Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Lamaran



Andre menatap wajah serius kedua anaknya itu begitupun dengan Victoria pasalnya kedua anaknya itu baru saja mengatakan hal diluar dugaan.


Di ruangan bernuansa emas itu hanya terdapat keheningan, selain Irine, Yoel, Andre dan Victoria tidak ada seorangpun di sana. Bahkan para pelayan di perintahkan tetap diluar karna Yoel mengatakan akan membicarakan hal penting.


"Irine, Yoel. jangan bercanda!" tegas Andre mengerutkan alisnya.


"Kami tidak bercanda Ayah!" balas Yoel tidak kalah tegas dari Ayahnya.


Andre hanya bisa memijit pelan dahinya lalu menyuruh Kedua anak itu keluar.


"Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi," ucap Andre setelah Irine dan beranjak keluar.


"Sejak kau membawa Yoel, aku sudah tahu hal seperti ini akan terjadi," ketus Victoria menatap suaminya.


"Mereka sekarang sudah dewasa, hal itu sangat wajar. Mereka sama sekali tidak punya hubungan darah jadi bisa saja mereka saling suka," tambah Victoria.


"Ya, tapi menikah? Victoria, anak kita mau menikah!?"


Victoria hanya memasang wajah santainya karna ia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, ia juga tidak masalah jika Yoel menjadi suami Irine.


"Jadi kapan kau mau memberitahu Yoel hal itu?" tanya Victoria mengalihkan pembicaraan.


"kau mengalihkan pembicaraan? ... aku tidak tahu. Itu mungkin sudah bukan urusan Yoel lagi."


"Perusahaan itu milik keluarga Savannah! keluarga asli Yoel! kau harus mengembalikannya pada Yoel, Perusahaan itu miliknya."


Andre menghela nafas kasar, ia bukannya tidak mau mengembalikan perusahaan itu tapi perusahaan itu bukan lagi ditangannya. Victoria tidak mengetahui itu, seorang lelaki asing merebut perusahaan Savannah dari tangan Andre. Fakta ini disembunyikan Andre pada Victoria selama ini, sejak 3 tahun yang lalu.


"Semuanya kesalahanku," gumam Andre berdiri diikuti Victoria yang sontak berdiri.


"Aku akan bicara pada Irine tentang pertunangan itu, mungkin saja perasaannya pada Yoel bukan seperti itu. Mereka sudah bersama sejak berumur 4 tahun, bisa saja mereka salah mengira perasaan mereka satu sama lain," ucap Andre berjalan keluar meninggalkan Victoria yang memandang kesal Andre.


Saat pintu terbuka Andre tanpa sengaja melihat Yoel menarik Irine ke dalam perpustakaan pribadi Yoel. Tarikan Yoel terlihat memaksa, Andre yang terkejut langsung saja berlari masuk ke dalam perpustakaan itu dan terhenti menatap Irine dan Yoel yang tengah saling menatap sambil memegang tangan satu sama lain.


"Ayah? apa yang Ayah lakukan di sini?" tanya Irine santai menghampiri Ayahnya.


"Airine! pikirkan baik - baik hubungan kalian dan perasaanmu itu!!" pinta Andre lalu dengan cepat keluar.


Yoel dan Irine terdiam, perlahan - lahan Irine menatap cemas Yoel.


"Bagaimana ini? Ayah hanya memanggilku Airine saat marah," ucap Irine gelisah.


"Memberitahu mereka tentang hubungan kita memang hal yang buruk, bagaimana kalau setelah ini Ayah memisahkan kita?!"


Yoel memeluk Irine yang kelihatan cemas, pacarnya ini selalu saja menjadi gelisah ketika Ayahnya mulai memanggilnya dengan nama aslinya.


"Tenang saja, Ayah tidak akan melakukan itu," ucap Yoel.


Setengah jam yang lalu.


POV Irine.


Aku yang tengah duduk bersila di ayunan di tengah - tengah taman mawar memandang khawatir hpku karna khawatir pada Zujy.


Aku yang sangat fokus memandang hp sampai tidak sadar bahwa seorang lelaki duduk di sampingku. Matanya terus melirik wajahku namun aku tidak menyadari hal itu.


"Moni," sahutnya seketika aku melirik lelaki di sampingku.


"Yoel! sejak kapan kau di situ?!" tanyaku lalu melirik sekitar mencari anjing kesayanganku namun nihil.


"Tumben, biasanya sibuk pemotretan," kekeh Yoel yang tidak menjawab pertanyaanku.


"Hari ini aku tidak ada jadwal, dan kau? biasanya kau juga sibuk pemotretan," ketusku karna masih marah soal bentakan itu.


"Aku menyelesaikannya dengan cepat karna ingin bertemu gadisku."


Aku memalingkan muka, di saat seperti ini Yoel selalu bersikap seperti ini. Dia akan menjadi agresif agar aku memaafkannya. Tapi jujur saja, dia membuatku berdebar dengan tingkahnya ini.


Aku menyimpan hpku dan berdiri namun belum sempat aku melangkahkan kakiku, Yoel menahan tanganku.


namun ketika aku menatap matanya, aku seakan melihat Leo yang sering menggoda Zujy setiap saat. Rasanya menggelikan karna aku tidak terbiasa diperlakukan seperti itu.


