
Yoel duduk di bangku yang diletakkan di tengah meja yang panjang, di antara meja itu di letakkan bangku yang sama dengan Yoel.
Yoel melirik seluruh keluarga yang duduk di bangku itu, seharusnya ia melihat Zujy yang duduk di ujung lain meja ini namun kini hanya dirinya. Seluruh anggota keluarga di sana hanya terdiam dengan wajah yang dingin, semuanya menatap lurus ke depan.
Ia menelan ludahnya sendiri, sedikit takut jika nanti pertemuan ini hancur karnanya.
"Mmm, terima kasih sudah hadir di sini," ucap Yoel dengan lantang namun seluruh orang itu tidak merubah posisi dan tatapan mereka.
Yoel seakan dihadapkan dengan para boneka. Tatapannya melirik Irine yang duduk di sampingnya namun Irine juga memasang wajah yang sama, Irine sama sekali tidak mempedulikan Yoel yang meminta bantuannya.
Seorang lelaki berumur 15 tahun menarik perhatian seluruh orang pasalnya lelaki itu seketika menaruh kakinya di atas meja sembari melipat tangannya di dada bidangnya.
Semuanya melirik lelaki itu dengan tatapan tajam, tidak ada yang membuka mulut karna belum diizinkan oleh Yoel yang sekarang menjadi pemimpin mereka.
"Hah, aku paling malas ke pertemuan seperti ini," ucapnya dengan nada malas sembari menatap Yoel.
"Kau! Kenapa kau takut?" tanya Lelaki itu membuat Yoel terkejut.
Seketika seorang pemuda berambut coklat berdiri.
"Tuan Charles, maaf jika saya bertingkah tidak sopan. Tapi saya selaku anak pemimpin keluarga Dirni merasa kurang puas dengan pertemuan kali ini, jika dizinkan saya ingin menggantikan posisi anda," ucap Arka menatap Yoel.
"Saya rasa semuanya juga berpikiran demikian," ucap Arka lagi.
Semuanya seketika menghela nafas dan berdiri.
"Ayolah, keluarga kita masih saja kaku perihal pertemuan."
"Dia memang tidak pantas. Aku yang Charles saja tidak puas."
"Aku lelah menahan emosi di setiap pertemuan."
"Hey, turunkan kakimu dari meja!"
"Dia hanya anak pungut, kenapa harus menjadi wakil pemimpin?" ucapan seorang wanita ini membuat seluruhnya menjadi diam.
"Kenapa? Perkataanku memang tidak salah!" Bentak wanita berumur 46 tahun itu.
"Nyonya Charles! Jaga kata - kata mu!!" bentak balik Irine kesal.
Yoel menahan tangan Irine sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.
Tatapan Yoel menjadi dingin pada orang - orang di sana.
"Semuanya tenang dulu, sila-" ucap Yoel yang tercela oleh anak lelaki tadi.
"Aku dengar ibumu dulunya mafia? ayahmu yatim piatu," kekeh lelaki itu yang masih tidak menurunkan kakinya dari meja.
"Mmm, apa ya? Killer cat? ... apa kau tidak malu punya seorang ibu yang pernah membunuh seisi kota Naga?" Ejek Lelaki itu lagi.
"Memang pantas dia mati terbakar," kekeh lelaki itu membuat Yoel marah.
"APA!!" teriak Yoel memegang kerah lelaki itu, tangan kanannya sudah bersiap ingin memukul rahang lelaki itu.
"Sudah membantai seisi kota naga tapi malah kabur untuk hidup damai, memang *****!"
Amarah Yoel tidak terbendung lagi, ia bahkan mengabaikan Irine yang berusaha memenangkannya. Sebuah pukulan keras membuat lelaki itu terlempar jauh, sebelum Yoel berhasil memukul lelaki itu lagi Irine memeluk perut Yoel dengan harapan Yoel tidak memukul lagi.
Lelaki itu tersenyum sembari mengusap darah di ujung bibirnya, ia menatap rendah Yoel.
"Darah memang tidak pernah salah, kalian memang menjijikan!" hina Lelaki itu.
"******!!!" umpat Yoel yang ingin memukul lelaki itu tapi Irine terus menahan tubuhnya.
"Yoel! hentikan!" bujuk Irine dan Yoel menghentikan langkahnya.
"Dia menghina orang tuaku, aku tidak bisa diam!"
