
Agler membuka kasar pintu rumah dengan raut wajah yang menakutkan.
"ARKA!!!" teriakan Agler bergema di sepenjuru rumah, Arka yang tengah bermain hp di kamarnya juga mendengarnya.
Ia mematikan hpnya, perasaannya tidak enak.
Langkah berat terdengar mendekat ke kamarnya, Arka menahan tangannya yang gemetaran.
Agler masuk ke kamar Arka dengan cepat menampar Arka dengan keras hingga terjatuh.
"KENAPA KAU MENYURUH GADIS ITU UNTUK MENYAKITI KAKAKMU LAGI!!" teriak Agler lagi, Arka kembali berdiri dan menatap tajam ayahnya.
"Aku ingin mengembalikan ingatan kakak! Ayah pasti tahu itu!"
Tamparan kasar mendarat lagi di pipi sebelah Arka namun tidak sekeras tadi, Arka menjadi diam karna kejadian ini mengingatkannya pada kejadian saat ia kecil yang sangat mirip dengan keadaan sekarang ini.
"Dengan menyakiti kakakmu!?!"
Arka hanya terdiam, air mata keluar satu persatu sembari terus memegang pipinya yang sebentar lagi akan bengkak.
"ARKA!!" bentak Agler lagi namun Arka tetap diam.
"Tuan, saya mohon jangan sakiti Tuan muda lagi," ucap seorang pelayan yang merawat Arka dari kecil.
"JANGAN IKUT CAMPUR!!" bentak Agler menatap tajam pelayan itu.
Pelayan itu segera bersujud, ia terus memohon agar Agler menahan emosinya jika tidak kejadian 5 tahun yang lalu akan terulang lagi. Agler yang mendengar 5 tahun yang lalu terdiam.
"Ayah akan mengirimmu ke Kastil, karna jarang tinggal di Kastil kau jadi lupa tata krama. Ini hukumanmu, Ayah tidak mengizinkanmu bertemu dengan Zujy. Kau harus merenungkan kesalahanmu disana," ucap Agler dan kembali menatap pelayan itu.
"Kau juga ikut bersama Arka." Agler berjalan keluar dan diikuti Royce yang sedari tadi menyaksikannya.
Pelayan yang tadi segera memeluk Arka yang tidak henti menangis, walaupun sikapnya seakan orang dewasa ia tetaplah anak berumur 10 tahun yang rapuh.
Langkah Agler terhenti, ia sedikit mengingat tingkah manja Arka kepadanya tapi ia tidak habis pikir bagaimana Arka bisa memaksa gadis itu untuk bertemu dengan Zujy.
Beberapa hari kemudian.
13.00
Yoel menatap sedih Zujy yang duduk atas kasur, melihat keadaan Zujy semakin membuat ia tidak ingin Irine bangun.
"Zui, aku tahu kau gadis yang kuat," ucap Yoel memegang tangan Zujy tanpa menyadari seseorang berdiri di sampingnya.
"Tidak baik memegang tangan gadis yang sudah bertunangan," ucap Reihan dingin membuat Yoel terkejut.
Yoel berdiri dan menatap Reihan.
"Apa maksudmu?" tanya Yoel.
"Zujy sekarang tunanganku, Ayah kami menjodohkan kami."
"Untuk apa om Agler menjodohkanmu dengan Zujy?! Kondisi Zujy sekarang tidak baik."
Reihan menatap datar Yoel, ia tidak ingin mengungkit tentang Felix di depan Yoel.
"Sekarang bukan saatnya membicarakan itu, tapi sekarang kau," ucap Reihan menunjuk pintu keluar.
Yoel menatap tajam Reihan. "Kau tidak perlu menyuruhku keluar."
Setelah Yoel keluar, Reihan yang menatap Zujy kesal pada dirinya sendiri. Ia seakan memanfaatkan keadaan Zujy untuk bertunangan dengannya. Dengan keadaan sekarang, Agler mempercepat perjodohan itu walau Zujy menolak ia akan tetap melakukannya.
"Tapi, aku tidak berniat melepaskanmu Zui," ucap Reihan mencium tangan Zujy dan memindahkan Zujy ke kursi roda di sampingnya.
Ia berniat untuk mengajak Zujy jalan - jalan keluar.
.
.
.
Yoel terhenti ketika baru saja ingin memasuki kamar inap Irine, ia kembali menatap tajam kamar inap Zujy yang bersebelahan.
Yoel membuka pintu dan terkejut menatap Victoria yang duduk di samping kasur Irine, Victoria melirik Yoel dan tersenyum.
"Halo, ibu, kapan ibu sampai?" sapa Yoel menutup pintu.
