
Leo terkejut karna dapat membuka pintu apartemennya tanpa kunci, ia masuk dan menatap Anna yang tengah berbaring di sofa sembari menonton acara tv kesukaannya.
.
.
.
Irine yang tengah berbaring dengan masker wajah di wajahnya melangkah membuka pintu setelah mendengar ketukan, ia mengira Zujy yang telah pulang.
"Tumben ngetuk dulu," ucap Irine terkejut menatap Yoel yang membawa makanan.
"Ayo, makan bersama," ucap Yoel seketika masuk dan mengatur makanan di meja makan yang pendek.
Masker Irine seketika pecah, ia dengan kaku menutup pintu dan berjalan mendekati Yoel.
"Zujy masih belum pulang," ucap Irine membuat Yoel terkejut.
Irine dengan cepat melangkah masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.
"Bagaimana ini?! Kami berdua sekarang," gumam Irine dan mengintip Yoel yang tengah duduk menunggunya.
"Setelah kejadian kemarin aku masih merasa canggung," gumam Irine dan terkejut ketika Yoel menatapnya.
Dengan langka berat, ia duduk di depan Yoel.
"Ini mie ayam, aku beli banyak," ucap Yoel kaku dan Irine hanya terdiam karna merasa suasana sangat canggung.
.
.
.
"Zui, kenapa kau ke sini?" tanya Agler mempersilahkan Zujy untuk duduk namun Zujy menolak.
"Aku ingin perjodohan itu dibatalkan!" tegas Zujy membuat Agler mendekatinya.
"Ada apa? apa Reihan membuatmu kesal?" tanya Agler lembut sembari merapikan rambut Zujy namun di tahan Zujy.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, aku sudah besar! dan lagi! aku yakin bisa mengatasi dua perusahaan sekaligus!"
Agler memicingkan matanya mendengar perkataan anak perempuannya.
"Kau tidak bisa!"
"Kenapa Ayah tidak pernah bisa mempercayaiku!? kenapa Ayah tidak bisa menghargai perasaanku?! aku selalu menghargai Ayah yang jarang memberi kasih sayang tapi kenapa Ayah tidak bisa menghargai perasaanku yang hanya ingin hidup sesuai keinginanku?" tanya Zujy dengan air mata yang mulai keluar.
"Ayah tidak bisa membatalkan pertunangan itu!"
Zujy menjadi kesal, mengapa Ayahnya selalu mengaturnya?
"AKU TIDAK MAU!! AKU PUNYA ORANG YANG KU CINTAI! AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGAN ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK KUCINTAI! DIA JUGA TIDAK MENCINTAIKU!"
Zujy terdiam beberapa saat melirik Pak Fin yang sedari tadi berdiri di samping meja, ia tidak ingin menyakiti hati Pak Fin namun ia juga tidak ingin bertunangan dengan Reihan.
"Siapa? apa kakak gadis **** itu?" tanya Agler dingin.
Zujy yang sudah muak menahan emosinya mengatakan. "IYA!! AKU MENCINTAINYA!! AKU TIDAK PEDULI DIA AD-"
Namun sebelum ia bisa menyelesaikan perkataannya Agler menamparnya.
Agler yang menatap Zujy memegang pipinya mulai merasakan sakit di kepalanya.
"Ayah tidak bisa membatalkan pertunangan itu."
"Fin, bawa Zujy pergi," pinta Agler memegang kepalanya dan kembali duduk di kursinya.
Akhirnya berhasil keluar walau ia terus memberontak.
Ia melepas genggaman tangan Pak Fin dengan pelan dan mengusap air matanya.
"Maaf Pak Fin, Zui tidak bisa bertunangan dengan Reihan," ucap Zujy terus mengusap air matanya yang tidak henti keluar.
"Baik," ucap Pak Fin mengusap pelan kepala Zujy.
Setelah Zujy mulai membaik Zujy kembali menatap Pak Fin. "Pak Fin, tolong bujuk Ayah untuk membatalkan pertunangan itu."
"Baik Nona, saya akan usahakan."
Zujy tersenyum melihat Pak Fin yang kembali masuk ke dalam, ia melirik sekitar. Leo belum kembali.
.
.
.
Anna seketika berlari memeluk kakaknya ketika menyadari pintu terbuka.
"Kakak!" seru Anna namun pelukannya dilepas Leo.
"Kenapa kau masih di sini?!" ucap Leo berjalan menuju kamarnya.
Anna hanya tetap di posisinya dengan tatapan sedih.
"Anak itu belum memberikan uang itu," ucap Anna.
"Biaya rumah sakit ibu akan diurus ayahmu, kau tidak perlu merasa khawatir," ucapnya sembari membereskan koper adiknya.
"Aku tidak mau, dia bukan Ayahku!"
Leo menghela nafas kasar, sampai kapan adiknya ini tidak menerima ayah kandungnya?
