
Irine membuka pintu kamar kakaknya dan terkejut menatap kakaknya yang tengah menatap sebuah dokumen.
"Kakak!!! Rin sudah bilang IS - TI - RA - HAT!! Kenapa kakak masih bekerja di saat begini!?" ucap Irine mengambil dokumen yang di tangan kakaknya.
Kondisi Felix membaik beberapa hari yang lalu dan sekarang di rawat di kastil keluarga Charles.
"Hehe."
"Hehe?!! Sekarang kakak tidak boleh bekerja dulu!! Fokus pada kesembuhan kakak!"
Irine duduk di samping kasur kakaknya. "Kakak jangan sampai stress lagi....."
Felix tersenyum dan mengelus kepala Irine. "Adik khawatir ya?"
"Tidak!! Tidak sama sekali!!" Irine menyilangkan tangannya.
"Pokoknya kakak tidak boleh minum obat - obatan lagi!"
"Bagaimana kakak sembuh kalau tidak minum obat."
"Kecuali obat."
Felix tersenyum dan memeluk adiknya yang sangat dirindukannya dari belakang.
"Maaf kak, aku tidak bisa selalu di sini," ucap Irine bersandar di pelukan kakaknya.
"Tidak apa - apa, adik kan juga sakit. Pasti adik khawatir sama adik kan?"
"Adik sama adik khawatir sama adik?"
Felix tertawa dan terus memeluk Irine.
"Adik mana?"
"Kak!!"
"Hehe, maksudnya Yoel mana?"
"Indonesia."
"... Jangan pergi dulu ya Rin, kakak masih rindu."
Irine tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Zujy duduk di samping Leo, ia meletakkan tangannya di atas meja panjang milik pedagang.
Mata Zujy tidak henti melirik sekitar, ini pertama kalinya ia ke sini.
"Rame sekali," ucap Zujy kagum.
Seorang wanita duduk di samping Zujy, Zujy begitu terkejut.
"Leo, kenapa dia duduk di sini? Ini meja kita kan?" bisik Zujy di telinga Leo.
"Di sini gak seperti di cafe atau restaurant, meja ini untuk siapa saja."
Zujy mengangguk - ngangguk seakan mendapat ilmu baru, ia meletakkan tangannya di atas pahanya ketika banyak lelaki duduk di depannya.
Zujy memasang muka dingin ketika semua lelaki itu menatapnya.
"Jangan menatapku atau kubunuh," gumam Zujy mengepal tangannya.
Leo yang melihat Zujy merasa risih dengan tatapan mesum para lelaki itu memegang pergelangan Zujy.
"Sayang, makanan kita dibungkus saja ya," ucap Leo berdiri diikuti Zujy yang terkejut dengan panggilan sayang.
Leo sekilas menatap tajam lelaki itu dan berdiri menunggu pesanan mie ayamnya di buat. Mas pardi memberikan pesanan Leo dengan tersenyum ramah.
"Dek Leo ganti pacar lagi ya," ucap Mas Pardi membuat tubuh Leo membeku, ia melirik Zujy yang terus menatap Mas Pardi.
"Mass, gak kok, gak."
Leo merasakan genggaman tangan Zujy semakin erat, ia segera membayar mie ayamnya dan masuk ke dalam mobil Zujy.
Leo duduk sembari memegang setir mobil, ia melirik Zujy yang belum membuka mulutnya setelah perkataan Mas Pardi dan terkejut menatap wajah dingin Zujy.
"Hahaha, Mas Pardi itu langgananku. Kami sudah seperti saudara, dia kadang suka bercanda," ucap Leo merasa aneh.
Leo sudah berkali - kali berpacaran, namun ini pertama kalinya ia merasa gelisah pacarnya marah.
"Jadi yang tadi cuma bercandaan?"
"Iya - iya."
Setelah menatap Leo, Zujy kembali menatap jalan di depan dan berkata. "Kalau betul, aku akan marah. Kau bilang kau mencintaiku tapi malah gonta ganti pacar dan tidak menungguku."
Leo kembali mematung, kenyataan bahwa ia berkali - kali berpacaran tidak berani diutarakannya.
