zujy dan berbicara dengannya, keadaannya membuatku khawatir. Perkembangan Zujy terhenti, ia bisa mendengar perkataan kami namun masih tidak bisa menggerakkan badan ataupun melihat kami.
Mendengar Reihan bertunangan dengan Zujy aku tidak terkejut, aku sudah menduga om Agler akan memilih jalan itu untuk melindungi Zujy. Aku juga tidak ingin Zujy bernasib seperti kakakku.
Aku sedikit kesal pada Ayah yang membiarkan kakak dimakamkan tanpa kehadiranku dan aku juga masih bersedih dengan kepergian Kakak namun aku berusaha kuat, bagaimanapun menangis tidak berguna dan tidak akan mengembalikan kakak.
Perlahan - lahan aku membiasakan diri untuk mendekat dengan Yoel dan berbicara dengan santai dengannya namun masih saja tubuhku gemetaran, kejadian itu masih membekas di tubuhku. Mungkin mustahil aku melupakannya.
Aku terkadang melihat Leo yang ingin bertemu dengan Zujy namun selalu terhenti di depan pintu kamar Zujy, aku kesal melihat tingkah Leo yang begitu pengecut. Dia selalu saja menjadi pengecut dengan apa yang berkaitan dengan Zujy tapi sebenarnya aku juga seperti itu.
Alasan Leo ingin menjauhi Zujy kurasa sudah terlambat, Leo telah menanamkan perasaan kuat pada hati Zujy. Mustahil Zujy ingin membiarkan Leo menjauhinya, sahabatku ini adalah gadis yang keras kepala mirip denganku.
Aku menatap kesal Leo yang sekarang lagi - lagi berdiri di depan pintu Zujy.
"Kau itu!" ucapku kesal.
Leo menatapku tajam, aku membenci tatapannya itu.
"Kalau kau mau bertemu Zui lakukan sekarang! Kau masih beruntung kamar Zui tidak di beri pengawal."
Lelaki itu masih terdiam.
"Dasar pengecut, minggir!! Aku mau bertemu Zui! aku sangat merindukannya, aku tidak henti memikirkannya," ucapku berusaha memancing Leo.
"Aku bukan gadis pengecut sepertimu, aku akan menemui Zui ku," ucapku lagi.
Dia menyingkir dari jalanku dan aku masuk, langkahku terhenti menatap Zujy yang duduk dengan tatapan kosong.
"Leo, kau harus bertemu dengannya sekali saja. Dia membutuhkanmu, apa kau tidak kesal melihatnya seperti itu?!" ucapku menarik baju Leo dan otomatis Leo masuk.
Aku segera menjauhi Leo dan menahan tanganku yang gemetaran.
"Aku tunggu di luar."
Aku keluar dari kamar itu dan duduk kursi lorong.
"Semoga dengan Zui bertemu Leo akan membuat keadaan Zui semakin membaik," ucapku yang begitu berharap Zujy kembali berbicara denganku.
.
.
.
Pov Author
Leo perlahan - lahan mendekati Zujy sembari melepas topinya, ia duduk di kursi samping kasur Zujy.
Ia menatap Zujy yang tidak merespon kedatangannya. Sesaat ia hanya terdiam dan memberanikan diri memegang tangan Zujy.
"Zui ... maafkan adikku, adikku sudah membuatmu seperti ini."
Tetesan air mata terjatuh di punggung tangan Zujy, Leo terisak menatap tangan Zujy.
"Zui, aku mencintaimu, sangat mencintaimu ... kau tahu? Kau wanita pertama yang membuatku menangis, ibuku bahkan tidak pernah melihatku menangis. Aku berterima kasih sudah menjadi pacarku."
"Maaf, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu jadi aku akan menjauhimu, aku tidak ingin adikku menyakitimu lagi ataupun aku."
"Adikku sebenarnya ingin meminta maaf padamu, dia terpaksa melakukannya."
"Tapi aku tidak ingin melihatmu kesakitan lagi karna bertemu adikku..."
Leo terdiam, ia tidak tahu ingin berkata apa lagi yang ia tahu sekarang ia hanya ingin mencintai Zujy.
"Aku mencintaimu ... sangat...."
Genggaman Leo perlahan - lahan terlepas dan ia begitu terkejut ketika menerima elusan hangat dari Zujy.
Leo menatap Zujy yang tersenyum mengelus kepalanya dengan tangan yang bergetaran parah.
"Sudah, hentikan," ucap Leo memegang tangan Zujy menghentikan elusan Zujy.
"Aku begitu senang melihatmu sadar," ucap Leo meletakkan tangan Zujy di pipinya.
Zujy perlahan - lahan menghapus air mata Leo.
"Ak-" ucapan Zujy terhenti karna Leo terlebih dahulu berdiri.
