Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Lelucon



"Hah?"


Semuanya yang duduk di sofa merah itu menatap heran Reihan yang juga duduk di sofa.


Reihan berdiri dan menunjuk monitor yang begitu besar.


"Kalau kalian menyetujuinya aku yakin proyek ini akan sukses!" seru Reihan menatap ke empat sahabatnya itu.


"Bukan tentang suksesnya! Ini hidup mereka, privasi!!" bantah Leo yang berdiri.


Zujy berdiri dan memegang pundak Leo. "Apa alasanmu? Kenapa harus cerita kami?"


"Karna menarik dan juga untuk memberitahu pada dunia bahwa hidup sebagai anak berstatus tinggi tidaklah muda," balas Reihan.


Zujy menganalisa apa yang tertulis di monitor itu dengan teliti lalu memindahkan tatapannya ke Irine.


Irine melipat kedua tangannya dan berdiri. "Tidak mau!"


Reihan hanya terdiam melihat Irine mendekatinya dengan tatapan tajam.


"Apa ini trikmu untuk menghancurkan Dirni dan Charles?" tanya Irine membuat Reihan terkejut.


"Untuk film ini tidak ada untungnya bagi kedua keluarga, kami hanya akan hancur nantinya!" ucap Zujy dingin.


"Kami dibesarkan untuk menjadi penerus keluarga dan kami hidup dengan aturan yang kami buat sendiri! film ini hanya akan membongkar hal buruk keluargaku dan Irine!" jelas Zujy lagi.


"Satu kesalahan berarti kekalahan! Keluarga Dirni dan Charles memang dianggap keluarga yang kejam, semuanya takut pada kami dan kepribadian kami berubah sejak menduduki posisi CEO dan kami adalah keluarga yang disegani dunia! filmmu itu akan membuat kedua keluarga dianggap remeh, mereka akan berubah dan merendahkan keluarga Dirni dan Charles lalu perlahan - lahan kami akan hancur!" ucap Yoel yang tetap duduk di posisinya.


"Ternyata kau belum masuk ke dunia kami ya? aku kira semenjak perusahaanmu menjadi saingan NZ kau sudah masuk ke dunia kami," kekeh Irine namun menatap tajam Reihan.


"Teman - teman! bukan begitu maksud Reihan!" bela Hida ikut berdiri.


"Apa kau pernah mengikuti pertemuan 10 keluarga?" tanya Zujy membuat Yoel dan Irine terkejut.


"Pertemuan 10 keluarga?"


"Pertemuan 10 keluarga dan termasuk pertemuan sesama bangsawan, pertemuan yang hanya di lakukan setahun sekali."


"Kalian bangsawan?" tanya Hida membuat Yoel, Zujy dan Irine tertawa kecil.


"3 hari lagi waktunya, kalau kau mau ikut aku akan mengajakmu," ucap Zujy.


"Tapi sebagai pelayan pribadi Irine, kebetulan pelayan pribadinya dikubur kemarin," kekeh Zujy.


"Seharusnya aku yang mengajaknya kalau menjadi pengawal pribadiku!!" ketus Irine membuat Zujy sedikit tertawa.


"Jadi apa jawabanmu?" tanya Zujy.


Reihan menatap Irine yang masih menatapnya tajam.


"Kalau kau bisa bertahan, aku akan mempertimbangkan proyek itu," ucap Zujy tersenyum tentunya membuat semuanya terkejut.


"Aku mau."


Irine memalingkan mukanya berusaha menahan tawanya sedangkan Yoel sudah tertawa lepas.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Hida.


"Tidak - tidak, hanya saja aku kira suamimu itu sangat pintar tapi ternyata....," kekeh Yoel.


Hida berjalan mundur dan memegang lengan Reihan, ia merasa baru pertama kali melihat Yoel tertawa lepas dan juga tawanya sedikit menakutkan.


"Jangan dipikirkan, ini hanya salah satu lelucon saat kami kecil," kekeh Zujy.


"Lelucon?" tanya Reihan heran, ia merasa tidak ada yang lucu sekarang namun ke empat orang di depannya berusaha menahan tawa.


"Jangan dipikirkan. oh ya Leo, kau juga ikutlah karna setelah kau menikah dengan Zujy kau wajib mengikutinya," ucap Irine dibalas anggukan serius Leo.


