
Hari ini Zujy diperbolehkan pulang, entah kenapa setelah beberapa hari. Leo tidak mengirim pesan atau menelponnya lagi, Padahal ia menunggu telpon Leo.
Zujy berjalan di samping Irine yang terus tersenyum karna mengetahui Zujy telah mengingat beberapa kejadian. Bahkan Irine sampai mengajak Yoel makan malam di restaurant sebagai tanda terima kasih, dan esoknya Yoel datang menghampiri Zujy mengucapkan terima kasih sebanyak - banyaknya.
"Yoel bisa lucu seperti itu juga ternyata hehe," gumam Zujy tertawa kecil mengingat tingkah lucu Yoel.
"Zuiii~" Irine memeluk tangan Zujy dan berjalan melewati lorong rumah sakit.
"Rin, apa Leo sudah ketemu?"
Irine menggeleng - gelengkan kepalanya, Leo menghilang akhir - akhir ini.
.
.
.
Zujy berjalan di rumahnya, ia melirik sekitar namun adiknya yang di cari - cari tidak ada.
'Kenapa semuanya terlihat takut?' benak Zujy menatap beberapa pelayan yang melihatnya berjalan menjauh seolah menghindarinya.
Seorang kepala pelayan menghampirinya, dan mengatakan bahwa tuan besar menunggunya di ruang kerja rumah. Tentu saja Zujy segera menemui Ayahnya.
Zujy membuka pintu ruang kerja setelah diperbolehkan masuk, ia menatap Ibunya yang berdiri di samping Ayahnya yang duduk di meja kerja. Zujy mendekat.
"Ada apa?" tanya Zujy berdiri di depan meja.
Agler menatap intens Zujy, dan memegang tangan istrinya.
"Ayah membolehkanmu tidak menutup identitas," ucap Agler tentunya membuat Zujy heran dan tidak percaya.
"Betulkah?" tanya Zujy melirik Ibunya yang tersenyum padanya.
Seketika wajah Zujy berubah menjadi begitu bahagia, dan Agler terkejut menatapnya. Agler mendekati Zujy menatap Zujy dengan tatapan tajamnya.
"Tapi jangan mencolok, jangan gunakan nama Dirni sembarangan. Jangan memberitahu identitasmu pada orang sembarangan, dan ... jangan memberi tanda tangan dan berfoto pada orang yang masih mengingatmu," ucap Agler memegang kepala Zujy.
Zujy tersenyum, entah kapan terakhir kalinya Ayahnya memegang kepalanya. "Baik!!"
Zujy memeluk Ayahnya dan Ibunya memeluknya, Zujy merasa kembali ke masa lalu. Berpelukan seperti ini benar - benar terasa seperti keluarga yang nyata.
"Tapi, Zujy. Jangan berani bernyanyi lagi."
Zujy tersenyum, walau dilarang bernyanyi, Ia sudah bersyukur bisa kembali seperti dulu.
.
.
.
Irine menatap datar Yoel yang kembali menjadi begitu perhatian padanya, entah apa yang terjadi pada lelaki satu ini.
"Jangan menatapku seperti itu, aku sedang makan," ucap Irine mempercepat makannya.
Yoel berdehem, Irine tentu tahu artinya. "Kita gak dikastil! Sekali - kali bertindak nakal dan gak sopan enggak apa," ucap Irine tertawa keras mengejutkan beberapa pelayan yang tengah di saja.
Setelah selesai makan Yoel baru bersuara. "Kalau ada Ayah dan Ibu jangan berani seperti itu."
Irine terkekeh.
"Bdw, Yoel. Kau sudah menemukan dia?"
"Aku sudah menemukan apartemennya, percuma kita mencarinya di sini. Leo baru saja kembali dari Amerika."
"Aku akan menemuinya nanti malam."
Irine tersenyum, ia berencana ingin mengembalikan ingatan Zujy dengan bekerja sama dengan Leo. Ia ingin menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Zujy, yang mungkin saja akan memancing ingatan Zujy kembali. Dan jika tidak berhasil, Leo yang akan mengembalikan ingatan Zujy dengan bersama Zujy beberapa hari.
.
.
.
Malam hari.
