
Irine terdiam, apakah perasaannya ini akan bagus di kedepan harinya?
Irine tidak sengaja mendengar suara ayahnya dan ibunya, jadi ibu dan ayahnya sudah datang. Perasaannya sedikit bahagia setelah mengetauhinya dan betapa terkejutnya ia saat ayahnya membuka pintu kamarnya lalu dengan cepat memeluknya setelah terdiam beberapa saat menatapnya.
"Syukurlah sayang, kau sudah bangun."
Andre melepas pelukannya, dengan wajah khawatir ia menanyakan keadaan Irine, apakah ia masih merasa sakit? Apakah perasaannya sekarang sudah lebih baik.
"Iya, ayah tidak perlu khawatir. Aku baik - baik saja."
Andre tersenyum bahagia mendengar perkataan Irine.
Irine melirik sekitar, ia mendapati ibunya tengah menatapnya khawatir namun ragu - ragu mendekatinya. Hubungannya dengan ibunya tidak terlalu baik, Victoria atau ibu Irine selalu mendahulukan pekerjaan dari pada dirinya yang adalah anaknya. Dan sikap ibunya menurun pada kakaknya walau masih menyayanginya dibandingkan dengan ibunya. Irine hanya tidak suka ayahnya yang sibuk pun sempat - sempatnya menyayanginya dan bermain dengannya ketika kecil sedangkan ibunya sama sekali tidak pernah seperti itu, ayahnya bahkan lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja di rumah berbeda dengan ibunya yang jarang terlihat di rumah. Tapi bagaimana bisa Victoria sekarang menyia - nyiakan waktunya untuk melihatku?
"Airine, kau baik - baik saja kan?"
Irine mengangguk dan menjawab singkat pertanyaan ibunya.
Ayahnya menjelaskan bahwa mereka sudah sampai dari 2 jam yang lalu dan berniat untuk pulang setelah melihat kembali keadaan Irine. Walau mau mereka tidak bisa berlama - lama di sini karna sibuk, Irine memahaminya karna akan selalu seperti ini.
Ia melirik Zujy dan Yoel di belakang kedua orang tuanya yang sama khawatirnya, ia tersenyum agar melepaskan kekhawatiran kedua sahabatnya itu.
"Rin, ayah harus pergi sekarang. Maafkan ayah tidak bisa bersamamu lebih lama."
"Iya, tidak apa - apa."
"Irine, dokter Barry akan datang besok. Kau jangan bersekolah dulu sampai keadaanmu membaik."
Setelah itu Ayah dan yang lainnya keluar dari kamarnya setelah Ayahnya puas melihat wajah Irine, namun ibunya sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia mendekati Irine perlahan - lahan dan duduk di atas kasurnya tempat Ayahnya tadi duduk. Irine seperti menyadari sesuatu, Ayahnya sempat memberikan kode ke ibunya sebelum keluar. Kini mereka terdiam berdua di dalam kamar.
"Rin, ibu tahu keadaanmu sekarang belum pulih, tapi ada yang perlu ibu bicarakan. Hal ini tidak bisa ditunda."
Oh, jadi karna ini ibunya menyempatkan waktunya untuk datang. Kalau ini kabar bahagia pasti ayahnya yang menyampaikan langsung, jadi ini kabar buruk karna ia tahu betul Ayahnya tidak suka melihatnya bersedih jadi tidak ingin memberi tahunya kabar buruk. Irine rasanya tidak ingin mendengar perkataan ibunya namun ia tetap menganggukkan kepalanya.
"... kakakmu sekarang berada di rumah sakit, dia jatuh pingsan saat menghadiri rapat penting."
"Dokter mengatakan kakakmu stress berat dan meminum banyak obat - obatan untuk menenangkan dirinya ... hatinya rusak dan ... kakakmu sekarang terbaring di rumah sakit."
Air mata jatuh mengenai selimut tebal Irine. Ia tidak menyangka kakaknya yang ceria bisa seperti ini, perasaannya kali ini benar - benar hancur lebur. Ia belum sanggub kehilangan seorang kakak yang sangat menyayanginya.
"Kau tenang saja, dokter akan berusaha semaksimal mungkin, kakakmu pasti akan baik - baik saja."
Betapa terkejutnya ia menatap air mata menetas dari seseorang yang tidak pernah dianggapnya ibu, Victoria memeluk erat Irine. Diluar dugaan Irine ternyata ibunya sangat menyayangi kakaknya, apakah ibunya akan seperti ini kalau dia di posisi kakaknya.
Irine tidak bisa berkata apa - apa, ia begitu sedih mendengar keadaan kakaknya.
"Kita akan pulang, kita akan tinggal di Inggris mulai saat ini. Kita harus menemani kakakmu supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi."
"Hah?"
Apa yang didengarnya tidak salah? Ia tahu betul keadaan kakaknya namun entah kenapa rasanya begitu berat untuk menyutujui perkataan ibunya untuk meninggalkan negara ini.
