
Rumah sakit.
Arka melirik Leo yang terus duduk di samping kasur Zujy sembari memegang tangan kakaknya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Namun sepertinya kedua orang tuanya sebentar lagi akan datang dan Leo tidak bisa ada di sini.
"Kak, mending sekarang kakak pulanglah."
Leo menatap Arka, ia tidak ingin meninggalkan Zujy dalam keadaan begini.
"Ayahku akan datang sebentar lagi ... Ayah sangat membencimu, jadi sebaiknya kakak pergi sekarang."
Leo tidak tahu mengapa Agler membencinya, ia mencium tangan Zujy lalu berjalan keluar. Dan sekilas menatap Ayah Zujy yang berlari ke kamar inap Zujy.
Agler membuka kasar pintu kamar, dan mengerutkan kening menatap Arka. Ia mendekati Arka dengan amarah yang menyelimutinya.
"Arka!!"
Arka mengangguk. "Aku yang menyuruhnya."
Amarah Agler bertambah, bagaimana bisa Arka menyuruh Zujy melakukannya padahal ia tahu betul trauma Zujy.
"Kenapa?"
Arka menatap tajam Ayahnya.
"Jaga tatapanmu Arka!!"
"Aku tidak suka kakak melupakan masa lalunya!!"
"Ini demi kebaikan kakakmu," ucap Agler memegang pundak Arka.
"Kebaikan?!! Bagaimana bisa demi kebaikan?? AYAH LIHAT PERUBAHAN SIKAP KAKAK SETELAH MELUPAKANNYA ... aku bahkan tidak pernah melihat kakak tersenyum lagi."
"APA AYAH TAHU?? bagaimana kakak menutupi identitasnya dengan baik? bagaimana risihnya kakak dengan rambut yang menutupi setengah wajahnya? Bagaimana kakak dikucilkan di sekolah? AYAH TIDAK TAHU KAN? PENDERITAAN KAKAK SELAMA INI?"
Agler tertegun mendengar perkataan Arka, bagaimana bisa Arka mengetahui apa yang tidak diketahuinya?
"Ayah mengabaikannya ketika kecil dan datang sebagai pahlawan untuk lebih merusak hidupnya dan Ayah bilang ini semua demi kebaikan kakak?"
"ARKA!!" tangan Agler terhenti ketika ingin menampar Arka, ia kembali menyimpan tangannya dan mengepal erat tangannya.
"Kau masih kecil, kau tidak mengerti keadaan orang dewasa."
Arka terkekeh. "Tapi aku tahu keadaan sekarang!!"
4 tahun yang lalu.
Seorang lelaki yang kita kenal sebagai Agler Dirni berlari melewati beberapa murid di lorong, ia membuka kasar pintu lalu melihat seorang gadis berambut pendek terduduk dengan wajah yang babak belur, Agler melirik sekitar dan mendapati Zujy menangis sembari memegang leher yang merah bersama Runi dan Irine.
Amarah sekali lagi merasuki Agler, ia mendekati gadis berambut pendek itu dan mencekiknya begitu kuat. Runi terkejut seketika menghentikan Agler namun nihil, tenaga Agler begitu kuat.
Irine juga ikut ingin menghentikan Agler namun nihil, ia juga tidak bisa menghentikan Agler.
"INI YANG DIRASAKAN GADIS TIDAK BERSALAH YANG KAU SAKITI!!" teriak Agler dengan penuh amarah menatap gadis itu.
"Sayang!! Hentikan ini!" bujuk Runi namun usahanya tidak berhasil.
Zujy yang melihat Ayahnya hampir membunuh seorang gadis segera mendekatinya walau dengan rasa sakit sekujur badannya.
"A - ayah, h hen ti kan," ucap Zujy terbata - bata.
Zujy dengan sekuat tenaga mengeluarkan suaranya sembari menahan rasa sakit di lehernya dan dadanya yang sesak dan air mata yang terus mengalir.
Tangan Zujy mencapai tangan Agler, Agler melirik Zujy dan air matanya keluar. Ia mendorong kasar gadis itu, dan menggendong Zujy lalu segera berlari membawa Zujy ke rumah sakit.
.
.
.
"Jika Zujy dikucilkan, itu bagus. Dia tidak akan tersakiti lagi."
Arka melepas tangannya dari tangan Agler, ia tidak menyangka Ayahnya akan berkata seperti itu.
"Ayah tidak bisa menyembunyikan Zujy selamanya. Bagaimanapun juga aku akan mengembalikan kakakku!"
