Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Aku perlu waktu



Zujy berjalan mengikuti arah Irine berlari, ia mengambil hpnya ketika mendengar suara.


"Halo ibu," sapa Zujy menatap ibunya di hp.


"Zui!!"


Zujy tersenyum melihat ibunya yang kelihatan sangat bahagia namun ia sedikit terkejut menatap Ayahnya di samping ibunya. Ia masih sedikit kesal pada apa yang dilakukan ayahnya padanya lalu.


"Zui lagi apa? Ibu tidak ganggu kan?" tanya Runi dan Zujy menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Ibu punya kabar baik untukmu sayang," ucap Runi lagi.


Zujy sembari berjalan mengikuti Irine hanya mendengar perkataan ibunya.


"Sebenarnya ibu mau beri tahu langsung tapi ibu tidak tahan nunggunya."


"Ada apa sih bu? senang banget kelihatannya," ucap Zujy terkekeh.


Runi menatap Agler kemudian menatap Zujy kembali.


"Zui, ibu hamil lagi!" seru Runi membuat Zujy membeku.


Ia membulatkan matanya menatap ibu dan ayahnya bergantian.


"Jadi aku bakal punya adik lagi?" tanya Zujy tidak percaya.


"Iya, usianya sudah 4 minggu." Runi mengangguk bahagia, gadis itu tersenyum melihat ibunya.


"Baguslah," ucap Zujy tersenyum manis.


"Zui, kasih ucapan untuk calon adikmu," ucap Runi memperlihatkan perutnya yang masih rata.


"Mmm, apa ya? ... adikku jangan pernah membuat ayah marah," bisik Zujy namun didengar kedua orang tua itu.


Agler hanya tersenyum kaku mendengar perkataan Zujy sedangkan Runi tertawa lepas.


"Semoga mirip ibu," tambah Zujy terkekeh dan terkejut menatap wajah ayahnya yang sedikit kesal.


"Ba - baiklah, bye!" ucap Zujy terburu - buru menutup sambungan telepon.


Sedangkan di sisi lain Agler hanya tersenyum setelah berpura - pura marah, ia mengelus lembut kepala istrinya.


Zujy tersenyum sembari menyimpan hpnya ke dalam saku celana, ia menatap lurus ke depan dan terkejut melihat Irine yang menangis lalu memeluknya.


"Irine! Apa yang terjadi!" tanya Zujy khawatir sembari mengelus pelan punggung Irine.


"Zui...." ucap Irine kemudian menceritakan semua kejadian.


Flashback on.


Pov Irine.


Aku berlari meninggalkan semua orang, kenapa Yoel harus mengatakan itu tepat di hadapan semua murid?


Ketika kurasa aku sudah berlari cukup jauh langkahku kuhentikan, aku menundukkan wajah pucatku sembari berusaha menghentikan tangisku dengan kedua tangan yang ku punya.


Tanpa kusadari seseorang berhasil mengejarku, ia perlahan mendekatiku dan memelukku dari belakang. Tentunya aku terkejut dan segera melepaskan pelukan itu, tatapanku terhenti pada wajah lelaki yang selalu kuberusaha menganggapnya kakak.


Dia dengan tatapan sedihnya mendekatiku namun aku melangkah mundur menjauhinya hingga langkah kecilnya itu terhenti dan mengucapkan kata - kata yang tidak ingin ku dengar.


"Maafkan aku," ucapnya sendu.


Aku menatap matanya dan menemukan penyesalan namun juga harapan, mungkin harapan bagiku. Perasaanku bercampur aduk, apa aku harus membongkar semuanya di sini? apa aku harus mengizinkan perasaan ini keluar lagi?


Hingga beberapa saat kami hanya terdiam dengan penyesalan tersendiri, aku menghela nafas berat dan menatapnya dengan sedikit ketakutan.


Aku takut dia akan meninggalkanku setelah mendengar perkataanku.


"Aku sudah tidak suci," ucapku membuat ia menatapku kaget.


"I - irine, apa maksudmu?" tanyanya bingung.


Tentu saja dia bingung, aku tiba - tiba mengatakan hal tidak jelas begini namun itu kenyataannya.


Aku menceritakan semua kejadian yang terjadi di hotel padanya.


Setelah aku di bawa ke hotel oleh mantan pacarku, aku sama sekali tidak ingat apa - apa karna sangat mabuk. Yang ku ingat aku bangun dalam keadaan bugil begitupun dengan Gion dan lagi aku menemukan bercak darah di kasur, aku yang syok sekaligus marah karna lelaki ini untuk kedua kalinya menyakitiku, aku mengambil pisau makan dan membunuhnya, setelah ia menghianatiku kini ia mengambil mahkotaku.


