
Hari keberangkatan mereka ke gunung biru pun telah tiba.
Seluruh kelas 3 - A terlihat tengah berbaris dengan rapi dan para panitia di depan mengatur keberangkatan mereka.
"Saya harap semuanya mengikuti aturan yang ada," ucap Reihan kemudian melirik Irine yang tengah memeriksa barang - barang.
Irine menengok ke Reihan dan mengangguk, seluruh murid masuk ke dalam bus dengan tertatur sembari Yoel mengabsen.
Terakhir panitia masuk mengakhiri para murid yang masuk, Irine yang baru masuk menatap kesal Reihan yang langsung duduk di samping Zujy. Padahal ia ingin duduk di samping Zujy. Sebuah tangan putih melambai ke arah Irine, Irine tersenyum dan duduk di samping Yoel.
Sepanjang perjalanan Reihan terus melirik Zujy yang kelihatan lelah, wajahnya pucat dan ia terus bersandar di jendela sembari menutup matanya.
"Zui, kau baik - baik saja?" tanya Reihan khawatir.
Reihan memegang tangan Zujy dan terkejut dengan suhu tangan Zujy yang dingin, ia segera memeriksa dahi Zujy. Berharap tunangannya itu baik - baik saja.
"Tidak panas, Zui! Ada yang sakit?" tanya Reihan lagi namun Zujy sama sekali tidak membalas perkataannya.
Lelaki itu menghela nafas dan memindahkan kepala Zujy ke pundaknya, ia hanya bisa tersenyum menatap gadis itu tertidur lelap.
Di sisi lain, Irine mengeluarkan beberapa snacknya dan memakannya bergantian. Irine menatap khawatir Zujy yang tertidur di pundak Reihan.
Sebuah tangan yang menghelai rambutnya mengagetkan gadis itu, ia menatap Yoel yang menatapnya khawatir.
Yoel hanya terdiam sembari memberikan headsetnya pada Irine.
"Lagu ini?" tanya Irine menatap Yoel.
"Ya, lagu Zujy. Aku akan mendukungmu sekarang, aku minta maaf karna tidak memikirkan perasaan Zujy," ucap Yoel membuat senyum di wajah Irine.
"Terima kasih Yoel, kau memang kakak terbaik." Irine memeluk Yoel.
"Tapi kau harusnya meminta maaf pada Zui," ucap Irine lagi dan Yoel mengangguk.
Namun pelukan romantis itu tidak berlangsung lama, Hida dan Riska yang duduk di belakang kedua kakak beradik itu mengagetkan keduanya.
"Romantis amat nih kakak adek," goda Hida terkekeh.
"Apaan sih Hida," ucap Irine tersenyum kaku dan tidak sengaja menatap Leo yang terus menatap tajam Reihan.
Sejam kemudian mereka telah sampai di kaki gunung biru, semangat para murid menghilang ketika menatap beribu anak tangga ke tempat perkemahan.
Namun semangat mereka kembali menatap hutan yang begitu indah, hutan itu benar - benar terlihat berwarna biru serta cahaya kecil yang begitu banyak berterbangan memperindah gunung itu.
Semuanya memakai jaket mereka karna semakin naik, dingin gunung semakin terasa.
"Zui, kau tahu? Gunung ini dulu kampung para peri," ucap Reihan kemudian melirik Zujy.
Zujy memegang tangan Reihan karna merasa kepalanya sangat pusing, penglihatannya semakin gelap dan buram.
Brakk!!
Tatapan semua murid seketika menatap Zujy yang pingsan dengan darah yang keluar dari hidungnya, Reihan membulatkan matanya dan segera mengendong Zujy.
.
.
.
Pov Zujy.
Aku membuka mataku yang terasa sangat berat, seketika kepalaku terasa pusing kembali. Ruangan ini terasa dingin dan terbuat dari kain, aku menyimpulkan kalau di sini adalah perkemahan.
Suara jangkrik yang begitu besar sedikit menenangkan hatiku.
"Hmm, apa ini?" tanyaku memegang sebuah tisu di hidungku, aku melepaskannya dan membuangnya.
"Mm jadi begitu ya."
Aku menatap langit - langit dan berusaha kembali menutup mataku, di luar terasa sangat sepi, tidak ada suara seorangpun. Mungkin karna sekarang sudah malam hari.
Aku beranjak dari kasurku berusaha untuk menghilangkan pusing di kepalaku dengan menghirup udara segar.
"Segarnya," gumanku tersenyum, aku menatap seorang lelaki yang duduk menyendiri di depan api unggun.
Dengan melihat punggungnya aku sudah tahu dia siapa, aku melangkah dan duduk di sampingnya. Tentunya ia terkejut menatapku.
"Zujy?! Kau sudah bangun?" tanya Reihan khawatir seketika memelukku.
"Syukurlah, aku kira aku akan kehilanganmu."
Ucapannya membuatku terkekeh. "Aku cuma mimisan Rei," kekehku dan ia melepaskan pelukan hangatnya.