"Ibu dan Ayah akan pergi diluan, kau bisa menyusul setelah keadaanmu membaik. Jadi kau punya waktu untuk berpamitan dengan Zujy."
Irine tidak bisa menolak namun dirinya tidak ingin menerimanya. Tapi ia berusaha untuk menguatkan dirinya karna sekarang kakaknya begitu membutuhkannya dari siapapun.
"Baiklah."
Victoria melepaskan pelukannya dan menatap Irine, ia menghapus air mata Irine.
"Yoel akan pergi bersamamu."
Setelah mengucapkan itu, Victoria berpamitan dan keluar. Ia tidak mengantar kedua orang tuanya karna dilarang untuk bergerak terlebih dahulu. Ia merenungkan semua perkataan ibunya di dalam kamarnya sendiri.
Anna berjalan melewati anak tangga sembari membawa makanan di tangannya, ia begitu khawatir dengan kakaknya yang belum keluar dari kamar sejak pulang. Ia mengetuk pintu kamar Leo namun berapa kalipun ia mengetuk sama sekali tidak ada jawaban dari kakaknya.
"Kak, Ana bawakan makanan. Kakak belum makan dari tadi."
Anna mencoba membuka pintu kamar Leo dan berhasil namun Leo sama sekali tidak ada di sana, kemana perginya Leo?
Di sebuah ruangan VIP di club malam, Leo tengah duduk bersama kedua sahabatnya. Beberapa botol alkohol terlihat di atas meja tempat Leo duduk.
"******, kau pintar main gak sih?" umpat Leo yang tengah bermain game di hpnya bersama salah satu temannya yang bernama Rian.
Leo meletakkan hpnya kasar dan meminum segelas alkohol. Lelaki ini selalu saja minum jika perasaannya sedang tidak baik, namun tidak banyak karna ia memikirkan kesehatan tubuhnya. Ia tidak pernah minum lebih dari 5 botol yang dianggapnya sedikit, ia juga tidak pernah minum alkohol di atas 50%, ia tidak pernah dibuat mabuk oleh alkohol sejak pertama kali ia meminumnya.
"Kenapa sih kau hari ini?"
"Gak."
Rian hanya menatap heran Leo lalu melirik Riski yang sudah mabuk namun masih saja minum.
"Leo, coba mabuk satu kali," goda Riski menyodorkan segelas alkohol pada Leo dan diteguk habis Leo.
"Yang segini gak akan membuatku mabuk."
Leo menghentikan minumnya dan melirik jam tangannya, sudah jam 10.00. Ia sedikit khawatir pada adiknya yang di tinggalkannya sendiri karna adiknya kelihatan khawatir melihat wajahnya yang berdarah karna perkelahiannya dengan Yoel namun ragu - ragu untuk bertanya penyebabnya.
Leo sedikit bingung kenapa temannya ini menyewa ruangan VIP padahal mereka bisa minum kursi bar dan jawabannya terjawab ketika tiga gadis berbadan subur dan berpakaian seksi masuk ke dalam ruangan mereka. Tentu saja Leo kesal dengan tingkah kedua sahabatnya ini mengingat ia paling tidak suka melihat wanita malam.
"Tokoh utama malam ini sudah sampai."
Riski terlihat senang dan merangkul ke dua gadis itu. Leo beranjak dari duduk berencana ingin pergi namun Riski menahannya.
"Kau tahu kan? Aku paling tidak suka yang begini."
Leo menatap tajam ketiga gadis itu bahkan setelah Riski mendorong salah satu gadis itu dan terjatuh di dada bidangnya ia mendorong kasar gadis itu. Ia segera pergi dengan perasaan kesal meninggalkan kedua sahabatnya yang ingin bersenang - senang.
Leo mengendarai motornya dan tiba di desa tepat jam 12.00 malam, ia masuk ke dalam kosannya dan mendapati Anna yang tertidur di sofa dengan TV yang menyala. Leo menggendong Anna naik ke kamarnya setelah mematikan TV, ia membaringkan Anna di kasurnya. Belum sempat ia ingin pergi Anna menahan pergelangan tangannya.
"Kakak dari mana saja?"
Leo menatap Anna dan mengerutkan keningnya.
"Aku dari kota. Kakak sudah bilang cepat pergi dari sini."
"Kakak sudah makan?"
"Sudah."
Anna menggosok - gosok matanya dan mencoba duduk lalu menatap Leo yang berdiri menatapnya.
"Kakak minum lagi?"
"Gak."
"Kau tidur di sini saja, Kakak akan tidur di luar. Besok pergi dari sini sebelum Ayah datang ke sini dan mengusirmu."
Leo pergi meninggalkan Anna dan tidur di sofa tempat Anna tertidur tadi. Walau ia sudah mencoba beberapa kali untuk tidur tetap tidak bisa, ia menyalakan musik yang dinyanyikan Zujy ketika masih menjadi idol penyanyi dan berhasil tertidur.
Bersambung.