
Zujy menatap kesal Reihan yang menarik tangannya namun ia lebih kesal melihat gadis itu memeluk lengan Leo, Zujy melirik Irine yang baru saja keluar dari kelas bersama Yoel.
"Rin!!" panggil Zujy namun Irine hanya tersenyum licik.
"Bye, Zui." Irine melambaikan tangannya dan Zujy terpaksa memanggil Yoel.
"Bye," ucap Yoel juga, Zujy menatap kesal kedua sahabatnya itu dan pergi bersama Reihan.
Kini mereka duduk di salah satu meja kantin, Zujy dengan cepat memakan baksonya.
Zujy menghentikan makannya dan menatap Reihan yang duduk di hadapannya serta semua siswa yang melirik mereka.
"Reihan, jangan memaksakan kalau kau tidak suka. Aku tahu kau tidak suka dengan perjodohan ini juga," ucap Zujy.
"Aku memang tidak suka tapi hanya ini yang bisa kulakukan."
Zujy mengerutkan alisnya dan kembali makan.
"Zui, sekarang kau tunanganku jadi lupakan Leo," ucap Reihan membuat Zujy tersedak.
Ia mencoba mengambil airnya namun gelasnya jatuh dan akhirnya Reihan memberikan gelasnya pada Zujy dan membantu Zujy minum.
Zujy dengan cepat meminum air Reihan dan Reihan tersenyum menatap Zujy.
"Aku sudah meminumnya tadi," ucap Reihan kembali membuat Zujy tersedak.
"Uhuk - uhuk, kau sengaja ya?" ucap Zujy memberikan gelas Reihan yang airnya sudah habis di minum Zujy.
Zujy mengelap mulutnya menggunakan sapu tangan. "Tidak mau."
"Aku tahu kau berpacaran dengan Leo."
Zujy menatap tajam Reihan. "Lalu?"
Reihan menunjuk salah satu murid dan menatap Zujy. "Kau masih mau menerimanya setelah apa yang dia lakukan padamu?"
Zujy menatap murid itu dan terkejut karna itu adalah Leo yang tengah makan bersama gadis tadi, gadis itu sekali - kali menyuapi Leo dan selalu tersenyum manis pada Leo.
"Lupakan dia, kita sekarang bertunangan," ucap Reihan dan terkejut ketika Zujy seketika berdiri dan berjalan mendekati Leo.
"Ternyata ini sikap aslimu? mirip gadis singa itu," gumam Reihan kemudian mengikuti Zujy.
"Le!" ucapan Zujy terhenti ketika seseorang menahan tangannya, ia berbalik dan menatap Irine.
"Tahan amarahmu," ucap Irine dan Zujy hanya terdiam.
Ia kembali menatap Leo namun lelaki itu sudah tidak ada di sana dan terlihat baru saja ingin pergi dari kantin.
Zujy menepis tangan Irine dan berlari mengejar Leo.
"Hei, gadis singa. Apa memang begitu sikap aslinya?" tanya Reihan mendekati Irine.
"Siapa yang kau bilang gadis singa?!" Irine berjalan pergi kembali ke mejanya.
Ia duduk di depan Yoel yang sedari tadi menyaksikannya.
"Padahal dia bisa memilih tetap bersama Zui," ucap Irine kembali memakan makanannya.
"Itu yang dipilihnya, kita jangan mengganggu mereka dulu. Biarkan Reihan mendapatkan hati Zui, itu yang diinginkan Leo ... mungkin," ucap Yoel meminum airnya.
.
.
.
Pov Zujy.
"LEO!!" aku berteriak dan menghentikan langkah Leo, ia berbalik dan menatapku.
Begitu banyak murid yang melihat kami, aku segera menarik tangan Leo dan membawanya ke tempat sepi lebih tepatnya ke pohon besar.
"Aku rindu dengan tempat ini." menatap pohon besar membuat hatiku senang. Pohon yang begitu indah menurutku.
"Kenapa Zujy?" tanya Leo dan aku berbalik menatapnya.
"Apa maksud gadis tadi? kau berpacaran dengannya?"
Leo terdiam memperhatikanku. "Sikapmu sudah kembali, kau sudah mengingat semuanya?" tanya Leo dan aku mengangguk.
"Gadis tadi pacarku."
Perkataan Leo membuat hatiku sakit, dia menghianatiku.
"Apa kau lupa kita juga berpacaran? Kau lupa kalau kau menyatakan perasaanmu padaku saat itu? Kau bilang kau mencintaiku!" ucapku kesal dengan tingkah Leo.
"Kalau begitu ku tarik ulang perkataanku saat itu, aku gak mencintaimu! jadi jangan saling menyapa mulai saat ini," ucap Leo dengan tegas namun aku melihat keraguan di matanya.
