
Pukul 07.34
Zujy menatap Irine yang tertidur pulas di atas kasur yang berantakan.
Ia menarik nafas dan. "IRINE!!! BANGUN!!" teriak Zujy sedikit membuka mata Irine.
Irine melirik Zujy. "Zui, kan hari minggu."
"Kau sudah janji menemaniku belanja di pasar."
Irine mengabaikan perkataan Zujy dan menutup wajahnya dengan selimut.
"Pak Fin, Pak Fin," gumam Irine namun di dengar Zujy.
"Pak Fin sudah tidak menjagaku lagi!" ketus Zujy menarik selimut dan tubuh Irine terpampang jelas.
"Padahal aku memberikan alarm tapi tidak dipakai," gumam Zujy, ia menghela nafas dan mengambil tasnya yang tergantung di dinding.
"Irine, pasar di desa ini hanya sekali dalam seminggu," ucap Zujy berusaha membujuk Irine agar mau bangun.
Irine hanya terdiam menandakan ia sudah tertidur kembali, dengan terpaksa Zujy pergi sendiri.
Sesampainya di pasar.
Pov Zujy
Aku menatap begitu banyak orang di pasar, aku tidak menyangka ternyata begitu banyak orang yang tinggal di desa kecil ini. Yah mungkin dominan murid SMA Feleras yang tinggal di desa ini.
"Ini pertama kalinya aku pergi ke pasar," gumam ku kemudian menatap hp.
Aku menatap list belanjaannya di hp, dan berjalan ke penjual sayur terdekat dari posisiku berdiri.
"Mau beli apa dek?" tanya wanita itu, aku menatap heran begitu banyak ragam sayur.
"Sayur yang paling banyak di beli saja mrs," ucapku
Wanita itu mulai membungkuskan sayur dan memberikannya padaku.
"5000 dek," ucap Wanita itu.
"Sorry, just one," ucapku dengan suara yang gemetaran.
Entah mengapa otakku berhenti bekerja, mungkin karna sangat gugup aku sampai melupakan kosa kata Indonesia.
"Gawat!! Salah sekolah juga! Kenapa tidak ada yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia di sekolah padahal ini di Indonesia," gumamku menatap kosong wanita itu.
"Sa - satu," ucapku gugup.
Ia menatapku heran, tentu saja siapa yang tidak heran dengan sikapku ini.
"Harganya lima ribu dek," ucapnya, aku mulai mengerti. Aku mengira semuanya 5000 ternyata harganya 5000.
Aku kembali mematung menatap isi tasku, isi tasku hanya ada uang dolar dan Black Card dan aku tahu siapa pelakunya.
"Irine!!" gumamku kesal dan tersenyum kaku pada wanita itu.
Entahlah, terlihat dari wajah wanita itu ia mulai kesal dengan sikapku.
"Pakai ini bisa?" tanyaku memberikan Black Card.
Aku sunggu malu ketika wanita itu tertawa menatapku, sontak aku menyimpan kembali Black Cardku dan memberikan selembar dolar bernilai 100 dolar amerika.
"Pakai ini bisa? Kalau dirupiahkan 1 setengah juta rupiah," ucapku dan wanita itu kembali tertawa.
"Dek, uang mainan begitu tidak bisa dipakai. Adek ini umur berapa sih? Masa beli sayur pakai uang mainan," ucap wanita itu.
Aku hanya terdiam, kalau marah pada wanita ini juga percuma.
"Nih, biar aku saja yang bayar," ucap seorang lelaki memberikan selembar uang pada wanita itu.
Aku terkejut menatapnya, wajah yang tidak ingin kulihat sekarang. Setelah membayar sayur itu, ia mengambil hpku.
"Biar aku saja yang beli, kau bagaimana sih? uang dan kartumu tidak bisa di pakai di pasar kecil ini," ucap Leo berjalan lebih dulu.
Aku hanya terdiam menatapnya, dan berjalan di sampingnya.
Kami tidak mengeluarkan satu kata pun sampai semua belanjaanku telah terbeli semua, aku segera mengambil belanjaanku dari tangannya.
"Jangan salah paham, aku melakukan ini untuk memaksamu tutup mulut soal kejadian kemarin," ucapnya.
"Hah?"
Leo memberikan sisa uangnya padaku dan berjalan pergi meninggalkanku.
"Kau pikir aku ini apa?" ucapku menatap datar Leo.
Aku berbalik meninggalkan Leo, sikapnya berhasil membuatku kesal. Aku sekilas melirik Mas Pardi yang berjualan di pasar ini.
Langkahku terhenti saat mendengar suara dari perutku, aku menatap mie ayam Mas Pardi dari kejauhan dan suara perutku semakin membesar.
"Tidak boleh!! Aku tidak akan memakai uang Leo!" tegasku dengan tekad yang kuat melewati dagangan Mas Pardi.
"Dek Zujy!!" panggil Mas Pardi menghancurkan tekadku, aku dengan cepat menghampiri Mas Pardi.
"Singgah dulu makan mie ayam," ucapnya tersenyum.
"Maaf Mas Pardi, saya tidak bawa uang."
Mas Pardi tersenyum dan menyuruhku duduk di mejanya.
"Ini dek, gratis untuk pacar Leo," ucap Mas Pardi meletakkan semangkuk mie ayam di hadapanku.
"Tapi saya sudah bu-" ucapanku terhenti, aku kembali mengingat - ingat semua perkataan Leo dari awal hingga akhir.
Sebuah harapan kecil membuatku senang, Leo sama sekali tidak pernah memutuskan hubungan kami jadi mungkin saja...
Aku tersenyum dan memakan mie ayam itu, sangat enak.
