Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Berakting



*Kalau dia tidak menyukaimu jangan membuatnya merasa terganggu, kalau kau bisa membuatnya jatuh cinta jangan membuatnya bersedih*


Hari yang paling di takuti para murid pun tiba, kelima sahabat itu mengerjakan ulangannya dengan tenang masing - masing. Namun hasil ulangan Zujy kurang memuaskan baginya, begitupun dengan Irine.


Juara satu seangkatan tetap Reihan


Juara dua seangkatan tetap Yoel.


Juara tiga seangkatan tahun diambil Rini.


Juara empat seangkatan adalah Irine.


Sedangkan Zujy juara 5.


Dan Leo jauh di bawah.


Zujy duduk termenung di tempatnya, ia tidak menyangka nilainya akan menurun, sebelumnya ia tidak mendapat nilai yang rendah menurutnya.


Guru wanita masuk ke dalam kelas 3 - A dan dengan penampilan yang lusuh.


"Maaf, ibu tidak tidur dua hari ini," ucap Guru itu namun semua murid hanya terdiam memikirkan dengan nilai yang rendah apakah akan lulus atau tidak.


Guru itu membagikan kertas yang dipengangnya ke masing - masing murid dan kembali berdiri di depan seluruh murid.


"Seperti yang tertulis di kertas itu dua hari lagi kita akan berwisata ke gunung biru."


"Maaf reihan, ibu serahkan semuanya padamu," ucap guru itu segera pergi dengan langkah yang terhuyung - huyung.


Reihan beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan seluruh murid, ia menatap lembar kertasnya yang berbeda dari yang lain.


"Di kertas kalian ada kelompok kalian masing - masing, sekarang berdiri di kelompok masing - masing," atur Reihan.


Seluruh murid dengan teratur berpindah tempat ke kelompok masing - masing.


Irine memeluk Zujy yang sekelompok dengannya dan seorang gadis berambut hitam panjang, berbadan subur dan berwajah polos menghampiri kelompok mereka.


"Hai, aku Runi yang sekelompok dengan kalian," ucapnya merapikan rambutnya ke belakang telinganya.


"Cantik sekali," gumam Irine dan Zujy bersamaan.


"Ketua kelompok sudah di tentukan di kertas kalian," tambah Reihan kemudian menatap kertasnya.


"Zui ketua kelompoknya," kekeh Irine menatap Zujy.


"... Panitianya adalah saya yang sebagai ketuanya dan Yoel, Irine dan Rini," ucap Reihan membuat Irine membulatkan matanya.


"Saya menolak!!" Irine mengangkat tangannya.


"Tidak bisa," balas Reihan.


Zujy tersenyum menatap Irine yang mengembungkan pipinya.


Bel istirahat berbunyi dan murid kembali berhamburan keluar, Reihan menghampiri kelompok Zujy.


Ia memegang tangan Zujy namun Zujy melepaskannya.


Irine hanya mengabaikan Reihan dan memegang tangan Zujy.


"Ayo pergi Zui," ajak Irine namun Zujy melirik Leo yang keluar dari kelas.


Ketika Zujy hendak mengejar Leo, Reihan menghentikannya.


"Zui! Kau masih mau mengejarnya!" ucap Reihan menatap tajam Zujy.


Rini berjalan pergi mendengar nada bicara Reihan yang mulai naik dan Irine juga berjalan pergi setelah menatap tajam Reihan.


"Lepaskan tanganku Rei," ucap Zujy menatap pintu keluar.


"Kau masih mau mengejarnya Zujy?!"


Zujy berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Reihan namun tidak bisa.


"Reihan! Lepaskan!!" bentak Zujy namun Reihan masih tidak melepaskannya.


"Zui kita sudah bertuna-"


"AKU TIDAK INGAT PERNAH MENYETUJUI PERTUNANGAN ITU!! AKU BAHKAN TIDAK INGAT KITA PERNAH BERTUNANGAN!!" teriak Zujy melepas kasar genggaman tangan Reihan.


Zujy segera berlari namun tangannya kembali di tahan Reihan.


"Baiklah, aku izinkan kau menemuinya. Tapi ada syaratnya," ucap Reihan dan Zujy hanya menatap Reihan.


"Curahkan semua perasaanmu padanya tapi kalau dia masih tidak berbalik padamu berarti aku menang, kau harus pasrah pada pertunangan ini! Tapi ... kalau dia berbalik padamu aku kalah, aku akan membatalkan pertunangan itu. Karna hanya aku yang bisa melakukannya," ucap Reihan dan Zujy segera menepis kasar tangan Reihan dan berlari mengejar Leo.


Tap!


Leo berbalik menatap tangannya di tahan seseorang, gadis itu menengok menatap Leo.


"Leo!" seru Zujy.


Zujy melirik sekitar dan tidak ada seorangpun di sana kecuali mereka berdua.


"Aku mencintaimu!!"


Angin kencang berhembus menyibakkan rambut mereka, Leo terkejut menatap Zujy dan segera melepas tangan Zujy.


"Aku mencintaimu!!" ucap Zujy lagi menatap serius Leo.


Telinga laki - laki itu mulai memerah dan dilihat Zujy.


Keheningan terjadi.


"Ehem - ehem," ucap Leo yang sebenarnya tidak batuk.


Leo menghela nafasnya, ia tidak menyangka Zujy akan berkata seperti itu.


"Setelah kau melihatku berciuman dengan wanita itu?" tanya Leo memutuskan harapan di hati Zujy.


