Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Syok



Yoel yang tengah duduk di kelas didatangi Hida dan Riska.


Hida dan Riska begitu khawatir dengan keadaan Irine namun tidak bisa menghubunginya.


"Yoel, bawa kami ke Irine sekarang juga!!" ucap Hida memukul meja Yoel sontak membuat Yoel terkejut.


Pak, Pukulan mendarat di kepala Hida.


"Maafkan teman goblokku ini, namaku Riska dan dia Hida. Kami teman Irine," ucap Riska tersenyum menatap Yoel.


Hida mengelus - ngelus kepalanya. "Kami mengkhawatirkannya, guru bilang Irine sakit. Tapi kami gak bisa menghubunginya dan saat ke kosannya gak ada orang, jadi mungkin saja kau...."


Yoel menatap Hida dan Riska bergantian, ia sudah sering melihat kedua orang ini bersama dengan Irine namun sekarang Irine tidak bisa ditemui sembarang orang.


"Maaf, saat ini Irine tidak diperbolehkan bertemu dengan orang luar."


"KAMI SANGAT MENGKHA-" ucapan Hida kembali terhenti saat Riska memukul kepalanya lagi.


"Maaf ya, kalau begitu kami titip salam untuk Irine. Semoga Irine cepat sembuh, kami menunggunya kembali," ucap Riska hangat.


Hida menatap tajam Riska dan Riska menatap tajam Hida juga.


"KENAPA KAU SELALU MEMUKULKU!!" teriak Hida memukul tubuh Riska.


"A - aduh, Yo - Yoel kami pergi dulu ya. SINI KAU HIDA!! AKU AKAN MEMBALASMU!!" ucap Riska lalu mengejar Hida yang kabur setelah memukul Riska.


Yoel sedikit tertawa melihat tingkah kedua sahabat itu namun ia juga sedih mengingat keadaan Irine. Hampir sebulan sejak Zujy bangun dan Irine masih tidak kunjung bangun.


"Aku menyesal dengan perkataanku, maafkan aku Rin. Aku ingin kau kembali, aku ingin kau bangun," ucap Yoel menutup matanya menggunakan kedua tangannya.


Yoel menghapus air matanya dan memutuskan untuk ke kota mengunjungi Irine, sudah tiga hari ia tidak melihat Irine.


.


.


.


Yoel berdiri di depan pintu kamar inap Irine, ia masih mengenakan baju sekolahnya.


"Hah."


Yoel menghela nafas dan masuk namun begitu terkejut karna tidak mendapati Irine di dalam, Yoel mengecek sepenjuru kamar namun masih saja tidak menemukan Irine. Ia mulai khawatir dan berlari mencari Irine di sepenjuru rumah sakit yang begitu besar.


Langkah Yoel terhenti, ia kembali ke kamar Irine karna tidak menemukan Irine di manapun.


"Hah - hah."


Yoel menatap pintu kamar yang terbuka, ia masuk dan mematung menatap Irine yang duduk di atas kasurnya di dampingi Victoria yang duduk di kursi.


Tanpa sadar air mata Yoel keluar, ia berjalan pelan mendekati Irine. Irine menolah dan begitu terkejut menatap Yoel.


"Yoel?! Ja - jangan mendekat dulu!" ucap Irine gemetaran.


Langkah Yoel terhenti, ia tidak percaya Irine akan berkata seperti itu.


Victoria yang mengerti situasinya mengajak Yoel keluar untuk berbicara berdua.


Mereka duduk di kursi lorong yang begitu sepi karna hanya ada dua kamar di lorong itu.


"Apa yang terjadi dengan Irine? Kapan dia bangun?" tanya Yoel menatap khawatir Victoria.


Victoria menepuk pelan pundak Yoel.


"Kemarin ... kau pasti tahu kan tentang trauma Irine?" tanya Victoria.


"Iya, yang saya tahu Irine memiliki trauma pada laki - laki dan tidak bisa bersentuhan dengan laki - laki asing," ucap Yoel.