Leo duduk di kursi bar, ia memegang gelas berisi alkohol. Dan di depannya ada temannya yang bernama Rian.
"Kau sudah mengembalikan game gadis itu?" tanya Rian meneguk segelas alhokol.
"Belum."
Riski datang dan duduk di samping Leo, dan menyodorkan Alkohol 70% pada Leo.
"Mmm, aku punya masa depan yang indah. Dan juga gadisku tidak suka cowok pemabuk."
Riski terkekeh. "Gak asik! Emang gadis itu pacarmu?"
Leo tersenyum. "Zujy itu gadisku, tidak ada yang bisa mengambilnya."
Dan mereka bertiga tertawa bersamaan, namunĀ seketika seseorang memegang tangan Leo.
"Leo!!" Sahut orang itu, seketika Leo memandangnya.
Leo tidak terkejut sama sekali menatap wajah Ayahnya, ia malah meminum gelas berisi alkohol 70% tadi. Rian dan Riski terkejut menatap Leo meneguk habis minuman itu.
"IKUT AYAH!!"
Sesampainya di luar club, tamparan keras mendarat di pipi Leo. Leo hanya membuat mimik wajah yang datar.
"AYAH SUDAH BILANG JANGAN BERTEMAN DENGAN MEREKA!! KARNA MEREKA KAU MENJADI SEPERTI INI!!" bentak Agus menatap anaknya yang memandang ke tempat lain.
Leo melirik sekitar, orang - orang yang lewat berjalan sembari meliriknya dan berbisik - bisik.
"KAU MENJADI ANAK NAKAL!! PEMABUK!! PEMBANTAH! APA LAGI??!! KAU MAU MENJADI PEROKOK SEKARANG??!! DAN PECANDU WANITA!!"
Leo membulatkan matanya mendengar kata terakhir Ayahnya, ia melirik tajam Ayahnya.
"Pecandu wanita? Beraninya kau berkata seperti itu saat istrimu sendiri yang menjadi wanita itu. Seharusnya kau tahu banyak lelaki yang menjadi candu pada tubuh ist-"
Perkataan Leo terhenti ketika menerima tamparan yang kedua kalinya, ia tidak merasakan sakit lagi. Ia sudah terbiasa menerima perbuatan kejam dari Ayahnya sejak kecil.
"JANGAN MENGUBAH ARAH PEMBICARAAN!!"
Leo mengepal tangannya dan memegang kasar pergelangan tangan Agus.
"Sekarang kau tidak berhak melarangku!! Kau bukan lagi Ayahku!! Kau hanyalah orang asing!"
Tamparan sekali lagi mendarat di pipi Leo, para pejalan kaki yang melihatnya hanya mempercepat jalannya namun masih saja ada yang berani merekam yang seharusnya menelpon pihak berwajib.
"kenapa kau tidak bisa menurut sekali saja?" ucap Agus dengan nada rendah menatap pipi Leo yang merah.
"Menurut?! Hahaha. Aku selalu menuruti perkataanmu! Tapi nyatanya? Kau tetap memukul dan menyiksaku. Aku tahu kau saat itu masih kesal pada wanita ******** itu, tapi kau malah melampiaskan kekesalanmu padaku!!."
Leo kembali memegang tangan Agus, dan meletakkan tangan Ayahnya di pipinya yang panas.
"Dan!! INILAH HASIL DARI AMARAHMU ITU!!"
Leo melepaskan tangan Agus dan menatap tajam Ayahnya. "Sekarang kau tahu kan? AKU TUMBUH SEPERTI INI KARNA ULAHMU!!"
"jangan menggangguku lagi, kau membuangku. Dan aku sekarang punya kehidupan yang baru, aku muak melihat wajahmu," ucap Leo tersenyum tipis dan berjalan melewati Ayahnya yang membeku mendengar perkatannya.
Langkah Leo terhenti menatap Yoel yang sedari tadi menonton pertengkaran hebatnya, ia mempercepat jalannya melewati Yoel yang terus menatapnya.
.
.
.
Pov Leo
Aku berbaring di atas kasurku, menutup wajahku dengan punggung tangan.