"Kau benar - benar ingin meninggalkanku?!" tanyaku.
"Iya ... aku sama sekali gak pernah mencintaimu, aku mengerti sekarang. Cintaku saat itu hanyalah kebohongan," ucap Leo semakin membuat hatiku sakit.
Air mataku mulai jatuh namun Leo tetap menatapku dingin, lelaki itu berbalik dan menjauh tanpa sekalipun berniat mengusap air mataku atapun memelukku.
Leo begitu jahat, dia sudah menanamkan perasaan itu di hatiku tapi sekarang malah membuangnya seakan perasaan itu hanyalah sampah di matanya.
Aku yang menunduk menatap bayangan sesorang mendekatiku, kukira itu Leo dan aku segera menatapnya. Namun hatiku semakin sakit melihat Reihan, lelaki itu mendekatiku dan memelukku.
"Zui, jangan menangis," ucapnya lagi.
Namun aku tidak bisa menghentikan tangisan ini.
"Kau dengar jawaban Leo kan? Jadi jangan mengharapkannya lagi," ucap Reihan namun aku tidak mau.
"Tidak mau! Kalau dia tidak mencintaiku, aku yang akan membuatnya mencintaiku seperti apa yang dia lakukan padaku!"
Aku sekilas menatap wajah Reihan yang kesal, yah aku tahu sikapku yang keras kepala ini membuat orang kesal.
"Zui, menyerah saja."
Aku mendorong Reihan, kenapa ia begitu memaksaku untuk melupakan Leo. Aku pergi meninggalkan Reihan.
.
.
.
Sebulan telah berlalu, Zujy selalu menyapa Leo walau lelaki itu bersikap dingin pada Zujy. Namun terkadang dia menyapa Zujy tapi dia segera pergi setelah itu.
Zujy kini duduk bersama Irine, Riska dan Hida di meja Irine.
Tak disangka Zujy dengan cepat bisa akrab dengan Riska dan Hida, mereka sangat baik dan seru.
"Zui, kau tidak ada rencana debut lagi?" tanya Hida yang tengah mengepang rambut Zujy.
Zujy hanya terdiam, Zujy melirik Irine yang juga penasaran dengan jawaban Zujy.
"Tidak ada, sekarang aku hanya harus fokus belajar untuk menjadi pewaris NZ nantinya," jawabku.
"Aku merindukan suaramu Zui, dan juga lagumu yang selalu memotifasiku," ucap Riska tersenyum menatap Zujy.
"Aku juga," tambah Irine yang bersandar di punggung Riska.
"Zui!! Coba sekarang nyanyi!" Pinta Hida.
Zujy menatap sekitar, hanya ada sedikit murid.
"Baiklah." Ketiganya seketika bersemangat dan menatap Zujy serius.
Zujy mulai bernyanyi dan semua murid di kelas segera menatap Zujy, mereka terlena dengan suara Zujy yang sangat lembut.
Leo yang tengah tertidur membuka matanya dan melirik Zujy, ia tersenyum karna bisa mendengar suara Zujy lagi.
Air mata Hida terjatuh, ia segera menghapusnya.
Zujy menghentikan nyanyiannya dan seisi kelas memberikan tepuk tangan, ia hanya tersenyum bahagia.
Zujy melirik Irine yang menatapnya terus.
"Kenapa?" tanya Zujy dan Irine menggeleng - gelengkan kepalanya.
'Aku tahu Rin, lagu tadi adalah lagu perpisahan dengan seseorang yang kita cintai,' benak Zujy melirik Leo yang tertidur.
Ia terkejut ketika Hida seketika memeluknya.
"Zui...." ucapnya dan Zujy mengelus tangannya.
Hida dan Riska tidak tahu apapun tentang Leo dan Zujy, namun lagu ini membuat Hida sedih.
.
.
.
Kringg!!!
Zujy membuka matanya dan segera mematikan alarm di hpnya.
"Masih jam 3 subuh," gumam Zujy dan membulatkan matanya ketika membuka pemberitahuan di hp.
Ia melirik Irine dan beranjak dari kasurnya perlahan - lahan. Ia menutup pintu kamar dan menyalakan wifi serta laptopnya.
Ia membeli hadiah serta kue ulang tahun bertuliskan selamat ulang tahun sahabatku dengan lilin berbentuk 17.
"Tahun ini yang sederhana saja," gumam Zujy mengingat ulang tahun Irine selalu mewah dan besar.
Pintu kamar terbuka, Zujy segera mematikan wifi dan laptopnya. Ia menatap kaku Irine yang berjalan sembari masih menutup mata.
"Zui, kenapa tidak membangunkanku? Kan sudah jam 6," ucap Irine menatap sayu Zujy.
