Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Terbongkar



Aku duduk di sebuah kursi tepat di samping kasur yang begitu besar dan terlihat mewah, aku hanya duduk terdiam menatap cincin di jari manisku. Sudah seminggu sejak Yoel melamarku namun aku sama sekali tidak merasa senang dengan itu, pada awalnya aku memang merasa senang namun sekarang aku menganggap mungkin saja menikah adalah hal yang begitu cepat di umurku yang menginjak 24 tahun. Reaksi Ayah terhadap hubungan kami juga tidak bagus, ayah tidak menolak ataupun menerima lamaran Yoel namun ia terus menyuruhku memahami perasaanku sendiri.


Aku menghela nafas kasar dan menatap Zujy yang tertidur nyenyak di atas kasur itu, yah! sekarang aku harus memikirkan Zui!. Aku terlalu fokus memikirkan lamaran Yoel hingga tidak sadar bahwa Zujy tidak pernah beristirahat mengurus perusahaan yang dalam kondisi buruk.


Sekarang Zui tertidur nyenyak di atas kasur ini karna paksaanku, dia terus menolak tidur maupun makan agar bisa terus bisa di depan komputer dan di dalam ruangan meeting. Aku sampai tidak menyangka bahwa Leo gagal membujuk Zujy untuk istirahat, setelah berdebat beberapa saat Zui baru ingin menuruti perkataan ku untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan.


Sekarang aku duduk di sini untuk menemani Zui sekaligus mengawasinya agar tidak bekerja di belakangku, jujur saja. Aku takut Zui akan berakhir seperti kakak, kalau itu terjadi lagi aku akan benar - benar membenci dunia bisnis.


Terdengar suara pintu terbuka namun, aku menoleh dan menatap Reihan. Ternyata dia masih di sini, semenjak keluar dari kapal pesiar. Dia menjadi trauma pada kapal, itu terdengar lucu tapi Reihan benar - benar trauma. Film yang menjadi alasan dia ikut ke pertemuan itu telah dilupakannya karna tekanan keluarga Charles dan Dirni yang begitu besar.


"Irine, Kamu baik - baik saja kan?" tanya Reihan mendekat dengan tatapan yang begitu khawatir.


Aku mengangguk walau aku tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.


Reihan menghela nafas dan tersenyum lega, aku mengangkat kedua alisku tanda heran.


"Ada apa? kemana Yoel?" tanyaku karna Yoel tadi ingin mengantar Reihan ke bandara namun sekarang hanya ada Reihan sendiri.


"Kau tidak jadi pulang?" tanyaku lagi.


Reihan terdiam dengan wajah yang terlihat kebingungan, sebuah pelukan hangat memelukku seketika. Itu adalah Hida yang seketika masuk dan memelukku.


Ada apa ini? rasanya sangat aneh.


"Rin, tenang saja. Semua akan baik - baik saja," ucapnya dengan nada yang gemetaran.


Kebingungan di benakku mulai membesar.


"Drrrrtttt" Suara panggilan masuk mengagetkan kami bertiga, aku menoleh dan mendapati Zujy telah terbangun. Ia mengangkat panggilan itu.


Tatapan Zujy terhenti padaku setelah mendengar perkataan seseorang dari telpon itu, dia mematikan telponnya dan membuka sebuah berita yang mengadakan live.


"Nama Model itu adalah Yoel Manuel Charles yang ternyata berpacaran dengan adiknya sendiri yang juga seorang model yaitu Airine Char-"


Zujy seketika mematikan hpnya melihatku yang syok setelah mendengar berita itu, hubunganku dengan Yoel terbongkar.


"Reihan, Hida. Kalian sudah tahu kan?" tanyaku dengan nada yang gemetaran.


Reihan hanya terdiam sedangkan Hida sedari tadi tidak melepas pelukannya.


"Rin, jangan khawatir. Aku akan mengurus in-" ucap Zui beranjak turun dari kasur namun seketika terhenti ketika terjatuh.


Kami semua tentu saja langsung menghampiri Zujy yang memegang kepalanya sebelum terjatuh pingsan.


