
Leo berjalan mengikuti Zujy yang berjalan lebih dulu di depannya.
"Kau mau kemana? Ini area hutan, murid dilarang ke sini."
"I - ikut saja."
Leo meletakkan tangannya ke dalam sakunya sembari melirik sekitar dan tatapannya terhenti ke gadis yang berjalan di depannya. Ia tersenyum dan berjalan di samping Zujy.
"Kau mau membawaku kemana sih?"
Langkah Zujy terhenti dan terus menatap ke depan diikuti Leo yang penasaran. Pohon besar, sangat cantik, daunnya berguguran terbawa angin yang sangat sejuk.
"Duduk sini," ajak Zujy yang sudah duduk di bawah pohon.
Leo menuruti Zujy dan duduk di sampingnya, gadis itu menyuruhnya membuka hpnya dan betapa terkejutnya ia mendapati jaringan internet di hpnya.
"Mulai sekarang kita bermain di sini saja ... aku capek pulang balik ke kota."
Leo mengangguk sembari tersenyum membuat wajah Zujy memerah dan memalingkan mukanya fokus ke game yang sedikit lagi mulai.
"Aku sudah bilangkan kalau Irine lebih jago main game ini, kau bisa minta ajarkan dia."
"Aku hanya mau di ajarkan Zui."
Leo terus melirik Zujy menunggu jawaban gadis itu namun tidak ada jawaban sama sekali dan terlihat fokus ke gamenya.
"Kenapa cuma diam di sana, cepat ke sini," ucap Zujy terus menatap hpnya.
"Kau menjadi lebih banyak bicara saat main game."
Zujy memalingkan wajahnya menatap Leo yang juga menatapnya, wajah mereka kini sangat dekat hingga Zujy bisa merasakan hembusan nafas Leo.
Wajah Leo memerah begitupun dengan Zujy, serasa seperti waktu terhenti mereka sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh dan hanya bisa terus dalam posisi tersebut.
Untungnya seorang murid wanita menyadarkan keduanya.
"Kamu, guru memanggilmu." Tunjuk gadis itu ke Zujy yang segera berdiri memegang pipinya agar tidak memerah lagi.
"Mm, Le - Leo aku pergi dulu."
Zujy melirik Leo yang masih mematung dengan posisi itu dan menepuk pelan bahu Leo membuat lelaki itu tersadar.
"Ah, i - iya pergi saja," ucap Leo terbata - bata memegang lehernya dan tidak berani menatap Zujy.
Setelah di rasa Zujy sudah benar - benar pergi ia melanjutkan bermain game agar sedikit melupakan kejadian memalukan tadi, bagaimanapun juga wajah dan telinganya di rasa sangat panas. Ia bahkan hampir lepas kendali di saat itu, ia tidak bisa mengendalikan dirinya jika itu Zujy. Mungkin jika kejadian ini terulang lagi ia tidak akan bisa lagi mengendalikan dirinya.
"Aku malah mengusirnya," gumam Leo kesal.
Setelah beberapa saat Irine kini telah sampai di pohon besar namun tidak menemukan Zujy sama sekali melainkan hanya ada Leo sendiri.
"Leo, dimana Zujy."
Leo melirik Irine dan tersenyum tipis.
"Tadi ada murid perempuan yang membawanya ke guru."
Irine terdiam sejenak memikirkan sesuatu lalu raut wajahnya berubah menjadi marah.
"Kau bodoh atau bagaimana?"
"Hah!?"
Leo mendadak kesal pasalnya Irine dari dulu selalu membuatnya kesal, semua yang dikatakannya akan berakhir membuat Leo kesal. Ia mematikan hpnya dan menyimpannya ke saku celana lalu berdiri menatap Irine.
"Hanya aku dan Zujy yang tahu tempat ini, dan aku sama sekali tidak mendengar pengumuman apapun yang menyuruh Zujy menghadap guru," ucap Irine dengan lantang.
Leo memahami ekspresi wajah Irine lalu dengan heran bertanya. "Lalu?"
Perkataan Leo sontak membuat Irine semakin kesal, ia mendekati Leo dengan terus menatap tajam.
"Apa kau sama sekali tidak curiga? Setelah kau mendekati Zujy, semua murid perempuan yang tergila - gila denganmu kesal dengannya dan target bullying mereka adalah ZUJY!"
"AKU KIRA KAU MENGETAHUINYA! JADI AKU MEMBIARKANMU MENDEKATINYA KARNA AKU TAHU KAU PASTI AKAN MELINDUNGINYA!!" teriakan kekesalan Irine membuat Leo sedikit heran.