"Sebenarnya ... aku sudah berkali - kali berpacaran sebelumnya," ucap Leo setelah memberanikan diri.
Ia merasa frustasi, ia mungkin akan diputusin di hari pertama ia berpacaran dengan seseorang yang amat dicintainya.
"Kenapa? apa kau menyadari cinta anak 13 tahun itu bohong?"
Leo menatap wajah Zujy yang terus menatap ke depan.
"Enggak, aku benar - benar mencintaimu saat itu dan sekarang!"
Zujy diam mendengar perkatan Leo, Leo dengan wajah yang memerah mulai memegang tangan Zujy dan membuka mulutnya. "Hanya saja, kau memilih melupakanku. Aku berpacaran untuk bisa melupakanmu juga tapi ternyata aku tetap gak bisa melupakanmu Zui."
Zujy terkejut mendengar perkataan Leo, benarkah ia berniat melupakan Leo? tapi ia tidak mengingat itu.
"Aku ... aku tidak tahu," ucap Zujy menatap Leo.
"Aku tidak tahu kenapa diriku yang dulu mau melupakanmu, aku tidak mengingatnya." Zujy melepas genggaman tangan Leo, sembari tersenyum menatap Leo.
"Sekarang, aku hanya bisa marah karna tidak mengingatnya."
Leo terdiam, mengapa ia harus melihat senyuman paksa Zujy.
"Maaf." Hanya kata maaf yang bisa keluar saat ini dari mulut Leo, ia kembali mengingat ketika Yoel memberitahunya bahwa Zujy berniat melupakannya menggunakan sebuah obat 3 tahun lalu.
Leo mulai mengemudi menuju apartemennya, ketika sampai Zujy sama sekali tidak mau turun dari mobil.
Zujy menatap hpnya, ia baru saja menerima pesan dari Ayahnya menyuruhnya untuk pulang.
Zujy memberikan mie ayamnya pada Leo dan segera mengemudi pergi meninggalkan Leo yang berdiri menatap mobil Zujy yang semakin menjauh.
"Siapa yang seharusnya marah saat ini?" gumam Leo.
Hari pertamanya hancur.
"Leo," sahut Yoel yang mendekati Leo.
"Yoel?"
"Ada yang ingin kubicarakan."
"Ini tentang Zujy," ucap Yoel lagi menatap serius Leo.
.
.
.
Zujy berjalan menuju ruang kerja Ayahnya, ia membuka pintu ruang kerja ketika dizinkan masuk.
"Yah ada apa?" tanya Zujy yang terkejut menatap Reihan dan Pak Fin yang berdiri di depan meja kerja ayahnya serta Agler yang duduk di kursi.
"Reihan? Pak Fin?"
.
.
.
"Sepertinya rencanaku terlalu berlebihan," gumam Arka yang menyilangkan tangannya, berjalan di lorong rumahnya.
"Sepertinya kakak juga sudah mengingat kak Leo kembali, kak Leo memang hebat."
"Dia memang pantas menjadi kakak iparku nanti."
"Tapi kalau Ayah masih memaksa kakak, aku akan tidak segan - segan lagi menjalankan rencana itu."
"Tiba - tiba mengizinkan kakak tidak menutupi identitas, mencurigakan," gumam Arka lalu menatap ke depan setelah mendengar suara ribut dari dalam ruang kerja ayahnya.
Ia mendekat, walau tindakannya ini melanggar moral keluarga Dirni. Ia tetap menguping pembicaraan Ayahnya, ini adalah cara bagaimana ia bisa mengetahui semua hal tentang obat BR.
"Suara kakak," gumam Arka sedikit mengintip cela pintu yang terbuka.
"Kak reihan? Pengawal Fin?"
"AKU TIDAK MAU!! AYAH BOLEH MELARANGKU UNTUK MELAKUKAN APAPUN! TAPI ... AKU YANG AKAN MENENTUKAN PASANGANKU!!" Teriak Zujy mengusap air matanya.
