
"Lama tidak berjumpa," sapa Rini tersenyum dengan wajah polosnya.
"Bagaimana bisa kau keluar dari penjara?" tanya Zujy mengepal tangannya.
Rini tidak menjawab pertanyaan Zujy dan hanya tersenyum.
"Aku datang hanya ingin memberitahumu kalau semua ini masih awalan saja, aku tidak akan membiarkan gadis itu bahagia," seringai Rini sembari berjalan keluar dan tepat di depan pintu keluar langkahnya terhenti.
"Oh ya, peringatan suamiku tidak main - main. Jadi pikirkan baik - baik, saranku kau seharusnya memilih anakku dibandingkan Leo," kekeh Rini dan benar - benar meninggalkan Zujy yang masih mematung di tempatnya.
Di saat yang sama Chris masuk dan melihat Zujy yang tertegun.
"Nona?" sahut Chris menyadarkan Zujy, Zujy dengan pelan duduk di kursi CEO nya.
"Ini berkasnya," ucap Chris memberikan sebuah dokumen.
Zujy membaca dokumen itu dengan kebingungan dan juga terkejut, ia tidak menyangka Rini adalah istri dari Tuan Grissham namun Devan adalah anak dari istri pertama Tuan Grissham.
"Kita bisa saja membiarkan Tuan Grissham mengambil kembali sahamnya tapi perusahaan akan rugi besar," ujar Zujy menutup dokumen itu.
"Seandainya Nona Savannah tidak ikut ingin mengambil sahamnya juga, kita bisa membiarkan Tuan Grissham."
Perkataan Chris membuat Zujy memikirkan Savannah, bagaimana kalau ia berusaha meyakinkan Nona Savannah agar tidak mengambil sahamnya kembali maka ia tidak perlu menyetujui persyaratan aneh dari Tuan Grissham. Apalagi setelah mengetahui bahwa Rini adalah istri Tuan Grissham.
"Savannah ... Perusahaan Savannah, aku belum pernah bertemu dengan Nona Savannah," ucap Zujy menatap Chris.
"Nona Savannah tidak pernah memperlihatkan dirinya, hanya sekretarisnya yang mengatur perusahaan dan menghadiri rapat. Nona Savannah sepertinya hanya bekerja di balik layar," jelas Chris mengisi pertanyaan Zujy.
Gadis itu mengangguk tanda mengerti.
"Wanita yang misterius, aku akan mencoba meyakinkan perusahaan Savannah. Setelah ini jadwalku apa?" tanya Zujy berdiri.
"Anda harus menghadiri rapat penting di perusahaan pusat NZ, sejam lagi kita akan berangkat," balas Chris.
"Kita harus ke London ya, kalau dipikir - pikir semenjak ****** itu mencuri dana Perusahaan Dirni hingga membuat pemegang saham ingin menarik sahamnya kembali aku tidak pernah keluar dari Amerika," ucap Zujy menghela nafas.
Zujy kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya, ia juga menutup matanya. Chris hanya terus memperhatikan wajah letih nonanya.
"Nona, bagaimana dengan Nona Rini? dia yang memerintahkan seseorang mengikuti Nona Airine dan menyebarkan foto itu di media sosial," ucap Chris.
"Biarkan saja, kita tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Dia adalah istri Tuan Grissham, kita tidak bisa berbuat apa - apa, tapi awasi pergerakannya," ucap Zujy.
Chris hanya terdiam lalu ia sedikit membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan itu agar Nonanya bisa sedikit beristirahat dengan tenang.
Ketika Chris baru menutup pintu ruangan Zujy, sudah ada seorang lelaki yang ingin masuk. Dengan cepat Chris menghentikannya.
"Ada urusan apa?" tanya Chris menghentikan lelaki itu.
"Saya harus menyampaikan dokumen ini pada CEO," balas lelaki itu.
Chris mengambil dokumen itu dan sedikit membacanya, tidak terlalu penting pikir Chris jadi ia memutuskan mengurusnya sendiri agar tidak mengganggu Zujy.
Dokumen itu berisi tentang keberangkatan Airine dan Yoel ke London untuk melakukan konferensi pers.
"Biar aku saja yang memberikannya, sekarang CEO tidak bisa diganggu," ucap Chris dan lelaki itu memberikan dokumen itu lalu pergi.
Lelaki itu merasa tidak masalah karna Chris adalah orang kepercayaan CEO jadi Chris pasti akan memberikan dokumen itu.
"Hal seperti ini seharusnya bukan di urus Nona, mereka terlalu tergantung pada Nona," ketus Chris berjalan menjauh dari ruangan itu.
Di dalam ruangan, gadis cantik itu tertidur lelap di bawah sinar matahari yang menghangatkan. Di luar jendela terlihat salju mulai turun menandakan musim dingin telah datang.
POV Zujy.
Dalam sekejap aku tertidur lelap, tidak seperti biasanya yang harus meminum obat tidur dulu baru bisa tertidur. Tidurku terasa begitu nyaman namun suatu bayangan di mimpiku membangunkanku dengan terkejut.
