Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
kenyataan yang pahit



Bel istirahat berbunyi, para murid yang biasanya berhamburan keluar kelas malah berjalan lesuh menuju perpustakaan.


Zujy masuk ke dalam perpustakaan namun tidak ada lagi kursi kosong, ia hendak menuju ruang pribadinya untuk belajar namun terhenti saat menatap Yoel yang duduk sendiri di salah satu kursi kantin, hanya ada Yoel di kantin. Zujy duduk di depan Yoel yang sibuk menatap bukunya.


Yoel menyadari keberadaan Zujy lalu menatapnya tersenyum begitupun dengan Zujy yang tersenyum lalu terkekeh dan menepukkan telapak tangannya ke tangan Zujy. Keduanya tampak senang karna memiliki ide yang sama untuk belajar di kantin, dan kejadian seperti ini sering terjadi. Entah bagaimana mereka selalu bertemu di tempat yang tidak terduga.


Irine yang sedari tadi melirik Zujy dan Yoel dari luar kantin terdiam, baru pertama kalinya ia melihat wajah Zujy yang memerah malu - malu menatap wajah Yoel. Pikirannya begitu bercampur aduk, hatinya sedikit sakit namun ia mencoba mengalihkan perasaannya dan menghampiri mereka sembari menanam dalam - dalam ingatannya saat melihat Zujy tadi.


Pikiran Irine sudah terbebani dengan keadaan kakaknya dan ia tidak ingin terbebani lagi tentang Zujy yang sepertinya menyukai Yoel.


"Ciee, lagi kasmaran nih."


Irine tersenyum lalu duduk di samping Yoel yang membuat raut wajah kesal dengan gombalan Irine.


Zujy kembali menatap bukunya menyadari wajah kesal Yoel, ia menutup wajahnya dengan buku.


"Rin, bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Yoel merapikan rambut Irine yang sedikit berantakan.


"Aku baik - baik saja, kau terus menanyakannya setiap hari."


Irine mendorong tangan Yoel kembali membuat wajah Yoel terlihat kesal.


"Aku bisa mengaturnya sendiri, kau tidak perlu menganggapku seperti adikmu sendiri."


"Apa maksudmu?" Yoel menatap kesal Irine yang bertingkah aneh.


Walau mereka keluarga, Yoel tidak pernah menganggap Irine sebagai adik karna ia tidak bisa, ia memperlakukan Irine seperti ini karna ia mencintainya. Yoel mengira tindakannya ini akan menyadarkan Irine kalau ia mencintainya tapi ternyata Irine menganggap perlakuannya ini sebagai kakak yang mencoba menyayangi adiknya walau tidak sedarah.


Irine hanya terdiam, ia menyesali perkataannya yang tidak sengaja dikeluarkannya karna kesal. Tapi ia muak dengan perlakuan Yoel padanya, ia tidak bisa seperti ini terus jika tidak ia akan terjerumus kembali ke dalam yang namanya cinta. Irine trauma dengan cinta, pasalnya ia pernah memberikan hidupnya pada lelaki yang di cintainya namun lelaki itu menghianatinya dan meninggalkan luka besar di hati Irine. Lelaki itu mati meninggalkan luka yang menghantui Irine selama ini.


"Zui." Leo duduk di samping Zujy sembari meletakkan kue di depan Zujy.


"Untukmu, aku tahu kau paling suka kue." Leo tersenyum manis ke Zujy, Irine dan Yoel yang melihatnya hanya memasang wajah datar.


'Oh ya, aku belum memberitahu Leo kalau aku sudah mengingatnya ... tapi dia bertingkah seakan dia tidak meninggalkanku saat itu,' gumam Zujy dalam benaknya terus menatap Leo.


"Kenapa?" Leo menjadi salah tingkah dengan tatapan Zujy, ia menyuruh Zujy untuk secepatnya makan dan jangan terus menatapnya.


Reihan seketika duduk di samping Zujy, lalu mengambil kue Zujy.


"Tidak baik makan terlalu banyak kue," ucap Reihan.


