
Hari ini, hari yang paling ditunggu setiap murid yaitu hari kelulusan. Hari yang bahagia namun di dalamnya juga terdapat kesedihan, kesedihan berpisah dengan sahabat dan teman.
Di ruangan yang begitu besar, seluruh murid tingkat 3 berkumpul. Empat perempuan cantik berkumpul dan menjadi salah satu murid tingkat 3 itu.
Hampir seluruh lelaki di sana menatap gadis berambut pirang yang begitu cantik, wajahnya dilapisi makeup yang natural, rambutnya dikuncir rapi dan yang menambah pesonanya karna ia memakai kebaya berwarna merah dan rok selutut.
"Cantik sekali, aku yang perempuan saja tidak henti menatapmu Rin," kekeh Hida yang juga memakai kebaya.
Irine terkekeh dan melirik Zujy yang terus mencari seseorang.
"Hei, bukannya gadis ini lebih mempesona," kekeh Irine mencupit pipi Zujy.
Zujy tersadar dan menatap Irine yang melepaskan cubitannya, Hida menatap Zujy dan juga terpesona. Gadis itu membiarkan rambut pendeknya terurai dan memakai baju kebaya berwarna biru laut serta rok selutut.
"Kalian para gadis bule cocok sekali pakai kebaya," ucap Riska tersenyum membuat wajah Zujy memerah.
Tiga lelaki datang menghampiri mereka, yah, itu adalah Leo, Yoel dan Reihan memakai baju batik yang berbeda - beda.
Leo seketika memeluk Zujy membuat ketiganya terkekeh sedangkan Yoel tersenyum pada Irine.
Irine terkekeh dan memeluk Yoel.
"Kakakku ini memang sangat tampan," kekeh Irine membuat wajah Yoel memerah.
Hubungan Yoel dan Irine dirahasiakan karna semuanya mengetahui bahwa Yoel adalah kakak kandung Irine.
Riska hanya tersenyum menatap Yoel, hatinya sedikit sedih karna pagi tadi ia baru saja di tolak.
"Sudah cukup pelukannya!" Seru Hida tertawa namun kakinya seketika kehilangan keseimbangan.
Greb!
Reihan menangkap tubuh Hida membuat wajah Hida merah malu.
"Ehem - ehem." Riska tertawa melihat tingkah Hida yang salah tingkah.
Reihan hanya memasang wajah datarnya menatap Hida yang berlari ke Riska setelah ia menangkapnya.
"Imut," gumam Reihan tanpa sengaja.
Mereka semua duduk di kursi setelah mendengar suara, terlihat kepala sekolah di depan para guru - guru berdiri.
Wanita itu menyampaikan pidatonya yang singkat dan jelas kemudian masing - masing murid diberi sebuah kertas. Air mata para murid tidak terbendung lagi melihat tulisan bertuliskan lulus di kertas itu, dan lagi kepala sekolah berterima kasih pada seluruh murid.
Dan tiba waktunya, waktu paling menegangkan bagi sebagian murid yaitu pengumuman peraih nilai tertinggi di angkatan mereka.
"Mungkin lebih bagusnya ibu mengungumkan 3 peraih nilai teratas," ucap kepala sekolah dan seluruh murid menyutujuinya.
"Peraih nilai teratas ke tiga dengan rata - rata nilai 100 adalah Yoel Manuel Charles!" ucap Guru membuat Yoel terkejut.
Semuanya menepukkan tangannya dan Yoel melangkah ke kepala sekolah dan menerima sebuah piala yang sebenarnya kastil di Inggris sudah dipenuhi piala dari berbagai keturunan keluarga Charles.
"Dan peraih nilai tertinggi kedua dengan rata - rata nilai 100 adalah Zujy Dirni!" ucap Kepala sekolah kembali membuat seluruh murid terkejut.
Tepukan tangan kembali terdengar dan Zujy melangkah naik ke panggung, ia juga menerima piala.
Dan kini Kepala sekolah memegang piala terbesar dari kedua piala lainnya, semuanya pasti sudah menduga siapa yang akan menerimanya.
"Pasti kau," bisik Irine di telinga Reihan.
Reihan tersenyum menatap Irine.
"Peraih nilai tertinggi dengan nilai rata - rata 100 juga adalah Irine Charles!" ucap Guru membuat seluruh murid terkejut.
Irine seketika menatap Reihan yang tersenyum padanya.
"Kau sudah bekerja keras," ucap Reihan mengelus kepala Irine.
"Aku mengalahkanmu!" kekeh Irine.
Irine tersenyum dan berjalan menghampiri guru, ia menatap piala itu di tangannya dan menatap Zujy dan Yoel tidak percaya.
Irine membalikkan badannya dan menatap seluruh murid, air matanya mulai berjatuhan.
"Aneh, aku sudah sering mendapat nilai tertinggi tapi entah kenapa sekarang aku sangat bahagia," ucap Irine mengusap air matanya.
Zujy dan Yoel memeluk Irine dan melepaskannya lagi.
"Selamat," ucap Zujy dan Yoel bersamaan.
"Ketiganya sangat hebat ya, selisih nilai mereka hanya satu," kekeh Guru membuat murid tidak henti terkejut.