"Baru saja, ibu akan berhenti bekerja. Ibu ingin merawat Irine dan berada di sampingnya selalu," balas Victoria menatap Irine yang masih tertidur.
"Iya, Irine membutuhkanmu."
Keheningan terjadi, Yoel duduk di sofa dan memandang Victoria yang terlihat lelah.
"Dengan ibu yang berhenti bekerja pewaris NZ akan NZ akan ditentukan, sekarang posisi CEO kosong dan untuk sementara Agler dan ibu akan menghandlenya."
Yoel terkejut mendengar perkataan Victoria.
"Dirni Groub dan YHI groub sudah sangat besar, mustahil Agler ataupun ibu bisa menghandle dua perusahaan sekaligus."
Yoel terus menatap Victoria. "Ib-"
Perkataan Yoel dicela Victoria. "Maaf Yoel, NZ tidak bisa diberikan padamu. NZ adalah perusahaan pertama yang dibangun beliau, dan semua yang sudah menduduki posisi itu hanyalah keturunan beliau. Walau kau sekarang bagian dari keluarga Charles tetap tidak bisa."
Yoel terdiam, padahal ia berpikir bisa membantu.
"Kami tidak segan mewariskan YHI groub padamu, kau juga pantas mendapatkannya."
"Apa maksud ibu membicarakan ini?"
Victoria menatap Yoel sejenak dan kembali menatap Irine. "Yoel, menurutmu siapa yang akan menjadi pewaris berikutnya?"
Yoel terdiam beberapa saat. "Zuj- hah!"
Yoel berdiri, sekarang ia mengerti maksud dari perkataan Victoria.
Dilihat dari semua anak di keluarga Charles dan Dirni, Zujy adalah yang tertua dan juga keturunan beliau. Pewaris berikutnya adalah Zujy Dirni tapi itu tidak masalah, hanya saja masa jabatan Agler sebentar lagi berakhir.
Masa jabatan adalah peraturan yang dibuat langsung oleh Beliau yaitu Dirni dan Charles, kedua sahabat yang membuat dan mendirikan NZ Entertainment yang masih diterapkan di semua perusahaan kedua keluarga Dirni dan Charles. Masa jabatan yang berlaku 10 tahun, Agler telah memegang perusahaan Dirni selama 9 tahun lamanya. Tahun depan masa jabatannya akan berakhir.
"Jadi maksudnya Zujy akan memegang dua perusahaan sekaligus?"
Victoria tersenyum. "Ternyata lebih baik ibu tidak berhenti bekerja."
"Yoel, kami semua masing - masing memegang satu perusahan. Ibu tidak memegang perusahaan semenjak Felix mengambil posisi ibu, memegang satu perusahaan saja membuat ibu stres bagaimana dengan dua?"
"Ibu tidak ingin Zujy mengalaminya."
Suasana kembali menjadi hening, Yoel kembali duduk di tempatnya dan mengusap kepalanya yang terasa sakit. Sejak Irine dan Zujy koma, ia tidak henti merawat Irine dan Zujy, ia merasa bertanggung jawab dengan kondisi kedua gadis itu bahkan membuat waktu makannya berantakan.
"Yoel, ini semua bukan salahmu. Sekolah sudah kembali berjalan, kau harus sekolah. Biar pelayan pribadi Irine yang merawat Irine," ucap Victoria menatap khawatir Yoel.
"Tidak, saya akan di sini sampai Irine bangun," tegas Yoel.
"... pendidikanmu juga penting Yoel, Irine aman di sini jadi jangan khawatir."
"Ti-" ucapan Yoel dicela Victoria. "Bagaimana jika Irine tidak kunjung bangun?"
Yoel terdiam, ia menundukkan wajahnya. "Baik."
Setelah beberapa saat Yoel memutuskan untuk keluar, ia ingin mencari udara yang segar dan tidak sengaja melihat Leo yang berdiri di depan pintu kamar inap Zujy.
Leo melirik Yoel dan segera berlari menjauh.
"Leo!! Kenapa kau lari! Kemana kau selama ini!!" teriak Yoel namun Leo terus berlari
Leo dengan cepat memasuki lift dan memencet dengan cepat tombol lift namun Yoel berhasil masuk sebelum pintu Lift benar - benar tertutup.
"Hah - hah, kenapa kau lari?" tanya Yoel yang terengah - engah menatap Leo yang memakai topi hitam.
Leo tidak menjawab perkataan Yoel. "Kemana saja kau selama ini? Kenapa saat itu kau tidak datang?!" tanya Yoel memperbaiki rambutnya yang berantakan.