"Itu bukan untukmu." Leo mengambil kembali kue itu lalu memberikan pada Zujy namun Reihan kembali mengambilnya, mereka terus berebutan sementara Zujy yang berada di tengah - tengah mereka hanya terdiam menatap kue yang menjadi perebutan mereka.


"Ahhh!!! Berisik!! Biar aku saja yang makan." Irine merebut paksa kue itu lalu melahapnya dengan cepat tanpa mempedulikan keempat manusia yang menatapnya.


"Irine, kue itu bukan untukmu." Leo terlihat kesal menatap Irine mengingat ia memesan kue itu dengan perasaan bahagia ketika menatap Zujy memakannya tapi malah di makan orang lain.


"Zui memberikannya padaku!" Irine beranjak dari duduknya dan pergi dengan langkah yang kesal.


Leo hendak mengejarnya namun terhenti saat Zujy melarangnya. "Leo, jangan sampai kemarahanmu membuat Irine sakit lagi," ucap Zujy dingin lalu pergi meninggalkan ketiga lelaki itu.


.


.


.


Seminggu kemudian, ulangan telah selesai.


Irine masih belum memberitahu Zujy tentang ia akan pergi, ia sedikit bertanya - tanya apakah Zujy sudah mengetahui tentang kakaknya atau tidak, tapi melihat tingkah Zujy mungkin ia belum tahu.


Entah kenapa ia menjadi canggung ketika bersama Yoel, Yoel juga menjadi sedikit cuek padanya dan tidak seperhatian dulu.


"Irine, bagaimana ujianmu?" tanya seorang gadis pendek di samping Irine yang tengah berdandan di depan cermin toilet.


"Lumayan."


Irine melirik Nafia yang tengah berdandan lalu menyelesaikan cuci tangannya dan keluar di ikuti Nafia yang terburu - buru menyelesaikan dandanannya mengikuti Irine.


"Kau kenapa akhir - akhir ini?" Nafia berjalan di samping Irine.


"Tidak."


Nafia tersenyum tipis mendengar jawaban singkat Irine, lalu melirik Zujy bersama Yoel yang tengah duduk dalam kantin dari luar kantin.


"Rin, bukannya kau akrab dengan Yoel?"


Irine terhenti lalu melirik Yoel.


"Kenapa?"


"Zujy, gadis itu sangat misterius."


Irine melirik Nafia lalu kembali berjalan.


"Apa kau tahu dia dari keluarga apa?"


"Tidak. Aku tidak tertarik dengan perempuan itu."


"Irine, namanya Zujy, seperti nama sahabatmu Zujy Dirni."


Langkah Irine kembali terhenti lalu sedikit tertawa.


"Kebetulan yang sangat luar biasa hahahaha."


"Kenapa?"


"Aku ingin bicara berdua denganmu." Yoel melirik Nafia yang tersenyum manis kepadanya.


"Salam kenal, namaku Nafia, aku teman dekat Irine." Nafia menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan Yoel membalas salaman itu.


"Nafia, aku ingin berbicara berdua dulu dengan Irine." Nafia terus tersenyum namun dalam hati ia tidak suka Yoel mengusirnya.


"Baiklah." Nafia tersenyum lalu berjalan menjauh, ia melirik Irine yang ditarik Yoel ke suatu tempat lalu mengumpat di dalam hatinya.


.


.


.


POV ZUJY


Zujy terdiam, aku menutup wajahku lalu tetesan air mata keluar dari mataku satu persatu hingga menjadi semakin deras.


Kesunyian kantin seakan mendukungku untuk mencurahkan perasaanku lebih kuat namun aku tidak bisa, aku hanya bisa menangis dalam diam.


Beberapa menit yang lalu.


Yoel menghampiriku yang tengah duduk sendiri di kantin yang besar ini, aku menatapnya duduk di depanku, tapi ada apa dengan raut wajahnya? Ia sepertinya sedih.


"Zui, apa kau mau mendengarku?"


Aku akan mendengarmu, kenapa kau kelihatan sedih?


