Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Hai ayah



"Aku dari dulu cuma punya 3 teman, Irine, Yoel, dan kau. Tapi kau pergi," ucap Zujy.


"Aku akan menceritakan kenapa aku pergi di waktu yang tepat."


"Teman - teman lainku hanyalah palsu, mereka memanfaatkanku agar status keluarga mereka bertambah. Aku orang yang mudah percaya pada orang lain tapi aku juga mudah menyadari aku dibohongi."


Leo terdiam sembari memeluk pundak Zujy dengan salah satu tangannya.


"Perkataan Rini tadi hanya kebohongan, aku baru saja menyadarinya. Tapi tidak sepenuhnya salah, Reihan memang menggantikan Pak Fin untuk menjagaku selain itu tidak ada alasan lagi. Reihan tidak mencintaiku, aku juga sama," ucap Zujy menatap Leo.


Leo menghapus air mata Zujy pelan, kali ini ia akan bersikap egois untuk kebahagiaan gadis ini.


"Aku juga menyukaimu," ucap Leo membuat Zujy memeluknya.


"Aku akan membatalkan pertunangan itu!" tegas Zujy melepaskan pelukan hangatnya.


"Aku juga akan belajar agar setara denganmu," kekeh Leo membuat Zujy tertawa.


"Maafkan aku," ucap Leo memegang pipi Zujy.


Zujy mengangguk sembari memegang tangan Leo di pipinya.


Mereka berdua berdiri dan terkejut menatap Irine yang menyodorkan cahaya senter ke mukanya.


"Zui!" sapa Irine.


"Aku tersesat hehe," ucap Irine lagi dan menggandeng tangan Zujy.


Mereka akhirnya mencari jalan keluar bersama.


.


.


.


Pagi harinya semua sudah siap di dalam bus sekolah, Irine yang melihat Reihan hendak duduk di samping Zujy seketika mendahuluinya.


"Cari tempat lain!" ucap Irine jutek.


Reihan menatap sedih Zujy. "Zui, yang semalam itu bohong!"


Walau Reihan berkata seperti itu, Zujy hanya mengabaikan Reihan dan fokus menatap ke luar jendela.


"Zui, kau bisa memukul Reihan hingga bonyok," ucap Irine membuat Zujy tertawa.


"Kau masih kesal pada Rei?" tanya Irine dan Zujy mengangguk.


"Aku kesal karna dia menerima pertunangan itu hanya untuk menggantikan ayahnya menjagaku, pertunangan itu bukan permainan," ucap Zujy.


Irine mengangguk tanda mengerti, bus sekolah mulai berjalan. Irine tersenyum sembari mengambil snacknya yang begitu banyak.


"Minta." Zujy mengambil salah satu snack Irine.


"Rin, how was last night?" tanya Zujy membuat Irine tersedak.


Zujy terkejut dan segera membongkar tasnya mencari botol air minum.


Namun gerakan tangan Zujy terhenti ketika seseorang memberi Irine minum, tentu saja Irine segera meminumnya dan kembali tersedak ketika mendapati Yoel yang memberinya air minum.


"Uhuk - uhuk." Irine kembali fokus meminum minumannya tanpa sadar semuanya menjadi sunyi.


"Thank you," ucap Irine memberikan botol Yoel yang sudah habis.


Gadis itu terkejut menyadari seluruh murid memperhatikannya namun segera menjadi sibuk sendiri ketika Zujy berdehem.


Setelah Yoel kembali ke tempat duduknya, Irine bertanya pada Zujy.


"Kenapa semuanya?" tanya Irine.


"Mereka semua membicarakan hal buruk tentangmu dengan Yoel, jadi aku mengancam mereka," balas Zujy santai.


Irine mulai berdiri membuatnya sekali lagi menjadi pusat perhatian.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Zujy menarik tangan Irine agar kembali duduk namun Irine tersenyum membuat genggaman Zujy terlepas.


"Semuanya, tentang perkataan kakakku beberapa hari yang lalu itu hanya salah paham. Zujy juga salah paham!" jelas Irine.


"Jadi saya mohon tolong jangan ungkit ini lagi karna bisa berdampak buruk bagi keluarga Charles nantinya." Irine membungkukkan badannya.


Seketika Yoel berdiri dan membungkukkan badannya juga.


Seketika semua murid meminta maaf pada Irine dan Yoel, Zujy hanya tersenyum sekaligus merasa bangga karna sahabatnya ini memang ahli membereskan seuatu.


Beberapa jam kemudian mereka pun tiba di desa, Zujy dengan cepat menuju kosannya dan masuk ke mobilnya, ia ingin segera bertemu ayahnya dan membatalkan pertunangan itu.


Langit terlihat baru ingin berubah menjadi malam.


