
"Hah?! ... maaf tidak bisa." Zujy berdiri ingin melangkah keluar namun terhenti saat mendengar perkaatan Reihan.
"Zujy Dirni."
Perkataan Reihan membuat Zujy begitu terkejut, ia berbalik menatap tajam Reihan. Siapa lelaki ini sebenarnya, bagaimana bisa ia mengetahui identitas Zujy.
Zujy terus menatap tajam Reihan. Reihan tersenyum mendekati Zujy.
"Aku tahu siapa sebenarnya kau."
"A - apa maumu?"
Zujy begitu waspada menatap Reihan, ia merasa sangat takut dengan tatapan lelaki ini.
"Aku hanya mau menjadi temanmu, kalau kau mau aku gak akan menyebarkan identitasmu."
Apa Zujy bisa mempercayai lelaki ini? Ia masih curiga dengan tujuan asli Reihan. Mungkin saja ada tujuan lain di balik iming - iming menjadi teman, bagaimanapun juga lelaki di depannya ini sangat mencurigakan.
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu. Kau harus percaya denganku, aku bukan orang jahat."
"Siapa kau sebenarnya?"
"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tidak akan menjadi surprise nantinya. Ini saja, aku adalah ketua osis SMA Feleras," ucapnya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Zujy tidak ingin berlama - lama di ruangan ini bersama lelaki misterius ini dengan cepat menerima salamannya dan berlari keluar setelah ia menyuruh Reihan untuk keluar dari ruangan ini karna ruangan ini miliknya pribadi tidak ada yang boleh masuk selain Zujy.
.
.
.
Langkah Leo terhenti setelah ia berkeliling gedung namun sama sekali tidak menemukan keberadaan Zujy. Perasaannya berubah menjadi kesal, apa salahnya sampai Zujy seakan marah padanya. Satu - satunya jawaban adalah menemui Irine karna Zujy sama sekali tidak ingin memberitahunya.
Ia berjalan menuju kelas Irine dan mendapati Irine tengah belajar bersama Yoel di ruangan kelas yang hanya ada mereka berdua. Ia membuka kasar pintu dengan cepat menghampiri Irine yang terkejut dengan kehadirannya.
"Kenapa?"
"Ada apa dengan Zujy, dia sama sekali gak ingin menatapku."
Irine yang tidak tahu apa - apa hanya tersenyum.
"Kenapa kau bertanya padaku? aku tidak tahu."
"Tanya sama Zui," tambah Yoel.
"Mungkin dia muak melihatmu."
Leo bergitu kesal dengan perkataan Irine. Ia memegang kasar lengan Irine dan meneriakinya, Irine sama sekali tidak membalas perkataan Leo yang marah - marah padanya, ada yang aneh dengan Irine. Irine hanya terdiam kemudian menangis membuat Yoel sontak kesal juga.
Yoel mendaratkan pukulannya ke pipi mulus Leo begitupun dengan Leo yang tidak terima dengan perlakuan Yoel. Irine tampak ketakutan, ia memegang lengannya dan tubuhnya bergetar, ia terus bergumam. "Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf."
Perkelahian Yoel dan Leo membuat kelas berantakan dan mereka menjadi pusat tontonan, tidak ada yang berani melerai mereka dan mereka yang menonton tadi segera bubar setelah diteriaki Leo. "APA KALIAN PIKIR INI TONTONAN!! PERGI!!"
dan perkelahian itu terus berlanjut hingga teriakan seorang gadis menghentikan mereka.
"BERHENTI!!"
mereka melirik gadis itu yang adalah Zujy. Zujy kini di samping Irine dan memeluknya, ia berusaha menenangkan Irine namun terganggu dengan perkelahian kedua lelaki ini.
"Apa kalian tidak memikirkan perasaan Irine? Kalian berkelahi di depannya dalam kondisi traumanya muncul."
Mereka mendekati Zujy namun Zujy melarangnya, sebuah perasaan penyesalan timbul di hati mereka ketika air mata Zujy mengalir di pipi mulusnya.
"Rin ... tenanglah, tenang, aku di sini, aku di sini, aku tidak akan meninggalkanmu."
.
.
.
