
Seluruh keluarga Dirni dan Charles terlihat tengah duduk di sofa berwarna merah, ruangan besar berwarna coklat berpadu dengan emas di sekelilingnya dan dipenuhi barang mewah. Lukisan besar yang berada di dinding ruangan terlihat sangat megah dan sangat cantik karna berlukiskan dua nona muda yang sangat cantik dari kedua keluarga besar itu.
Keluarga Dirni dan Charles adalah keluarga konglomerat yang bersahabat, mempunyai banyak cabang perusahaan di berbagai negara, salah satunya perusahaan bernama NZ yang berjalan di dunia entertainment. Sudah melahirkan banyak idol dan aktris ternama membuat perusahaan yang kini di pimpin anak pertama keluarga Charles yang selalu berada di pusat perusahaan di London Inggris sangat terkenal bahkan banyak perusahaan ingin bergabung dengan perusahaan NZ.
"Benarkah!? YEYYY!" Gadis berparas cantik berambut pirang dengan manik berwarna emas berdiri dan memeluk gadis pemurung di sebelahnya.
"I - iya." gadis pemurung itu berbicara dengan gugup dan pelan - pelan melepaskan pelukan Airine Charles.
Airine Charles nama gadis berparas cantik berambut pirang dengan manik berwarna emas, dijuluki sebagai mawar emas dikarnakan sifat baiknya berbanding terbalik dengan sifatnya pada kaum adam yang mendekatinya, sifatnya yang tidak kenal takut membuat para kaum adam selalu terpesona dengan semua perbuatannya dan bahkan tidak menyerah mendekatinya walau sudah ditolak berkali - kali, yang paling membuatnya menjadi lebih menarik adalah profesinya yang kini menjadi model namun hanya untuk proyek besar di perusahaan NZ di usianya yang baru memasuki 16 tahun.
"Terimah kasih." Keduanya membungkukkan badan mereka ke tetinggi keluarga Charles dan Dirni.
Kedua keluarga itu hanya tersenyum sedikit tertawa menatap tidak percaya anak gadis mereka telah menduduki bangku SMA dan mungkin saja akan menemui jodoh mereka masing - masing mengingat semasa remaja mereka yang dipenuhi drama cinta.
"Ingat baik - baik, jaga diri kalian karna kehidupan anak kost tidak semanis kehidupan kalian di sini." Irine terkekeh setelah mendengar perkataan Ayah tercintanya.
Karna telah lahir di keluarga yang kaya raya kedua gadis itu ingin sesekali merasakan kehidupan sederhana yang semuanya di lakukan sendiri tanpa ada pelayan yang membantu.
"Iya, terima kasih." Gadis di samping Irine hanya berbicara sembari menatap lantai dan tidak bahkan tidak berani menatap keluarganya sendiri.
Wajahnya yang cantik sangat disayangkan karna setengahnya tertutup poninya yang begitu panjang bahkan mata birunya disembunyikannya di belakang kontak lens berwarna hitam berpadu dengan rambut hitamnya menjadikan dirinya sama sekali tidak punya pesona sama sekali dibandingkan dengan Irine yang selalu dilirik para kaum adam.
Namanya Zujy Dirni gadis yang dulunya Idol perusahan NZ namun karna suatu peristiwa menjadikannya mantan Idol dan menutup dirinya rapat - rapat, yang dulunya periang kini menjadi pendiam dan tidak ingin bersosialisasi dengan orang baru.
Anak laki - laki seketika berlari menuju Zujy dan sontak terkejut ketika dipeluk anak lelaki itu.
"Sering datang ke kota ya kak." Zujy menatap manik mata adiknya yang berwarna coklat berpadu dengan rambut coklatnya sangat mirip dengan Ibunya yang adalah orang Indonesia asli.
"Iya," balasnya tersenyum manis mengelus rambut halus Arka.
"Nana, giliran kakak Rin." Irine merentangkan tangannya tersenyum manis menatap anak berumur 8 tahun mendambakan pelukan juga darinya.
"Kali ini saja," Ketus Arka berpindah memeluk Irine lalu dengan sangat cepat kembali ke pelukan Ibunya.
Irine hanya tersenyum kaku merasa belum puas dengan pelukan singkat Arka bahkan sangat singkat dibandingkan dengan pelukannya ke kakak kandungnya tadi.
"Kalau begitu kami pergi dulu."
Kedua gadis dengan sifat bertolak belakang itu pergi dengan di ikuti beberapa pengawal dari belakang.
Yah, walau sifat mereka bertolak belakang namun keduanya menjadi sahabat yang sangat akur bahkan sudah bersahabat sejak masih di dalam janin dikarnakan kedua ibu mereka juga bersahabat.
Ketika di dalam mobil yang tengah menuju desa kecil tujuan mereka, Zujy hanya memasang wajah datarnya dibanding terbalik dengan Irine yang tersenyum sembari memakan snack yang sudah dipersiapkannya.
"Ni Zui." Irine memberikan salah satu snacknya lalu kembali menatap keluar jendela, terkesima dengan pemandangan hutan yang pertama kali dilihatnya secara langsung.
"Katanya di sana gak ada jaringan internet," ucap Zujy sembari memakan snack pemberian Irine.
Wajah Irine sontak menjadi datar mengalihkan pandangannya ke Zujy.
"Jangan mengingatkanku tentang itu Zui, aku sudah mempersiapkan diri dan sengaja tidak membawa game."
