
Di ruangan berwarna silver, Yoel, Zujy, Andre dan Victoria di sana.
Andre tengah menelpon dengan seseorang sedangkan Yoel duduk di salah satu sofa, Victoria bersandar di dinding sembari melipat kedua tangannya di bawah dadanya, Zujy berdiri menatap ke luar jendela yang besar.
Sudah tiga hari sejak Irine menghilang dan masih belum kembali, Andre berusaha melacak keberadaan Irine melalui agen di luar angkasa yang selalu mengawasi Irine namun keberadaan Irine jauh di dalam hutan, sulit di jangkau agen.
Seluruh pengawal keluarga Charles mencari ke dalam hutan, Andre tidak mengabarkan polisi, ia berniat merahasiakan kehilangan Irine. Ia juga percaya pada kemampuan agennya. Menghilangnya Irine bisa membuat perusahaan yang bersaing dengan YHI dan NZ memanfaatkan situasi ini.
Andre mematikan hpnya dan menggeleng - gelengkan kepalanya membuat ketiga orang itu menghela nafas kasar.
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat lelaki berjas hitam memasuki ruangan diikuti wanita berjas hitam, lelaki itu adalah Agler bersama Runi.
"Kami menemukan sebuah gudang minyak jauh di arah selatan hutan," ucap Agler menghampiri Andre sedangkan Runi segera menghampiri Victoria.
Runi memeluk Victoria dan memberi semangat pada sahabatnya itu namun kegiatan kedua orang tua itu terhenti ketika pintu dibuka kasar.
"Yoel!!" panggil Zujy mengejar Yoel.
Andre melewati Zujy dan menahan tangan Yoel.
"Kau mau kemana?!" tanya Andre menatap tajam Yoel.
"Tentu saja!! ke gudang! tunggu apa lagi?!" ucap Yoel dengan lantang.
Andre memegang kedua bahu Yoel dan menatap khawatir Yoel.
"Irine tidak ada di sana, bawahan Om Agler sudah memeriksanya," ucap Andre dan Yoel menatap Agler juga mengejarnya tadi.
Agler mengangguk membuat Yoel kembali putus asa namun Andre mengelus pelan pundak Yoel.
Zujy menjauh dari keluarganya dan masuk ke tanda darurat, ia duduk di tangga itu dan menerima telpon.
"Irine masih belum ditemukan," ucap Zujy sedih sembari memegang dahinya.
"Jangan menangis," ucap Leo membuat Zujy menatap ke depan.
Leo mematikan hpnya dan Zujy segera memeluknya.
"Bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Zujy.
"Aku menyelinap masuk," balas Leo mengelus kepala Zujy.
Mereka kini duduk bersampingan di anak tangga.
"Bagaimana keadaan Irine? aku khawatir dia tidak bisa makan, atau lebih parahnya," ucap Zujy memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lututnya.
"Irine pasti baik - baik saja." Leo memeluk Zujy dan menghapus air mata Zujy.
.
.
.
Reihan berdiri di pinggir tebing, ia menatap ke bawah, ia berada di tebing yang sangat tinggi.
Sebuah angin menerbangkan rambut Reihan hingga berantakan. Langkah kaki mendekatinya.
"Gudang itu baru saja ditempati, mungkin mereka pergi beberapa jam yang lalu sebelum kita datang," ucap lelaki itu.
"Periksa wilayah di bawah tebing ini," ucap Reihan menatap sungai di bawah tebing.
"Ketemu," gumam Reihan tersenyum tajam.
.
.
.
Rini berjongkok sembari meminum air sungai yang jernih, sebuah hembusan angin menerbangkan rambut panjangnya seketika tatapannya melekat ke seorang lelaki yang berdiri di ujung tebing.
"Re - reihan?!!" ucap Rini segera berlari pergi dengan tergesa - gesa.
"Tidak boleh, ini terlalu cepat!"
Rini masuk sebuah bangunan tua yang ditutupi begitu banyak pohon besar bahkan cahaya matahari tidak satupun bisa menyinari bangunan itu.
Ia menutup rapat - rapat pintu masuk gedung itu dan menyalakan senter, ia perlahan - lahan melangkah masuk ke ruangan Irine dikurung.
"Nih makan!!" ucap Rini tergesa - gesa memberi Irine buah namun Irine sama sekali tidak mau memakan apapun dari Rini.
"Kau bisa mati kalau tidak makan!!"
Rini memaksa Irine makan hingga muntah, ia menjadi panik melihat Irine yang sudah begitu lemas karna belum makan dan minum selama tiga hari.
"Agh!! Kenapa menjadi kacau begini!?"
"Kakak tidak datang dan gadis ini tidak mau makan!"
Rini begitu kesal hingga menendang kursi tempat Irine di ikat namun Irine tidak terjatuh karna tendangan Rini begitu lemah.
"Aku sudah tidak peduli kakak lagi!! sebelum mereka menemukan tempat ini, aku akan membalas dendam!" Kekeh Rini dan mengambil hp Irine.
Irine hanya membiarkan Rini karna selama ini ia menunggu Rini lengah.
Rini menyalakan hp Irine dan mencari kontak bernama Yoel.
"Aku akan membuatmu merasakan kehilangan seseorang!" ucap Rini memperlihatkan ia menelpon nomor Yoel.
"Hehehehe," kekeh Rini dan mengambil pisau di saku celananya dan membuka baju Irine.
Irine melirik hpnya dan panggilan sudah tersambung ke hp Yoel, ia mendengar suara Yoel berteriak memanggilnya namun ia tetap berusaha tenang.