"Kau tidak apa - apa? Ada yang sakit?" tanya Reihan memegang pipiku dengan kedua tangannya.
"I'm fine."
Ia tersenyum menatapku, dan kembali ke posisinya semula menatap api unggun.
"Where is everyone?" tanyaku.
"Istirahat, jadwal malam ini hanya beristirahat."
Aku hanya terdiam, jujur saja aku merasa canggung dengannya karna beberapa hari ini terus mengabaikannya.
.
.
.
Beberapa menit sebelum Zujy sadar.
Pov Irine.
Aku memegang tangan Zujy, aku sangat khawatir karna dua jam telah berlalu namun Zujy masih tidak kunjung bangun. Walau dokter mengatakan Zujy baik - baik saja namun hatiku masih khawatir.
"Semua ini salahmu," ucapku kesal.
Lelaki yang tengah berdiri di dekat pintu tenda hanya terdiam mendengar perkataanku.
Aku berdiri dan menatap wajahnya yang juga khawatir pada Zui.
"Reihan, lebih baik kau sekarang membatalkan pertunangan itu."
Reihan berjalan mendekatiku dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa kau masih saja mencampuri urusanku?" ucapnya membuatku tertawa.
"Kau yang mencampuri hidup kami!" ucapku menunjuknya dan berjalan keluar.
Kini aku duduk di atas batang pohon besar sembari menatap air terjun yang menjadi pusat wisata gunung biru, namun sekarang hanya ada aku sendiri di sini dan hanya di sinari cahaya bulan.
"Ayah, masa SMA sama sekali tidak menyenangkan," gumamku menatap sungai yang jernih.
Aku melirik seseorang yang melangkah mendekat, ia tersenyum dan duduk di sampingku.
"Yoel, saat ini aku ingin sendiri dulu," ucapku namun ia tidak kunjung beranjak dari duduknya.
"Kau kenapa?" tanya Yoel namun aku menggeleng - gelengkan kepala, Yoel membuka jaketnya dan meletakkannya di pundakku.
Aku menghela nafas dan tersenyum menatap air terjun, saat ini aku ingin menghilangkan semua pikiran buruk di kepalaku. Aku melepas jaket Yoel dan melangkahkan kakiku.
Aku melangkahkan kakiku dan berjongkok menatap sungai itu, aku sama sekali tidak melihat ikan mungkin karna tinggi airnya yang dangkal
Tanganku seketika menjadi dingin ketika menyentuh air sungai yang sangat dingin.
Air itu ku lempar pada Yoel yang asik melihatku, aku tertawa menatapnya.
"Hmmm? Jadi ajak bermain nih?" kekeh Yoel seketika membalasku dengan melempar air juga.
"Hiiii dingin!"
Aku tertawa dan membalas Yoel lagi.
"Hahahaha!! dingin Yoel!" Aku tertawa lepas dan tidak sengaja berlari ke tengah sungai begitupun dengan Yoel.
Kami terdiam menatap air sungai yang sampai di di lutut ku dan di betis Yoel.
"Dingin sekali, tapi tidak sedingin musim dingin di Inggris," ucapku terkekeh.
"Udah rin, nanti sakit," ucap Yoel memegang tanganku dan membawaku ke luar sungai.
Aku terkejut menatap ikan yang berenang dengan cepat melewati kakiku.
Aku terjatuh, Yoel pun ikut terjatuh karna aku tanpa sengaja aku menarik tangannya. Sekujur tubuhku seketika dingin, tubuhku semuanya basah mungkin tidak dengan Yoel yang menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di atasku.
Wajah Yoel terlihat memerah begitupun denganku, mungkin karna tubuh kami sangat dingin.
"Hehehehe, maaf," ucapku terkekeh.
Namun Yoel terlihat aneh, ia terus menatapku membuat aku terus memalingkan wajah.
"I like you," ucapnya seketika membuatku terkejut.
Kesalahanku, aku mendorong tubuhnya berniat ingin bangun namun Yoel malah kehilangan keseimbangan dan menimpaku.
...
Aku duduk di atas batang pohon besar dengan jaket Yoel yang kering.
"Mmm, ayo balik ke perkemahan," ajakku mulai berdiri begitupun dengan Yoel.
"Aku juga menyukaimu Yoel," ucapku tersenyum dan Yoel terkejut menatapku.
"Sebagai kakak adik kan?" ucapku lagi tersenyum manis dan melanjutkan langkahku.
Yoel menahan tanganku dan menatapku serius.
"Aku sama sekali tidak menganggapmu adikku, jadi jangan menganggapku sebagai kakakmu. Aku menganggapmu sebagai gadis yang aku sukai," ucap Yoel membuat wajahku memerah.
Aku menepis tangan Yoel dan berlari pergi, aku sama sekali tidak mendengar suara langkah yang mengejarku.
Entahlah, perasaan yang selalu ku tutupi dalam - dalam mungkin akan terbuka. Aku selalu membohongi diriku dengan menganggap Yoel sebagai kakak karna aku masih takut merasakan cinta lagi.
Bersambung.