
Mobil mewah Zujy sampai di desa saat pukul 3.29 malam, dengan tubuh yang sudah letih ia menopang tubuh Leo masuk ke kosan Leo.
Ia naik ke lantai dua dan membaringkan Leo di atas kasurnya, Greb!! Zujy seketika di tarik Leo ketika baru saja ingin pergi.
Leo berbaring sembari memeluk erat pinggang Zujy tidak membiarkan Zujy pergi.
"Leo! apa yang kau lakukan!"
"Temani aku malam ini," gumam Leo.
Zujy hanya menghela nafas menunggu Leo tertidur baru ingin pulang namun ia malah ikut tertidur.
.
.
.
Pukul 02.00
Irine melirik jam dinding, kemudian menatap Yoel yang baru saja selesai makan begitupun dengannya, setelah Yoel datang mereka masih memunggu Zujy pulang dan memutuskan untuk memakan makanan karna Zujy tidak kunjung pulang.
"Zui masih belum pulang," ucap Irine.
Yoel menatap Irine lalu membereskan piring makanan mereka dan berjalan ke dapur mini kedua sahabat itu, Irine mengikuti Yoel dan ikut membantu Yoel yang mencuci piring makan.
Sebuah busa dingin menempel di pipi Irine, ia menatap Yoel yang terkekeh.
Gadis itu tersenyum licik dan membalas perbuatan Yoel dengan busa yang lebih besar namun Yoel tidak membalas Irine kembali dan fokus mencuci piring karna sudah mendapatkan apa yang dia mau, yaitu senyum dari gadis yang di cintainya.
"Maaf ya, soal ciuman itu. Seharusnya aku tidak melakukannya," ucap Yoel menghentikan gerakan tangan Irine.
"Tidak apa - apa," balas Irine membersihkan pipi Yoel dan Yoel tersenyum bahagia.
Yoel memegang tangan Irine dan menatap serius Irine.
"Irine, kau mau menjadi kekasihku?" ucap Yoel membuat Irine terkejut.
Detak jantung Irine bertambah cepat, ia menundukkan wajahnya karna merasa wajahnya akan sangat merah. Irine mengangguk pelan dan menatap Yoel yang tersenyum bahagia.
"Sayangku," ucap Yoel membuat wajah Irine bertambah merah, Yoel mengoleskan busa ke pipi Irine berbentuk kumis kucing dan mengangkat tubuh Irine lalu memutarkan tubuhnya sembari terus tersenyum.
"AKHIRNYA!!!" teriak Yoel membuat Irine tersenyum.
Irine kembali memijak lantai dan Yoel kembali memeluknya.
'Sebahagia itukah?' benak Irine membalas pelukan Yoel.
.
.
.
"Bye," ucap Irine menatap Yoel di pintunya.
"Mmm, iya, mmm bye," balas Yoel canggung dan berjalan pergi.
Mereka terus berbicarakan banyak hal begitu lama dan kini Yoel baru ingin pulang.
Irine terus menatap Yoel yang berjalan pergi dan langkah Yoel terhenti, ia kembali menatap pacarnya itu dan membuat bentuk hati dengan kedua tangannya membuat Irine merah malu hingga keduanya tidak menyadari mobil Zujy terparkir di depan kosannya.
Yoel terkekeh dan berjalan pergi menuju mobilnya sedangkan Irine segera menutup pintu dan bersandar di belakang pintu sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Irine menatap jam dinding dan kembali khawatir karna sudah jam 05.08 Zujy belum saja pulang.
.
.
.
Zujy membuka matanya dan melihat jam yang sudah menunjuk angka 4 pagi, ia terkejut dan melirik ke belakang namun Leo sudah tidak ada.
Ia berjalan turun dan melihat Leo tengah memasak.
"Leo?" panggil Zujy dan Leo tersenyum.
"Aku memasak mie, kau mau?" ucap Leo.
Zujy mendekati Leo dan tidak mencium bau alkohol, ia melirik Leo dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku baru saja mandi," ucap Leo.
Zujy terkejut, Leo mandi di jam segini?
"Kau kenapa semalam? kenapa tiba - tiba minum?" tanya Zujy menatap lekat Leo.
Leo mematikan kompor dan memeluk Zujy dan membendamkan kepalanya di pundak Zujy.