"Iya, Tenang saja om, Irine sudah tenang, dia sekarang tertidur," ucap Zujy kepada Andre ayah Irine lewat hp.
"Oke, Irine akan senang melihat om."
Sambungan telepon di putuskan, Zujy menatap khawatir Irine yang terbaring di kasur kosan mereka setelah di beri obat tidur di ruang uks sekolah.
"Irine, kau aman di sini."
Zujy mengelus pelan tangan Irine lalu berjalan keluar, tepat ia membuka pintu kedua lelaki yang tadi berkelahi berdiri di sana.
"Kalian sudah ke ruang BK?" tanya Zujy menutup pintu ruangan Irine.
"Sudah. Zui, bagaimana keadaan Irine?" tanya Yoel yang begitu khawatir.
"Dia sudah baikan ... aku tidak mengizinkanmu untuk melihatnya."
Zujy menatap kedua lelaki itu dengan tajam, ia sangat kesal dengan perkelahian tidak berguna mereka. Ia meminta penjelasan cerita hingga trauma Irine muncul, Yoel menceritakan semua kejadiannya begitupun dengan Leo yang justru membuat Zujy semakin kesal karna alasannya bertemu Irine adalah dirinya namun ia memaafkan Leo karna ia tidak mengetahui trauma Irine yang tidak bisa bersentuhan dengan lelaki asing.
"Aku memaafkan kalian kali ini, bagaimanapun kalian tidak tahu trauma Irine."
"Oh ya, Leo sebaiknya kau pulang sekarang, keluarga Charles akan datang sebentar lagi."
Zujy mengantar Leo ke depan.
"Leo, kau sudah tahu aku Zujy Dirni karna kejadian ini, kumohon rahasiakan fakta itu."
Leo berbalik menatap Zujy, ia sudah tahu identitas Zujy selama ini, dan Zujy mengatakan hal ini karna Zujy tidak mengingatnya.
"Aku sudah tahu, aku mengenalmu dari dulu. Kau harus ingat kalau kau memang melupakanku ... dan kalau kau sudah mengenalku dan percaya padaku, kau harus menceritakan alasan kau menyembunyikan identitasmu dan aku akan menceritakan kenapa aku meninggalkanmu saat itu."
Leo melangkah menuju kosannya dilihat Zujy yang baru menyadari bahwa Leo tinggal di depan kosannya. Dalam hatinya ia berjanji untuk mengingat Leo namun fakta kalau Leo meninggalkannya membuat hatinya sakit namun ia tidak mengetahui alasannya.
.
.
.
"Irine, kenapa kau membunuhku? Padahal kau yang mengizinkanku tapi kau malah membunuhku?"
"Kau tahu betapa aku takutnya berada di sini sendiri?"
"AKU AKAN MEMBAWAMU BERSAMAKU!! KITA AKAN SELAMANYA BERSAMA!!"
Irine terbangun dari mimpi buruknya, ia melirik dan merasa aman ketika mendapati dirinya berada di kamarnya. Ia memegang dahinya yang sudah berkeringat parah.
"Aku minta maaf."
"Hah."
Ia menatap pintu kamar yang tertutup dan mendengar sedikit suara Zujy yang tengah berbicara dengan Yoel, mungkin mereka tidak ingin mengganggunya dan berbicara di luar kamar.
Ia mengingat kejadian sesaat sebelum Leo datang mengacaukan segalanya. Ia baru saja ingin memberitahu Yoel tentang traumanya namun Leo malah mengacaukannya. Irine menggigit bibir bawahnya, ia takut bahwa mungkin saja Zujy sudah memberitahu Yoel tentang traumanya yang ingin dikatakannya sendiri, dan lagi ia takut bagaimana reaksi Yoel tentangnya jika mengetahui kebenarannya. Mungkin saja Yoel tidak lagi ingin bertemu dengannya dan membencinya tapi bagaimanapun juga Yoel sekarang adalah keluarganya jadi tidak mungkin mereka tidak bertemu. Ia mempersiapkan dirinya mendengar jawaban Yoel, apapun jawaban Yoel ia akan menerimanya.
Ia bahkan sudah membohongi perasaannya sendiri hanya untuk bisa tegar ketika menerima penolakan dari Yoel.
Bersambung.