Saat mendengar suara Ayah dan Zui menambah penyesalan di hatiku, dengan tangisan yang tidak henti pisau itu menancap di dadaku.


Dan aku membuka mataku setelah melewati masa kritis, namun trauma mendalam malah menenggelamkanku. Dukungan orang terdekat seiring waktu membuatku dapat berenang ke permukaan melewati trauma menyakitkan itu.


Aku melirik Yoel yang terdiam mendengar ceritaku, dia sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Aku tidak tahan melihatnya dan sebuah pikiran buruk melintas di pikiranku, dia pasti akan meninggalkanku.


Aku berlari meninggalkannya dan memeluk Zui yang kulihat tengah berjalan mencariku.


Flashback off.


Aku menangis sejadi - jadinya di pelukan Zujy, sekilas aku menatap Zujy menatap tajam ke depan dan menyuruh seseorang pergi.


Namun bisa kutebak, seseorang itu adalah Yoel.


.


.


.


Di malam harinya aku menutup seluruh badanku dengan selimut tebal, aku mendengar Zujy tengah berbicara dengan seseorang di pintu tenda.


"Aku sudah bilang Irine perlu waktu," ucap Zujy.


"Mm, baiklah. Aku akan menunggu Irine siap bertemu denganku lagi," ucap lelaki itu dan berjalan pergi.


Zujy kembali masuk dan menarik selimutku, sekujur tubuhku seketika merasakan dingin pegunungan karna aku hanya memakai baju tipis.


"Ayo, acara malam sudah mulai. Kau butuh hiburan," ucap Zujy memakaikan jaket hitam tebal ke badanku.


Dia mengusap air mata yang tidak kusadari kembali keluar, Zui tersenyum dan menarik lembut lenganku keluar.


Kami ikut duduk di lingkaran murid, aku duduk di antara Reihan dan Zujy karna tiba - tiba Yoel duduk di samping Zujy.


"Kau lagi!" bisik Zujy sinis ke telinga Yoel.


"Jangan salah paham, aku hanya ingin duduk di sini."


Aku mengabaikan mereka dan tertawa menatap beberapa murid berparodi di tengah lingkaran murid. Aku tidak menyesal ikut acara malam kali ini karna berkatnya perasaanku mulai membaik.


.


.


.


Tidak terasa malam ini adalah malam terakhir wisata kami, aku juga sudah menguatkan hatiku untuk berhadapan dengan Yoel malam ini. Ya, aku berencana menemuinya setelah acara malam selesai.


Seluruh murid berbaris dan terdengar heboh karna mendengar informasi bahwa malam ini akan di adakan uji nyali.


Aku hanya terlihat biasa karna sama sekali tidak takut pada hantu begitupun dengan Zujy karna ia sedikit bisa melihat hantu, kemampuan menurun di keluarga Dirni.


Namun ketika Zujy ke Indonesia, ia menjadi takut dengan salah satu hantu yang ia hanya dapati di Indonesia yaitu pocong.


Dan saat ini Zujy terus memegang tanganku.


"Kita pasti berpasangan!" seruku membuat senyum di wajah Zui.


Kini giliran kami mengambil sebuah kertas berwarna di dalam kotak, sayangnya aku mendapat warna kuning sedangkan Zujy biru.


"Sayangku, semangat! Pocong!" seruku membuat wajah Zujy menjadi kesal.


Kami berdua mengangkat kertas tinggi - tinggi dan begitu terkejut ketika pasangan kami membalas mengangkat kertasnya juga.


"Mustahil," gumamku dan Zujy bersamaan.


Kami saling menatap dan tersenyum kaku, aku berjalan mendekati Yoel yang mempunyai warna kertas yang sama denganku. Setelah berada di sampingnya aku melirik Zujy yang terlihat bersemangat karna berpasangan dengan Leo, walaupun Leo terlihat memasang wajah datar. Tatapanku teralihkan ke Reihan yang memasang wajah jengkel karna bukan berpasangan dengan Zujy melainkan dengan Rini.


Tanpa kusadari lelaki di sampingku terus menatapku, menunggu aku akan menatapnya.


Setelah seluruh murid telah mendapatkan pasangannya masing - masing, semuanya mulai masuk ke hutan sesuai urutannya.


Irine dan Yoel masuk lebih dulu lalu Reihan dan Rini kemudian Zujy dan Leo.


Bersambung.