"Aku tidak memintamu menemuiku," dinginku melepaskan genggaman tangan Yoel.


Sebuah pelukan hangat menahan langkahku lagi, Yoel menyimpan wajahnya di pundakku. aku merasakan ia sedikit mencium leherku, argh!! aku sangat tidak menyukai saat Yoel menjadi seperti ini. Ia ingin aku memaafkannya atau ia yang kekurangan kasih sayang dariku?


"Yoel, aku tidak menyukai tingkahmu ini," ketusku membuat Yoel berhenti mencium leherku. Untung saja tidak ada seorangpun di sini yang melihat tingkah Yoel.


"Aku menyiapkan hadiah untukmu," bisik Yoel di telingaku sebelum dia menarikku ke dalam keruangan yang di dalamnya terdapat Ayah dan Ibu.


Hadiah apa sebenarnya yang dia sebutkan?


Sangat mengejutkan ketika Yoel memberitahu semuanya pada Ayah dan Ibu tanpa secuilpun tersisa. Kulihat wajah terkejut Ibu dan Ayah namun yang membuatku terkejut ketika Ayah memerintahkan kami keluar tanpa mengomentari apapun tentang hubungan kami. Aku sedikit lega ketika melihat mimik wajah Ibu yang santai namun mimik wajah Ayah terlihat sangat kebingungan.


Saat kami menutup pintu ruangan itu, aku menatap kesal Yoel.


"Kenapa kau melakukannya?! kau bahkan tidak memberitahuku apapun atau mendiskusikannya padaku!" kesalku.


"Kalau ini hadiah yang kau sebutkan tadi, aku tidak menyukainya!!" ucapku lagi melangkah pergi dan Yoel sekali lagi menahan tanganku.


"Maafkan aku," ucapnya dengan wajah sedihnya.


"Tapi hadiah yang sebenarnya ada di sini," ucapnya menarikku ke dalam ruangan yang aku tahu persis ruangan apa itu.


Begitu banyak buku memenuhi pandanganku dan buku - buku di sini sudah habis di baca Yoel bahkan sampai dihapalnya. Saat kecil Yoel seorang kutu buku, dia bahkan lebih memilih berada di dalam ruangan ini daripada bermain denganku, Zujy dan Leo. Namun semakin berjalannya waktu, Yoel mulai terbuka pada kami dan ikut bermain.


Yoel menatapku serius dan memegang tanganku namun sebelum ia berbicara, Ayah membuka pintu dengan paksa.


Aku terkejut menatap wajah Ayah yang masih saja kebingungan.


"Ayah? apa yang Ayah lakukan di sini?" tanyaku memasang wajah santai tapi sebenarnya khawatir.


"Airine! pikirkan baik - baik hubungan kalian dan perasaanmu itu!!" ucap Ayah lalu dengan cepat keluar.


Aku terdiam begitupun dengan Yoel, perkataan Ayah yang memanggilku dengan nama asliku seketika menghantui pikiranku, perlahan - lahan aku menatap cemas Yoel.


"Bagaimana ini? Ayah hanya memanggilku Airine saat marah," ucapku gelisah.


"Memberitahu mereka tentang hubungan kita memang hal yang buruk, bagaimana kalau setelah ini Ayah memisahkan kita?!" ucapku tanpa sadar, seharusnya aku tidak berkata seperti itu karna aku sedang marah padanya.


Yoel memelukku membuat perasaanku sedikit membaik.


"Tenang saja, Ayah tidak akan melakukan itu," ucap Yoel.


Setelah sedikit lama kami berpelukan, Yoel akhirnya melepaskan pelukannya dan kembali menatapku serius.


Aku menatap tangannya yang mengambil sebuah kotak yang di ikat sebuah pita sembari bertekuk lutut di hadapanku.


Ketika mata coklatnya menatapku aku begitu terkejut, ia membuka kotak itu.


"Irine, kau mau menjadi istriku?" tanyanya.


"Saat itu sudah?" tanyaku dan dia menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Sekarang yang sebenarnya, aku bersungguh - sungguh," ucap Yoel dengan wajah yang begitu serius namun aku tahu dia gugup.


Terlihat dari wajahnya yang merah seperti tomat tapi aku tahu wajahku tidak kalah merah darinya, pandanganku menatap cincin perak itu. Perasaan kesal dihatiku entah mengapa menghilang dan digantikan oleh perasaan bahagia.


Jadi ini hadiah yang disebutkan Yoel?


"Ya, aku mau."


Yoel seketika tersenyum bahagia dan memakaikan cincin itu di jari manisku, selama ini aku hanya bisa melihat cincin di jari manis Zujy dan sekarang akhirnya aku bisa memilikinya. Ini adalah hadiah pertama dari Yoel sejak kami berpacaran. Sangat aneh kan? 7 tahun kami berpacaran dan sama sekali tidak pernah memberi hadiah satu sama lain. Mungkin juga karna kami tidak tahu memberitakan apa karna semuanya sudah kami miliki. Hanya cincin ini yang belum pernah aku miliki, cincin pemberian dari orang yang sangat kucintai. Cincin Lamaran.


Sebuah pelukan hangat membuat air mataku perlahan - lahan mengalir keluar.


Bersambung.