
Aku terus diam sembari menunggu giliranku, seorang gadis menghampiriku dengan wajah sedih.
"Rin, kami minta maaf," ucap Hida sedih.
Aku menatap mereka heran, mengapa mereka meminta maaf.
"Kami masih ingin menjadi sahabatmu," ucap Riska.
Aku tersenyum dan memeluk mereka, mereka juga tersenyum bahagia dan membalas pelukanku.
"Itu bukan salah kalian," ucapku namun ternyata sekarang giliranku.
Aku melambaikan tangan pada mereka dan masuk ke dalam hutan bersama Yoel.
Hingga setengah jalur uji nyali yang kami lewati aku sama sekali tidak membuka mulut, aku juga hanya terdiam ketika Yoel ingin mengajakku berbicara.
"Irine....," sahutnya untuk kesekian kalinya.
"Ya, aku tahu Yoel. Aku sangat bodoh, aku malah mengikuti teman - teman yang bahkan tidak terlalu ku kenal untuk masuk ke club. Aku juga mengabaikan larangan Zui, dan lagi aku memakai statusku untuk memasuki club," ucapku terus menatap ke depan.
Aku begitu terkejut ketika Yoel memelukku dan memegang kepalaku erat, ia sama sekali tidak membiarkanku lepas dari pelukannya.
"Itu memang salahmu, tapi aku tidak menyalahkanmu," ucapnya membuat aku terkejut.
Aku mendongak dan menatapnya, mata kami saling menatap. Aku melihat bayanganku di mata coklatnya.
"Aku menyukaimu Rin, aku menerima semua masa lalumu. Walau kau sering membuatku marah tapi aku tidak bisa berhenti menyukaimu. Aku menerimamu apa adanya jadi jangan khawatir," ucapnya membuat air mataku keluar.
Aku menundukkan wajahku. "Tapi, tapi aku su-"
"Aku tidak peduli! Aku tidak peduli, sudah kubilangkan aku akan menerimamu apa adanya," ucapnya memotong perkataanku.
Yoel melepaskan pelukannya dan memegang pipiku.
"Terima kasih sudah menceritakannya, tapi itu semua sudah berlalu. Kita hanya harus fokus pada masa kini dan masa depan."
Aku memegang tangannya dan tersenyum, aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu. Seketika semua kenangan yang kulalui bersama Yoel terlintas di kepalaku.
"Aku selalu takut untuk merasakan perasaan itu lagi jadi saat tahu aku menyukaimu aku selalu membohongi diriku dan berusaha menganggapmu sebagai kakak, tapi ternyata aku tidak bisa melakukannya....." air mataku terus mengalir dan Yoel menghapusnya.
"Izinkan aku mencintaimu," ucapnya dan aku mengangguk tersenyum.
Air mata mengalir di pipi Yoel namun dia segera menciumku membuatku terkejut, aku segera mendorongnya dan berlari sekuat tenaga.
"Ini masih terlalu awal," gumamku meninggalkan Yoel.
Aku tersenyum kaku ketika menyadari aku tersesat.
.
.
.
"Akhhhh!!" teriak Rini ketika melihat guru yang berpura - pura menjadi hantu menakutinya, ia seketika memeluk lengan Reihan namun ditepis kasar lelaki itu.
"Aku sudah bilang berkali - kali, jangan memegangku!" ucap Reihan dingin.
"Aku takut." Rini berjalan sembari memperhatikan sekitar.
"Akhhh!!" teriak Rini lagi ketika hantu mengagetkannya lagi, dan lagi ia seketika memeluk lengan Reihan.
"Jangan memegangku!" bentak Reihan menepis kasar lengan gadis itu.
"Kau juga!! Aku hanya memegangmu!! kau pikir aku **** sampa kau jijik aku memegangku!!" teriak Rini dan Reihan tertawa.
"Kau memang ****, aku tahu siapa kau sebenarnya jadi jangan berpura - pura polos."
Rini terkejut mendengar perkataan Reihan.
"Kalau kau berani menyakiti Zujy, aku akan membongkar identitasmu."
.
.
.
"Lindungi aku tuhan," gumam Zujy melirik sekitar.
"Kau takut?" tanya Leo namun Zujy menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Tidak."
Keheningan kembali terjadi, Zujy menghela nafas dan menatap Leo namun ia melihat hantu yang paling ditakutinya di belakang Leo.
"Akhh!!" teriak Zujy memeluk Leo dan membuat mereka hampir terjatuh di saluran air.
"Kau kenapa?!" tanya Leo kaget.
"T - tidak."
Leo seketika mendekap kepala Zujy ke dada bidangnya membuat wajah Zujy merah seperti tomat.
"Ah maaf," ucap Leo segera melepaskan pelukannya dan kembali berjalan.
"Hei, let's be honest with each other," ucap Zujy menahan tangan Leo.
"Tidak mau."
Wajah Zujy seketika cemberut, ia terus menahan Leo jika lelaki itu tidak mau memenuhi permintaannya.
"Aku menyukaimu!"
Leo membulatkan matanya mendengar perkataan Zujy, ternyata itu tujuannya menyuruh Leo saling jujur.
"Tidak bisa."
