
"Kau masih marah padaku?" tanya Reihan pada Zujy.
Zujy melirik Reihan yang sama sekali tidak menatapnya.
"Entahlah."
Reihan menatap Zujy. "Aku akan coba melupakan Leo," ucap Zujy.
"Dia juga sama sekali tidak menghawatirkanku, aku akan mengikuti permainannya," ucap Zujy lagi.
Reihan kembali menatap api unggun, ia mengingat betapa khawatirnya Leo saat melihat Zujy pingsan mungkin melebihi kekhawatirannya.
"Maafkan aku," ucap Reihan membendam kepala Zujy ke dada bidangnya.
"Kenapa tiba - tiba?" gumam Zujy dan terkejut mendengar suara jantung Reihan yang begitu cepat.
Ia mendongak menatap wajah Reihan yang memerah namun Zujy kembali ke posisinya semula ketika mendengar suara seseorang yang mendekat.
"Ehem - ehem," ucap Leo memisahkan keduanya.
Tatapan Reihan menjadi tajam menatap Leo. Zujy yang masih tidak ingin melihat Leo segera berlari pergi.
.
.
.
Irine masuk ke dalam tenda dan tidak menemukan Rini.
Irine masuk lebih dalam ke dalam tenda dan mengganti bajunya yang basah.
Perkataan Yoel sama sekali tidak bisa hilang dari kepalanya, kenapa di saat begini Yoel mengatakan hal itu. Irine keluar dengan jaket hitam tebalnya dan rok panjangnya.
Rambut yang dibiarkan terurai menjaga kehangatan Irine, ia berjalan dan terkejut menatap Reihan dan Leo yang duduk berdua.
"Hei! Kalian! Pikirkan itu baik - baik! Jangan sampai keputusan kalian membuatnya sedih," ucap Irine membuat kedua lelaki itu menatapnya.
Setelah mengatakan itu Irine segera masuk ke tenda Zujy, ia terkejut menatap Zujy yang duduk di atas ranjangnya.
"Zui? Kau sudah sadar?!" Irine segera menghampiri Zujy dan menatap seluruh tubuh Zujy memastikan tidak ada yang lecet.
"Aku baik - baik saja Rin, seharusnya aku yang bertanya begitu padamu," balas Zujy.
Irine merasa heran dan sebuah tangan lembut mengusap air matanya yang jatuh yang Irine sendiri tidak sadari.
"Kenapa kau menangis?" tanya Zujy khawatir.
Irine memegang wajahnya, mengapa ia tiba - tiba menangis? gadis itu memeluk Zujy dan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.
"Bagaimana ini Zuii?? Aku tidak menyangka Yoel akan berkata seperti itu," isak Irine.
"Aku, aku belum siap untuk itu lagi Zui." Irine terisak begitu lama di pelukan Zujy.
Zujy sama sekali tidak bisa berkata apa - apa, ia adalah orang yang sama sekali tidak bisa berkata apapun di saat seperti ini. Zujy hanya mengelus lembut pundak Irine, hanya itu yang bisa dilakukannya.
Tanpa di sadari keduanya seseorang mendengar pembicaraan dan mengintip mereka sejak tadi.
.
.
.
Beberapa menit yang lalu sebelum Irine tiba ke tenda, Rini mendapat pesan di hpnya dan ia tersenyum.
Ia mengganti bajunya dengan baju yang ketat dan rok pendek, ia mengintip keluar memastikan tidak ada seorangpun di sana sebelum keluar dan masuk ke salah satu tenda laki - laki.
Leo menatap tajam Rini yang tiba - tiba masuk ke dalam tendanya, ia melirik temannya yang memberi kode padanya. Lelaki itu menghela nafas dan keluar.
"Dasar *****," umpat Leo keluar.
Melihat Rini membuatnya teringat dengan istri baru ayahnya yang sama dengan Rini, *****.
"Wajah polos yang munafik," gumam Leo dan berjalan menuju tenda utama, ia berniat ingin melihat keadaan Zujy namun ternyata ia malah melihat Reihan memeluk Zujy.
"Cih!"
Langkah Leo mulai ingin kembali namun ia mendengar suara tidak enak dari dalam tendanya, ia memutuskan untuk kembali dan memisahkan Zujy dan Reihan. Ia terlanjur kesal dengan tingkah teman setendanya.
"Ehem - ehem."
Leo menatap tajam Reihan yang juga menatap tajam dirinya, mereka seakan ingin menerkam sekarang juga tanpa disadari Zujy berlari pergi.
Leo duduk di samping Reihan dan menahan tangan Reihan yang hendak kembali ke tenda karna mereka berdua setenda.
"Tunggu keadaan membaik," ucap Leo.
Reihan kembali duduk, entah kenapa perasaannya juga memerintahkan ia jangan kembali dulu.
"Hei!! Kalian! Pikirkan itu baik - baik! Jangan sampai keputusan kalian membuatnya sedih," ucap Irine membuat kedua lelaki itu terkejut.
Leo dan Reihan menatap heran Irine yang masuk ke tenda Zujy dirawat.
Kedua lelaki itu hanya terdiam dan sama sekali tidak membuka pembicaraan.
