Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Karna obat tidur



"Aku tidak bisa tidur," gumamku yang setengah badanku terbaring di atas meja kerja yang penuh dengan dokumen penting.


"Kenapa hal kecil begini sangat susah ku selesaikan, padahal sudah begitu banyak masalah yang menimpa perusahaan tapi kenapa yang ini sangat susah."


Aku mulai frustasi, semua pemegang saham ingin mengambil sahamnya kembali. Jika itu terjadi, perusahaan Dirni akan benar - benar hancur. Sedangkan Perusahaan NZ tengah di landa skandal percintaan dua model yang sangat berpengaruh bagi NZ. Dan lagi kedua model itu adalah sahabatku, aku tidak bisa bertindak gegabah dengan mengeluarkan mereka dari perusahaan ini.


Tubuhku terasa sangat lemah menandakan butuh istirahat tapi aku tidak bisa terlelap, beberapa hari lalu aku demam dan membuat seluruh keluargaku khawatir. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir lagi


Aku memindahkan tatapanku pada kotak obat yang sengaja kuletakkan di situ, aku sudah berjanji tidak akan meminum obat tidur lagi pada diriku sendiri tapi sekarang aku benar - benar tidak bisa tidur.


Aku mulai meneguk obat yang bisa kuambil dengan tanganku tanpa peduli berapa banyak yang ku minum, sekarang aku hanya ingin tidur.


"Seharusnya kami mengurus pernikahan di saat ini," gumamku tersenyum tipis.


Mataku perlahan - lahan tertutup dan ketika aku membuka mata, sinar matahari pagi telah masuk di ruanganku. Aku merasakan selimut yang menyelimuti ku di atas punggungku, aku tersenyum. Mungkin Leo semalam datang ke sini.


"Nona sudah bangun," ucap Chris yang ternyata sudah berdiri di dekat pintu sedari tadi.


"Apa Leo semalam datang?" tanyaku dan Chris menggeleng - gelengkan kepalanya.


Lalu siapa yang memakaikan selimut di badanku?


Chris sepertinya menyadari aku kebingungan menatap selimut itu, dia mendekatiku sembari tersenyum.


"Saya yang memakaikan selimut ini," ucapnya mengambil selimut coklat itu dan melipatnya.


Ternyata Chris, aku sedikit kecewa mendengarnya.


Sembari aku meregangkan tanganku, Chris terus memperhatikanku.


"Nona minum obat tidur lagi? bukannya nona sudah tidak minum lagi?" tanya Chris.


Aku terkejut lalu menyadari botol obat tidur itu masih tergeletak di atas mejaku, dengan cepat aku menyimpannya di laci mejaku.


"Aku tidak bisa tidur lagi, rahasiakan ini."


Aku tidak mendengar Chris menjawab perintahku namun aku membiarkannya.


Aku kembali tersenyum ketika menerima telpon dari Leo.


"Halo?"


"Zui! kenapa tidak pulang?! kau tidur di kantor lagi!!" tanya Leo terdengar kesal.


"Mmm."


"Kau sekarang di mana? dengan siapa?" tanya Leo seakan mengintrogasi.


"Aku sedang di jalan, sendiri," balasku sengaja berbohong supaya Leo tidak khawatir.


"Kenapa berbohong?" Pertanyaan Leo membuatku terkejut, aku menoleh ke sekitar takutnya Leo berada di sana namun tidak ada.


"Aku tidak berboho-"


Seketika pintu terbuka, aku seketika berdiri menatap Leo yang kesal menatapku.


"Kau berbohong!" ucap Leo menyimpan hpnya.


Leo dengan cepat menghampiriku lalu menggendongku seperti menggendong kantung beras, Chris hanya terdiam menatap nonanya yang diperlakukan tidak sopan.


"Leo!!! turunkan aku!!!" berontakku memukul pundak Leo terus menerus namun Leo tetap melangkah keluar.


Pegawai yang sudah datang pagi buta begini membulatkan matanya menatap CEO nya digendong seperti itu oleh seorang pemuda.


"Jaga tatapan kalian," sinis Leo menutup pahaku karna aku memakai rok pendek.


"Leo!!!"


Aku menutup wajahnya karna malu padahal aku tahu semua orang di sana memalingkan wajah karna perintah Leo. Namun aku masih saja malu, sikap bijaksana yang tertanam di mata para pegawainya telah hancur.


Sekilas aku menatap Chris yang berjalan pelan mengikutiku. "Chris!!!" panggilku berniat agar Chris menolongku namun malah langkah Leo yang terhenti.


Aku menoleh ke belakang, apakah Leo sudah mau menurunkanku? namun ternyata tidak. Leo memang mengganti cara menggendongnya namun ia malah menciumku di tengah - tengah banyaknya pegawai.