"Zujy!! Zui!!" sahutku begitu khawatir.


.


.


.


Kini Zui telah terbaring di atas kasurnya setelah di periksa oleh dokter pribadi keluarga Dirni yaitu Dokter Barry. Dokter Barry mengatakan bahwa Zujy hanya terkena demam biasa karna kelelahan bekerja, namun seisi kamar ini sangat khawatir pada Zujy.


Aku hanya bisa terdiam dengan seribu kekhawatiran di hatiku, yang membuatku terkejut ketika Om Agler menghampiriku.


Reihan dan Leo tahu hubungan kami tapi tidak dengan para petinggi.


"Ya," ucapku singkat, menurutku sudah tidak ada alasan untuk menyembunyikannya.


Aku mendengar Om mendecik kesal, namun aku memberanikan diri menatap langsung mata Om Agler.


Om Agler memberikan tabletnya dan aku terkejut mendapati fotoku dan Yoel saat berciuman di Namsan tower saat Yoel pertama kali menciumku setelah 7 tahun sekaligus di mana aku pertama kali dilamar.


Wajah kami terlihat jelas, tempat orang yang mengambil foto ini tidak terlalu jauh dari kami.


"Siapa yang mengambilnya?' tanyaku kesal.


"Kau mematikan hpmu?" tanya Om Agler dan aku mengangguk.


Aku mematikan hp agar Zujy tidak terganggu saat tidur.


"Ayahmu sangat kesal, Keluargamu dan NZ sekarang mencari pelakunya. Dan kekasihmu sekarang di serang para Fans yang marah, Amerika sekarang heboh dengan skandalmu bahkan sudah sampai di Eropa dan Asia," jelas Om.


"Yoel?" Mendengar nama Yoel di sebut membuka kakiku sontak berlari keluar namun tertahan oleh Reihan yang menahan tanganku.


"Yoel menyuruhku ke sini untuk melarangmu keluar, hanya di kastil kau aman."


Aku mengerutkan alis dan menepis kasar tangan Reihan, aku berlari keluar dan kembali terhenti saat penjaga kastil menahanku keluar. Walau aku memberontak hasilnya nihil.


Yang sekarang yang bisa kulakukan hanyalah menelpon Yoel, begitu banyak panggilan tidak terjawab dari seluruh petinggi keluarga Charles. Sepertinya mereka akan memerahiku. Aku tidak peduli! sekarang aku ingin mendengar suara Yoel.


"Yoel!!!" sahutku.


Yoel tidak menjawabku dan hanya terdengar suara yang berisik, begitu banyak komentar negatif dari para fans terdengar. Sekarang aku tahu dimana Yoel berada, perlahan - lahan suara bising itu menjauh dan Yoel mulai menjawab perkataanku.


"Kau dimana!?" tanyaku memastikan.


"Aku baru saja masuk ke gedung NZ" balas Yoel.


Mendengar suara Yoel membuatku sedih.


"Rin, jangan keluar dari kastil. Kau tenang saja! Aku akan mengurus semua ini!" tegas Yoel.


"Tidak mau!! Aku tidak mau!!!"


"Rin, jangan membantah. Keadaan sekarang sedang buruk jadi turuti perkataanku. Aku tidak mau kau di serang Fans."


Setelah mengatakan hal itu Yoel memutuskan sambungan telpon secara sepihak, sepertinya Yoel tengah marah.


Terlihat jelas dari nada bicaranya, tentu saja aku juga marah. Siapa yang tidak marah kalau seseorang berniat menghancurkan hubungannya dengan pacarnya.


Tapi aku tidak ingin duduk diam saja di sini, aku ingin bersama Yoel dan bersama - sama membela hubungan kami namun para penjaga yang menghalang jalanku membuatku pasrah.


Mungkin sekarang aku hanya bisa mendukung Yoel dari sini.


Terakhir aku mengirim pesan untuk Yoel, aku ingin melihatnya dan berbicara langsung dengannya.


Bersambung.