
Reihan berdiri menatap Pak Fin ditengah ruangan CEO di pusat perusahaan Dirni yang berada di Amerika.
Note : percakapan dibawah memakai bahasa Inggris
"Kenapa jadi begini!" ucap Reihan menatap tajam Pak Fin dan Agler yang adalah CEO perusahaan Dirni duduk di kursi kebesarannya.
"Saya menolak!! tidak bisa! Zujy sama sekali tidak mencintai saya!"
Agler terkekeh lalu berdiri dan mendekati Reihan.
"Reihan!!" ucap Pak Fin dengan lantang.
Reihan mengepal tangannya.
"Nona Zujy," ucap Reihan menundukkan wajahnya.
"Tidak apa - apa Fin, anakmu ini akan segera bertunangan dengan anakku," ucap Agler tersenyum sembari bersandar di mejanya.
"Maaf pak, saya tidak bisa."
"Tugas saya hanya menjauhkan Leo dari nona Zujy."
Agler memicingkan matanya lalu melirik Pak Fin. Pak Fin segera menatap Reihan kembali.
"Ini hanya untuk berjaga - jaga, Tuan Felix sedang sakit parah. Dan jika Tuan Felix tidak terselamatkan, untuk sementara akan dijalankan Nyonya Victoria dan ketika Nona Zujy lulus kuliah. Nona akan mewarisi perusahaan NZ," ucap Pak Fin di simak Reihan dengan baik.
"Tuan Agler sebagai Ayah Nona Zujy ingin nona bekerja di perusahaan Dirni sebelum menjadi CEO di perusahaan NZ, tuan tidak ingin nona menanggung tanggung jawab yang besar di usia yang muda," tambah Pak Fin lagi.
"Jadi aku memintamu menjadi tunangan Zujy, dan menikah dengannya ketika lulus kuliah dan mengambil alih perusahaan NZ," sambung Agler.
Reihan mengerutkan keningnya, menjadi CEO adalah mimpinya. Dan mimpi itu tercipta ketika ia pertama kalinya melihat Agler Dirni.
"Yah, ini hanya untuk berjaga - jaga." Agler melirik Reihan.
"Bagaimana dengan anak itu? Bukannya dia lebih tua dari Nona?"
"Maksudmu Yoel?" tanya Agler terkekeh.
"Kau mau menyarankan lelaki asing mendapatkan aset penting bagi dua keluarga besar?"
Reihan mengerti perkataan Agler, walau Yoel telah diadopsi dan masuk ke keluarga Charles namun dia tetaplah orang asing namun bukankah Yoel sama dengannya?
"Dan tugasmu untuk menjauhkan Leo dari Zujy masih berlanjut. Dengan kau bertunangan dengan Zujy, Leo akan mundur dengan sendirinya," ucap Agler menatap Reihan.
Reihan terdiam, bagaimanapun ia tidak ingin bertunangan dengan Zujy yang mencintai orang lain, apalagi dengan alasan sepele. Bagaimana jika Zujy tahu niatnya sebenarnya? pikir Reihan.
"Bukannya kau mencintai anakku?"
Deg
Reihan membulatkan matanya, ia menatap Agler yang tersenyum tipis.
"Ayah menemukan buku ini di kosanmu," ucap Pak Fin memegang buku berjudul ciri - ciri kau mencintai seseorang.
Pak Fin memberikan buku itu pada Reihan yang masih terkejut menatap buku yang ragu - ragu dibelinya.
Reihan memegang buku itu dengan telinga yang memerah karna malu.
"Bagaimana? Apa tebakanku benar?"
Reihan tidak menjawab perkataan Agler dan beberapa saat terdiam kemudian membuka mulutnya. "Saya tidak bisa bertunangan dengan orang yang tidak mencintaiku, bagaimana kalau dimulai dengan berpacaran? Saya akan membuat nona mencintaiku juga."
Agler tersenyum puas lalu menyetujui perkataan Reihan, ia melihat Reihan yang berjalan keluar dari ruangannya.
