Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Mimpi buruk



Pov Yoel.


Aku merasakan panas api di sekitarku, aku perlahan - lahan dengan rasa takut membuka mataku. Tepat di hadapanku terlihat Dad memeluk Mom yang sebentar lagi akan terlahap oleh api, mereka menatapku dengan air mata yang terus terhapus oleh panas api.


"Mom!! Dad!! Pergi dari situ!!! KUMOHON!!!" teriakku berdiri dan menyadari tubuhku menjadi pendek.


Aku melirik bajuku, ini baju yang kupakai saat hari itu. Saat hari kematian mereka, baju tidur berwarna biru yang bertuliskan Mom ♡ Yoel ♡ Dad di belakangnya.


Aku berlari menuju Mom dan Dad, kalau mereka harus pergi maka aku akan ikut namun semakin aku berlari semakin jauh jarakku pada Mom dan Dad.


"Mommy, Daddy," ucapku dengan air mata yang mengalir deras.


"Yoel, maafkan kami, kau harus tetap hidup," ucap keduanya sebelum menghilang di makan api.


Aku menangis sejadi - jadinya, aku terjatuh ke lantai. Tubuhku menjadi lemah, kakiku tidak bisa menahan berat tubuhku jadi aku terjatuh. Sekarang yang kubisa hanyalah melipat lututku dan menyembunyikan wajah tangisan di bawah kedua tangan yang memegang kepalaku dengan harapan melindungi tubuhku.


"Hallo?" sahut seorang gadis kecil membuatku terkejut, aku sontak menatap ke depan.


Di depanku berdiri seorang gadis kecil dengan rambut emas terkepang dua dibaluti baju dan topi serba hitam. Ia menatapku dengan mata birunya itu.


Aku melirik ke sekitarku, di sini adalah pemakaman. Seketika aku melirik dua makam di samping kanan dan kiriku.


"Kau kenapa? jangan menangis," ucapnya lalu melirik kedua makam Mom dan Dad.


"Mmm ... pasti berat ya, aku juga kehilangan adikku. Dia baru saja lahir tapi ..."


"Hei, kau ini laki - laki!! Jangan menangis!! Lihat aku! biarpun adikku pergi aku tidak menangis."


"Yah, Ayah. Kesini!!"


"Apa Ayah punya permen? Aku ingin memberikannya pada anak ini!"


"Irine, bagaimana aku bisa di sini?" gumamku melihat Ayah datang menghampiriku.


Ia terkejut lalu memastikan dengan melihat kedua makam di sampingku, air matanya juga keluar di iringi dengan tangannya yang memelukku hangat.


"Tenang saja! Tenang saja.. sekarang tenang saja!" ucapnya membuatku heran.


Aku menatap Irine yang terlihat terkejut ketika Ayahnya memelukku, tapi rasanya ada yang aneh.


Ayah melepaskan pelukannya dan menatapku, tangannya memegang tangan gadis kecil ini.


"Aku sudah mencari - cari kalian sejak lama, aku adalah ommu, panggil aku om Andre, atau Ayah," ucapnya namun mimik wajah gadis kecil di sebelahnya terlihat marah.


"Yoel! kau sudah merebut Ayahku! kenapa kau harus datang ke kehidupanku?!" ucap Irine memeluk erat Ayahnya.


"Aku membencimu!" ucapnya dan seketika angin menerbangkan topi hitamnya.


Aku begitu terkejut mendengar perkataan Irine, bukan seperti ini. Ini salah! Bukan seperti ini!!


"BUKAN SEPERTI INI!!" teriakku bangun.


Nafasku terengah - engah, aku melirik sekitar dan ini di kamarku. Lebih tepatnya kamarku di Kastil.


Badanku terasa panas, keringat terus bercucuran dari tubuhku. Keningku terpasang kain yang basah, tanganku terpasang infus.


"Apa yang terjadi?" gumamku dan sontak terkejut ketika susatu di atas kakiku bergerak.


Itu adalah seekor anjing yang begitu besar dengan bulu yang berwarna coklat lebat.


"Moni?" ucapku kemudian mendengar suara pelayan yang mencari anjing ini.


"Moni, kenapa bisa kau di sini?"


Anjing itu membuka matanya dan berjalan dan mengelus perutku.


"Kau khawatir padaku?" tanyaku dan Moni membaringkan tubuhnya di atas pahaku.


"Kau sudah sangat besar dan berat."


"Duh, Moni kemana sih?" ketusnya dan mematung menatapku.


"Yo - yoel?" dengan langkah seribu ia memelukku dengan erat.