Gadis itu terus menatap mata Leo membuat Leo gugup dan berjalan pergi, namun Zujy seketika memeluknya lagi ketika melihat hantu itu lagi.
"Kau kenapa?!" tanya Leo bingung.
"Ahmmm, itu ... kau tahu kan?"
Leo menghela nafas dan mengangguk, ia kembali mendekap kepala Zujy ke dada bidangnya agar Zujy tidak ketakutan lagi.
"Ayo berjalan seperti ini," ucap Leo.
Zujy hanya terdiam, Leo membuatnya bingung. Sesaat tadi Leo masih dingin namun sekarang malah begitu perhatian.
"Aku tidak peduli tentang adikmu dan perusahaan itu, aku sudah memaafkan adikmu. Dan juga salah adikku yang memaksa adikmu. Soal perusahaan, aku yakin bisa mengatasinya," ucap Zujy membuat langkah Leo terhenti.
Leo melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Zujy dengan kedua tangannya, ia menatap serius Zujy.
"Tidak bisa, kau bisa saja stres nanti. Kalau ada Reihan semua akan aman. Aku tidak sepintar itu hingga bisa mengalahkan Reihan."
"Tidak mau!! Aku hanya mau kau!" ketus Zujy mengerutkan alisnya.
"Pikirkan hidupmu nanti Zui!"
"Aku sudah memikirkannya! Aku tidak bisa bahagia kalau kau tidak ada di hidupku!!"
Leo melepaskan tangannya dari pipi Zujy, ia berjalan mengikuti arah suara yang didengarnya.
"Kau mau kemana?!" tanya Zujy menahan tangan Leo.
Leo mengangkat jari telunjuknya di bibirnya. "Syutt, jangan berisik. Aku mendengar namamu dibicarakan tadi."
"Tidak mau! Kau harus janji tidak akan meninggalkanku lagi!" ucap Zujy jelas.
"Ya, janji," ucap Leo membuat janji jari kelingking untuk kedua kalinya dengan Zujy.
"Kau harus menepati janjimu kali ini," ucap Zujy tersenyum bahagia.
Leo hanya terus menatap ke arah suara itu namun ia sekilas melirik Zujy terus tersenyum membuatnya sedih karna ia sudah berbohong.
Langkah mereka semakin dekat dengan suara orang itu dan terlihat Reihan bersama Rini.
"Kenapa? Kau takut?" tanya Reihan tersenyum sinis namun Rini malah tersenyum tidak kalah sinis dari Reihan.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kau menerima perjodohan itu untuk melanjutkan tugas ayahmu untuk menjaga Zujy tapi tujuan utamamu karna kau ingin mengambil perusahaan Dirni kan?" ucap Rini tersenyum sinis sembari mengelus pelan pipi Reihan namun Reihan seketika menepisnya kasar.
"Kenapa kau bisa tahu itu? hanya Tuan dan Ayah dan aku yang mengetahuinya."
Zujy terkejut tidak kalah dengan Leo, padahal Reihan tahu betul Zujy sama sekali tidak suka dimanfaatkan namun sekarang Reihan melakukannya.
Zujy keluar dari persembunyiannya membuat keduanya menatap Zujy, Reihan membulatkan matanya menatap Zujy yang kecewa.
"Batalkan pertunangan itu Reihan!" ucap Zujy sebelum berlari pergi.
Reihan yang ingin mengejar Zujy dihentikan oleh pukulan keras yang mendarat di pipi kanannya, ia menatap wajah marah Leo yang memegang kera bajunya.
"*******!!" umpat Leo memukul wajah Reihan.
"TERNYATA AKU SALAH KARNA MEMPERCAYAIMU UNTUK MENJAGA ZUJY!! KALI INI AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN ZUJY LAGI!! AKU TIDAK PEDULI KALAU KAU MENENTANG!!" teriak Leo membuat Rini tertawa kecil sedangkan Reihan sama sekali tidak membalas pukulan Leo.
"BATALKAN PERTUNANGAN ITU ATAU AKU AKAN MEMUKULMU SAMPAI KAU MATI!!"
Setelah puas memukul Reihan, Leo berlari mengejar Zujy.
"Pftt, aku tidak menyangka perkataan bodohku bisa membuatmu babak belur begini," kekeh Rini namun Reihan hanya terdiam.
'Lelaki itu bagus juga, aku akan mengincarnya,' gumam Rini dalam benaknya.
.
.
.
"Zujy!!" teriak Leo mencari Zujy namun belum ketemu juga.
Seketika suara tangisan membuat Leo merinding.
"Zui?" sahut Leo mendekatiku suara tangisan itu dan segera memeluk Zujy yang menangis sembari memeluk lututnya.
"Leo?"
Leo mengangguk membuat Zujy tambah terisak.
Irine yang tengah mencari jalan setapak seketika merinding ketika mendengar suara tangisan.
"Terima kasih hantu, di sana jalannya kan?" kekeh Irine mendekati suara tangisan dan terkejut menatap Leo yang duduk bersebelahan dengan Zujy.
Ia segera bersembunyi di balik pohon Zujy duduk.
"Hantu, kalian sama sekali tidak membantu," gumam Irine mematikan senternya.
Irine terdiam mendengar perkataan Zujy dan Leo yang membuatnya sedih.
Bersambung.