Alasan sebenarnya ia melakukan ini bukan karna itu dan ia percaya bahwa Felix akan bertahan. Agler hanya takut jika Zujy kembali diketahui publik hal yang sama akan terulang lagi. Hal yang begitu buruk.
"Fin ... tugasmu sekarang selesai."
Pak Fin terkejut dengan perkataan Agler.
"Jangan terkejut begitu, kau tetap keluarga kami. Terima kasih sudah menjaga anakku dengan baik."
Pak Fin menatap serius Agler, perkataan Agler seakan mereka tidak akan bertemu lagi.
"Aku percaya Reihan akan melindungi Zujy seperti kau melindungi Zujy."
"Dan sekarang tugas baru untukmu ... jadilah tangan kananku."
Pak Fin tersenyum lega, ia membungkukkan badannya memberi hormat pada Agler.
"Baik Tuan."
.
.
.
Reihan mengepal tangannya sembari menunggu lift turun, ia masih merasa tidak nyaman dengan perasaan yang selalu ingin di samping Zujy dan melindunginya, apalagi perasaan kesal melihat Zujy bersama lelaki lain.
Ia melirik buku konyol itu dan mendengus kesal.
"Kalau Zujy gak setuju dengan perjodohan itu, aku juga gak akan setuju."
.
.
.
Mobil hitam masuk ke dalam kediaman Charles, melewati para security yang menundukkan badannya dan taman yang begitu luas. Mobil terhenti tepat di depan pintu utama kediaman Charles.
Seorang gadis berambut pirang bermata biru turun dari mobil memakai kemeja putih dan celana panjang, ketika pintu dibuka. Para pelayan berderet menundukkan badannya, Irine tersenyum dan berjalan menuju ruang keluarga tempat Ayahnya berada.
Irine memeluk Ayahnya begitupun dengan Ayahnya.
"Aku rindu Ayah."
Andre melepas pelukannya dan tersenyum menatap Irine.
"Ayah datang untuk menjemputmu, apa kau sudah siap?"
Irine terdiam, bahkan sampai saat ini ia belum memberitahu tentang kepergiannya pada Zujy. Dan ketika melihat Zujy yang mengingat tentang Leo, Irine merasa tidak ingin pergi. Ia masih ingin bersama Zujy, Zujy yang dikenalnya.
"Sebentar lagi, beri aku waktu sebentar lagi Yah."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Semakin membaik, aku selalu membiasakan memegang tangan Reihan saat di kelas," ucap Irine tersenyum.
"Reihan? Siapa itu? Pacarmu?"
Irine terkekeh, mana mungkin Reihan bisa menjadi pacarnya.
"Tidak mungkin, dia anak Pak Fin. Pengawal Zujy, dia sangat pintar bahkan mengalahkan Zui dan Yoel."
"Rin, kau mau melihat kak Felix sebentar saja?"
Irine mematung, tentu saja ia mau melihat kakaknya. Ia mengangguk dan Andre tersenyum bahagia.
"Aku akan ajak Yoel, mana dia?"
Irine memanggil pelayan dan bertanya dimana Yoel, dan pelayan menjawab bahwa Tuan muda Yoel baru saja pergi ke Inggris untuk menjenguk Tuan Felix.
"Cih, gak ngajak - ngajak."
Andre terkekeh, dan mereka segera menyusul Yoel.
.
.
.
Zujy yang memakai topi namun poninya tidak menutupi wajahnya dan tetap memakai kontak lens, ia berjejer di antrian yang begitu panjang bersama Arka yang juga memakai topi.
Bisa saja mereka membeli game baru ini tanpa mengantri namun keadaan Zujy tidak memungkinkan.
"Coba saja kalau dijual online," gumam Zujy mengipasi wajahnya.
Setelah berjam - jam mengantri, akhirnya game yang dinanti - nanti terbeli. Dan kini mereka duduk di sebuah kursi taman sembari memakan ice cream.
"Arka, mau rasa punya kakak?"