Dia tersenyum sinis setelah melepaskan ciuman kasarnya.


"Semua orang harus tahu hubungan kita," ucap Leo kembali melangkah.


Aku hanya bisa terdiam, aku kesal pada sikap Leo yang begini. Padahal aku hanya tidak ingin mengkhawatirkannya tapi dia malah membuatku malu di depan pegawaiku sendiri.


Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, aku hanya terdiam sedari tadi.


"Kau marah?" tanya Leo.


"Tentu saja! kita bukan anak kecil lagi! kau tahu yang mana yang benar dan salah!"


"Kau mengerti itu tapi masih saja berbohong."


"Aku tidak mau kau khawatir."


Kami kembali terdiam, Leo menghentikan mobil padahal belum sampai di kastil.


"Kau minum obat tidur?" tanya Leo membuatku terkejut.


'Bagaimana dia bisa tahu,' gumamku dalam hati.


"Aku merasakannya saat menciummu, terlebih lagi kau minum sangat banyak," ucap Leo.


'itu hanya sedikit,' gumamku lagi dalam hati.


"Itu sangat banyak, kau mau menjadi pecandu obat?" ucap Leo lagi membuatku terkejut.


"Kau membaca pikiranku?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan!"


"Aku tidak bisa tidur! aku memerlukannya!!"


"Tapi itu terlalu banyak! meminum obat tidur secara berlebihan nantinya bisa menimbulkan kecanduan! Kakak seperti itu dimulai dari obat tidur!!" tegas Leo tentunya membuatku semakin kesal.


Ia melibatkan kakak di saat seperti ini.


"Jangan melibatkan kakak!"


"Dia akan marah kalau melihatmu seperti ini."


Aku menghela nafas kasar dan menuruti apa mau Leo, aku sudah malas berdebat dengannya.


Dan sekarang aku malah di bawa ke sini, rumah sakit milik dokter Barry di Sydney, Amerika. Aku tahu Dokter sekarang berada di Amerika tapi hanya meminum obat tidur sampai berakhir di sini terlalu berlebihan.


Aku tersenyum kaku menatap Dokter Barry yang heran melihatku.


"Nona, apa masih demam?" tanya Dokter Barry.


Leo mengelus kepalaku seperti dia menjadi majikanku.


"Zujy minum obat tidur, aku membawanya ke sini agar tidak menjadi pecandu," ucap Leo namun menjadi ejekan di telingaku.


Aku kembali tersenyum kaku dan mengangguk.


.


.


.


Di sisi lain, Irine sibuk berjalan berputar balik di dalam perpustakaan pribadi Arka. Ia mencari cara agar bisa keluar untuk menemui Yoel. di sampingnya Arka duduk menatap Irine.


"Kak, tidak capek dari tadi jalan," ucap Arka seketika Irine duduk di sampingnya.


Ketika Irine hendak berbicara suara dari luar mengganggunya, ia membuka pintu dengan kasar dan semakin kesal menatap si kembar tengah bertengkar.


"KALIAN!!!! PERGI DARI SINI!!!!!!! DASAR PENGGANGGU!!!" teriak Irine hingga suaranya bergema di sepenjuru kastil.


Kedua gadis itu berlari terbirit - birit dan tersisa Ian sendiri yang tetap di posisinya.


"Hei! kenapa tidak pergi!?" sinis Irine.


Ian menatap kesal Irine. "Hah?! kau bukan kakakku yang bisa memerintahku! aku bisa pergi sendiri tanpa suruhanmu!"


Arka yang mendengar itu membuka mulutnya. "Bryan!!"


Ian terkejut dan berlari mengejar kedua gadis kembar itu, ia sangat takut jika kakaknya marah.


Irine menghela nafas dan menutup pintu, ia kembali duduk di samping Arka.


"Aku harus mencari cara untuk pergi dari sini," gumam Irine namun dapat didengar Arka.


"Tidak!"


"Aku harus mencari jalan!"


"Tidak!"


"Nana!! kau sebenarnya di pihak siapa?!" tanya Irine kesal.


"Tentu saja kakakku, kenapa aku harus mendukungmu."


"Argh!!! sudahlah!!! aku akan mencari jalan sendiri!!!!" kesal Irine keluar.


Ia kembali mencoba keluar dari kastil itu dengan segala cara namun masih saja nihil, upayanya tidak menimbulkan hasil sekecil apapun. Penjagaan di kastil memang sangat ketat.


Irine berjongkok karna letih mencari jalan keluar, ia termenung menatap karpet merah.


"Ah! kenapa kekasihku termenung di sini?" ucap seseorang.


Irine menatap orang itu dan tersenyum bahagia. Orang itu adalah Yoel yang sepertinya datang ke kastil ini.


Bersambung.