Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Pemakaman



Tengah malam.


Arka membuka pintu kamar inap Zujy, ia mendapati Ibunya tertidur di sofa dan Irine yang tertidur di kursi samping kasur kakaknya.


Arka mendekati ibunya lalu sembari membangunkannya.


"Mama, jangan tidur di sini."


Runi tersenyum. "Nana ... jangan lakukan itu lagi."


Arka mengerutkan alisnya, kenapa semua orang menyalahkannya?


"Mama pulanglah."


Runi mengecup dahi Arka dan melangkah keluar. Arka mendekati Irine dan membangunkannya juga.


"Kak, pulanglah sekarang."


Irine menatap tajam Arka dan berjalan keluar mengabaikan Arka.


Arka menatap khawatir Zujy, kenapa kakaknya belum bangun juga?


.


.


.


Irine dan Arka berjalan melewati lorong, tidak ada yang memulai pembicaraan. Irine membuka pintu kamar inap Zujy dan begitu terkejut menatap Dokter Barry duduk di samping kasur Zujy dan Agler berdiri di sampingnya.


"Apa yang Ayah ingin lakukan lagi!!!" teriak Arka segera mengambil suntikan yang dipegang Dokter Barry dan melemparnya ke dinding hingga terpecah belah dan cairan obatnya berhamburan.


"Ayah masih mau melakukan ini!!" Arka menatap tajam Ayahnya.


"Diam!"


"Apa Ayah begitu tidak percaya pada kakak!! Kakak pasti bisa melalui semua ini tanpa obat konyol itu!!" ucap Arka membuat Agler terdiam.


Irine mendekat, ia menatap Dokter Barry.


"Dokter, seharusnya kau tahu apa yang terbaik untuk Zujy. Hentikan semua ini," bujuk Irine menahan air mata.


Dokter Barry mengerutkan keningnya menatap wajah Irine dan tertegun ketika Agler meneriakinya untuk segera memulainya.


"Ayah!! Kenapa kau tidak bisa mempercayai kakak!!! Sekali saja percaya pada kakak!!"


Agler menatap tajam Arka. "AYAH PERCAYA PADANYA!!! ... hanya saja Ayah tidak ingin melihatnya terluka."


Arka terdiam dan dokter Barry mengeluarkan suntikan baru yang sudah berisi cairan obat.


Irine dan Arka membulatkan mata ketika melihat Zujy terbangun dan duduk namun tatapannya terlihat kosong.


"Hipnotis?" ucap Irine.


"Ya. Obat BR adalah obat yang bisa menghilangkan ingatan tentang seseorang atau suatu kejadian, namun tubuh harus menyetujui agar tidak terjadi penolakan pada tubuh. Jika tubuh menolak, obat tidak akan bereaksi," jelas Arka membuat kedua orang tua itu terkejut.


Obat BR adalah eksperimen terbesar yang dibuat Dokter Barry, dan yang pertama mencoba adalah Zujy. Namun cara kerja obat ini hanya diketahui Dokter Barry dan para petinggi keluarga Dirni dan Charles.


Agler menatap curiga Arka, bagaimana bisa Arka mengetahui tepat tentang obat BR.


"Dan Dokter menggunakan hiptonis karna kakak aslinya tidak ingin melupakan ingatan itu."


Agler tetap melanjutkan niatnya mengabaikan Irine dan Arka yang terus memberontak berinisiatif menghalanginya.


Arka dan Irine terdiam setelah Dokter dan Agler keluar setelah melakukan hal yang mereka larang. Suara mereka seakan hampir habis namun kedua orang tua itu tetap pada pendiriannya dan melakukannya.


Keduanya menatap sedih Zujy yang tertidur, mungkin sekarang efek obat telah bekerja.


Beberapa saat kemudian, Zujy terbangun. Irine dan Arka seketika menghampiri Zujy dan menanyakan banyak hal.


"Zui!! Kau ingat aku kan?" tanya Irine.


Zujy mengerutkan keningnya, merasa sesuatu yang penting menghilang dari dirinya. Ia merasakan sakit kepala namun tidak terasa sakit, sakit yang aneh menurutnya.


