
Karpet merah panjang tergeletak di atas tanah menghubungkan sebuah mobil hitam dengan pesawat mewah berwarna putih, di kedua sisi karpet para pengawal berjas hitam berderet dan begitu banyak orang - orang membawa kamera dan micnya untuk bersiap - siap mewawancarai seseorang yang akan turun itu.
Seorang wanita berkacamata hitam dan berpakaian mewah keluar dari pesawat itu dan seketika semua pengawal itu membungkukkan badannya, semua reporter itu berlarian menyerbu wanita itu namun dengan segera para pengawal menahan mereka.
"Nona! Bagaimana anda menduduki posisi CEO di usia muda?"
"Apakah anda pernah merasa kesulitan dengan posisi ini?"
"Apa ini pertama kalinya anda ke Korea?"
"Bagaimana perasaan anda menjadi pewaris perusahaan termuda di keluarga?"
Gadis itu diserang dengan begitu banyak pertanyaan, ia hanya terus berjalan dan tersenyum.
"Seperti yang anda lihat, kondisi di bandara *** sangat ramai karna kedatangan Nyonya besar sekaligus CEO keluarga Dirni, suatu kehormatan beliau mendatangi negara tercinta kita!" ucap lelaki di balik layar tv.
Gadis kecil itu duduk menatap tv, matanya berbinar - binar dan lekat ke tv.
"Itu kakak! Ayah kakak ada di tv!!" teriak gadis kecil itu.
Seorang lelaki tua duduk di samping gadis kecil itu dan tersenyum.
"Ayah bangga dengan kakakmu, setahun lalu dia tiba - tiba menjadi tangan kanan sekaligus pelayan pribadi Nyonya Dirni, dia adalah kebanggan keluarga kita," ucap orang tua itu mengelus kepala gadis kecil itu.
Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk, ia kembali menatap layar tv.
"Tapi Kak Dirni tidak kalah keren dari kak Chris."
Orang tua itu mengangguk.
Gadis itu masuk ke dalam mobilnya diikuti lelaki yang adalah pelayan pribadinya.
"Anda sudah bekerja keras!" puji lelaki itu dan duduk di samping Zujy Dirni.
"Iya, makasih."
Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang, Zujy membuka laptopnya dan kembali menjadi serius.
"Chris, bukannya aku sudah bilang? kosongkan semua jadwalku hari ini."
"Saya sudah mengaturnya tapi agenda satu ini tidak bisa dibatalkan."
"Oke, aku mengerti."
Gadis itu mematikan laptopnya dan membuka kaca mata hitamnya, ia menutup matanya dan bersandar.
Chris melirik nyonyanya dan meletakkan selimut kecil di atas tubuh Zujy.
"Terima kasih," ucap Zujy tanpa membuka matanya.
"Beristirahatlah, masih sejam sebelum kita sampai di perusahaan NZ cabang di korea ini."
.
.
.
Ckrek, ckrek.
Kilatan putih dari kamera tidak henti menyala mempotret seorang gadis cantik yang berpose dengan lelaki berambut pirang.
"Baik, pemotretan hari ini sudah cukup."
Gadis itu tersenyum ke lelaki di sampingnya begitupun dengan lelaki itu.
"Nona dan tuan Charles, anda sudah bekerja keras!" ucap seluruh kru dengan lantang.
"Terima kasih," balas keduanya dengan lantang.
"Manager, aku sudah terbiasa dengan korea," kekeh Irine ke managernya yang tengah menunggunya.
"Baguslah, jadwal di korea hanya tinggal beberapa hari lagi. Sekarang anda sudah bisa beristirahat," balas lelaki itu membuka pintu untuk nona dan tuan Charles itu.
Ketika pintu kembali di tutup, lelaki itu melepas jasnya dan memakaikannya ke gadis di sampingnya.
"Bajumu di pemotretan kali ini masih saja terlalu terbuka," ucapnya melangkah dan duduk di salah satu sofa.
"Ya, aku juga merasa seperti itu."
Gadis itu ikut duduk di samping Yoel dan bersandar di pundak Yoel.
"Kakak hari ini sangat tampan," goda Irine terkekeh.
"Jangan memanggilku kakak kalau hanya berdua."
Irine tersenyum dan membuka hpnya.
"Zui seharusnya sudah sampai kan? Kita harus menyambutnya," ucap Irine melihat berita.
Pintu putih itu seketika diketuk dan seorang lelaki terlihat.
"Maaf karna menganggu waktu istirahat anda, tapi semuanya harus turun sekarang. CEO sudah sampai, kita harus menyambutnya."
Yoel berdiri begitupun dengan Irine, mereka melangkah keluar.
"Aku tidak sabar bertemu Zui," bisik Irine tersenyum.
"Aku juga," balas Yoel.
.
.
.
Langkah lelaki berambut hitam sedikit berantakan terhenti ketika baru saja ingin keluar dari lift, tatapannya tidak henti menatap gadis yang baru saja keluar dari mobil mewah.
"Ah saya lupa, hari ini kita kedatangan CEO utama!!" ucap lelaki di belakangnya.
Mereka melangkah keluar dari lift dengan pandangan lelaki itu terus menatap Zujy Dirni.
"L - Leo! tundukkan badanmu!!" pinta lelaki di belakangnya.
Leo masih saja terus menatap Zujy yang berjalan masuk ke gedung tinggi ini, aura Zujy terasa begitu berbeda.