Irine memperlihatkan wajah sedihnya yang dibuat - buatnya namun hatinya sungguh kecewa dengan keadaan dimana dia tidak bisa lagi melakukan hobinya sepuasnya.
"Aku juga, tau," balas Zujy melirik Irine yang mulai terkekeh dengan jawabannya.
"Aku rindu denganmu Zui."
Entah ada angin apa gadis bule itu tiba - tiba memeluk Zujy sembari menepuk pelan punggung Zujy.
Ketika tengah memeluk Zujy raut wajah Irine terlihat sedih namun terus tersenyum saat Zujy meliriknya.
Kawasan hutan telah dilalui dan mulai terlihat pemukiman warga yang ramai dengan anak - anak yang tengah bermain di sekitarnya. Mobil hitam terhenti tepat di depan bangunan yang bertuliskan kos - kosan khusus putri dengan bangunan lain di depannya bertuliskan kos - kosan khusus putra.
Kedua gadis yang baru terbangun dari tidurnya beranjak keluar mobil melirik pemandangan sekitar yang terlihat asing bagi mereka, tidak ada sama sekali gedung tinggi serta perumahan yang seperti istana di sana malahan hanya perumahan kecil yang sederhana di kelilingi lampu jalan yang sudah menyala menandakan malam pertama di desa akan dimulai terdapat di sana. Berbeda dengan kosan putri yang berwarna merah muda, kosan putra berwarna biru muda.
Zujy dan Irine berjalan masuk setelah puas akan pemandangan desa, mengikuti pengawal Zujy yang tengah membawa barang - barang mereka masuk.
.
.
.
20.09
Perut mereka kini telah terisi penuh dan memilih duduk sembari menonton siaran tv di ruang tamu.
"Kamarnya cuma satu jadi kita tidur bareng," ucap Irine duduk di samping Zujy membawa beberapa buah - buahan.
"Iya."
"Haaa, aku tidak sabar untuk sekolah besok," ucap Irine menghela nafasnya.
"Mmm."
Siapa sangka Sekolah di desa ini masuk dalam peringkat sekolah terbaik di Indonesia dan kedua gadis ini terdaftar di sekolah yang dihuni para anak - anak dari kalangan orang kaya begitupun dengan mereka.
"Tapi sayangnya kita harus berpura - pura tidak saling mengenal," ucap Irine menghempaskan badannya ke bantal di belakangnya.
Zujy sekilas meliriknya lalu kembali menatap tv, yah sangat disayangkan padahal mereka sahabat, berpura - pura tidak saling mengenal mungkin akan sulit mengingat mereka selalu bersama setiap waktu.
Ada suatu kejadian, kejadian yang sangat besar hingga sulit dilupakan namun sepertinya Zujy melupakannya karna sekarang begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya, kenapa dia dilarang membuka Identitasnya yang adalah anak sekaligus penerus keluarga Dirni? dirinya yang tiba - tiba menjadi pendiam? Kenyataan bahwa dirinya yang gemar bernyanyi kini dilarang keras bernyanyi? ia bahkan tidak tahu alasan semua larangan itu.
"Mau bagaimana lagi, semua orang tahu kita bersahabat jadi akan mencurigakan kalau kau berteman dengan gadis pemurung sepertiku," ucap Zujy sembari memeluk lututnya.
Irine meliriknya lalu menghela nafas.
"Irine semua ini demi kebaikan Zujy."
"... Zujy sendiri yang menginginkannya."
Irine tersadar segera membuka matanya dalam keadaan terkejut, ia melirik sekitar semuanya gelap, ia mendapati dirinya tengah berada di atas kasur dan Zujy tertidur di sebelahnya. Ia seketika melirik ke arah jam dinding yang menunjuk angka 6.
"Zui, bangun."
Irine terus menggoyang - goyankan tubuh Zujy hingga terbangun.
"Mmm, kenapa?" tanya Zujy mengucek - ngucek matanya dan menatap mimik wajah Irine yang di kenalnya.
"Kau tertidur di depan tv semalam jadi aku memindahkanmu ke kamar." Seakan pertanyaannya telah terjawab Irine beranjak dari kasur.
"Ini sudah jam 6, sekolah masuk jam 7." Zujy membulatkan matanya segera berlari masuk ke dalam wc setelah mengecek jam.
"Hehehe." Irine terkekeh mengambil hpnya namun kembali disimpan setelah menyadari tidak ada jaringan internet sama sekali.
Tatapannya sangat tajam menatap Zujy yang berlari menuju kamar mandi.
"Apanya yang demi kebaikan," gumam Irine dingin.
.
.
.
Keduanya sampai tepat waktu sebelum gerbang sekolah benar - benar tertutup, dengan keadaan yang masih ngos - ngosan setelah berlari dengan cepat menyelinap ke antara murid - murid yang sudah berbaris rapi.
Selama menerima arahan dari guru dan ketua osis namun sesuatu terus membuat Zujy tidak nyaman, seakan ada yang memperhatikannya terus dan benar saja setelah melirik sekitar ia mendapati seorang murid lelaki dengan baju yang dibiarkan keluar dan rambut yang sedikit berwarna merah maron tengah menatapnya, tapi bukannya lelaki itu sangat tampan? Kenapa dia terus menatap Zujy? Apakah identitas gadis ini sudah ketahuan!? secepat ini!.
Bersambung.