Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Trauma menyerang keduanya



Aku begitu frustasi, padahal Yoel sudah memberitahu Leo tentang kejadian ini tapi Leo malah tidak ingin menemui Zujy. Kupikir dengan Leo bertemu dengan Zujy akan mengembalikan ingatan Zujy tapi Leo malah tidak ingin bertemu dengan Zujy.


Dan satu hal yang kutahu, trauma Zujy membuatnya tidak bisa bernyanyi lagi. Ketika ia bernyanyi dan terbawa suasana lehernya akan kesakitan.


Berbulan - bulan berlalu, aku terus berusaha menerima dan tetap di samping Zujy walau aku masih belum bisa terbiasa dengan sikapnya. Hingga kami telah lulus SMP, aku lumayan terbiasa dengan sikap Zujy namun aku masih bertekad untuk mengembalikan ingatan Zujy. Aku sama sekali tidak menyetujui Zujy menggunakan obat BR!


Ketika melihat media sosial, sekolah Feleras kutemukan. Sekolah Feleras yang berada di tengah - tengah hutan di sebuah desa terpencil, aku memutuskan untuk mengembalikan ingatan Zujy dengan cara kembali ke Indonesia. Om Agler selalu melarang Zujy ke tempat yang ramai namun mungkin saja jika di sekolah Feleras ini akan diizinkan. Mungkin saja aku akan bertemu dengan Leo lagi, dan saat itu juga aku akan mempertemukan mereka lagi dan mengembalikan Zujyku.


Di sikap Zujy yang sekarang sangat mudah membujuknya, anak itu tidak pernah menolak perintah atau permohonan seseorang. Kalau Zujy yang dulu aku yakin akan menolak, aku tahu betul sikap Zujy yang sangat mirip Ayahnya.


Mmm, mungkin Arka lebih mirip Om Agler.


Dan tanpa sengaja, Zujy malah bertemu Leo diluan. Mungkin mereka memang ditakdirkan bersama. Aku begitu senang melihat perkembangan Zujy, ia perlahan - lahan mulai mengingat semuanya dan sikapnya yang dulu mulai kembali walau Zujy sempat terluka karna Leo aku membiarkannya melihat Leo yang serius ingin melindungi Zujy, aku akan percaya padanya sekali lagi. Namun, Arka malah bertindak gegabah dan menyuruh Zujy bernyanyi di atas panggung asal dari trauma itu.


Kemungkinan besar ingatan Zujy kembali saat itu membuat om Agler menggunakan obat BR lagi pada Zujy, di saat itu juga aku tahu bahwa Zujy sama sekali tidak ingin melupakan dan membuang jati dirinya, ternyata Zujy dihipnotis. Aku tidak tahu kenapa Ayah membohongiku dan Yoel tapi yang kutahu Ayah selalu berbohong padaku untuk kebaikanku. Aku sama sekali tidak menganggap kehilangan sahabat adalah untuk kebaikanku.


Dan kali ini aku akan menghentikan semua penderitaan Zujy.


.


.


.


Pov Author


Irine menatap serius Zujy, setelah ia menceritakan semuanya ia bersiap - siap jika Zujy merasa sakit kepala lagi. Tapi ia merasa aneh, hampir sejam berlalu dan Leo masih belum datang.


Hening.


Tidak ada reaksi kesakitan dari Zujy, Zujy hanya termenung menatap segelas kopi di tangannya. Jadi rencana mereka tidak berhasil?


"Zui, bagaimana? Kau ingat sesuatu?" tanya Yoel memegang pundak Zujy membuat Zujy tersadar dari lamunannya.


Zujy menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Hah?!" Irine terkejut, ia merasakan sakit di dadanya. Perasaannya menjadi begitu gelisah, Yoel dan Zujy menatap Irine yang mulai menetaskan air mata.


"I - rine?" ucap Zujy yang segera mendekati Irine begitupun dengan Yoel.