Ia ingin membuka mulutnya namun nihil, rasa takut menghampirinya. Ia menundukkan wajahnya dan mengangguk kecil.


"Zui!! Jangan begini!! Lihat aku!! Dasar maniak kebersihan!" ejek Irine namun Zujy hanya diam menundukkan wajahnya.


"Kak!! Aku tahu kakak kebingungan tapi sekarang kakak lupa ingatan!" ucap Arka menatap serius kakaknya.


Zujy melirik Arka. "Inga-"


Ucapan Arka terpotong karna para pengawal tiba - tiba masuk dan menariknya paksa keluar.


"APA - APAAN INI!! KAU LUPA SIAPA AKU?!" bentak Arka memberontak dan ketua pengawal menatapnya dibalik kaca mata hitam.


"Maaf Tuan muda, tapi ini perintah tuan besar."


Arka mengepalkan tangannya begitu marah pada Ayahnya.


"Nona, nona juga harus pulang sekarang."


Irine mengerutkan alisnya, ia membisikkan sesuatu pada Zujy sebelum dibawa pengawal pergi.


Zujy merasa heran, apa yang terjadi. Ia ingat, ia baru saja selesai membeli game bersama Arka namun sekarang berada di rumah sakit. Namun ada yang aneh dengan ingatannya, ia seakan berbicara sendiri saat di taman dan juga Arka berbicara sendiri.


"Ingat tentang Leo. Dia orang yang penting untukmu," gumam Zujy mengulangi bisikan Irine tadi.


"Leo? rasanya aku akrab dengan nama ini," gumam Zujy memegang kepalanya.


.


.


.


Arka dibawa pulang ke kediaman Dirni, ia yang masih di pegang erat para pengawal menatap Ayahnya yang duduk di sofa sembari meminum segelas kopi.


"Kunci dia di kamar dan jangan biarkan dia keluar," pinta Agler melirik Arka yang memberontak.


"APA MAKSUDNYA INI YAH!!"


"Kau belum pernah dihukum sebelumnya kan? Ini hukuman pertamamu, renungkan kesalahanmu di dalam kamar."


Arka terus memberontak namun hingga sampai di dalam kamar usahanya tidak berhasil, ia berdiri sembari mengepal tangan menatap dengan penuh amarah pintu kamarnya.


"AKU SUDAH BILANG!! KELUARKAN AKU!!" teriak Arka melempar Vas bunga ke pintu hingga pecah. Namun tidak ada jawaban dari para pengawal yang menjaga pintunya.


Arka terus merusak barang - barangnya agar di keluarkan namun usahanya tidak berhasil, ia melirik sekitar namun tidak ada lagi barang yang bisa di rusaknya.


Ia menundukkan wajahnya sembari terisak ditengah kamar yang penuh pecahan kaca dan air dari vas.


.


.


.


Irine berbaring di atas kasurnya sembari menatap hp yang dipegangnya di atas tubuhnya. Hp itu jatuh ke wajahnya ketika pintu kamarnya dibuka. Ia melirik Yoel yang membuka pintu.


"Aku sudah bilang ketuk dulu," ucap Irine duduk dan meletakkan hp di sampingnya.


"Kau ada hubungan apa dengan Reihan?"


Irine terkejut mendengar nama Reihan, ia menatap wajah marah Yoel.


"Kenapa kau marah?" tanya Irine menjatuhkan matanya menatap kepalan tangan Yoel yang sangat erat.


Yoel menatap tajam Irine beberapa saat lalu berbalik dan langkahnya terhenti saat Irine memanggil namanya.


Yoel melirik Irine di ujung mata.


"Kau mau bantu aku mengembalikan ingatan Zujy?"


Yoel menghela nafas dan menyetujui ajakan Irine.


Yoel berjalan melewati lorong yang panjang, ia mengingat saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Irine dan Andre beberapa hari yang lalu. Ia menjadi marah dan segera pergi ke Inggris.


Saat di Inggris.