Moni yang tertidur di pahaku berlari keluar setelah menyadari Irine di dekatnya, Irine memelukku begitu erat dan begitu lama. Di pelukannya ia sama sekali tidak membuka mulutnya.


"Apa yang terjadi?" tanyaku dan akhirnya Irine melepaskan pelukannya.


Ia berpindah posisi dan duduk di pinggir kasur besarku.


"Kemarin kau pingsan saat ingin turun dari kapal," ucapnya tanpa menatapku.


Rasanya begitu canggung, kemarin aku memarahi Irine habis - habisan karna mengizinkan lelaki itu masuk ke ruanganku. Seharusnya aku tidak memarahinya karna aku tahu betul Irine paling tidak suka di bentak.


Tapi sekarang aku hanya bisa memikirkan mimpi buruk yang tadi menyerangku, kenapa aku harus memimpikannya lagi? sudah cukup saat kecil! aku tidak tahan memimpikannya lagi. tapi ini pertama kalinya aku bermimpi saat Irine mendatangiku yang duduk sendirian di pemakaman, tapi itu tidak benar! Irine tidak berkata seperti itu! dia malah senang dan menyambutku dengan baik. Mimpi itu hanyalah kebohongan semata, tapi jika benar Irine pernah membenciku karna merebut kasih sayang Ayahnya aku harus bagaimana?


"Irine, apa kau pernah membenciku soal Ayah?" tanyaku dan Irine melirikku.


"Saat itu aku tiba - tiba menjadi kakakmu, Ayahmu juga begitu menyayangiku bahkan menyuruhku menganggapnya sebagai sosok Ayah. Jadi mungkin saja kau pernah membenciku karna merebut Ayahmu," ucapku namun Irine hanya menatapku insten.


"Kenapa kau tidak meminta maaf?" tanyanya.


Irine mengerutkan alisnya dan berjalan pergi dengan meminggalkan suara pintu di tutup kasar. Aku hanya bisa terdiam menatap pintu itu.


.


.


.


Irine menutup pintu dengan kasar, ia begitu kesal pada Yoel. Bukannya meminta maaf, ia malah menanyakan pertanyaan aneh.


"Lihat saja! aku akan mengabaikanmu terus," gumam Irine kesal lalu tatapannya terhenti ke seekor anjing besar yang mematung menatapnya.


Irine menghela nafas kasar seketika anjing itu berlari begitu cepat menjauhi Irine.


"Moni!! KALAU KAU LARI LAGI AKU TIDAK AKAN MEMBERIMU MAKAN SELAMA SEBULAN!!!" teriak Irine mengejar anjing coklat itu namun langkah anjing itu tidak terhenti.


"AKU AKAN MENGABAIKANMU SELAMA SEBULAN!!" Moni tetap terus berlari.


"AKU TIDAK AKAN MENGIZINKANMU BERTEMU YOEL!!" teriak Irine seketika membuat langkah Moni terhenti.


Irine terkejut namun langkah seribunya sudah tidak bisa dihentikan, akhirnya ia menabrak Moni.


Kini Irine terjatuh di atas tubuh besar Moni, ia memeluk leher Moni.


"Tertangkap."


Irine terdiam, kenapa sejak kecil anjing ini tidak pernah menyukainya malah menyukai Yoel.


"Moni, aku yang memilihmu! aku yang memberimu nama! Aku yang memberikanmu makan setiap hari! setidaknya setiap hari, aku yang memandikanmu! aku yang membersihkan kotoranmu! tapi kenapa kau menyukai Yoel yang tidak pernah melakukan itu untukmu?" ucap Irine berpura - pura menangis agar anjing ini mau mengelus badannya.


Namun bukannya mengelus, Moni malah melempar tubuh Irine lalu berjalan pergi. Irine lagi - lagi terdiam lalu menatap dua pelayan yang sedari tadi menatap keanehannya itu.


"Kan?" tanya Irine dengan wajah kaku.


"Tidak nona, kami yang melakukan semuanya. Nona bahkan tidak pernah menyentuh perut Moni," ucap kedua pelayan itu membuat Irine ternsenyum kaku lalu melirik anjing itu.


"Dasar anjing songong," ketus Irine kemudian dibantu kedua pelayan itu berdiri.


Yoel melirik pintu yang kembali terbuka, ternyata itu Moni.


Anjing itu kembali berbaring di atas kasur Yoel, Yoel hanya tersenyum padahal seharusnya ia tidak boleh mengizinkan Moni di atas kasur.


Bersambung.