Lelaki itu menceritakan semua tentang ayahnya yang bercerai dan menikah lagi.
"Aku ingin bersama ibu tapi hak asuhku di menangkan ayah," ucap Leo sendu.
"Walaupun hak asuhku di pegang dia, aku tetap di buang. Dia tidak mengizinkanku tinggal di rumahnya dan mengirimku ke desa ini," ucap Leo lagi.
Tentunya Zujy tidak bisa berkata apa - apa karna ia paling tidak tahu cara menanggapi curhatan seseorang, ia adalah pendengar terbaik.
"Tapi karna ayahmu kita bisa bertemu lagi," ucap Zujy tersenyum.
Leo menatap Zujy dan ikut tersenyum. "Aku sudah melihatmu dari pertama kali masuk sekolah, tapi aku masih ragu karna kau menutup wajahmu," kekeh Leo.
"Tapi ternyata itu memang kau," ucap Leo tertawa kecil.
Zujy ikut tertawa, dan membantu Leo memasak.
Zujy baru ingin pulang setelah melihat jam di hpnya.
"Sudah jam 05.20," ucap Zujy yang berdiri di kamar Leo.
Leo masuk dan mendapati Zujy yang baru saja ingin membuka pintu.
"Aku harus pulang sekarang, Irine pasti khawatir," ucap Zujy melewati Leo.
"Zui, bagaimana percakapanmu dengan Ayahmu?" tanya Leo.
"Aku akan ceritakan di lain waktu," ucap Zujy menutup pintu kosan Leo dan menyebrang ke kosannya.
Irine terkejut karna mendengar pintu kosan di ketuk, ia segera membuka pintu.
Zujy membuka pintu dan tidak ada seorangpun di dalam.
"Kenapa tidak dikunci?" gumam Zujy masuk dan mengecek ke kamar namun Irine sama sekali tidak ada di sana.
Ia mengecek ke sepenjuru kosannya namun tidak mendapati Irine, ia segera menelpon hp Irine namun hp Irine tidak aktif.
Perasaan Zujy menjadi khawatir, tidak biasanya Irine keluar di pagi hari begini. Ia menelpon Yoel.
"Halo Zui, kau sudah pulang?" ucap Yoel yang baru ingin tidur karna belum tidur dari semalam.
"Ya, tapi aku tidak menemukan Irine di kosan. Irine ada di sana?" tanya Zujy membuat Yoel terkejut, Yoel segera duduk.
"Aku baru saja dari sana dan Irine ada disana."
"Tidak ada! Irine tidak ada di sini!"
"Yoel, aku akan ke supermarket, mungkin Irine ada di sana," ucap Zujy segera berlari keluar.
Namun di supermarket manapun, Irine tidak ada di sana. Ia segera berlari ke villa Yoel yang tidak jauh dari posisinya.
Zujy menekan bel dan Yoel membuka pintu.
"Tidak ada," ucap Zujy.
Wajah Yoel menjadi panik.
"Tunggu! Aku akan menelpon Ayah," ucap Yoel menelpon Andre namun Andre sama sekali tidak tahu Irine di mana.
"Ayah belum ke Indonesia akhir - akhir ini," ucap Andre membuat Yoel terkejut.
Yoel mengira Andre membawa Irine namun ternyata tidak.
"Tenang dulu, Ayah akan melacak hp Irine," ucap Andre yang sebenarnya sangat panik.
"Iya."
Yoel mematikan hpnya dan meremas rambutnya, baru saja ia bertemu Irine namun sekarang Irine malah menghilang entah kemana.
Zujy memegang lengan Yoel. "Tenang Yoel."
Yoel masih saja merasa panik dan Zujy memeluknya.
"Tenang, Irine pasti baik - baik saja," ucap Zujy menenangkan Yoel.
Yoel mengangguk dan melepas pelukan Zujy.
Di sisi lain.
Pov Irine.
Aku membuka mataku dan terkejut karna mendapati tubuhku di ikat, seorang gadis berdiri membelakangiku.
"Siapa kau?!!" tanyaku sembari melirik sekitar.
Mungkin aku sedang berada di sebuah gudang.
Gadis itu membalikkan wajahnya dan tersenyum menatapku, bagaimana bisa?! dia adalah Rini!
"Rini!?"
Rini tersenyum manis padaku.
Bersambung.