Tangisan dan pertanyaan Yoel dan Zujy yang khawatir terhenti saat hp Irine yang diletakkan di atas meja berdering.


Irine dengan hati - hati mengambil hp itu, ia segera mengangkat telpon dari Ayahnya.


Yoel dan Zujy hanya terdiam menatap Irine yang membeku saat mendengar perkataan dari ayahnya, Irine menatap sedih Zujy dan menangis di pelukan Zujy.


Irine berusaha. "Ka - kakak, kakak kecelakaan. Kakak membutuhkan darahku, ibu sedang sakit jadi tidak bisa, tidak bisa...."


Yoel menatap serius Zujy dan mengatakan. "Zui, aku akan pergi dengan Irine, kau di sini saja. Tunggu sampai Leo datang."


Zujy menolak namun melihat Irine yang tidak henti terisak, ia pun menyetujuinya.


.


.


.


Pov Zujy


Aku menatap keluar dari jendela cafe, beberapa saat telah berlalu semenjak Yoel dan Irine pergi. Aku terus berdoa agar kakak baik - baik saja.


Namun setengah jam telah berlalu dan Leo tak kunjung datang.


"Irine pasti sekarang berada di bandara," gumamku menatap hp, aku mencoba menelpon Leo namun telpon Leo tidak aktif.


Aiu memutuskan untuk pergi karna Leo tak kunjung datang, aku juga berkali - kali menelpon Leo namun Leo masih tidak menjawab dan akhirnya telpon Leo tidak aktif lagi. Entah sengaja atau tidak.


Aku berjalan di dalam parkiran bawah tanah yang begitu sepi, langkahku terhenti menatap seorang gadis yang berdiri tepat di samping mobilku. Tubuhku bergetaran, rasa takut dan marah muncul di hatiku. Matanya melirikku pelan dan tersenyum lebar, ia mulai mendekatiku sembari merapikan rambut pendeknya.


Tubuhku tidak bisa kugerakkan.


"Hai!! Kakak!!" Sapanya sedikit tertawa.


Aku tidak mengenalnya namun mengapa tubuhku begitu ketakutan dan marah pada gadis ini.


"Kakak masih mengingatku kan?!! Ah maaf, mana mungkin kakak melupakanku. Aku kan fans nomor satu kakak!"


Aku hanya menatap tajam gadis itu, ia mulai memasang wajah datar ketika aku tidak menjawab perkataannya.


"Kakak tidak mengenalku ya," gumam gadis itu namun aku mendengarnya.


Perasaanku memburuk ketika ia tertawa keras, ia tersenyum geli dan memegang leherku. "KALAU BEGINI KAKAK PASTI MENGINGATKU!!" teriaknya membuat kepalaku sakit.


Aku terjatuh, ia berjongkok mensejajarkan tubuh kami. Dia terus tertawa kecil melihatku yang kesakitan.


"A - anna!!" ucapku, aku mengingatnya sekarang.


4 tahun yang lalu.


Aku tengah berada di belakang panggung, aku baru saja selesai berlatih bernyanyi untuk babak final ini. Aku tidak henti tersenyum, rasanya ini hari terbahagiaku.


Setelah aku meminum air, seorang gadis yang seusia denganku masuk. Ia memakai baju yang polos. Aku mengenalnya, dia adalah kontestan yang gagal di babak sebelumnya.


Sebelumnya aku berpikir bahwa gadis ini mau mengambil barangnya yang tertinggal namun ternyata dia kembali mau menemuiku.


Ia tersenyum lebar menghampiriku, aku berpikir bahwa gadis ini adalah gadis yang polos dan baik hati. Terlihat dari penampilannya.


"Kakak! Aku kembali mau menemui kakak!! Bagaimapun juga aku fans kakak yang pertama!!" ucapnya duduk di dekatku.


"Aku Anna, aku menyukai lagu kakak yang begitu bagus dan keren."


Aku tersenyum, namun hatiku sedikit sedih karna merasa gadis ini sedikit mirip dengan lelaki itu. Lelaki yang membuat perasaanku begitu bercampur aduk.


