
Irine dan Zujy tengah duduk sembari bermain game, hanya suara dari game mereka yang terdengar. Kalimat itu kadang - kadang terlintas di kepala Zujy namun ia berusaha melupakannya dengan menyibukkan dirinya.
"Yess, menang."
Keduanya tersenyum sembari saling menepukkan tangan. Irine hendak memulai lagi walau Zujy berhenti dan memilih menonton siaran di TV. Beberapa saat kedua gadis itu hanya diam fokus pada kegiatan masing - masing, namun kebimbangan di hati Zujy tidak bisa di tahannya.
"Rin, siapa Leo sebenarnya?"
Gerakan tangan Irine terhenti, ia melirik Zujy.
"Kenapa?"
"Dia sepertinya mengenalku sebelumnya, tapi aku tidak ingat kapan aku bertemu dengannya."
Irine menghentikan kegiatannya mendekati Zujy yang duduk memeluk lututnya.
"Apa tidak apa - apa," gumam Irine duduk di samping Zujy.
'Yah, aku juga tidak pernah menyetujuinya.'
Irine mendekatkan wajahnya ke telinga Zujy.
"Kau memang pernah bertemu dengannya Zui."
Zujy membulatkan matanya dan menatap Irine yang tersenyum padanya, ia sangat terkejut mendengar perkataan Irine.
"Kapan? Aku tidak mengingatnya."
"Tentu saja kau tidak mengingatnya," gumam Irine.
"Kau harus mengingatnya Zui ...."
irine dengan santai berjalan menuju pintu kamar dan terhenti. "Kalau kau mau mengingatnya."
Zujy tertegun mendengar perkataan Irine, ia dibuat bingung. Kalau di pikir - pikir ia sedikit tidak mengingat masa SMP nya, hanya beberapa yang di ingatnya. Bagaimana ia tidak menyadarinya, ia telah melupakan yang mungkin penting untuknya dan bisa jadi ingatan yang dilupakannya ini adalah alasan ayahnya melarangnya bernyanyi lagi serta menutup identitasnya.
Ia berusaha mengingat namun semakin ia dekat dengan tujuannya, sakit kepala terus menghentikannya. Ia sedikit pasrah dan menyerahkan semuanya pada waktu, mungkin saja beberapa waktu lagi ia akan mengingat sesuatu itu.
"Namaku Anna, Aku penggemar berat kakak!!"
Seorang gadis dengan wajah yang buram mendekatinya sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Padahal aku seharusnya di posisi kakak." Gadis itu seketika duduk di sampingnya menatapnya dengan wajah yang sedih.
"KARNA KAKAK! IBU MEMUKULKU!! KAKAKKU MENJAUHIKU!!" Teriak gadis itu seketika membangunkan Zujy dari mimpi anehnya.
Ia terbangun dalam keadaan syok, ia memegang kepalanya, merasa kejadian tadi sangat nyata. Kalau ini ingatan kenapa kepalanya sama sekali tidak sakit? Sesaat ia syok, irine terbangun dan segera membawakan air untuknya.
'Apa ini karna ucapanku beberapa hari yang lalu?'
Zujy meletakkan gelas dan memegang erat tangan Irine.
"Rin, ada seorang gadis!! Dia ... sepertinya tidak suka denganku ... tapi dia bilang dirinya penggemarku," ucap Zujy dengan tatapan ketakutan membuat irine semakin khawatir.
"Tenang, tenangkan dirimu."
Pelukan Irine sedikit menenangkan dirinya namun begitu banyak pertanyaan masih terus melekat di pikirannya.
"Siapa dia? Atau hanya mimpi?"
Irine melepaskan pelukannya dan menatap Zujy serius.
"Zui, kau harus memilih, kau punya masa lalu yang mungkin saja tidak ingin kau ingat, kau harus memilih ... ingin mengingatnya atau ... terus seperti ini."
"Kau juga sama Rin, kau punya masa lalu yang kelam, tapi kau bisa bertahan walau mengingatnya ... aku ingin sepertimu, kau yang kuat menghadapi semuanya."
Irine tersenyum dan kembali memeluk Zujy, mereka saling berpelukan, berbeda dengan Zujy yang melupakan ingatannya, Irine menghadapi kejadian yang lebih menyakitkan dari sebuah rahasia di ingatan Zujy. Walau kejadian itu sudah sangat lama, Irine seakan masih terjebak dalam kejadian itu membuatnya mengalami trauma mendalam namun ia terus berusaha melawannya, ia yakin suatu saat trauma itu akan hilang dan ia akan menjalani kehidupan normal lagi. Ia begitu menginginkannya.
.
.
.
"Dah."
Zujy berjalan diluan ke sekolah yang tidak jauh dari kosannya, mereka selalu seperti ini agar tidak ketahuan. Zujy selalu berangkat lebih awal dari Irine dan pulang lebih lambat dari Irine karna masih harus melakukan kegiatannya bersama Leo.