Pintu dibuka kasar Zujy, ia sekilas menatap Arka dan berlari pergi. Arka mengerutkan keningnya, ia berlari ke kamarnya mengambil sesuatu untuk memulai rencananya untuk mengembalikan ingatan kakaknya.
Zujy terus berlari sembari mengusap air matanya yang tidak henti keluar hingga ia sampai di gerbang kediaman Dirni dan ia dilarang untuk keluar.
"Lepaskan aku!! AKU BILANG LEPASKAN AKU!!!" bentak Zujy akhirnya menendang para security.
Para security yang melihat wajah marah Zujy melepaskan tangannya, mereka merasa aura jahat Zujy sangat mirip dengan tuan besar keluarga Dirni yaitu Agler Dirni membuat mereka takut.
Zujy duduk di salah satu ayunan taman bermain tidak jauh dari rumahnya. Ia merasa bersalah karna sudah bersikap jahat pada para security tapi ia sudah tidak tahan dengan sikap Ayahnya padanya.
"Perjodohan?! Aku tidak akan pernah menyutujuinya."
Air mata Zujy kembali mengalir, ia kini mengerti mengapa Reihan tahu siapa dia sebenarnya.
"Dan lagi, kenapa Irine tidak memberitahuku kalau kakak sakit?"
"Apa ibu tahu tentang perjodohan ini?"
Zujy melirik langit yang mendung menandakan sebentar lagi hujan akan turun.
"Aku tidak perlu pengganti, aku akan mewariskan perusahaan NZ sekaligus bekerja di perusahaan Dirni. Aku juga yakin kakak akan baik - baik saja."
Zujy kembali menundukkan wajahnya, walau ia berusaha air matanya tidak henti keluar.
"Reihan ... aku menyesal saat itu menangis di depanmu."
"Jika saja waktu bisa diulang, aku memilih tidak bersikap baik padanya."
Zujy mendengar suara langkah kaki mendekatinya. "Pengawal yang disuruh mencariku sudah datang ya."
Zujy membulatkan matanya menatap Reihan, ia mengira pengawal yang datang mencarinya tapi ternyata lebih buruk.
Zujy berdiri, ia kesal menatap wajah Reihan yang baru disadarinya mirip dengan Pak Fin.
"Aku tidak akan menyetujuinya," ucap Zujy melangkah pergi namun di tahan Reihan.
Zujy seketika menepis kasar tangan Reihan, ia menatap kesal Reihan.
"Apa maumu? Aku tidak akan berpacaran ataupun bertunangan denganmu," ucap Zujy dingin.
Reihan tersenyum tipis, merasa keputusannya salah. Zujy sekarang membencinya.
"Kenapa kau tersenyum!! KAU SENANG MELIHATKU MENDERITA!!"
Reihan membulatkan matanya, ia seakan melihat bayangan Agler di belakang Zujy yang marah menatapnya.
"KAU SENANG MELIHATKU TIDAK BERDAYA SEPERTI SAAT ITU!! AKU MENYESAL MEMBIARKAN DIRIKU MENANGIS DI DEPANMU SAAT ITU!!"
"Zui, aku ti!"
Zujy melangkah mendekati Reihan dan menampar Reihan dengan sangat keras sebelum Reihan selesai dengan perkataannya.
"Kau sama sekali tidak setara denganku!! kau tidak pantas untukku!"
Reihan menatap raut wajah Zujy yang baru pertama kali dilihatnya, ia tidak pernah melihat raut wajah jijik Zujy.
"Semua yang mengenalku bilang, aku berbeda dari Ayahku! tapi mereka salah. Aku tetap anaknya, aku sama dengannya!!"
"Aku sama dengannya," ucap Zujy menundukkan wajahnya, ia berlari meninggalkan Reihan yang menatapnya pergi.
"Aku tidak berhak marah padanya, karna aku sama dengannya. Hanya saja aku bersikeras menutupinya karna membenci sikap Ayah yang jahat."
"Zui, asal kau tahu saja. Aku mengagumi sosok yang kau bilang sama denganmu," ucap Reihan.
Reihan mengusap pipinya dan berjalan pergi, masih ada satu tugas yang belum dituntaskannya.
Bersambung.