"Aku harus pergi sekarang, ayo Irine," ajak Zujy pergi diikuti Irine.


"Aku juga," ucap Yoel dan pergi.


Kini tersisa Leo, Reihan dan Hida. Kedua orang itu masih merasa aneh dengan situasi tadi dan satu - satunya cara mengetahuinya hanyalah bertanya pada Leo yang tadi juga berusaha menahan tawa.


"Apa maksud lelucon tadi?" tanya Reihan.


Leo yang tengah menatap hpnya melirik Reihan. "Bagi mereka lucu, kau langsung menerima tawaran Zujy tanpa tahu resiko di balik itu. Intinya kau dipermainkan dan itu lucu, bagiku juga."


"Oh ya, kau harus bersiap untuk pertemuan itu. Persiapkan dirimu atau tidak kau akan pulang dengan berstatus budak."


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku benar - benar tidak mengerti," gumam Reihan.


"Mereka bangsawan?" tanya Hida yang masih penasaran.


"Kau belum tahu ya?"


"Termasuk Leo?"


"Ya, ibunya kerabat dari keluarga kerajaan."


"Tidak banyak yang tahu itu karna keluarga Dirni dan Charles menonjol di bisnis," ucap Reihan mematikan monitor besar itu.


Sedangkan Hida hanya terdiam.


.


.


.


"Kalian jahat sekali hahahah," kekeh Irine menatap Yoel yang duduk di depan sedangkan ia duduk di bersampingan dengan Zujy di dalam mobil yang dikemudi Chris.


"Padahal itu hanya pertemuan biasa, Yoel sampai tidak bisa menahan tawa tadi," kekeh Irine lagi.


Zujy dan Yoel terus tertawa.


"Tapi wajah heran Reihan sangat lucu," ucap Zujy.


"Itu memang pertemuan biasa bagi kita tapi mungkin tidak bagi Reihan," ucap Yoel terus menatap lurus ke depan.


"Itu alasanku mengajak Reihan, dia akan mendapat pelajaran bagus di pertemuan itu, itu juga bagus untuk reputasi perusahaannya nanti," balas Zujy.


"Tapi bisa saja reputasinya akan hancur, semuanya tergantung pada sikap Reihan nanti," ucap Irine.


"Sore ini aku harus segera balik ke London," ucap Zujy.


"Kami akan menyusul besok."


.


.


.


Di ruangan bernuansa putih terdapat begitu banyak orang dan salah satunya adalah Leo bersama Royce.


"Saya Franciosa, mulai saat ini mohon bantuannya," ucap wanita berambut panjang setengah berwarna merah dan setengahnya lagi berwarna hitam.


"Saya Leo, juga mohon bantuannya selama syuting," balas Leo menyodorkan tangannya untuk bersalaman


Tapi tiba - tiba wanita itu mencium pipi Leo.


"Di negaraku kami menyapa seperti ini," ucap wanita itu kembali menatap Leo.


Leo hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Hari ini kita hanya perkenalan peran dan pertemuan berikutnya seminggu lagi karna beberapa dari kalian memiliki urusan," ucap sutradara.


Semuanya seketika bubar menuju tujuan masing - masing, Leo langsung saja berniat pulang karna pacarnya atau tunangannya akan kembali ke Inggris sore ini.


"Film ini akan menjadi film terakhirmu ya," ucap Royce yang menyetir.


Leo hanya mengangguk sembari menatap hpnya, mengirim pesan pada kekasihnya.


"Padahal namamu sudah sangat besar sekarang tapi kau akan berenti tiba - tiba."


"Aku tidak masalah asalkan aku sudah merasakannya," ucap Leo lagi.


Mereka menjadi diam dan sibuk dengan yang dilakukannya masing - masing.


"Mm," gumam Leo menerima pesan dari Zujy.


Zujy : Leo, maaf banget! Aku harus pergi sekarang karna tiba - tiba ada urusan mendadak. Kita bertemu besok saja ya.


Leo hanya memasang wajah datarnya membaca pesan dari Zujy.


"Baiklah," gumam Leo menyimpan hp nya ke dalam saku celananya.


Bersambung.