.
.
.
Pagi harinya, setelah senam pagi semua murid melakukan aktifitasnya sendiri.
"Zui~ ayo ikut~" ajak Irine menarik tangan Zujy.
"Rin, hari ini piketku memasak, kau pergi saja sendiri," balas Zujy membuat wajah cemberut di wajah Irine.
"Mmm."
Irine menatap Yoel yang berjalan ke arahnya, ia masih tidak bisa menjawab perkataan Yoel.
Irine berlari ke arah Yoel dan menarik lengannya.
"Ayo ikut aku!" ucap Irine membuat Yoel heran.
Langkah mereka terhenti tepat di depan Riska dan Hida yang tengah duduk di atas karpet merah.
"Ikut main!" seru Irine dan Hida mengangguk.
"Rin, perkata-"
"Yoel, ayo main!" potong Irine duduk begitupun dengan Yoel.
Lelaki itu terus menatap heran Irine yang bertingkah seolah tidak terjadi apa - apa.
Botol yang diletakkan ditengah - tengah mereka pun di putar Hida dan berhenti menunjuk Hida.
"Yap, aku pilih Irine!" ucap Hida menunjuk Irine.
"Mmm, Truth!
Hida tersenyum licik menatap Irine.
"Siapa laki - laki yang kau suka sekarang!!" teriak Hida membuat murid lelaki melirik Irine.
"Dare," ucap Irine lagi namun Riska memegang pundak Irine dengan wajah bijak.
"Gadis yang baik adalah gadis yang bisa mempertanggung jawabkan pilihannya," ucap Riska dengan penuh kebijakan dalam matanya.
"Ah, m - my Daddy!!" ucap Irine dengan lantang membuat semua yang melihatnya tertawa.
"Oke, oke. Anak daddy," ucap Riska mengelus kepala Irine sembari tertawa kecil.
"Apa sih!! Kan ayah memang cinta pertama semua anak perempuan!"
Hida dan Riska kembali tertawa dan mengangguk dengan perkataan Irine.
Botol kembali berputar dan terhenti menunjuk Riska.
Riska tersenyum licik menatap ketiga temannya itu.
"Aku pilih Yoel, soalnya dari tadi melamun terus," kekeh Riska menyadarkan Yoel dari lamunan.
"Truth," ucap Yoel.
"Siapa wanita yang kau suka saat ini?!" ucap Riska menatap serius Yoel.
"Mmm itu," gumam Yoel melirik Irine yang tersenyum menatap lurus ke depan.
"Seorang gadis," ucap Yoel membuat seisi kelas tertawa lepas.
Zujy yang melihat dari kejauhan juga tertawa karna hanya suara keempat orang itu yang terdengar, semua murid sibuk memperhatikan mereka bermain.
"Ma - maksudnya namanya," ucap Riska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Di pertanyaan tadi tidak ada," balas Yoel membuat Riska hanya tersenyum kaku.
Botol kembali di putar dan terhenti tepat menunjuk Yoel.
"Aku pilih Irine," ucap Yoel membuat Irine yang sedari tadi tidak menatapnya akhirnya menatapnya.
Irine tanpa sengaja mengucapkan. "Truth."
Tatapan Yoel tidak berpaling dari Irine, Riska dan Hida saling bertatapan merasa ada yang aneh dari kedua kakak beradik ini.
"Bagaimana menurutmu kalau seorang kakak mencintai adiknya?" tanya Yoel membuat seluruh kelas terkejut.
"Yoel, jangan - jangan...." ucap Riska menatap Yoel.
Semua murid yang melihat mereka mulai berbisik - bisik tentang apa yang dikatakan Yoel tadi sedangkan Irine hanya menunduk, ia menahan air matanya mendengar teman - teman sekelasnya membicarakan hal buruk tentangnya.
'Kenapa kau menjadi selemah ini Rin,' benak Irine mengepal tangannya karna semua yang berkaitan dengan cinta menjadi kelemahan terbesarnya.
Perkataan Yoel tadi dengan cepat menjalar ke hal negatif membuat Yoel menyesali perkataannya tadi, padahal ia melihat semalam Irine menangis di pelukan Zujy tapi ia masih berbicara seperti ini.
"Rin, maafk-" ucap Yoel terhenti begitupun dengan gerakan tangannya yang hendak memegang pundak Irine.
"Yoel, kau keterlaluan!" ucap Zujy menatap dingin Yoel, Zujy melepas kasar genggaman tangannya yang menahan tangan Yoel saat Irine seketika berlari pergi.
Zujy hendak mengejar Irine namun Yoel menahan tangannya.
"Aku yang akan mengurus ini," ucap Yoel serius dan berlari mengejar Irine.
Zujy yang terus mendengar gosip buruk tentang Irine mulai muak.
"KALAU KALIAN BERANI MEMBICARAKAN HAL INI LAGI, KELUARGA DIRNI DAN CHARLES TIDAK AKAN DIAM !!!" ancam Zujy yang marah.
Seketika menjadi hening, Zujy menatap Riska dan Hida.
"Ini berlaku untuk kalian juga!" ancam Zujy lalu pergi.
Bersambung.