"Aku gak tahu mau bicarakan ini pada siapa lagi."


Aku mengangguk lalu Yoel tersenyum, ia mulai berbicara. "Aku menyukai Irine."


Deg


Hatiku sakit, rasanya tubuhku membeku di tengah - tengah salju yang dingin begitupun dengan hatiku yang dingin namun ingin tetap hangat tapi malah dihancurkan sedemikian rupa oleh alasan hatiku bertahan agar tetap hangat.


'Aku tahu itu, tapi rasanya masih sakit saat kau memberitahuku.'


'Jangan, jangan menangis dulu, Yoel masih ada di sini, jangan Zui.' Aku tersenyum lalu mengatakan. "Aku tahu." dengan senyuman manis yang jarang aku tunjukkan pada siapapun juga.


Yoel kembali membuka mulutnya mengatakan betapa merasa kecewa dengan Irine karna menganggap semua perlakuan baiknya ini dianggap sebagai perlakuan sebagai kakak yang menyayangi adiknya, padahal selama ini Yoel mengira Irine mengetahui perasaannya karna tidak pernah menolak perbuatannya yang sangat perhatian.


"Aku masih ragu Irine membuka hatinya lagi setelah kejadian itu."


Yoel menatap serius aku dan seolah menyuruhku untuk memberitahunya kejadian apa itu.


"Irine ... dia punya trauma pada laki - laki, tapi tidak semua laki - laki hanya laki - laki yang tidak dikenalnya."


"Bagaimana bisa?"


"Irine belum memberitahumu, dia pasti ada alasan tersendiri karna tidak memberitahumu. Tapi aku yakin dia akan memberitahumu jika dia sudah siap."


Yoel terdiam, aku melirik mata coklatnya yang berpadu dengan rambut pirangnya.


Dengan berat aku mengatakan. "Aku percaya padamu, mungkin dengan kau yang mencintainya apa adanya akan membuat traumanya menghilang."


Yoel menatapku lekat, aku menundukkan wajahku lalu kembali berkata. "Beri tahu Irine perasaanmu yang sebenarnya, mungkin pada awalnya Irine belum bisa menerimanya tapi kau harus membuatnya percaya."


"... Irine dia punya sesuatu yang sangat menyakitkan baginya, aku harap kau mau menerimanya apa adanya setelah kau mengetahui kebenarannya."


Yoel mengangguk, lalu pergi mengejar Irine yang baru saja lewat.


Aku melirik Yoel yang benar - benar menghilang dari hadapanku, badanku gemetaran menahan air mata yang terus ingin keluar. Ahhh aku sudah tidak tahan lagi!! biarkan air mata ini mengalir semaunya.


Air mataku keluar satu persatu di tengah kesunyian kantin yang seakan mendukungku agar terus terpuruk dan menangis.


Aku berlari menuju ruangan pribadi lalu Brakk, aku menabrak seseorang.


"Aku minta maaf." Aku meminta maaf dengan terus menunduk agar aku yang menangis tidak dilihat orang lain, aku kembali berlari namun tanganku di tahan orang itu, aku meliriknya dan terkejut menatap Reihan yang terkejut menatapku.


"Kau kenapa?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Reihan dan kembali berlari, aku menutup pintu ruangan pribadiku namun aku tidak menemukan kunci pintu ini di sakuku.


Reihan membuka pintu itu, masuk dan mengunci pintu itu. Bagaimana kunciku ada padanya?


"Kau menjatuhkannya."


Aku merebut kunci itu lalu menaruhnya di saku jasku.


"Kau kenapa?" Reihan mendekatiku dengan tatapan khawatir lalu mengusap air mataku. Aku menatapnya lekat.


"Kau bisa memberitahuku, atau kau bisa menangis jangan pedulikan aku."


Mungkin sesekali mencurahkan perasaan kita pada seseorang itu hal baik.


Aku menangis sejadi - jadinya sembari memegang jas Reihan, aku bisa merasakan Reihan mengelus pelan kepalaku.


Bersambung.