
Guru wanita masuk, Zujy melirik guru itu. Guru mengatakan jika hari ini adalah hari penerimaan rapor. Baru minggu kemarin selesai ujian dan sekarang penerimaan rapor.
Sekolah Feleras adalah sekolah yang mandiri, bisa dibilang tidak mengikuti peraturan sekolah biasanya. Sekolah Feleras memang melakukan penilaian dengan cepat, walau para guru merasa tertekan namun tidak bisa membantah karena gaji yang diberikan juga setara dengan rasa tertekan mereka dan juga setelah masuk sekolah ini mereka tidak boleh mengeluh lagi, sudah kewajiban mereka karna memilih bekerja di sini.
Bibir guru ini tampak pucat walau sudah ditutupi lipstik merahnya, serta rambutnya yang berantakan dan kantung mata yang berbekas menandakan ia tidak istirahat beberapa hari ini demi hari yang ditunggu banyak murid.
Seluruh kelas tegang karna peringkat ini akan berpengaruh besar pada keluarga mereka, rata - rata murid di sini berasal dari keluarga kaya dan bertatus tinggi jadi jika tidak mendapat nilai bagus akan memperburuk nama keluarga mereka.
Zujy merasa biasa karna sudah lama ia tidak dikekang oleh ayahnya untuk mendapat nilai bagus, sekarang walau berapapun nilainya ia tidak dimarahi.
"Langsung pada intinya ya, peringkat pertama...."
Guru sengaja menghentikan perkataannya agar membuat suasana kelas menjadi tegang walau sedari tadi sudah tegang.
"Yoel Charsa."
Semuanya menghela nafas kasar, merasa buruk karna tidak bisa meraih juara pertama.
Zujy menatap bangga Yoel yang berjalan mengambil rapornya, ia tidak menyangka Yoel bisa mengambil posisinya yang selalu peringkat pertama.
"Peringkat kedua adalah ... Zujy."
Guru sengaja tidak memberitahu nama keluarga Zujy karna disuruh dirahasiakan, Zujy mendengar seluruh murid kembali menghela nafas kasar. Ia berjalan mengambil rapornya dan kembali ke tempat duduk setelah menundukkan badannya pada guru sebagai rasa hormat.
"Aku berhasil mengalahkanmu hehe." Yoel terkekeh menjahili Zujy yang sibuk memeriksa nilainya.
"Hanya untuk kali ini."
Yoel tersenyum setelah melihat senyuman di wajah Zujy.
Dan akhirnya giliran Leo, ia mendapat juara 15 dari 40 murid di kelas, sebuah peningkatan besar bagi Leo.
Leo sama sekali tidak merespon panggilan guru, hingga untuk yang keberapa kalinya guru memanggil nama Leo akhirnya Leo berdiri dengan malasnya dan mengambil rapornya, ia juga membungkukkan badannya lalu kembali ke mejanya. Ia sekilas menatap Zujy namun Zujy sama sekali tidak menatapnya dan hanya fokus pada rapornya.
Setelah seluruh murid telah mendapat rapornya, guru menatap seluruh siswa sembari tersenyum sedih.
"Setelah ini kalian akan meninggalkan gedung ini dan masuk ke gedung tingkat tiga, jadi jangan putus asa sekarang. Kalau kalian tidak bisa mendapat nilai bagus sekarang masih banyak kesempatan lain di masa depan, buktikan kerja keras kalian selama ini di tingkat tiga nanti."
Seluruh murid tersenyum lalu memberi salam untuk yang terakhir kalinya sebagai murid tingkat 2 sebelum masuk ke tingkat 3.
.
.
.
Seluruh murid yang seluruhnya melebihi 500 orang berhamburan keluar menuju ke tujuan yang sama yaitu papan pengumuman dimana seluruh peringkat seangkatan mereka dipajang di sana.
Zujy berjalan beriringan dengan Yoel, langkah mereka terhenti saat melihat keramaian yang diluar dugaan.
"Zui, kita lihat peringkat kita nanti saja. Kalau sudah sepi."