"Terima kasih Mas Pardi."
Perutku rasanya sangat bahagia, ternyata mie ayam itu sangat enak. Aku harus menyarankan kepala sekolah menambah menu mie ayam di kantin sekolah.
"Mas Pardi tahu dari mana nama saya?" tanyaku.
"Leo sering membicarakan Dek Zujy, katanya dia senang bertemu dengan Dek Zujy dan berpacaran dengan Dek Zujy."
"Tapi akhir - akhir ini Leo selalu datang dalam keadaan mabuk, saya tidak pernah melihat Leo mabuk sebelumnya," ucap Mas Pardi lagi.
"Leo, jangan sampai kau merusak hubunganmu dengan gadis ini. Pertama kali melihatnya aku sudah tahu dia gadis yang baik," gumam Mas Pardi.
Aku hanya terdiam mendengarnya, aku berdiri dan memberikan semua lembar dolar di tasku.
"Ini mas! bayarannya," ucapku.
"Dek, saya sudah bilang gratis," balas Mas Pardi menolak uangku.
"Tidak ada kata gratis untuk makanan seenak ini!!"
"Sekarang aku cuma bawa sedikit, kapan - kapan aku akan mampir lagi!"
"Sampai jumpa Mas Pardi!" aku segera pergi meninggalkan Mas Pardi yang mematung sembari menatap uang dolar yang semuanya bernilai 100 dolar amerika.
"Kalau saja aku membawa uang lebih," gumamku tersenyum.
Mas Pardi menghitung lembar uang dolar itu dan mengira - ngira.
"Mungkin kalau dirupiahkan bisa 287 juta," ucap Mas Pardi menatap Zujy yang berjalan setengah berlari pergi menjauh.
"Tadi dek Zujy bilang sedikit?!" Mas Pardi terkejut menatap Zujy sebelum benar - benar menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Irine duduk di kasurnya dan memegang hp yang di letakkan di telinganya.
"Kenapa kau sangat bodoh?" tanya Irine kesal.
"Hanya itu caranya, aku tidak ingin dia kesakitan lagi," balas seorang lelaki di hpnya.
"Dia sangat mencintaimu."
"... aku tahu, aku juga."
"KALAU KAU TAHU KENAPA KAU MEMBUANGNYA!!" teriak Irine sembari berdiri.
"Suaramu keras sekali."
"Leo, aku tidak bercanda sekarang," ucap Irine lagi.
"Aku tidak membuangnya, aku menyelamatkannya."
"Leo, aku tahu dengan Reihan bersamanya akan menyelamatkannya. Tapi Zujy sama sekali tidak mencintainya," ucap Irine menatap dirinya di cermin.
"Aku tidak pernah mau membayangkan menikah dengan orang yang tidak pernah kita cintai, cinta itu bukan uang yang begitu banyak yang Zujy miliki. Cinta itu cuma satu," ucap Irine lagi.
"Kau juga tahu itu, kau sama sekali tidak bisa membalas cinta Yui," ucap Irine.
"Reihan mungkin mempunyai perasaan pada Zujy tapi tidak dengan Zujy," tambah Irine.
"Maaf, aku ada urusan," balas lelaki itu.
Irine mengepal tangannya. "Leo!! kenapa kau begitu pengecut!! Kalau kau mencintainya maka rebut!! Jangan biarkan dia dimiliki orang lain!! Buktikan kalau kau bisa di posisi Reihan dan menyelamatkan Zujy!!" tegas Irine.
Irine menatap sambungan telpon yang terputus dan mengerutkan keningnya.
"Leo, ini semua salahmu! Kalau kau tidak sepengecut ini mungkin saja..."
Drrttt
Irine kembali menatap hpnya, ia menerima telpon dari Reihan.
"Umur panjang," gumam Irine.
"Irine, kuperingatkan jangan mencampuri urusanku dengan Leo," ucap Reihan dingin.
"Kau bukanlah orang yang berhak memerintahku!" ucap Irine memutus sambungan telpon.
Irine kembali menerima telpon, ia menghela nafas kasar. "Apa lagi?!!" ucap Irine kesal.
"Rin?" ucap Yoel.
Irine terkejut mendengar suara Yoel, ia mengecek hpnya tidak percaya. Ia kembali meletakkan hpnya di telinga.
"Ya?"
"Kau tadi berbicara dengan Reihan dan Leo di hp kan?" tanya Yoel.
"Kenapa kau bisa tahu?"
"Kau memakai wifi pribadi keluarga Charles," ucap Yoel seketika Irine menatap hpnya dan mematikan game onlinenya.
"Irine, jangan mencampuri urusan Leo dan Reihan. Leo sudah memilih menjauhi Zujy dan Reihan menerima pertunangan itu, semuanya sudah beres," ucap Yoel membuat Irine kembali marah.
"Kenapa?" tanya Irine.
"Hah?"
"Kenapa kalian semua tidak memikirkan perasaan Zujy?" tanya Irine membuat Yoel terkejut.
Irine segera memutus sambungan telpon, ia merasa kesal pada dirinya sendiri karna sebelumnya mendukung rencana Agler untuk menjodohkan Reihan dengan Zujy agar Zujy tidak mewariskan dua perusahaan sekaligus. Tapi, setelah melihat perasaan Zujy yang tidak menyukai pertunangan itu dan mencintai Leo membuatnya menyesal. Kenapa selama ini ia tidak memikirkan perasaan Zujy.
Padahal ia berpikir setelah ingatan Zujy kembali semuanya berakhir dan keadaan akan kembali semula namun ternyata salah, masalah baru muncul.
Bersambung.