Tubuhku berkeringat dengan cepat aku mengambil suatu obat dan meminumnya, setelah meminum obat itu aku mulai tenang.
Punggungku kusandarkan di kursi dan sedikit mengingat mimpi buruk tadi, aku bermimpi Leo berubah. Dia menghianatiku dan mencampakkanku, itu adalah mimpi yang begitu buruk.
"Ada apa? kau baik - baik saja?" tanyanya setelah mendengar suaraku yang gemetaran.
"Iya, setelah mendengar suaramu. Kurasa aku baik - baik saja ... Leo, aku ingin bertanya sesuatu," ucapku.
"Apa itu?"
"... Kau akan terus berada bersamaku kan?" tanyaku sembari menatap salju yang turun, ternyata musim dingin telah datang.
"Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan menikah beberapa bulan lagi, aku tidak akan meninggalkanmu, selamanya," balas Leo membuatku tersenyum senang.
Aku tidak menyangka karna terlalu sibuk sampai lupa mengurus pernikahan, padahal Leo terus mengajakku mengurus tentang pernikahan.
Tapi sekarang, aku hanya bisa mengharapkan bahwa perkataan Leo itu benar.
"Janji?"
"Iya, aku janji. Kenapa sih tiba - tiba tanya begini?" tanya Leo membuatku menceritakan mimpi tadi.
Aku mendengar Leo sedikit tertawa setelah mendengar ceritaku, tentunya membuatku sedikit kesal.
"Kenapa tertawa?" ketusku.
"Itu hanya mimpi, mana mungkin aku menghianatimu dan meninggalkanmu. Itu tidak akan terjadi hahaha. Zui, sejak kapan kau percaya dengan mimpi?" kekeh Leo.
Kini rasanya aku menyesal mengkhawatirkan yang tidak - tidak.
"Aku khawatir! kenapa malah mengejekku!" ketusku kesal.
"Maaf - maaf, hanya saja aku sudah tergila - gila denganmu. Mustahil aku meninggalkanmu," ucap Leo yang pastinya menggombaliku lagi.
Dan seperti biasa, aku tergoda oleh gombalan lelaki ini.
"Ya, ya," balasku.
"Hahaha, Zui. Kau akan pergi ke Inggriskan sebentar lagi? tunggu di situ aku akan mengantarmu," ucap Leo lalu memutuskan sambungan.
Aku tersenyum dan seketika senyumku pudar kala mengingat pesta yang seharusnya kuhadiri malam ini bersama Leo.
Aku segera menghubungi Tuan Grissham dan memberitahu bahwa aku tidak bisa menghadiri pesta karna ada rapat penting. Sudah terdengar di nada bicaranya kalau Tuan Grissham kesal denganku, tapi aku benar - benar tidak bisa membatalkan atau menunda rapat penting itu.
Aku juga tidak bisa menunda keberangkatan ku ke Inggris karna para petinggi keluarga Charles sudah menungguku bersama Irine dan Yoel. Mereka sudah bersiap - siap memarahiku karna mereka menganggap aku tidak becus mengurus skandal itu.
Beberapa menit setelah aku memberitahu Tuan Grissham, Chris masuk dengan raut wajah yang panik.
"Nona, Tuan Grissham benar - benar menarik kembali sahamnya. Apa yang terjadi?" tanya Chris membuat kepalaku sedikit pusing.
Aku sudah tahu konsekuensi dari tidak menghadiri pesta itu, aku akan menerimanya karna ini memang kesalahanku. Ini kesalahan pertama yang kubuat setelah menjabat sebagai CEO.
Alasan Tuan Grissham mengambil kembali sahamnya karna merasa aku tidak becus pada tim manajemen sehingga bisa mencuri dana tapi walau itu sudah di bereskan, Tuan Grissham tetap mengambil sahamnya kembali.
Sekarang tersisa Perusahaan Savannah, jika nona Savannah benar - benar menarik sahamnya kembali maka perusahaanku akan benar - benar hancur.
"Sekarang tergantung kemampuanku meyakinkan nona Savannah, setelah sampai di Inggris. Aku akan secepatnya bertemu dengan Nona Savannah, Chris. Atur pertemuan kami setelah rapat aku akan berbicara dengan Nona Savannah," pintaku dan Chris mengangguk.
Aku mengambil jas musim dinginku dan keluar diikuti Chris, Leo sudah menunggu di bawah.
Di dalam mobil Chris mengatakan bahwa kita akan berangkat lebih dulu dari Irine dan Yoel, Chris memberikan dokumen yang memerlukan tandatanganku. Aku tanpa ragu menandatangani dokumen itu.
Dan kini telah sampai di bandara, aku memeluk Leo begitu lama sebelum kembali berpisah namun kali ini tidak selama sebelumnya. Lagi pula Leo juga akan ke Inggris untuk syuting film terakhirnya ini.
Cuacanya walaupun turun salju namun memungkinkan untuk lepas landas, dan di pesawat aku masih bekerja. Chris juga sepertinya sangat sibuk.
Sesaat sampai di London, Inggris. Para pengawal Keluarga Charles sudah menungguku.
Bersambung.