"Aku tidak menghina hanya mengatakan yang sebe-"
"Ge!!" teriak Irine membuat lelaki itu membulatkan matanya.
"Hentikan! Kau merusak pertemuan ini!! dan berhenti mengatakan itu!"
Lelaki bernama Ge Bhartolomeus Charles itu terdiam sembari berdiri, ia berjalan pergi namun tidak semudah itu. Yoel melepas pelukan Irine dengan kasar lalu kembali memukul Ge.
Sebelum mereka bertambah bonyok, para penjaga pintu melerai kedua lelaki itu.
Irine menatap khawatir wajah Yoel yang babak belur, rasa terkejut didirinya masih belum hilang karna ini pertama kalinya melihat Yoel semarah ini. Bahkan kini tatapan marah Yoel berpusat pada Ge yang juga babak belur.
"Yoel, tenangkan dirimu," bujuk Irine memegang pipi Yoel, tatapan Yoel berpindah pada Irine namun masih saja terdapat begitu banyak kemarahan di matanya.
"Tinggalkan aku sendiri."
Irine terkejut namun semua orang disana mengikuti perintah Yoel yang masih menjadi pemimpin mereka, kini tersisa Irine, Leo dan Reihan di posisi yang sama. Irine tidak mungkin meninggalkan Yoel di kondisi seperti ini.
"Rin, aku sekarang ingin sendiri dulu," ucap Yoel menatap Irine.
"Rin, ayo," ajak Reihan.
Irine menggeleng - gelengkan kepalanya. "Tidak! bagaimana kalau kau melakukan hal yang aneh! seperti mengambil tali at-" ucapan Irine terhenti kala Yoel menatapnya penuh berharap.
"Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu."
Irine dengan terpaksa berdiri dan berjalan pergi begitupun dengan kedua lelaki itu, ketika pintu besar itu tertutup Yoel menundukkan wajahnya.
Air mata yang sedari tadi di tahannya mengalir deras.
Di sisi lain Irine berdiri di depan pintu besar itu, ia mendengar suara tangisan Yoel walapun sangat kecil. Leo dan Reihan telah pergi meninggalkannya.
Wajahnya yang menunduk menatap kaki seseorang yang berdiri di depannya, ia menengok dan menatap Ge. Tatapannya menjadi dingin.
"Maafkan aku," ucapnya dengan tatapan bersalah.
"Kenapa padaku? bukan aku yang kau hina - hina," balas Irine berjalan pergi.
Langkah Irine terhenti, ia memberikan sebuah kotak pada Ge.
"Keluarga di belanda menunggumu pulang. Jangan kabur terus, kabur dari rumah juga bukan sikap seorang Charles, sayangnya mereka tidak bisa datang di sini, kalau mereka melihat perbuatanmu tadi. Mungkin saja kau akan dibuang ke laut," ucap Irine tegas sebelum benar - benar pergi.
.
.
.
Amerika serikat, New York. Perusahaan pusat Dirni Groub.
Zujy yang tengah memarahi tim manajemennya habis - habisan menerima telpon dari Chris.
"Sampai di sini dulu, ingat perkataanku tadi baik - baik! sekarang bereskan kekacauan ini!" jelas Zujy berjalan keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan aura ketakutan itu.
Belum sempat Zujy keluar dari ruangan itu langkahnya terhenti.
"What!!" teriak Zujy membuat seluruh karyawan kembali mematung.
"Lalu? bagaimana keadaan Yoel?" ucap Zujy kembali berjalan keluar sembari meninggalkan perasaan kesalnya di dalam ruangan itu.
"Kalau begitu biarkan Arka yang mengatur semuanya karna sepertinya Yoel membutuhkan Irine di sampingnya," ucap Zujy menatap pintu ruang meeting.
"Chris, pokoknya semuanya harus selesai," ucap Zujy sebelum memutuskan sambungan telpon dan mematikan hpnya.
Ia membuka pintu ruangan meeting dan masuk dengan hati yang tidak ragu.
.
.
.
Inggris, London. Kastil keluarga Charles.
Andre yang duduk di sofa merah menerima telpon dari seseorang, selama mendengar telpon itu ia hanya menatap istrinya yang duduk di sofa di depannya.
Ia menghela nafas dan meletakkan hpnya di atas meja kaca itu.
"Aku tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi, apa ini saatnya aku memberitahu Yoel yang sebenarnya?" gumam Andre menyandarkan tubuhnya.
Bersambung.