Zujy menggengam tangannya, ia tidak yakin Leo akan menerimanya kembali setelah mendengar perkataan Leo saat ini.


"Apa kita masih berpacaran?" tanya Zujy dan Leo menatap sedih Zujy.


Tapi jika ia tetap memilih bersama Zujy mungkin saja nantinya Zujy kesakitan menanggung dua perusahaan yang begitu besar. Jika ada Reihan Zujy tidak perlu menanggung keduanya sekaligus, dibandingkan dengan Reihan Leo bukanlah apa - apa.


Leo merubah mimik wajahnya sebelum Zujy kembali menatapnya, ia menatap dingin Zujy.


"Kau masih tidak mengerti ya?" ucap Leo dingin.


"Kau tidak pernah mengucapkan kata putus, jadi, jadi bisa saja kita masih berpa-" ucapan Zujy terhenti ketika mendengar perkataan menyakitkan dari Leo.


"Kita putus," ucap Leo singkat dan berjalan pergi.


Zujy mengerutkan alisnya merasa kesal dengan tingkah Leo.


"Kenapa kau berakting?" tanya Zujy menghentikan langkah Leo.


"Aku tidak berakting," ucap Leo singkat dan benar - benar pergi dari hadapan Zujy.


"Pembohong," gumam Zujy menunduk, ia sedikit tersenyum ketika menyadari air matanya tidak keluar lagi.


Seorang lelaki memeluknya dari belakang, tentunya lelaki itu adalah Reihan.


"Aku menang."


Zujy hanya terdiam dengan perkataan Reihan, hatinya terasa begitu sakit namun air matanya tidak bisa keluar lagi.


Langkah Leo terhenti ketika merasa telah jauh dari Zujy.


"Kau benar, aku hanya berakting. Karna aku tidak bisa melakukannya," ucap Leo dengan air yang keluar dari matanya.


Tatapannya menatap seseorang di hadapannya, ia segera menghapus air matanya ketika menatap Yui.


Flashback on.


Yui berjalan sembari menopang tubuh Leo yang mabuk.


"Ini masih di sekolah Leo, dari mana kau mendapat alkohol," ucap Yui menatap Leo yang terus menyebut nama Zujy.


"Ini pertama kalinya kau mabuk kan?" gumam Yui.


"Hei!! Kenapa kau menyuruhku berpura - pura menjadi pacarmu kalau kau masih saja menyebut namanya ketika mabuk!" ketus Yui.


"Kau selalu memikirkan Zujy sampai - sampai tidak menyadari perasaanku."


Yui menghela nafas dan mendorong Leo ke tembok.


"Leo, aku mencintaimu," ucap Yui menatap wajah Leo.


Leo dengan mata yang berat menatap Yui, namun ia bukan melihat Yui namun Zujy.


"Maafkan aku, aku juga mencintaimu!" ucap Leo menarik tubuh Yui ke dalam kelas dan duduk di atas meja.


"Leo?" ucap Yui dan Leo mengangkat badan Yui dan meletakkan di pahanya.


"Zujy, kau mau memaafkanku?" tanya Leo membuat Yui terkejut.


"Ternyata bukan untukku."


"Zujy, maafkan aku," gumam Yui dan mencium bibir Leo namun Leo melepaskannya.


"Kau memaafkanku?" tanya Leo dan Yui yang berpura - pura menjadi Zujy mengangguk.


Leo tersenyum dan mencium bibir Yui yang dilihatnya sebagai Zujy lembut.


'Maafkan aku Zujy, tapi aku juga mencintainya. Sebelum kau mencintainya,' benak Yui dan ciuman mereka tambah memanas.


Namun suara keras menghentikan ciuman mereka, Leo tersadar dan menatap Yui.


"Apa yang kulakukan?!" gumam Leo mendorong tubuh Yui dan membuka pintu kelas.


Tubuhnya membeku ketika menatap Zujy yang terjatuh dengan mata yang mengeluarkan air mata.


"Tidak mungkin," ucap Zujy berlari menjauh.


Sebuah genggaman memegang lengan Leo.


"Maafkan aku," ucap Yui namun Leo mendorongnya dan mengejar Zujy.


Leo mengejar Zujy namun tidak menemukan keberadaan Zujy sama sekali, ia dihampiri Hida yang tengah mempersiapkan kejutan untuk Irine.


"Kau lihat Zujy?" tanya Leo namun Hida menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Leo ayo raya-"


Ucapan Hida terhenti menatap Leo yang memukul tembok dengan keras.


"Zui, maafkan aku," gumam Leo dan berlari pergi mencari Zujy kembali.


Hida tersenyum kaku menatap pukulan Leo yang berbekas di dinding dan tatapannya menatap tangan Leo yang berdarah.


"Leo!!" ucap Hida menahan tangan Leo.


"Tanganmu luka! Ayo ke uks," ajak Hida namun Leo menepis kasar tangan gadis itu.


"Tunggu, kau mabuk?" tanya Hida mencium bau alkohol.


Leo hanya terdiam, mungkin jika ia ketahuan minum ia akan dikeluarkan dari sekolah.


Hida memaksa Leo ke uks dan berjanji untuk tidak memberi tahu guru tentang ini, Leo terpaksa mengikuti ajakan Hida.


Flashback off.


Leo mengabaikan Yui dan berjalan pergi namun Yui menahan tangannya.


"Maafkan aku Leo," ucap Yui dan tangannya ditepis kasar Leo.


Yui hanya terdiam menahan air mata menatap bayangan Leo yang mulai menjauh.


Bersambung.