Aku membenci kedua orang tuaku tapi aku tetap menjalin hubungan dengan Ibuku dan itu karna seseorang.
Bahkan bisa bertahan sampai titik hanya karna dia.
Kehidupanku berubah 190 derajat 7 tahun lalu.
Saat ayahku mengetahui bahwa ibuku selingkuh, kehidupanku dengan adikku saat itu sangat buruk. Setiap detik suara pertengkaran kedua orang tuaku terdengar, aku hanya bersikap sebagai seorang kakak dan melindungi adikku dari amarah kedua orang tuaku.
Disitu aku terkejut dengan fakta bahwa adikku adalah hasil dari selingkuhan ibuku, aku tidak tahu mau memperlakukannya bagaimana. Aku menjadi dingin pada adikku, aku menyayanginya tapi aku tidak bisa memperlakukannya seperti biasa.
Semua keributan itu berakhir dengan kata cerai dari kedua pihak, karna Ayahku yang seorang pengacara. Hak asuhku di menangkan oleh Ayah dan aku bersama Ayahku kembali Indonesia.
Aku sedih berpisah dengan ketiga sahabatku, tapi aku masih bisa berkomunikasi dengan Zujy melewati hp.
Ayahku selalu mengatakan bahwa ibuku menjadi ******* dan bermain dengan banyak lelaki agar aku membencinya, saat itu aku terpancing perkataan Ayahku dan sangat membenci Ibuku.
Seiring berjalan waktu Ayahku menjadi stress dan melampiaskan kemarahannya padaku, ia setiap hari melemparku dengan barang - barang bahkan dengan barang mudah pecah. Dan memukulku, memarahiku setiap perbuatan yang kulakukan.
Dan aku bisa bertahan berkat Zujy, dia terus ada untukku dan mengirimiku pesan. Hingga aku memberitahu bahwa ibu dan Ayahku bercerai, aku juga memberitahu bahwa aku membenci ibuku. Tapi ia mengatakan. "Walau kau membencinya, dia tetap ibumu. Dia yang melahirkanmu dan merawatmu dengan baik. Aku juga sedikit membenci Ayahku karna tidak pernah meluangkan waktu untuk menemaniku bermain, tapi suatu saat aku terbangun tengah malam dan aku melihat Ayah masuk ke kamarku dan mencium keningku sembari meminta maaf karna jarang ada untukku. Aku menyadari walau aku membencinya, dia tetap Ayahku. Ayahku juga menyayangiku. Setelah itu aku tidak pernah marah kalau Ayah tidak bisa menemaniku. Aku mencintainya."
Setelah itu aku mendengar bahwa ibuku sakit dari Ayahku sendiri yang memukulku dan detik itu juga Ayahku membuangku, tidak menganggapku sebagai anaknya. Dia tidak memperbolehkanku memasuki rumah.
Walau aku memberikan bukti dna dari rumah sakit bahwa aku benar - benar anaknya, ia tetap tidak menganggapku dan melemparkan uang di wajahku.
Uang yang diberikannya aku gunakan untuk mengunjungi Amerika, aku masih warga negara Amerika. Entah kenapa dia tidak mengganti kewarganegaraanku.
Dan di sana ibu memberitahuku kenyataan yang pahit, aku adalah anak yang dikandung ibuku diluar nikah.
Ayahku mencintai ibu, ia tidak menyukai ibu menikah dengan lelaki lain. Maka karna itu ayahku melakukan hal tidak senonoh pada ibuku dan memaksa ibuku menikah dengannya setelah tahu ibuku hamil.
Walau begitu ibuku tetap menyayangi, itu yang membuatku terus membencinya namun menyayanginya.
Ketika sampai di Amerika aku memutus hubunganku dengan Zujy, dia bukan anak orang biasa. Akan timbul rumor tidak baik jika dia menjalin hubungan denganku.
Jadi aku memutuskan akan bertemu dengannya lagi ketika aku memiliki kehidupan yang lebih baik.
.
.
.
Aku menghapus air mataku, aku baru saja menerima pesan dari Zujy yang menanyakan kabarku.
Aku menelponnya agar ke apartemenku, aku sangat membutuhkannya sekarang.
Aku butuh seorang pendengar.
Bersambung.