Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Apa arti dari mencintaimu?



Pov Zujy


Pagi hari.


Aku yang tengah duduk di atas kasur menatap hp, aku baru saja menerima pesan dari seseorang bernama Leo.


Leo : Zui, bagaimana keadaanmu? Maaf aku tidak bisa datang ke sana.


Aku terus menatap pesan itu, merasa heran dengan perasaan yang timbul di hatiku ketika menatap pesan itu.


Aku merasakan perasaan yang sama pada Yoel.


"Zui, kau mencintainya tapi kau melupakannya," gumamku tidak membalas pesan Leo.


"Kenapa bisa kau mencintainya," gumamku lagi lalu begitu terkejut menatap telpon dari Leo.


Aku dengan ragu - ragu mengangkatnya dan jantungku berdegub kencang serta wajah yang memerah.


"Zui."


Aku mematikan hp ketika mendengar suara Leo. Aku menonaktifkan hpku.


"Rasanya aku semakin menjadi penakut ... atau cuma perasaanku," gumamku dan pintu kamar inapku di buka.


Aku menatap Yoel yang berjalan mendekati kasurku, aku munundukkan wajah. Merasa aneh perasaanku pada Yoel benar - benar menghilang.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku dengar kau kehilangan ingatan lagi," ucap Yoel duduk di bangku samping kasur.


"Lagi?"


"Iya, kau kehilangan ingatan untuk kedua kalinya."


Yoel menatap serius wajahku. "Zui, apa kau ingin mengingat semuanya? dan alasan om Agler menyuruhmu menutupi Identitas karna sesuatu yang kau lupakan itu."


Aku terkejut, aku melirik mata Yoel dan kembali menundukkan wajah.


"Kau meninggalkan kami semua termasuk Leo, sebenarnya aku tidak percaya kau menyetujui ingatanmu di hapus saat pertama kali. Tapi fakta kau meninggalkan kami semua itu betul."


"Zui, peristiwa yang kau lupakan itu sangat menyakitkan untuk di ingat, kau benar mau mengingatnya? Aku tidak masalah kau yang dulu meninggalkan kami asalkan kau masih ada di sini aku tidak masalah," ucap Yoel membuka poni yang menutupi setengah wajahku.


Aku menatap lekat mata Yoel yang begitu indah.


"A - akan aku pikirkan," ucapku dan Yoel tersenyum.


"Tidak apa kau menjadi pendiam seperti ini."


Yoel mengelus pelan kepalaku namun aku masih merasa aneh tidak gugup didekatnya.


"Kalau begitu aku akan cari Leo. Kau mencintainya kan?" ucap Yoel tersenyum dan keluar meninggalkan tubuhku yang mematung mendengar perkataan Yoel.


Air mataku mengalir keluar, aku mengingat ketika masih menjadi idol penyanyi di NZ di Indonesia.


5 tahun lalu...


Aku baru saja turun dari panggung setelah tampil di hadapan banyak orang pertama kalinya, aku menatap bahagia Irine yang menunggunya.


"Selamat debut!!! Sahabatku yang manis!!" teriak Irine memelukku, rasanya begitu bahagia bisa bernyanyi di atas panggung untuk pertama kalinya.


"Hadiahnya??"


Irine tersenyum lalu menunjuk lelaki yang berjalan mendekati kami, aku begitu terkejut menatap Yoel.


"Yoel?!!" Aku segera memeluknya begitupun dengan Yoel.


"Akhirnya kau ke Indonesia," ucapku melepas pelukanku.


Aku jarang bertemu dengan Yoel karna Yoel selalu berada di Inggris, aku pun jarang ke Inggris karna menemani ibu di Indonesia serta aku mencari seseorang di negara ini. sayangnya orang itu tidak ingin memberitahu dimana tempat tinggalnya.


Berbeda dengan Irine yang sering ke Indonesia untuk bermain denganku hingga sekarang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar Yoel sama sekali tidak pernah datang ke Indonesia sebelumnya. Bahasa Indonesiaku di umurku yang 12 tahun ini juga semakin bagus semenjak aku datang 2 tahun yang lalu ke negara ini.


"Yukk!! Kita berpesta!" Irine merangkulku dan Yoel.


Aku melirik sekitar dan tidak menemukan Leo yang sudah kutunggu sedari tadi, padahal dia sudah berjanji untuk datang. Aku bahkan sampai datang ke Indonesia karna dia bilang negara asalnya di Indonesia dan sekarang bersekolah di Indonesia setelah pindah dari Amerika 2 tahun yang lalu.


Sekarang kami berada di kamarku, kami berpesta di sini. Karna hanya di rumah kami tidak diawasi pengawal satu pun.


Aku tersenyum lebar menatap kue yang sudah dipersiapkan Irine dan Yoel, lalu meniup lilin yang diletakkan di atas kue.


"Yey!! Selamat debut!" Seru Irine dan Yoel bersamaan.


Aku segera mengecek hp ketika mendengar suara telpon masuk.


Hatiku begitu gembira menatap nama Leo, aku menerima telpon.