Zujy menganggukkan perkataan Yoel, lalu melirik Irine yang tengah berbicara bersama kedua temannya. Yoel menyuruh Zujy pergi ke pohon besar karna ia akan mengajak Irine ke sana bagaimanapun juga Zujy dan Irine tidak bisa bertemu di sekolah kecuali di pohon besar yang tidak diketahui siapapun.
.
.
.
Gadis berambut panjang berwarna coklat memasuki kelas, ia melirik dan menemukan lelaki yang dari tadi dicarinya.
Ia berdiri menatap Leo yang tertidur pulas. Namanya Yui, dia adalah sahabat Leo namun menyimpan perasaan pada Leo. Dia tahu segala hal tentang Leo, Leo selalu curhat padanya apapun itu.
Ia duduk di kursi samping Leo lalu membaringkan kepalanya di atas meja sembari tersenyum menatap Leo.
"Leo, aku mencintaimu."
Ia terus menatap wajah Leo yang tertidur, ia begitu mencintai Leo namun Leo sama sekali tidak mencintainya. Ia tahu Leo mencintai sahabat kecilnya yang bernama Zujy namun ia tetap ingin mencintai Leo. Ia sudah mencoba banyak hal agar Leo menyadari cintanya namun Leo terus mengabaikannya dan hanya menatap Zujy.
Saat Leo jauh dari Zujy, Leo tidak hentinya menatap hpnya melihat Zujy yang bernyanyi.
Ia bertemu Leo ketika Leo pindah ke kotanya, ia bersekolah di sekolah yang sama dengan Leo walau Leo sangat dingin dan terus memainkan hpnya namun Leo sama sekali tidak menolaknya dan membiarkannya di samping Leo.
Mata Leo terbuka dan secara langsung menatap Yui.
"Sudah bangun?"
Leo berdiri lalu meninggalkan Yui seorang diri, Yui dengan cepat berjalan di samping Leo.
"Hah! Kau masih sedingin saat pertama kali kita bertemu."
Leo melirik Yui lalu mengusap pelan kepala gadis itu, Yui terkekeh dan mengusap kepala Leo juga.
"Sikapmu itu ...," Leo terlihat melamun dan kembali berjalan, ia memikirkan sikap Yui yang sangat mirip adiknya.
Ia bersikap dingin pada Yui karna sikapnya yang mirip adiknya.
"Sikapku? Kenapa?"
Langkah Leo terhenti lalu menatap lekat Yui.
"Aku sudah melakukan hal yang salah."
"Aku sudah bilang jangan minum - minum lagi, kau tahu Aya-" perkataan Yui terhenti setelah mendapat tatapan dingin dari Leo.
Ia merasa bodoh membicarakan orang itu di depan Leo padahal ia tahu betul betapa bencinya Leo pada kedua orang tuanya.
.
.
.
Irine seketika berlari menghampiri Zujy yang duduk di bawah pohon besar setelah sampai di sana.
"Selamat!! Zui juara 3 seangkatan!" Irine memeluk erat Zujy beberapa saat lalu melepaskannya.
"Kamu?" Irine duduk di samping Zujy lalu menjawab pertanyaan Zujy. "Aku juara 4 tapi gak papa, aku akan mencoba semester berikutnya!"
"Aku juara 2 di kelas, juara pertama Reihan."
Zujy terus tersenyum mendengar berbagai cerita dari Irine, ia juga sedikit terkejut ketika Irine memberitahunya bahwa Reihan juara pertama seangkatan.
Zujy melirik Yoel pasalnya lelaki ini terus menatapnya membuat Zujy sedikit tidak nyaman.
"Kenapa?" tanya Zujy.
"Mmm, tidak."
Irine hanya diam menatap kedua sahabatnya ini, ia juga tahu bahwa Zujy menangis pagi tadi dari teman - temannya namun ia tidak ingin bertanya karna percuma. Ia ingin menunggu Zujy kembali membuka dirinya untuknya.
Beberapa menit berlalu dan bel pulang berbunyi, mereka berpisah.