Arka mengangguk lalu mencicipi ice Zujy dan tersenyum.
"Enak."
Zujy tersenyum dan kembali memakan ice cream sembari bersandar di kursi dan mengayun - ayunkan kakinya keatas dan kebawah.
Arka yang melihat itu juga mengikuti gerakan kaki Zujy dan mereka tertawa lepas hingga seorang lelaki mengampiri Zujy.
"Zui."
Zujy melirik lelaki itu dan membulatkan matanya menatap Leo dengan penampilan yang berbeda, rambutnya tidak lagi kemerahan dan menjadi hitam seluruhnya.
"Leo?"
Nana yang mendengar nama Leo seketika membuka topinya dan menatap Leo, dan benar saja dugaannya. Lelaki ini adalah teman masa kecil kakaknya, ia melirik Zujy dan menyimpulkan bahwa kakaknya sudah mengingat masa lalunya dengan Leo dan itulah mengapa sikap kakaknya mulai kembali.
Leo melirik Arka dan tersenyum.
"Siapa anak perempuan ini? Tomboy sekali," ucap Leo mengelus kepala Arka namun ditepis kasar Arka.
"Jangan menyentuhku," ucap Arka dingin.
Leo terkejut dan menatap intens Arka lalu menyadari bahwa Arka adalah adik Zujy yang dulu masih berumur 5 tahun.
"Aku ingat!! Kau Nana kan? Kau sudah besar sekarang tapi sikapmu masih sama."
Zujy tersenyum kaku mendengar perkataan Leo.
"Kakak sudah mengingat kak Leo kan?"
Leo terkekeh. "Wah, kau masih sangat pintar."
Arka tersenyum tipis lalu menarik tangan Zujy, ia menarik Zujy ke suatu tempat.
Mereka melihat suatu pertunjukkan kecil untuk para pekerja yang perlu bersantai.
Banyak para pekerja yang stress duduk di sana untuk mengistirahatkan pikiran mereka.
Zujy membulatkan matanya karna seorang artis terkenal bernyanyi di atas panggung kecil itu, dan lagi itu adalah idola Zujy.
"Kak, ayo duduk. Kakak pasti rindu dengan kak Viola kan?"
Zujy mengangguk dan duduk diantara para pekerja, begitupun dengan Leo yang ikut duduk.
Viola mengajak para penonton yang ingin naik ke atas panggung dan bernyanyi untuk para pekerja yang butuh istirahat. Arka dan Leo seketika menatap Zujy.
"Kakak, ayo maju. Aku sudah lama tidak melihat kakak bernyanyi," ucap Arka memegang tangan Zujy.
"Nana, kau kan tahu Ayah melarang kakak bernyanyi."
"Ayah di Amerika dan Pak Fin diliburkan kan?"
Arka terus memaksa Zujy hingga Zujy memberanikan diri untuk maju dan bernyanyi.
Leo terlihat antusias melihat Zujy bernyanyi begitupun dengan Arka.
"Wah, cantik sekali. Namamu siapa?" tanya Viola.
"Nana."
Arka terkejut, ia tidak menyangka kakaknya akan memakai nama samaran.
"Baiklah Nana, silahkan bernyanyi."
Zujy menghela nafas dan menatap para penonton, kakinya bergetar namun ia tidak tahu kenapa. Ia mulai bernyanyi dan sekali lagi kepala dan lehernya mulai sakit di tengah - tengah lagu.
Ia menatap para penonton dan melihat para penonton yang beribu - ribu tengah mencacimakinya, kepala Zujy bertambah sakit. Arka dan Leo seketika berdiri melihat Zujy pingsan setelah berteriak keras.
Keduanya segera menghampiri Zujy yang pingsan.
Arka berdiri di atas panggung sembari memegang mic dan melirik kakaknya yang berada di gendongan Leo.
"Jangan ada yang merekam dan memotret, INI PERINGATAN!!" ucap Arka dengan lantang.
Mereka segera membawa Zujy ke mobilnya. Dan Leo segera mengemudi ke rumah sakit.