"Anna, nama yang cantik," ucapku dan Anna tersipu malu.


Namun setelah berbincang beberapa saat, ia menundukkan wajahnya dan memasang wajah datar.


"Ibuku sakit, aku membutuhkan hadiah lomba ini untuk ibuku."


Aku hanya menatapnya, aku begitu tidak tahu harus menjawabnya seperti apa.


"Tapi aku tahu kakak pasti tidak mau mengalah, aku juga sudah kalah. Hanya cara ini yang bisa kulakukan," ucapnya menatapku tajam.


Ia seketika mencekikku begitu keras, aku mencoba melawan namun tenaganya begitu keras. Ia terus tertawa terbahak - bahak menatapku yang kesakitan, aku memukul perutnya namun masih saja dia terus mencekikku tidak henti. Hingga aku merasa nafasku akan habis, aku sekilas menatap Irine yang masuk dan mendorong gadis itu.


Gadis itu tetap mencekikku.


"LEPASKAN!!! AKU BILANG LEPASKAN!!" teriak Irine menendang perut gadis itu hingga darah keluar dari mulut Anna.


Rasanya waktu berlalu begitu cepat, aku menatap Ayah yang menyakiti Anna itu yang sudah sekarat. Hal terakhir yang aku ingat aku menghentikan Ayah dan jatuh pingsan.


Aku tidak mengingat kejadian selanjutnya lagi.


.


.


.


Pov author


Zujy memegang lehernya yang terasa sakit, ia menatap Anna yang memasang wajah datar.


Penglihatan Zujy mulai buram, ia terus berteriak kesakitan. Anna berdiri, ia menatap seseorang di ujung parkiran yang terus mengawasinya.


"Kau membuatku kembali berdosa," gumam Anna dan berjalan meninggalkan Zujy.


Air mata Zujy tidak henti keluar, Zujy berusaha mengambil hpnya dan menelpon Irine.


"Rin, a - ang kat," ucap Zujy menahan sakit menatap hpnya.


Namun telpon Irine sibuk.


Irine yang terhenti tepat di pintu masuk pesawat pribadinya menerima telpon dari Ayahnya, Irine dengan tangan yang gemetaran menatap Yoel dan menerima telpon dari Ayahnya.


"A - ayah?" ucap Irine namun tidak ada suara terdengar, hanya ada suara keramaian yang ada.


"Ayah!! Ada apa?! Tenang saja! Aku akan kesana dengan cepat!!"


Yoel memegang pundak Irine untuk menenangkan Irine yang mulai panik kembali.


"Sayang ... Felix sudah...." ucap Andre dengan nada sedih.


Irine membeku, ia menjatuhkan hp dari tangannya. Dan tubuhnya ikut terjatuh, Yoel yang ikut panik berusaha menanyakan apa yang terjadi pada Irine namun nihil. Irine terdiam menatap ke depan dengan tatapan yang kosong, air matanya keluar satu persatu.


Disaat seperti ini ingatan buruk melintas di kepalanya.


Kejadian 3 tahun yang lalu.


Pov Irine.


Aku terbangun dari tidurku yang terasa amat panjang, aku menatap ruangan yang begitu asing di mataku. Ketika tanganku kugerakkan, tanganku menyentuh sesuatu. Aku menatap tubuh seseorang yang kusentuh.


"Gi - gion?!" ucapku kaget mendapati mantan pacarku tidur dengan keadaan bugil di sampingku, aku menatap tubuhku dan mendapati tubuhku juga dalam keadaan bugil.


Aku menutup mulut dengan tanganku, begitu syok hingga tidak bisa berkata apa - apa lagi. Apa yang sudah kulakukan?


Aku kembali mengingat kejadian semalam, namun yang kuingat hanyalah ketika aku dibawa masuk oleh Gion kedalam hotel ini dalam keadaan mabuk.