Di tubuh Irine kini tersisa hanya bra nya, Rini tersenyum menatap luka di dada Irine.
"Bagaimana kalau kau merasakannya lagi, seperti yang dirasakan kak Gion," ucap Rini sinis membuat Irine terkejut.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Irine akhirnya membuka mulutnya.
Suara teriakan Yoel menghilang namun panggilannya masih tersambung.
Rini tertawa kecil sembari menusuk - nusuk kecil bekas luka Irine, sreekkk!!.
"Aghhh!!" teriak Irine namun masih di tahannya.
Tatapan Irine tertuju pada lukanya yang sudah terbuka oleh Rini.
"Yoel, data-" ucapan Rini terhenti ketika Yoel memutuskan sambungan telpon.
"Benar, ke sini lah! maka aku akan menbunuhmu di hadapannya," kekeh Rini menekan luka Irine.
Irine menggigit bibirnya berusaha menahan teriakannya, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan gadis ini.
"Aku tidak pintar menyiksa, jadi maafkan aku."
Rini tersenyum dan mengusap air mata Irine, ia membuka celana Irine hingga kini Irine hanya memakai bra dan ****** *****.
Namun ketika Rini ingin membuka ****** ***** Irine, gadis itu menendang leher Rini.
Ia membuka tali yang di ikat tubuhnya dengan mudah karna Rini mengikatnya sangat lemah.
"Sudah cukup!" ucap Irine berjalan mendekati Rini.
Rini kembali berdiri dan menyodorkan tinjunya membuat Irine terkekeh, Irine menghabisinya dengan sekali serangan.
"Lemah sekali," ucap Irine kembali memakai bajunya, ia merobek sedikit bajunya untuk menutup lukanya.
"Siapa dia sebenarnya?" gumam Irine kemudian menatap hpnya yang mati.
Ia menghela nafas kasar dan berjalan keluar meninggalkan Rini yang terbaring lemas.
"Kepalaku," ucapnya memegang kepalanya dan berjalan keluar.
Di sisi lain di Villa Yoel.
Andre terkejut menatap laptopnya, ia segera melacak posisi Hp Irine.
Dan Yoel yang tengah di dapur menerima telpon dari Irine, tentu saja ia segera mengangkatnya.
"IRINE!!" teriak Yoel namun sama sekali tidak ada jawaban.
Ia terus memanggil nama Irine dan terhenti ketika mendengar suara teriakan Irine.
Yoel memutuskan sambungan dan melacak hp Irine lalu segera berlari pergi ke sana.
Ia melewati Zujy yang tengah berjalan bersama Leo di luar Villa namun langkahnya terhenti ketika Zujy menahan tangannya.
"Aku menemukan lokasi Irine, ayo!" ucap Yoel menarik tangan Zujy.
Leo mengikuti Zujy dan Yoel segera mengemudi di pinggir hutan.
Mobil hitam itu terhenti di tengah hutan yang sangat sepi, ketiganya turun dan menginjak aspal yang begitu banyak dedauan karna jarang di lewati.
Suara dedaunan dan serangga memenuhi telinga mereka, Yoel langsung saja masuk ke dalam hutan.
"Yoel! jangan bertindak gegabah!" ucap Zujy namun lelaki itu tetap melangkah.
Dengan terpaksa kedua pasangan itu mengikuti Yoel, namun tidak dipungkiri ternyata di dalam hutan begitu ramai. Banyak pengawal yang bersebaran mencari Irine.
Seluruh pengawal yang memakai jas hitam itu menatap ketiga orang itu dan membungkukkan badannya serentak.
"Yoel! Kenapa kalian ada di sini?!" seru Reihan menghampiri Yoel.
Tatapan Reihan sekilas menatap Zujy dan Leo namun ia mengalihkannya ke Yoel.
"Tuan! anda tidak boleh di sini!" ucap ketua pengawal lainnya.
"Tuan muda, anda harus percaya pada kami. Kami pasti akan menemukan nona Irine," ucap ketua pengawal lainnya.
Tatapan Zujy menatap seseorang lelaki yang juga mendekatinya.
"Nona Zujy, kenapa anda bisa di sini?" tanya Pak Fin.
"Kami mengikuti Yoel."
Yoel melirik ketua pengawal itu.
"Kenapa semuanya di sini?" tanya Yoel.
"Tuan Reihan menginformasikan melihat seorang gadis di sekitar sini, mungkin saja dia yang menculik Nona!" jelas salah satu ketua pengawal.
"Kau melihatnya?" tanya Yoel dan Reihan mengangguk.
"Gadis itu adalah Rini."
Yoel terkejut mendengar perkataan Reihan. "Sebenarnya tadi aku di telfon Irine tapi sepertinya gadis itu yang menelfonku, tapi berkatnya aku bisa melacak hp Irine."
Yoel menyalakan hpnya namun hp Irine kembali tidak bisa di lacak, mungkin saja hpnya kembali dimatikan.
Mereka memutuskan mencari ke sekitar hutan itu dengan cepat.
Bersambung.
Akhirnya selesai juga Revisinya, maaf kalau lama. Banyak kesibukan, tambah lagi banyak tugas😅
Mohon maaf banget untuk keterlambatannya😓😔
Oh ya, novel ini sedikit saya remake namun inti dan jalan ceritanya tetap sama.
Yang berbeda hanyalah Yoel menjadi kakak angkat Irine.
Dan novel ini sebentar lagi akan tamat untuk season 1 nya, saya akan membuat season 2.
Sekali lagi maaf atas keterlambatannya😓😓
Dan terima kasih yang masih setia membaca Myflov sampai saat ini😘
Sampai jumpa.