Irine bersama Yoel, ia akan mampir lagi ke villa Yoel karna ia ada lomba game hari ini dan tidak seperti biasanya ia bersama Zujy. Irine sudah mengajak Zujy namun Zujy menolak.
Sedangkan Zujy, ia kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya. Ia masuk ke kelas dan tidak ada seorang pun bahkan tas yang tersisa hanya tasnya.
Ketika ia membalikkan badan setelah mengambil tas, ia tertegun menatap Leo yang berdiri di depannya menatapnya serius dan seakan marah.
"Aku ingin bicara dengamu ... Zui," ucap Leo.
Zujy menundukkan wajahnya, setelah Leo menciumnya ia selalu takut menatap wajah Leo.
Leo menghela nafas lalu duduk di kursinya, Zujy ikut duduk di samping Leo setelah Leo menyuruhnya.
Beberapa saat Zujy menunggu namun sama sekali tidak ada satu katapun keluar dari mulut Leo, ia memberanikan diri untuk melirik Leo dan terkejut menatap Leo yang tertidur sembari bersandar pada dinding di samping kanannya.
"Tidur?"
Zujy tidak menyangka Leo bisa tidur di situasi yang mencekam ini ataukah hanya dirinya sendiri yang merasa gugup dan merasa bersalah.
"Dilihat - lihat juga, wajahmu sangat letih. Apa kau tidak tidur semalam?"
Zujy terus menatap wajah Leo dan ia kembali menundukkan wajahnya ketika tatapannya terhenti di bibir Leo.
Zujy memegang bibirnya lalu menatap bibir Leo dan kembali teringat kejadian sewaktu ia berumur 6 tahun dan seringkali bermain menjadi aktor bersama Leo.
Saat itu Leo memerankan tokoh pangeran yang ingin membangunkan putri yang tertidur dan putri itu adalah Zujy yang berpura - pura tertidur di tengah - tengah taman yang amat besar.
"Wah putri yang cantik," ucap Leo kecil berpakaian selayaknya pangeran sembari memegang pedang berlapis emas hadiah dari Zujy.
Leo duduk di samping Zujy yang tertidur lalu mendekatkan wajahnya pada Zujy dan mengecup kening gadis itu seketika Zujy bangun dan tertawa.
"Hahahaha, wajahmu merah sekali!! Aku melihatnya tadi!!" ejek Zujy tidak henti tertawa.
"Curang!! Kau mengintip!! Wa - wajahku tidak memerah!!"
Zujy terus menjahili Leo lalu terhenti ketika Irine menyela.
"Dasar pangeran dan putri bodoh!! KU SIHIR PUTRI LAGI AGAR TERTIDUR SELAMANYA!! RASAKAN ITU PANGERAN HAHAHAHA!!" teriak Irine dengan topi penyihir di kepalanya.
Mereka bertiga kembali tertawa dan melanjutkan peran masing - masing dengan sedikit candaan.
Zujy kembali menatap Leo, apakah jika ia mencium Leo, Leo akan terbangun?
"Tidak - tidak!! Jangan berpikiran aneh!!" ucap Zujy menepuk pipinya lalu berdiri.
"Tenang saja, aku akan memberitahu security untuk tidak menutup gerbangnya ... pfftt."
Zujy berlari keluar meninggalkan Leo setelah mencoret - coret wajah Leo dengan spidol.
Setengah jam kemudian, langit hampir sepenuhnya berubah menjadi malam yang gelap. Leo terbangun dan terkejut, ia melirik sekitar memastikan apakah Zujy masih ada di sana dan tidak ada seorangpun selain dia.
"Gawat!! Gerbangnya!"
Leo berlari keluar. "Kenapa malah tidur!! Seharusnya aku meminta maaf!! Pasti Zujy marah besar!"
Leo merasa bersyukur ketika melihat gerbang sekolah belum ditutup dan masih ada security yang menjaga.
"Makasih pak!!" ucap Leo melewati gerbang tanpa sadar security menahan tawa melihatnya.
"Pacar nona Zujy ya?" Gumam security menutup gerbang dan ikut pulang setelah mengambil beberapa dolar di mejanya.