"Itu bukan urusanmu," balas Leo dingin.
"Itu urusanku! Kau tahu apa yang terjadi dengan Zui? Kalau saat itu Arka tidak datang kau tahu apa yang akan terjadi pada Zujy?!"
Leo kembali diam membuat Yoel menjadi kesal.
"Hei, jangan biarkan Reihan mendekati Zujy," ucap Leo yang sekilas melihat Reihan mencium tangan Zujy.
"Itu bukan urusanmu."
Yoel tersenyum tipis menatap wajah kesal Leo.
"Aku tidak mau, lakukan sendiri kalau kau memang menyayangi Zui," ucap Yoel memancing Leo.
Pintu Lift terbuka, Yoel berjalan diluan.
"Sebaiknya kau cepat, atau tidak Reihan akan mencuri Zujy darimu, Reihan adalah tunangan Zujy," ucap Yoel membuat Leo kesal.
"Apa maksudmu?!"
Yoel terkekeh dan menyarankan berbicara di tempat lain, ia tidak menyangka Leo berhasil masuk ke dalam rencananya.
Kini mereka berdiri di belakang pagar Rooftop rumah sakit.
"Apa maksudmu tadi?!" tanya Leo tidak sabaran.
"Aku akan memberitahumu kalau kau memberitahuku alasan kau tidak datang saat itu," ucap Yoel tersenyum licik.
Leo yang melihat itu menjadi kesal, mau tidak mau ia menceritakan semuanya.
"Reihan mendatangiku, dia memaksaku untuk menjauhi Zujy karna adikku yang sudah mencelakai Zujy saat itu. Sebenarnya aku tidak ingin menurutinya tapi setelah mendengar Anna menyakiti Zujy lagi dan sampai koma seperti ini aku mungkin memang harus menjauhinya," ucap Leo diperhatikan Yoel.
"Keadaan Zujy semakin membaik, kami selalu mengajaknya berbicara dan sekarang dia sudah bisa mendengar kami tapi belum bisa menggerakkan badannya," balas Yoel menatap beberapa pasien yang tengah duduk di taman rumah sakit.
"Hanya kau dan Irine yang belum berbicara dengan Zujy, kau harus bertemu dengannya. Mungkin saja keadaan Zujy akan lebih membaik."
Leo hanya terdiam dan menagih janji Yoel tadi.
"Reihan sekarang adalah tunangan Zujy, mungkin saja om Agler menjodohkan mereka untuk melindungi Zujy dari dua perusahaan. Dengan Reihan yang menjadi suami Zujy akan menghandle Dirni groub jika tidak Zujy akan menghandle dua perusahaan sekaligus, NZ dan Dirni Groub."
"Apa maumu? Apa kau akan merebut posisi Reihan? Atau membiarkannya mengambil Zujy?" tanya Yoel.
"Aku gak akan membiarkan Reihan memiliki Zujy, Zujy hanya milikku seorang."
Yoel tertawa mendengar perkataan Leo, entah kenapa ia menjadi kesal. "Kau benar - benar egois Leo, beberapa saat yang lalu menjauhi Zujy dan sekarang ingin melindunginya."
"Keputusanmu yang sekarang akan menyakiti Zujy, pilih salah satu. Menjauhi atau mendekati?" ucap Yoel menatap tajam Leo.
"Kalau kau memilih keduanya, aku tidak akan membiarkanmu."
Leo menatap Yoel yang berjalan pergi, apa yang harus ia pilih?
Di sisi lain ia tidak ingin Zujy dimiliki orang lain dan di sisi lainnya ia ingin menjauhi Zujy demi kebaikan Zujy.
Namun jika ia memilih keduanya, ia akan membuat Zujy kebingungan dan nantinya akan membencinya.
.
.
.
Leo berjalan melewati taman rumah sakit dan langkahnya terhenti menatap Reihan yang mendorong Zujy dengan kursi roda.
"... Zujy?" ucap Leo terus menatap Zujy.
"Leo, aku sudah bilang jauhi Zujy! Kehadiranmu dihidupnya hanyalah membawa kesialan," ucap Reihan dingin.
Tanpa disadar kedua lelaki itu tangan Zujy bergerak.
"Le-" ucapan Zujy terhenti dan ia terjatuh dari kursi roda.
Leo hendak menolong Zujy namun terhenti menatap Reihan yang lebih dulu menolong Zujy.
Reihan menatap ke depan dan tidak menemukan Leo, ia kembali menolong Zujy.
"Ada apa Zui?" tanya Reihan menatap cemas Zujy.
Leo berjalan dengan cepat menuju motornya, ia kini tahu apa yang akan dipilih.
Bersambung.