"Pergi dari sini!! Kalau dia samp-" ucapan Leo terhenti kala ia melihat lelaki yang paling dibencinya berada di belakang adiknya.
"Beraninya kau datang ke sini!" bentak Agus ingin memukul Anna namun tangannya Leo menghalanginya.
Sebuah pukulan yang tadinya ingin mengenai Anna terkena Leo.
"Kenapa kau ke sini?!" tanya Leo marah.
"Apa aku perlu alasan untuk ke rumah anakku sendiri."
"AKU BUKAN ANAKMU!! AKU TIDAK PUNYA AYAH!!"
Tatapan Leo terhenti menatap seorang wanita di pintu apartemennya, wanita yang selalu di bencinya.
"Pfftt, sekarang kau berani membawa wanita ***** itu?" ejek Leo membuat tamparan kasar mengenai pipinya.
"Jaga bicaramu Leo!!!"
"Aku sudah bilang!! jangan datang ke sini lagi! kenapa ibu selalu mengizinkanmu ke sini?!" ucap Leo melirik adiknya yang ketakutan.
Leo kembali melirik wanita itu dan mendekatinya.
"Berapa harga wanita ini? sampai pengacara terkenal mau dengannya?!" kekeh Leo mencium leher wanita itu dengan tujuan ingin mengejek Agus.
Leo menghentikan aksinya ketika menyadari wanita itu malah terangsang dengan ciumannya dan PLAAKK!! Agus memukul wajah Leo hingga Leo terlempar ke luar Apartemen.
Leo mengusap darah di bibirnya sembari menatap jijik wanita itu.
"Menjijikan! Kau terangsang dengan anak suami barumu?! dasar ******," ucap Leo membuat wanita itu ketakutan dengan tatapan menusuk dari Leo.
Agus menarik kasar wanita itu dan pergi dari apartemen Leo sedangkan Leo berusaha berdiri.
Anna segera menghampiri kakaknya dengan khawatir, ia mencoba mengusap darah di bibir kakaknya namun ditepis kasar Leo.
"Jangan pernah datang ke sini lagi?!" ucap Leo dan melangkah pergi dari apartemennya.
.
.
.
"Jangan tidur di sini," ucap Riski menatap Leo yang tertidur di meja bar.
"Akhh!!! JANGAN MENGGANGGUKU!!" bentak Leo memukul meja bar dan meminum alkohol lagi.
"Kau mabuk!? Aku tidak akan mengantarmu pulang, salahmu sendiri meminum 10 botol alkohol sekaligus."
Drttt
Hp Leo yang tergeletak di meja bar berdering untuk kesekian kalinya namun kali ini Riski mengangkatnya.
"LEO!! KAU KEMANA SAJA! SEKARANG SUDAH HAMPIR TENGAH MALAM!!" teriak Zujy membuat Riski sedikit menjauhkan hp dari telinganya.
Lelaki itu menatap Leo dan menendang kursi Leo.
"Oy! Gadismu menelponmu!!" ucap Riski namun Leo keburu pingsan.
"Datang ke club **** sekarang."
Riski mematikan hp Leo dan meletakkannya kembali.
Di sisi lain, Zujy memesan taksi dengan perasaan kesal.
Dan kini ia berdiri tepat di depan club yang diberitahu Riski.
"Tidak kusangka aku akan masuk ke tempat ini," gumam Zujy melangkah masuk.
Ketika ia masuk suara musik yang begitu besar menyerang telinganya, Zujy terus berjalan mencari Leo.
Ia mengabaikan para lelaki yang menggodanya hingga ia melihat punggung lelaki yang di carinya.
"Oyy!!" Zujy memukul punggung Leo membuat Riski tertawa.
Zujy melirik Riski heran.
"Ah maaf, aku yang tadi di telpon," ucap Riski dengan wajah yang memerah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Cantik sekali,' benak Riski terus menatap Zujy.
"Leo! Kau mabuk!?" ucap Zujy berusaha membangunkan Leo.
"Leo tiba - tiba ngajak minum dan meminum 10 botol alkohol sekaligus, dia tidak biasanya minum sebanyak itu sampai mabuk. Jadi kalau kalian ada masalah cepat selesaikan."
Zujy menatap Riski dan terkejut ketika Leo tiba - tiba memeluknya.
"Zuii~" Leo terus memeluk Zujy dengan erat.
'Curang banget' benak Riski menutup mulutnya.
Riski mendekat dan menopang tubuh Leo.
"Biar aku bantu," ucap Riski tersenyum.
"Terima kasih."
Perasaan Zujy menjadi tenang ketika berada di luar Club, setelah Leo masuk ke mobilnya Zujy berterima kasih pada Riski kemudian mengemudi pulang ke desa.
"Kenapa tiba - tiba minum sih Leo?!" ketus Zujy terus mengemudi di tengah hutan menuju desa.
"Aku sudah bilang jangan datang," gumam Leo namun di dengar Zujy.
Bersambung.