Leo menatap sendu Zujy dan mengelus kepala Zujy sebelum akhirnya menghilang dari hadapan Zujy. Zujy berusaha memanggil Leo namun suaranya sangat sulit dikeluarkan dan tubuhnya juga belum terlalu bisa digerakkannya.
Zujy hanya bisa menatap topi Leo yang ditinggalkannya dan air mata Zujy perlahan - lahan keluar.
Leo sekilas melirik Irine yang menatapnya sebelum berlari pergi.
Irine segera berlari masuk ke dalam kamar Zujy dan segera memeluk Zujy yang menangis.
"Syukurlah Zui, syukurlah," ucap Irine menetaskan air mata.
"Berhenti menangis."
.
.
.
Berkat Leo keadaan Zujy meningkat pesat begitupun dengan Irine yang tambah bersemangat melihat sahabatnya yang sembuh hingga sebulan kemudian mereka diizinkan pulang, mereka telah bebas dari trauma itu walau masih disuruh untuk membiasakan diri. Yah, seluruh tenaga medis di sana sangat terkejut dengan perkembangan kedua sahabat itu yang seharusnya mustahil bisa sembuh hanya dalam 3 bulan. Namun Irine menyebutnya kekuatan cinta.
Setelah keluar dari rumah sakit Irine dan Zujy meluncur ke Inggris dan mengunjungi pemakaman Felix, Irine menangis sejadi - jadinya menatap makam kakaknya, ia masih tidak percaya kakaknya telah pergi. Sedangkan Zujy juga ikut berduka dengan kepergian kakaknya.
Tidak lama mereka di Inggris karna sangat merindukan sekolah, Zujy ingin sekali bertemu dengan Arka namun Ayahnya tidak mengizinkannya.
Zujy kini bebas, ia tidak lagi menutupi identitasnya dan mengingat semua kejadian yang menimpanya. Ia sedikit kesal dengan tingkah Ayahnya yang sampai menghipnotisnya namun melihat Ayahnya yang benar - benar menyesal ia memaafkannya. Dan sekarang ia akan menjadi murid baru di SMA Feleras sebagai Zujy Dirni bukan lagi Zujy yang pendiam dan pemurung.
Semenjak kejadian itu Leo sama sekali tidak pernah menampakkan dirinya di hadapan Zujy namun Zujy berharap bertemu Leo di sekolah.
Kedua sahabat itu menatap kosan yang mereka rindukan, mereka segera masuk dan membersihkan kosan dengan canda ria.
Tok - tok - tok.
Zujy membuka pintu dan mempersilahkan Yoel masuk sembari membawa makanan dan beberapa minuman.
Malam itu mereka berpesta untuk kedatangan Zujy dan Irine ke desa ini lagi, juga kesembuhan Irine dan Zujy.
"Zui~ Yoel~ aku mabuk~" ucap Irine berpura - pura mabuk sembari memegang segelas Cola.
"Mabuk karna Cola?! Hahahahaha!" ucap Yoel tidak henti tertawa membuat Zujy dan Irine terdiam kemudian ikut tertawa.
"Zui!" ucap Irine memeluk Zujy.
"Ada apa ini? Hahaha."
Irine tersenyum licik. "Hoeekkk!!"
"IRINE!!!!" teriak Zujy dan Irine tertawa lepas.
"Tapi bohong!" ucap Irine tertawa hingga memukul Yoel yang juga tertawa lepas menatap mimik wajah Zujy.
"Hahaha! Kau tidak bisa menipuku Zui!"
"Hoekk!!"
Dan ternyata Zujy benar - benar mual.
"ZUJYYYY!!!!! ******" teriak Irine dan Yoel segera mengambil air putih untuk Zujy.
.
.
.
5.00
Kring!!
Irine membuka matanya dan mematikan alarm, tidak disangka gadis yang sulit dibangunkan malah bangun diluan. Ia menatap sayu Yoel dan Zujy yang tertidur dengan posisi yang berantakan, ia kembali tersenyum menatap kedua sahabatnya itu.
Tatapan hangat itu berubah menjadi tatapan licik, Irine mengambil spidol dan mendekat ke wajah Yoel.
"Duh kaki Zui," ucap Irine memindahkan salah satu kaki Zujy yang berada di atas tubuh Yoel dengan hati - hati.
"Hehehe."
Irine kembali berpindah posisi dan mencoret - coret wajah Zujy.
Irine kemudian mengambil mic yang dipakai karaoke semalam untuk membangunkan Yoel dan Zujy.
"WOYY!! BANGUN!!" teriak Irine sontak membuat Zujy dan Yoel bangun dalam keadaan terkejut.
Zujy menggaruk - garuk kepalanya dan memindahkan kaki Yoel yang juga di atas tubuhnya dan tidak sengaja menatap wajah Yoel.