Ia memutuskan untuk tetap berteman dengan Leo, karna Leo mungkin saja adalah temannya di ingatannya yang hilang.
Ia tiba di sekolah dan mengganti sepatunya dengan sepatu sekolah di lokernya. Leo menghampirinya namun ketika ia melihat wajah Leo rasa sakit di kepalanya muncul lagi membuatnya tidak tahan berada di dekat Leo. Jika Leo di dekatnya ia sama sekali tidak menatapnya, Leo kebingungan dengan tingkah Zujy yang aneh menurutnya. Sepanjang pelajaran Leo menatap lekat Zujy yang tentu saja membuat Zujy tidak nyaman.
Setelah kejadian dengan Zofia si ketua bullying di tingkat dua, hampir seluruh murid tidak berani menatap Zujy bahkan membicarakannya. Para murid selalu menceritakan tentang Zofia yang bertekuk lutut di depan semua murid lalu meminta maaf atas semua kesalahannya ketika kelas terakhir selesai dan besoknya ia di gosipkan pindah ke luar negeri, negara asalnya karna perusahaannya di Indonesia tiba - tiba bangkrut dalam waktu yang cepat.
Bel istirahat berbunyi, seluruh murid berlarian menuju kantin sekolah. Leo menahan tangan Zujy tepat sebelum Zujy berlari keluar.
"Zui, kau marah padaku?"
Zujy menggeleng - gelengkan kepalanya, ia masih tidak sanggub menahan rasa sakit yang timbul di kepalanya saat menatap Leo. ia menepis tangan Leo lalu dengan cepat berlari sekuat mungkin agar Leo tidak dapat mengejarnya.
Ia masuk ke salah satu ruangan kedap suara, seluruh murid tidak diizinkan masuk ke ruangan ini karna ruangan ini telah di beli Zujy tanpa sepengetahuan siapapun. Ia selalu berada di ruangan ini ketika ia merasa bimbang atau putus asa, ia selalu membeli makanan di kantin sekolah dan memakannya sendiri di ruangan ini.
Tidak ada suara pun terdengar di telinganya membuatnya tenang, bahkan Irine tidak tahu ada ruangan seperti ini di sekolah. Ketika ia berada di ruangan ini, ia merasa leluasa, ia selalu memendam perasaannya dan jika berada di dalam sini ia bisa mencurahkan semua perasaanya, ia selalu tidak bisa mencurahkan perasaannya jika ada orang lain di sekitarnya, ia bahkan tidak pernah sekalipun curhat pada orang lain.
Ia duduk di salah satu kursi dan memeluk lututnya lagi, ia memikirkan alasan ia sakit kepala jika melihat wajah Leo, mana mungkin ia muak melihat wajah Leo yang begitu tampan hingga membuatnya sakit kepala. Apalagi beberapa gambar terlintas di kepalanya ketika menatap wajah Leo.
"Mungkin aku harus berusaha untuk menatap wajahnya terus ... mungkin saja dengan menatapnya aku akan mengingat sesuatu."
"Tapi, apa aku bisa," gumamnya karna tidak bisa menatap wajah seseorang dalam waktu yang lama, apalagi orang itu Leo. Melihat wajah tampan Leo membuat dirinya merasa tertinggal jauh.
Ia terus memikirkan semua masalah belakangan ini menimpanya sembari bersenandung namun di tengah - tengah ia berhenti bersenandung.
"Kalau di sini tidak apa - apa kan?"
Ia mengatur nafasnya dan mulai bernyanyi, suara indah memenuhi ruangan itu namun di tengah - tengah lagu lehernya serasa sakit dan kepalanya juga mulai terasa sakit, ia menghentikan nyanyiannya. Ia serasa seakan akan pingsan saat itu juga jika melanjutkan nyanyiannya, jika ia pingsan di sini siapa yang akan mengatuhinya, bahkan para guru tidak bisa memasuki ruangan ini apapun yang terjadi.
Namun ia terkejut ketika pintu terbuka, ia sengaja tidak menguncinya karna tidak akan ada yang masuk. Ia sekilas merasa lelaki yang membuka pintunya itu mirip dengan Leo karna wajahnya yang tampan namun ia salah, wajahnya begitu dingin ditambah tatapannya yang begitu dingin namun terlihat imut.
"Ke - kenapa? Ini ruangan pribadi tidak ada yang boleh masuk."
Lelaki itu tidak mendengarkan Zujy dan masuk lalu duduk di sampingnya.
"Sangat tidak sopan," gumam Zujy menjauh.
"Aku ingin menjadi temanmu. Namaku Reihan."
"Hah?! ... maaf tidak bisa." Zujy berdiri ingin melangkah keluar namun terhenti saat mendengar perkaatan Reihan.
"Zujy Dirni."
Perkataan Reihan membuat Zujy begitu terkejut, ia berbalik menatap tajam Reihan. Siapa lelaki ini sebenarnya, bagaimana bisa ia mengetahui identitas Zujy.
Bersambung.