"Nah, kalau begitu diharapkan ketiga orang tua naik ke panggung," ucap Guru.
"Sayangnya orang tua kami tidak bisa hadir," ucap ketiganya bersamaan.
"Mm? Benarkah?"
Ketiganya terkejut menatap orang tua mereka berjalan masuk ke panggung.
Irine seketika memeluk Ayah dan Ibunya begitupun dengan Zujy. Andre menatap Yoel lalu menyodorkan tangannya dan Yoel meneteskan air mata dan juga ikut ke pelukan Andre dan Victoria.
Setelah pelukan hangat itu berakhir, kepala sekolah kembali berbicara.
"Nah ayo kita dengarkan kata perpisahan dari peraih nilai tertinggi, Irine Charles."
Irine berjalan dan berdiri di hadapan Mic, ia menatap seluruh murid.
"Mungkin yang singkat saja ya," kekeh Irine membuat murid ikut tertawa.
Ia mendengar tepuk tangan dari para murid membuatnya menegakkan tubuhnya dan tersenyum.
.
.
.
"Sudah ganti baju!" seru Irine menatap Zujy yang berjalan dengan kemeja sekolahnya.
Irine juga memakai kemeja sekolahnya, mereka tidak tahu kenapa mereka di suruh mengganti baju.
Mereka dikumpulkan di lapangan sekolah tempat mereka pertama kali dikumpulkan ketika masuk ke sekolah, ketua osis dan anggotanya terlihat berdiri di atas panggung pendek.
"Baiklah! Pestanya dimulai!!!" teriak Reihan membuat seluruh murid mengeluarkan piloks dan mencoret - coret baju mereka.
Irine, Zujy dan Yoel terkejut melihat pemandangan yang pertama kali mereka lihat, Hida menyemprotkan baju Irine membuat Irine tambah terkejut.
"A - apa ini?!" tanya Irine.
"Mmm? Aku juga kurang paham tapi semua murid di hari kelulusan merayakannya dengan mencoret - coret baju."
Hida mengambil sebuah cetakan dan menyemprot bagian punggung Irine, Irine yang sudah mengerti mengambil piloks Hida dan membalasnya.
Yoel dan Zujy saling tatap dan tertawa.
Sebuah coretan terasa di punggung Zujy, ia melirik ke belakang dan menatap Leo.
"Kau tulis apa?" tanya Zujy namun Leo hanya tersenyum.
"Sekarang tulis juga di belakangku," ucap Leo memberikan spidolnya pada Zujy.
Zujy menatap punggung lebar Leo dan menuliskan sesuatu.
'Aku mencintai Zujy,' benak Zujy terkekeh membaca tulisan itu.
Yoel yang sedari tadi melihat itu tertawa terbahak - bahak dan juga terkejut ketika merasakan punggungnya di coret.
Ia melirik ke belakang dan menatap Irine yang terkekeh.
"Kau tulis apa?!" tanya Yoel dan merebut spidol Irine.
Ia juga mencoret punggung Irine.
.
.
.
Ke lima sahabat itu terlihat tengah menatap serius monitor yang begitu besar di ruangan bernuansa emas.
"Diterima!!!" teriak mereka bersamaan dan berpelukan.
Reihan terdiam, ia menatap Zujy yang memeluk Leo dan melihat Irine yang memeluk Yoel.
"Ini tidak adil," ucap Reihan tersenyum kaku dan terkejut ketika keempatnya memeluknya.
Pelukan mereka terlepas dan kembali mengecek monitor itu.
"Aku tidak yakin Leo diterima," kekeh Irine membuat Leo kesal.
"Aku ini tidak sebodoh itu!! kalau aku serius aku bisa mengalahkan kalian semua," ketus Leo melipat tangannya.
"Kau sudah berusaha," puji Zujy mengelus kepala Leo membuat Leo tidak henti tersenyum.
"Bukankah aneh? mana mungkin Leo bisa masuk ke Harvar univercity," ucap Irine membuat Leo semakin kesal.
"Sudah kubilang! Kalau aku berusaha pasti bisa!!" teriak Leo membuat keempat orang itu tertawa.
Bersambung, Season 1 tamat.
Oke, akhirnya Season 1 tamat dan akan secepatnya menuju season 2.
Season 2 bercerita tentang kelima sahabat dengan karirnya sendiri, bercerita tentang kehidupan setelah mereka kuliah.
Jadi stay tun ya😉
Terima kasih sudah setia membaca sampai akhir season 1 ini😊
Kalian memang terbaik😁👍
Irine : Sampai jumpa, harus baca kisah kami di season 2 ya soalnya aku dan Yoel ak-
Yoel : Irine jangan membocorkan cerita!! terima kasih sudah sabar membaca Myflov.
Zujy : mmm, aku akan belajar serius! Karna Ayah melanggar aturan untukku. Kalian juga harus serius membacanya!
Leo : Aku menunggu kalian di season 2.
Reihan : kenapa aku harus menjadi yang terakhir. Mmm senang bertemu dengan kalian, dan sampai jumpa di season 2.
Author : sekali lagi terima kasih sudah membaca.
End