Ketika Zujy hendak menutup pintu mobilnya, Leo menghentikannya.


"Zui, aku akan mengantarmu," ucap Leo yang khawatir.


Zujy tersenyum dan mengizinkan Leo agar mengantarnya.


Disepanjang jalan mereka hanya terdiam dengan Leo yang fokus menyetir sedangkan Zujy yang sibuk dengan gamenya.


"Tes seberapa ingat!" seru Zujy dan Leo mengangguk.


"Kalau begitu, golongan darahku?" tanya Leo terkekeh.


"Mana aku tahu!! Kau tidak pernah memberitahuku!"


Leo tertawa kecil. "Warna kesukaanku?"


"Maron!"


"Aku?" tanya Zujy.


"Biru laut!" balas Leo dengan percaya diri dan Zujy mengangguk bertanda benar.


"Cita - cita!" seru Zujy.


"Penyanyi, CEO," balas Leo dan Zujy kembali mengangguk.


"Kau Aktor kan?" tanya Zujy dan Leo mengangguk.


"Kau suka makan kue, suka uang, suka cowok ganteng, suka putri tidur, punya segalanya, dan punya tahi lalat di bawah dada," ucap Leo membuat wajah Zujy memerah.


"Ba - bagaimana kau tahu!?" tanya Zujy membuat Leo terkekeh.


"Aku masih ingat setiap jengkal tubuhmu," kekeh Leo.


"Dasar mesum," ucap Zujy membuat Leo kembali tertawa.


"Kita pernah mandi bersama ketika kecil, Irine juga," ucap Leo lagi.


"Tapi sekarang tubuhmu banyak berubah," tambah Leo.


"Kau lihat kemana!!" balas Zujy menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Kau juga tahu bagaimana tubuhku," ucap Leo dengan telinga yang memerah.


"Aammm, mmm ya," ucap Zujy pelan namun di dengar Leo.


Zujy terkejut ketika mobil tiba - tiba terhenti dan Leo mendekatkan wajahnya ke Zujy membuat tubuh Zujy lekat ke pintu mobil.


"A - apa?!" tanya Zujy gugup namun Leo terus menatapnya.


Wajah Leo mendekat telinga Zujy. "Kau mau melihat tubuhku sekarang?" goda Leo membuat wajah Zujy merah seperti tomat.


Leo kembali menatap Zujy sembari tersenyum dan mengecup pelan kening Zujy dan kembali mengemudi.


'Bahaya!' benak Zujy membenarkan posisinya.


"Bercanda," ucap Leo terkekeh.


Zujy hanya terdiam hingga sampai di perusahaan, Zujy menatap gugup Leo dari luar mobil.


"Tidak apa?" tanya Leo khawatir namun Zujy mengangguk.


"Aku bisa sendiri!"


"Kalau begitu, aku boleh pergi ke apartemen dulu? Ada yang mau aku ambil," ucap Leo sebelum pergi.


Zujy menghela nafas dan masuk ke dalam perusahaan Dirni.


"Semoga Ayah ada di perusahaan cabang ini," gumam Zujy menuju meja Resepsionis yang tengah bersantai.


"Apa CEO ada perusahaan ini?" tanya Zujy dan Resepsionis itu hanya mengangguk dan sibuk ke hpnya.


'Kenapa ibu mengerjakan orang seperti ini?!" gumam Zujy karna ibunya yang mengatur Perusahaan cabang Dirni groub di Indonesia.


"Saya mau bertemu dengan CEO," ucap Zujy.


"Sudah membuat janji?" tanya Resepsionis yang masih saja sibuk ke hpnya.


Zujy menghela nafas merasa kesal dengan sikap wanita di depannya.


"Apa saya harus membuat janji kalau bertemu dengan Ayah sendiri?" ucap Zujy menggunakan bahasa Inggris.


Wanita itu terkejut dan segera menyimpan hpnya, ia segera membungkukkan badannya ketika melihat warna mata Zujy yang menjadi ciri khas dari Agler Dirni.


"Maafkan saya," ucap Resepsionis itu.


Zujy yang sudah merasa kesal mengabaikan wanita itu dan mengambil telepon di meja Resepsionis.


"Ah, nomorn-"


"Aku sudah tahu, aku hapal semua nomor di perusahaanku," ucap Zujy dengan wajah jengkel.


"Halo Yah, aku mau bertemu dengan Ayah. Aku akan segera ke ruangan Ayah," ucap Zujy dan masuk ke lift.


Ia naik ke lantai 20, dan berjalan melewati semua sekretaris yang mengabaikannya karna tidak tahu siapa dirinya.


Ia menerobos masuk ke ruangan Agler membuat Agler terkejut.


"Hai ayah," sapa Zujy tersenyum.


Bersambung.