Zujy melirik jam, ia terkejut ternyata sudah jam 6.
"Maaf."
Irine tersenyum dan mengambil handuk sembari berlari masuk ke kamar mandi.
"Irine!! Aku diluan!!" Zujy mengambil handuknya dan berlari mengejar Irine.
Ia menarik handuk Irine sebelum sepenuhnya masuk ke dalam kamar mandi dan BRUK!!.
Keduanya terjatuh dengan Irine berada di atas tubuh Zujy.
"Rin! Berat tau!"
Irine menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dan menatap Zujy. Irine tersenyum menggoda Zujy.
Pipi Zujy memerah, entah kenapa ia mengingat ciumannya dengan Leo dan posisi ini persis dengan posisi saat itu.
Keduanya terdiam dan Irine tertawa lepas begitupun dengan Zujy.
"Hahahah!! Ke - kenapa wajahmu memerah!!" ucap Irine setengah tertawa.
Zujy berusaha bangun namun lantai kamar mandi licin, ia kembali terjatuh namun tidak dengan Irine.
"Aghh, kakiku."
Irine terkejut dan segera memeriksa pergelangan kaki Zujy, ia menopang tubuh Zujy dan membawanya ke atas sofa.
Zujy melirik Irine yang mengambil kotak P3K dan mengobati kakinya.
"Kakiku sepertinya terkilir," ucap Zujy menatap Irine yang seakan memijit - mijit kakinya.
"Aww, sakit Rin."
"Diam!" ucap Irine serius.
"Nah, sudah. Jangan berlari dulu," ucap Irine menyimpan kotak P3K dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa yang dia lakukan tadi?" guman Zujy berdiri namun kakinya masih sakit.
.
.
.
Kelas 3 - A, di kelas yang ribut Zujy dan Yoel berdiri di pojokan kelas sembari membicarakan hal penting.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Yoel menatap Zujy.
"Tema piknik ya? Bagus juga. Pesta dia tidak pernah mengambil tema Piknik," ucap Zujy mengangguk - ngangguk.
Irine yang sedari tadi memerhatikan kedua sahabatnya itu menghampiri mereka.
"Bicara apa sih? Serius amat," ucap Irine membuat Yoel dan Zujy terkejut.
"Irine, kami perlu bicara berdua saja," ucap Yoel dingin menatap tajam Irine.
Irine hanya terdiam menerima tatapan tajam dari Yoel yang belum pernah diterima sebelumnya, ia berjalan menjauh kembali bergabung dengan Riska dan Hida.
"Zui dan Yoel kenapa?" tanya Hida menatap Irine.
Irine menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Pasti itu!" ucap Hida menatap serius Riska dan Irine.
"Pasti mereka...." ucap Hida lagi melanjutkan perkataannya dengan gerakan tangan.
"Jangan bodoh!! Zujy bertunangan dengan Reihan!" Riska memukul kepala Hida.
"Kalau begitu mungkin saja Yoel yang menyukai Zujy," ucap Hida mengelus - ngelus kepalanya.
Hida kembali menatap Irine yang terdiam. "Rin? Bagaimana? Kau pasti merestui mereka kan?"
Riska melirik Yoel dan tersenyum, wajahnya sedikit memerah. "Pasti punya kakak seperti Yoel sangat bahagia kan?"
Yah, selain keluarga Dirni dan Charles. Semuanya mengenal Yoel sebagai anak kedua sekaligus kakak kandung Irine.
Irine terkejut dan menatap Riska namun ia tambah terkejut menatap tatapan mata Riska menatap Yoel.
"Apa nih? Ciee!" goda Hida sedikit memukul lengan Riska.
"Ehem - ehem, ada yang mencintai dalam diam nih," goda Hida lagi terkekeh.
Riska kembali memukul kepala Hida.
"Bisa geger otak aku," ketus Hida menatap Riska.
"Rin! Bagaimana perlakuan Yoel padamu kalau di rumah?" tanya Hida dan Riska menatap serius Irine.
"Mmm? Yoel biasanya perhatian dan memarahiku kalau begitu lama bermain game online," balas Irine.
"Wah!! Enaknya, aku dan kakakku selalu bertengkar," ketus Hida.
Irine tersenyum, ia melirik Yoel. Apakah Yoel menyukai Zujy?
"Aku dan kakak juga dulu sering bertengkah tapi sejak ayah marah, kami tidak pernah bertengkar lagi. Sampai - sampai orang - orang yang melihat kami berpikir kami bukan kakak adik melainkan sepasang kekasih," ucap Irine terkekeh.
"Maksudmu kakak itu kak Felix kan?" tanya Riska dan Irine mengangguk sembari tersenyum.
Namun Riska dan Hida menjadi sedih menatap Irine.
Bersambung.