Ia mengenal Irine dan Zujy sejak kecil namun ia tidak pernah melihat Irine yang semarah ini terlihat dari raut wajahnya yang seakan ingin menerkam Leo dan mencabik - cabiknya.
"Aku akan mencari Zujy, murid tadi pasti ingin mencelakainya," ucap Irine penuh dengan kegelisaan.
Irine segera berlari namun tangannya di tahan Leo dan segera di tepis kasar Irine.
"Hah!? Kau mau mencari Zujy kan? Aku ikut."
"Tidak perlu!!"
"Kau tidak akan bisa melawan pembully itu sendiri,"
"Kau meremehkanku!!? AKU BISA BELADIRI!!"
"Aku tetap ikut!"
Irine menatap tajam Leo dengan pasrah mengizinkan Leo mengikutinya, mereka berlari ke tempat yang sering menjadi tempat bullying.
Di sisi lain. Zujy menyadari bahwa lorong yang sekarang di lewatinya bukan jalan menuju ruang kantor guru.
"M - maaf tapi ini bukan jalan ke kantor guru."
Zujy semakin terkejut ketika tangannya ditarik kasar murid itu lalu membawanya ke belakang gedung tingkat 2 yang sangat sepi. Kini ia dikelilingi beberapa murid perempuan yang menatapnya remeh.
"Dia kah?"
Zujy melirik gadis yang sepertinya adalah ketua dari mereka semua mendekatinya tersenyum sadis.
"Mmm, sama sekali tidak menarik," ucapnya dengan perlahan membuka poni Zujy namun dengan cepat Zujy menepisnya.
"Hah!! Kau cukup berani ya."
"Kau tahu alasan kami membawamu ke sini?"
Zujy menggeleng kepalanya melirik tajam gadis itu.
Ia sama sekali tidak takut jika dicelakai karna Pak Fin atau pengawalnya selalu berada di sekitarnya walau tidak terlihat, jika ia dicelakai gadis ini akan menanggung akibatnya yang mungkin tidak sanggung di tanggungnya mengingat Ayahnya sangat kejam dan dingin namun menyayanginya.
"Ly kenapa kau membawa tidak berdosa kepadaku?."
Byurr
Air yang sudah terisi sampah menyirami rambut hitam Zujy, ia membulatkan matanya menahan amarahnya pada kepalan tangannya. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan amarah dan kini ia merasakannya kembali.
"Bagus, kau jadi sangat cantik sekarang, kau bisa menggoda Leo dengan percaya diri sekarang," ejek Zofia membuat yang lain tertawa.
Leo? Jadi alasan mereka berbuat begini hanya karna Zujy dekat dengan Leo!?
"Jadi kau melakukan ini karna kau tidak suka aku dekat dengan Leo?"
Gadis itu hanya tertawa lalu kembali mengejek Zujy.
"Sekarang kau tahu dosamu, hahahaha."
"Kau tidak pantas untuk Leo, Leo terlalu baik hingga mau menanggapimu hahaha."
"Bagaimana kau bisa masuk ke sekolah ini hah!! Sepertinya kau bukan orang kaya juga, apa kau menjual tubuhmu untuk masuk ke sini?" Ejek Zofia terus tertawa terbahak - bahak menikmati raut wajah Zujy yang menahan amarah serta sedikit takut.
"Berapa harga tubuh mungil ini, hahaha." tangan Zofia perlahan - lahan membuka kancing baju Zujy hingga ia terjatuh.
Pastinya Zujy memberontak namun Zofia malah semakin terbawa suasana hinga tidak henti tertawa.
"Nak, perbuatanmu pada nona kami itu tidak pantas," ucap Pak Fin berjalan mendekati Zofia dan Zujy.
"Hah!? Siapa yang berani menyelaku!!" Zofia menghentikan aksinya dan berdiri menatap Pak Fin, ia kembali tertawa terbahak - bahak.
"Hahahaha, pak, jadi kau yang membeli tubuhnya."
Pak Fin terlihat marah dengan perkataan Zofia.
"Kau akan menyesali perbuatanmu nak."
"Pfftt, Pak aku ini Zofia Geans, AKULAH YANG AKAN MEMBUATMU MENYESAL!!"
Zujy hendak berdiri namun tidak bisa karna Zofia mendorongnya.
"Siapa yang menyuruhmu berdiri!!" Zofia hendak memukul Zujy namun tangannya ditahan Pak Fin.
"Nona?" tanya Pak Fin dan Zujy hanya mengangguk lalu perlahan - lahan berdiri.
Bersambung.