Perasaan Yoel menjadi segar, rasanya tekanan yang menekannya menghilang namun ia masih khawatir pada kondisi Zujy yang tidak kunjung membaik.


"Jadi Yoel, Irine pernah membunuh seorang lelaki, lelaki itu adalah mantan pacarnya saat itu."


Deg


Yoel membulatkan matanya menatap Victoria, ia tidak bisa membuka mulutnya saking terkejutnya.


"Irine pernah berpacaran sekali, Gion adalah lelaki yang baik tapi malah menghianati Irine. Irine yang marah termakan oleh omongan teman - temannya dan mengikuti teman - temannya ke club malam. Saat itu Irine sangat mabuk dan dia dibawa oleh Gion ke suatu hotel dan saat itulah Irine membunuhnya."


Victoria menatap Yoel yang masih syok mendengar penjelasannya.


"Lalu! Kenapa Irine membunuhnya!!??"


"Syutt, jangan berisik. Ini pembicaraan rahasia."


Yoel kembali terdiam menatap Victoria.


"Maaf, ibu tidak bisa memberitahumu selebihnya. Kejadian itu sangat menyakitkan bagi Irine sampai membuatnya trauma, hal yang wajar kalau dia belum sangguh memberitahumu hal ini. Tapi, kau harus percaya pada Irine, Irine pasti akan memberitahumu di saat yang tepat. Hanya saja Irine butuh waktu untuk menemukan saat yang tepat itu."


Victoria tersenyum dan masuk ke dalam kamar inap Irine lagi, Irine menatap sendu Ibunya.


"Terima kasih bu, sudah memenuhi permintaanku untuk memberitahu Yoel tentang itu," ucap Irine dan Victoria duduk di sampingnya.


"Kau harus cepat memberitahu kejadian itu padanya, jangan takut. Ibu yakin Yoel tidak akan meninggalkanmu."


.


.


.


Zujy yang masih terperangkat di mimpinya terus menatap cahaya terang itu.


"Aku ingin mendengar suara Irine lagi," gumam Zujy karna mendengar suara Irine beberapa saat yang lalu.


"Jadi ternyata aku sakit, aku kalah dari trauma itu." ucapan Zujy bergema.


Zujy memeluk lututnya, ia sangat kesepian sekarang dan juga merasa bosan.


"Kenapa aku tidak bisa meraihnya," ucap Zujy mencoba meraih cahaya itu namun tidak berhasil.


"Kenapa juga saat itu Leo hanya mengucapkan namaku dan tidak mencoba berbicara denganku," gumam Zujy kesal.


"Aghhhhh, KELUARKAN AKU DARI SINI!!!!" teriak Zujy dan suara kembali bergema.


"Nana juga akhir - akhir ini tidak pernah menjengukku," gumam Zujy semakin kesal terperangkap sendiri di mimpi aneh ini.


Zujy terdiam, ia menutup wajahnya dan air matanya kembali keluar. Entah sudah berapa kali ia menangis di tempat ini.


Sedangkan Reihan melihat air mata Zujy kembali keluar, ia segera menghampiri Zujy dan mengusap air mata Zujy.


"Zui, jangan menangis lagi."


Kembali lagi ke Zujy yang terjebak di mimpinya.


Ia mendengar suara Reihan yang menyuruhnya berhenti menangis membuatnya kesal.


"KAU SELALU BERKATA SEPERTI ITU!!! SEKALI - KALI KELUARKAN AKU DARI SINI!!! DASAR GUNUNG ES!! DASAR LELAKI MISTERIUS!! DASAR TUNANGAN PALSU!!" teriak Zujy sembari mengejek - ngejek Reihan.


"Lihat saja, aku akan membatalkan pertunangan itu ketika aku bangun, hehehehe," gumam Zujy tersenyum licik.


"Haccyuu." Reihan bersin dan melirik sekitar, rasanya ada yang marah padanya sekarang.


Bersambung.