'Sudah setahun aku tidak bertemu dengannya, ' benak Leo dan terkejut ketika lelaki di belakangnya membuat tubuhnya seketika menunduk.
"Kau boleh bertingkah tidak sopan padaku tapi jangan pada CEO!" tegas Lelaki itu dengan keringat bercucuran.
Leo hanya terdiam dan melirik Zujy di ikuti lelaki di belakangnya, ia juga melirik semua karyawan yang memasang wajah takut sembari terus menundukkan badannya.
"SELAMAT DATANG DI PERUSAHAAN NZ CABANG!!" teriak semua karyawan dengan tegas.
"Kalian sudah boleh menegakkan tubuh kalian," ucap Chris membuat seluruh orang di sana menegakkan tubuhnya.
'Tatapannya sedingin es,' gumam Leo dalam benaknya sembari mengepal tangannya.
Zujy melirik sekitar dan menatap satu persatu mata karyawannya itu.
"Lebih sedikit dari dugaanku," gumam Zujy dan melirik ke arah langkah kaki yang begitu cepat ke arahnya.
Sebuah pelukan hangat terasa di tubuh gadis itu, semua mata tertuju pada gadis yang memeluknya.
"Selamat datang Zui!!" seru Irine.
Zujy tersenyum dan memeluk Irine lembut.
"Aku merindukanmu."
Irine melepaskan pelukannya dan Zujy menatap lelaki di samping Irine, lelaki itu juga memeluk Zujy.
"Warna rambutmu sangat aneh," ejek Zujy membuat Yoel sedikit tertawa.
Yoel melepaskan pelukannya dan menatap Zujy.
"Auramu sangat berbeda," kekeh Yoel.
"Tapi aku masih Zui yang sama."
Keduanya tersenyum.
"Bye, aku harus pergi sekarang," ucap Zujy berjalan menuju arah Leo.
Leo terus menatap Zujy begitupun dengan Zujy, namun wajah Zujy hanya datar dan melewati Leo.
Kedua orang itu masuk ke dalam lift membuat semua karyawan di sana merasa lega.
"Syukurlah CEO tidak marah dengan sambutan ini," ucap Royce yang adalah pengawas Leo.
"Leo, bukankah kalian itu teman dekat? kenapa kau tidak menyambutnya bersama nona dan tuan Charles tadi?" tanya Royce.
Leo menatap hpnya dan tersenyum setelah menerima pesan dari pacarnya.
"Aku ada urusan, bye," ucap Leo menaiki lift.
"Leo!! Kau mau kemana!!" teriak Royce namun pintu lift telah tertutup.
"Ingat! Kau masih ada syuting sejam lagi!!"
Royce hanya tersenyum kaku. "Ini kenapa aku menjadi pengawasmu...."
Leo merapikan bajunya sembari memasang wajah serius namun ia kembali menerima pesan.
Pacar : maaf Leo, sepertinya sekarang kita tidak bisa bertemu.
Leo menghela nafas, Pintu lift terbuka ia berjalan keluar dan terkejut menatap Zujy dan Chris yang tengah berdiri menunggu lift.
Tatapan mereka bertemu, Leo hanya terdiam menatap tatapan dingin Zujy.
Ia tersenyum kaku dan berjalan pergi.
"Siapa lelaki tidak sopan itu?" tanya Chris terus menatap Leo yang pergi.
Gadis itu hanya terdiam dan masuk ke dalam lift yang baru saja sampai.
'Aku lapar,' benak Zujy merasakan perutnya sedikit berbunyi.
Di sisi lain Irine tengah makan dengan lahapnya bersama Yoel.
"Aku tidak sabar untuk besok," ucap Irine.
Yoel yang baru saja selesai makan pun berdiri.
"Aku ada syuting, aku pergi dulu," ucap Yoel mencium kening Irine dan berjalan pergi.
"Mmm hari yang sibuk," ketus Irine.
Kunyahan Irine terhenti, ia menatap makanannya itu.
"Zui sudah makan kah?" tanya Irine khawatir.
Drttt
Irine mengambil hp nya dan mengangkat telpon.
"Aku sudah sampai," ucap lelaki di telpon.
"Tunggu di sana, aku akan menjemputmu," balas Irine sebelum mematikan hpnya.
Ia melangkah keluar dengan memakai baju tertutup dan masker serta kaca mata hitam.
.
.
.
Irine memasuki bandara yang begitu ramai bersama Leo, ia melirik sekitar mencari lelaki yang di carinya.
Tatapannya terhenti ke laki - laki yang memakai jas hitam diikuti seorang wanita.
"Yo!!" sapa Irine melambaikan tangan sembari berjalan mendekat.
"Wow, dari segi manamun kau sangat berbeda," kekeh Leo membuat lelaki itu tertawa.
"Irine!" sapa wanita di belakang lelaki itu.
Irine tersenyum dan memeluk wanita itu lalu melepaskannya.
"Aku merindukanmu," ucap Hida tersenyum.
"Ayo ikuti aku pengantin baru," kekeh Leo membuat wajah Reihan memerah.
"Tidak dipungkiri, orang terkaku di antara kita mendahului kita," kekeh Irine.
"Jangan berlama - lama, bisa saja di ambil orang," ucap Reihan memegang tangan Hida.
Hida hanya tersenyum malu.
"Mana mungkin," kekeh Irine mengikuti Leo yang terdiam.
"Di mana Zujy dan Yoel?" tanya Reihan.
"Sibuk seperti biasanya."
Bersambung.