Yoel yang baru turun dari pesawat segera memakai masker dan topi hitamnya mengemudi menuju pemakaman.


Ia selalu menenangkan dirinya ketika merasa marah di pemakaman kedua orang tuanya.


Yoel berdiri memegang bunga yang dibelinya saat menuju ke sini, ia menatap sendu makam Ayah dan Ibunya.


Ia jongkok dan meletakkan bunga itu di atas makan ibu dan ayahnya yang bersampingan.


Ia duduk di antara makan Ayah dan Ibunya merasa seakan orang tuanya berdiri di dekatnya dan mengelus kepalanya sembari berkata. "Yoel kami sudah besar ya. Jangan patah semangat yah."


Yoel menundukkan wajahnya menyembunyikan wajahnya dan terisak, niatnya datang untuk menenangkan diri malah kembali teringat mendiang ibu dan ayahnya.


Lalu Yoel melirik ke depan setelah mendengar suara anak kecil perempuan, ia begitu terkejut menatap bayangan Irine kecil ketika pertama kali bertemu dengannya.


"Kau kenapa? jangan menangis," ucap Irine kecil lalu melirik kedua makam ibu dan ayah Yoel.


"Mmm ... pasti berat ya, aku juga kehilangan adikku. Dia baru saja lahir tapi ..."


"Hei, kau ini laki - laki!! Jangan menangis!! Lihat aku! biarpun adikku pergi aku tidak menangis."


"Yah, Ayah. Kesini!!"


"Apa Ayah punya permen? Aku ingin memberikannya pada anak ini!"


"Terima kasih," ucap Yoel dan berdiri, bayangan Irine menghilang dari hadapannya.


"Hah, aku baru membayangkan apa sih? ini akibatnya kalau kau menangis."


Yoel tersenyum menatap kedua makam orang tuanya. "Aku akan datang lagi mom, dad."


Yoel melangkah menuju makan adik Irine.


"Maaf, aku tidak bawa apa - apa untukmu," ucap Yoel mengelus ubin makam adik Irine.


Setelah beberapa saat di pemakaman, hujan yang begitu deras muncul. Yoel segera berlari masuk ke mobil dan mengemudi ke kastil keluarga Charles.


Gerbang yang begitu besar terbuka, dan terlihat bangunan megah yang berbentuk kastil. Yoel memasuki bangunan itu setelah menyuruh pengawal untuk memarkirkan mobilnya.


Setelah menyapa kakek dan nenek Irine, ia berjalan menuju kamarnya dan mengganti bajunya yang basah.


Yoel keluar dari kamar mandi memakai handuk kecil yang melingkari pinggangnya dan handuk lain yang tergantung di lehernya. Ia melirik pelayan yang berdiri di kamarnya.


"Kenapa masih di sini? pekerjaanmu sudah selesaikan?"


Pelayan dengan hati - hati dengan cepat pergi keluar. Yoel menggunakan baju yang di siapkan pelayan tadi.


Ia mengambil hpnya ketika mendengar hpnya berdering, ia mengangkat telepon dan begitu terkejut dengan apa yang didengarnya.


Ia segera berlari keluar dan mengemudi ke rumah sakit.


.


.


.


Yoel masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Ia menghela nafas. "Aku tidak berhak marah soal Reihan pada Irine."


Yoel menutup matanya dan terlelap.


.


.


.


Runi menatap pintu kamar Arka dengan raut wajah yang cemas, tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam kamar.


Ia membuka pintu dengan hati - hati dan terkejut ketika melihat Arka terbaring di lantai dengan darah yang keluar dari tangannya.


Runi dengan cepat mendekati Arka dengan berhati - hati agar tidak terkena pecahan kaca. Pelayan datang setelah mendengar suara panggilan dari Runi.


Runi menggendong Arka sembari menyuruh pelayan membersihkan kamar Arka, dan beberapa ikut dengannya untuk mengobati tangan Arka.


Runi menatap Arka yang tidur di atas kasurnya, lalu memegang tangan Arka yang sudah diperban. Runi mengecup kening Arka dan tertidur di sebelahnya.


Bersambung.