Zujy tertawa terbahak - bahak tanpa tahu wajahnya tidak kalah buruk dari Yoel, Yoel hanya menatap Zujy kemudian menatap tajam Irine.
"Ja - jangan marah, hehehe," ucap Irine menjauhi Yoel.
Namun sebelum Yoel berhasil memarahi Irine, pintu kosan mereka diketuk dan ternyata itu adalah ibu kosan yang datang memarahi mereka karna ribut pagi - pagi begini.
Yoel tertawa kecil melihat Irine yang dimarahi dan Irine terus meminta maaf.
.
.
.
Zujy berjalan di belakang guru wanita, ia melirik sekitar. Bangunan tingkat tiga yang begitu asing di matanya namun perasaannya begitu berbunga - bunga, akhirnya ia bebas juga dari larangan Ayahnya.
"Kelas 3 - A," gumam Zujy mengikuti guru masuk ke kelas yang akan menjadi kelasnya.
Zujy berdiri di hadapan banyak murid yang tidak asing dengan wajahnya, ia begitu terkejut menatap Irine, Yoel, Reihan, dan Leo yang sekelas dengannya. Namun Leo terlihat cuek dengan kedatangannya.
"Anak - anak kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalan," pinta Guru.
Zujy terkejut dengan tatapan seluruh murid, ia menghela nafasnya.
"Namaku Zujy Dirni, pindahan dari Amerika Serikat," ucap Zujy sembari tersenyum.
"Itu saja?"
"Iya."
"Baiklah, sebelum pelajaran dimulai apa ada yang mau bertanya?" tanya Guru sontak membuat murid heboh.
"Kamu Zujy Dirni kan? Berarti Yji NZ?!"
"Yji NZ?" gumam Zujy, ia sudah lama tidak mendengar nama panggungnya ketika masih menjadi penyanyi.
"Yji, aku penggemar beratmu!!"
"Kami mendungkungmu Yji, kami tidak percaya dengan rumor aneh itu!"
Zujy hanya tersenyum, rasanya pertanyaan mereka semakin membuatnya tidak nyaman.
"Apa kau mempunyai pacar!!" ucap murid lelaki seketika membuat seluruh kelas menjadi diam.
Aku tersenyum dan melirik Leo namun Leo tetap cuek dan menatap buku.
"Zujy adalah tunanganku," ucap Reihan tersenyum kepada Zujy.
Zujy menatap tajam Reihan, ia kembali mengingat ketika ia mengejek - ngejek Reihan ketika di dalam mimpi.
Sekelas yang tadinya diam kembali menjadi heboh, keributan itu dihentikan Guru yang mulai marah. Zujy dipersilahkan untuk duduk di kursi kosong paling belakang.
"What! Aku menjadi teman sebangku Leo?!" gumam Zujy namun sebenarnya senang.
"Oh ya, Reihan. Kau yang akan mengantar Zujy berkeliling sekolah."
Reihan mengangguk, Zujy duduk di samping Leo, ia sedikit melirik Leo yang seakan tidak sadar dengan keberadaanya.
Zujy mencoba berbicara dengan Leo namun Leo sama sekali tidak menjawab perkataanya.
"Apa dia marah karna pertunangan itu?" gumam Zujy menatap cincin tunangannya.
Ia berhasil bebas dari larangan ayahnya namun tidak dengan pertunangan ini, dan mau tidak mau ia harus menerimanya tapi hanya di hadapan ayahnya. Ia hanya ingin bertunangan dengan lelaki pilihannya.
Leo menatap tajam cincin tunangan Zujy dan kembali menatap bukunya.
Bel istirahat berbunyi, semua murid seketika menghampiri Zujy dan melontarkan begitu banyak pertanyaan.
"Yji, boleh minta tanda tangannya?"
"Aku akan menjadi temanmu."
"Apa kau benar bertunangan dengan Reihan?"
Zujy menyadari Leo baru saja ingin keluar dari kelas. "Maaf, aku ada urusan sebentar," ucap Zujy segera mengejar Leo.
Langkahnya terhenti saat menatap seorang gadis yang memeluk lengan Leo.
"Sayang, mau makan apa?" tanya gadis itu.
Zujy begitu terkejut. "Leo," sahut Zujy dan Leo berbalik menatapnya.
"Siapa?" tanya gadis itu.
"Anak baru," ucap Leo mengelus kepala gadis itu yang tidak lain adalah Yui.
"Kenapa?" tanya Leo menatap Zujy, Zujy tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ia hanya bisa mengatakan. "Tidak," ucap singkat Zujy kemudian menatap kedua orang itu pergi.
"Ayo, ikut aku," ucap Reihan memegang tangan Zujy, Zujy hanya menuruti perkataan Reihan.
Sementara Leo melirik kesal Reihan yang membawa Zujy.
Bersambung.