Air mataku mulai menetes, aku segera memakai pakaianku yang tergeletak di lantai. Tanganku terhenti ketika mengingat perkataan terakhir Gion ketika membuka bajuku semalam, dia hanya memanfaatkanku!


Aku marah!! Aku dibohongi! Ia menghianatiku  untuk kedua kalinya, kepalaku sakit. Ini kali pertama aku mabuk, rasanya kepalaku ingin pecah. Aku mendekati Gion yang tertidur pulas dan terkekeh, beraninya ia tertidur pulas setelah mengambil mahkotaku.


Pandanganku teralihkan pada pisau makan di meja, entah apa yang kupikirkan saat itu. Aku mengambilnya dan mengarahkannya pada lelaki ******* itu.


Niatku ingin mengancamnya namun aku yang tidak bisa menahan kemarahanku ketika ia membuka matanya dan menatapku. Kesalahan fatal terjadi, aku membunuhnya. Aku seakan menjadi gadis psikopat yang tertawa melihat seseorang kesakitan.


Air mata tidak henti keluar dari mataku, aku menatap tanganku yang penuh darah, aku kembali menatap pisau dan mengambilnya. Aku menatap mayat Gion yang dipenuhi darah, aku menatap kasur besar yang dipenuhi darah.


"Maafkan aku, maafkan aku. Maafkan aku," ucapku gemetaran dan mengarahkan pisau yang berlumuran darah itu ke dadaku.


Gerakan tanganku terhenti ketika suara dobrakan dari pintu kamar dan suara ayah serta sahabatku.


"IRINE!! KAU DIDALAMKAN?!! TENANG SAJA!!" teriak Zujy dan Ayah.


Aku mengabaikan teriakan mereka, aku adalah pendosa. Aku tidak pantas hidup lagi, aku termakan amarah dan membunuh seseorang. Dosa yang besar.


Aku menusuk dadaku dengan pisau itu.


Pov Author.


Irine membulatkan matanya, ia begitu ketakutan.


"A - aku sudah membunuh kakak," ucap Irine menutup telinganya, ia mendengar suara teriakan Gion dan kakaknya yang marah padanya.


"Irine? Tenang, ini bukan salahmu," ucap Yoel yang tetap berusaha tenang ketika mendengar Felix telah meninggal.


"Tidak, tidak Yoel, AKU SUDAH MEMBUNUH MEREKA!!" Teriak Irine meremas rambutnya dan menatap kebawah.


"Maafkan aku, maafkan aku, tidak, tidak, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!" ucap Irine terus menerus.


"Irine!! Hentikan!! Aku bilang hentikan!!" Walau Yoel sudah melarang Irine, Irine terus bergumam meminta maaf.


Keberadaan Yoel seakan menghilang bagi Irine.


Yoel mengerutkan alisnya, ia dengan cepat menggendong tubuh Irine namun terhenti ketika menerima telpon dari Zujy.


"Zujy!! Syukurlah! Trauma Irine kambuh, aku tidak bisa menenangkannya. Irine membutuhkanmu, aku akan ke rumah sakit dokter Barry. Kita bertemu disana," ucap Yoel dengan cepat sembari menatap khawatir Irine.


"Yo - yoel, hiks - hiks. To - a - ku, to - lo," ucap Zujy dan tidak sadarkan diri.


Yoel terkejut mendengar suara Zujy yang kesakitan, ia menatap Irine dan hp secara bergantian.


"Apa yang harus kulakukan!!" ucap Yoel, ia kebingungan harus memilih siapa setelah menyadari kedua sahabatnya memerlukan bantuannya.


Ia ingin memilih Irine namun Zujy juga kesakitan, namun jika ia memilih Zujy bagaimana dengan Irine? Ia tidak bisa menolong keduanya di dua tempat yang berbeda.


Yoel memutuskan untuk menelpon Leo pasalnya tidak ada satupun pengawal yang berada disekitar mereka.


"Leo, kumohon angkat!"


Bersambung.