Agler tidak menjawab perkataan Arka dan segera pergi setelah sekilas melirik Zujy yang tertidur.
.
.
.
Irine tertegun menatap kakaknya yang terbaring lemas di atas kasur dengan alat medis yang begitu banyak di tersambung ke badan.
Lutut Irine terjatuh, ia memegang tangan kakaknya sembari terisak. Memohon agar kakak segera bangun.
"Kak! Kakak! bangun kak! jangan begini! aku tidak suka kakak bercanda seperti ini," isak Irine terus memegang tangan kakaknya sembari menatap wajah Kakaknya yang begitu pucat.
"Ayah berbohong!! Ayah bilang kakak baik - baik saja!!" teriak Irine menatap Ayahnya dengan raut wajah yang amat sedih.
Air mata Irine mengalir deras, ia tidak menyangka keadaan kakaknya lebih buruk dari dugaannya.
Ia masih tidak sanggub kehilangan seorang kakak, ia tidak ingin kehilangan siapapun.
Irine terus terisak hingga air matanya habis, ia duduk termenung menatap kakaknya dan terus memegang tangan kakaknya.
"Kenapa kakak begitu kurus?"
"Kenapa kakak melakukan ini?"
"Kenapa kakak selalu menanggungnya sendiri? Ada Ayah, Yoel dan aku yang akan membantu kakak kalau kakak kesulitan."
"Kenapa kakak begitu jahat padaku?"
Yoel membuka pintu ruangan dengan kasar dan menatap Irine dengan wajah syok.
Irine menatap heran Yoel, hari ini pertama kalinya ia bertemu Yoel.
"Rin!! Zui!!"
Irine membulatkan matanya dan berdiri. Ia begitu syok mendengar perkataan Yoel, ia melirik kakaknya. Apa yang harus dilakukannya? Zui jatuh pingsan dan kakaknya juga dalam keadaan yang tidak baik.
Irine menggigit bibirnya hingga luka, ia menatap kakaknya.
"Kakak ... maaf, aku akan datang lagi nanti."
Irine berlari keluar diikuti Yoel. Tangan Felix terjatuh, dan air mata keluar.
.
.
.
Reihan menatap sedih Zujy, ia memegang tangan Zujy dan mengelusnya pelan. Ia berjalan keluar dan melirik Arka yang duduk di sofa termenung.
Ia menghela nafas dan ketika hendak membuka pintu, pintu lebih dulu dibuka Irine yang berlari masuk dan mematung menatap Zujy. Yoel juga masuk dan begitu sedih menatap Zujy.
Tatapan Irine berpindah menatap tajam Arka, ia mendekati arka dengan tatapan yang tajam.
"Apa yang kaulakukan pada kakakmu!?"
Arka menjawab dengan nada yang rendah. "Aku hanya ingin kakak mengingat semuanya."
Irine marah dengan perkataan Arka. "TAPI CARAMU SALAH!!"
Arka menatap tajam Irine
"Kau terlalu terburu - buru!! Kenapa kau selalu bertindak gegabah!" ucap Irine lantang.
Arka berdiri dan keluar dari ruangan mengabaikan Irine dan yang lainnya.
Reihan ikut keluar meninggalkan Yoel dan Irine bersama Zujy.
.
.
.
Agler duduk di ruang kerja Dokter Barry dan Dokter Barry duduk dihadapannya.
"Jadi?"
Dokter Barry meletakkan dokumen yang dipenganggnya.
"Kemungkinan besar Zujy akan mengingat semuanya."
Agler mengerutkan alisnya. "Apa masih bisa menggunakan obat itu?"
Dokter Barry mengangguk.
"Kalau begitu besok, kita lakukan."
Dokter Barry terdiam, ia menatap Agler. "Agler, aku rasa tidak perlu menggunakan obat itu lagi. Mental Zujy sekarang semakin kuat, aku yakin dia bisa melawannya."
"Tidak bisa!! Aku tidak bisa dia mengingat hal itu!! Aku tidak ingin dia mengingatnya! Bagaimana jika Zujy jadi takut pada semua orang?"
Dokter Barry menatap Agler, Agler adalah temannya ketika kuliah hingga sekarang.
"Kau hanya perlu mempercayainya."
Agler menatap Dokter Barry sembari menahan air mata. "Barry, aku takut dengan kemungkinan Zujy mengalami gangguan mental nantinya."
Dokter Barry terdiam dan mengepal tangannya.
Bersambung.