"Ciee, pasti dari l-" goda Irine namun aku segera mencela omongannya.


Irine tersenyum menggodaku dan aku terkekeh menutup pintu kamar, aku bersandar di pintu kamar mendengar suara Leo.


"Zui, keluar. Aku di depan rumahmu," ucap Leo dalam bahasa Inggris.


Aku terkekeh tidak sabar menunjukkan bahwa aku sudah bisa berbahasa Indonesia, sudah lama aku ingin memberi tahu Leo namun aku menunggu saat ini. Dihari yang spesial aku akan memberitahunya.


Aku berlari keluar mengabaikan para pelayan yang menyapaku.


Dan setelah beberapa saat berlari aku sampai di depan gerbang, rasanya sangat lelah berlari menuju gerbang yang sangat jauh.


"Leo," panggilku menatap Leo yang berdiri tepat di depanku, aku mendekatinya yang tersenyum.


"Lihat!! Aku bisa berbahasa Indonesia sekarang."


Leo tersenyum lalu memelukku. Pelukannya terasa begitu hangat, ia melepaskan pelukannya dan memberiku hadiah.


"Selamat debutnya! Aku datang ke konser mu."


Aku terus tersenyum dan senyumanku menghilang seiring dengan senyuman Leo yang juga menghilang.


"Leo?"


Dia menatapku lekat, ada apa dengannya hari ini?


"Oh ya, ini pertama kalinya kita bertemu di Indonesia ya," ucap Leo kembali tersenyum.


Mendengar itu aku menyadari sekarang kami di Indonesia dan juga sekarang bukan musim dingin tapi kenapa Leo memakai baju panjang dan syal dilehernya.


"Kau sakit? sakit apa?" Aku meraba dahinya namun tidak panas.


"Zui, sebelum aku pergi. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Leo, aku mengerutkan keningku. Merasa kesal, setelah aku ke Indonesia dia ingin pergi lagi.


"Kau mau kemana lagi!! Aku sekarang di Indonesia jadi jangan pergi kemanapun lagi."


"Kau meninggalkanku jadi aku datang menemuimu di sini!! Kau mau pergi lagi??"


Raut wajah Leo begitu sedih, aku kebingungan. Ketika kami bertukar pesan, ia terlihat bahagia tapi nyatanya tidak.


"Aku akan kembali ke Amerika, ibuku sakit. Aku harus merawatnya," ucap Leo, aku memegang tangannya.


"Walau ibuku sudah bercerai dengan ayahku, dia tetap ibuku kan?"


Aku tersenyum, perkataan Leo sekarang adalah perkataanku kepadanya di pesan.


"Syukurlah kau mau menemuinya." Aku memeluknya beberapa saat.


Ditengah pelukan itu Leo mengatakan sesuatu. "Aku mencintaimu Zuiku."


Leo melepas pelukanku dan menatapku, aku menatap matanya yang berkaca - kaca.


"Hahaha, orang dewasa bilang cinta anak 13 tahun itu hanya cinta monyet dan tidak ada artinya," ucap Leo memegang tanganku.


Aku bingung dengan perkataanya dan dia tersenyum. "Tapi ... aku menunggu jawabanmu. Ketika kita bertemu lagi nanti."


Leo melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menjauh, aku mengejarnya.


"Leo!! Tunggu!! Apa maksudnya?? Kau tidak mau bertukar pesan lagi denganku??!!"


Aku berhasil menarik syalnya dan terlihat begitu banyak luka di lehernya, aku membulatkan mata membeku menatap Leo yang berlari menjauh meninggalkanku.


Aku menunduk menatap syal Leo, dan air mataku keluar. Kenapa di hari yang spesial ini kau pergi meninggalkanku.


"Apa arti dari mencintaimu? Leo, aku tidak paham dengan perkataanmu. Aku tidak pernah mendengar kosa kata itu, aku belum mempelajarinya ... seharusnya kau memberitahuku dalam bahasa Inggris," ucapku tidak henti menangis memeluk syal merah itu.


Setelah itu aku mengejar Leo dan mencarinya namun tidak ketemu hingga para pengawal yang mencariku menemukannku dan membawaku pulang.


Dan akhirnya aku tidak ingin berada di negara ini dan kembali ke Amerika namun tetap tidak bertemu dengan Leo. Sekuat apapun aku mencarinya tetap usahaku tidak berhasil.


Aku tidak ingin mencari tahu arti kata mencintaimu di kamus ataupun di buku mana pun, aku tidak ingin menyesal dengan apa yang kudapatkan nanti, mungkin saja itu adalah kata perpisahan atau berarti tidak ingin menemuiku lagi.


.


.


.


Air mataku terus mengalir deras, kini aku tahu arti kata itu. Aku merasa bodoh melupakan Leo, kenapa bisa aku melupakan sosok yang begitu penting untukku.


"Jadi, aku bertemu denganmu lagi di sini?"


"Apa itu alasan Irine memaksaku untuk bersekolah di Indonesia? padahal dia tahu betul aku tidak ingin lagi datang ke sini."


Bersambung.