Mysterious Friend's Love

Mysterious Friend's Love
Season 2. Sangat tampan



Mobil hitam terhenti di depan sebuah kastilĀ  yang begitu megah, di dalam mobil itu terdapat Chris yang menyetir dan Zujy yang tertidur di balik selimut biru.


Gerbang berwarna emas itu terbuka dan mobil itu melaju masuk dan berhenti tepat di depan pintu masuk kastil.


Chris kembali melirik Zujy yang masih tertidur pulas, mereka kini berada di amerika lebih tepatnya di New York, kastil keluarga Dirni.


Sebelum ke Inggris mereka harus ke amerika dulu.


"Nona," panggil Chris membangunkan Zujy namun Zujy tidak kunjung bangun.


Ia terpaksa menggendong Zujy masuk ke kastil itu, langkah demi langkah ia lewati tapi malah tersesat.


Ia melirik nonanya yang masih saja belum bangun, ia kembali melangkah dan sesuatu terjatuh dari kantung jas Zujy.


Kotak itu terjatuh dengan banyak obat keluar berhamburan, lelaki itu terkejut dan meneliti obat itu dengan matanya.


"Obat tidur?!" ucap Chris terkejut dan menatap Zujy.


Pantas saja nonanya tidak terbangun dari tadi.


"Loh? Chris?" ucap seorang wanita membuat Chris segera melangkahkan kakinya agar menutupi obat itu.


Ia berdiri menghalangi pandangan wanita yang tengah berjalan menghampirinya dengan kakinya.


"Zui? ternyata kalian di sini," ucap Runi menatap heran Zujy yang tertidur di gendongan Chris.


"Nona tidak kunjung bangun jadi saya berniat menggendong ke kamar nona! Saya tidak ada maksud lain!!" tegas Chris dengan keringat yang mulai bercucuran.


"Mmm, tidak biasanya Zujy sulit dibangunkan."


"Ayo, biar aku antar ke kamar Zujy," ucap Runi lagi.


"Maaf merepotkan nyonya Dirni!!" ucap Chris dengan lantang mengikuti Runi yang berjalan di depannya.


Ia melirik obat itu dan meninggalkannya di situ, ia tidak bisa mengambilnya karna tangannya menggendong Zujy.


Langkah wanita di depannya terhenti membuat langkahnya juga terhenti, tatapan mereka menatap lelaki tinggi yang memakai jas berjalan mendekat.


Lelaki itu dengan tatapan dinginnya menyodorkan kedua tangannya pada Chris.


Chris hanya menatapnya heran, ia juga tidak pernah melihat lelaki di depannya ini.


"Hei, apa harus kuperintah?!" tanya lelaki itu mengerutkan alisnya.


Chris terkejut melihat anting lelaki itu, anting khas dari keluarga Dirni.


"Maafkan saya!"


Chris mulai tahu apa yang diinginkan lelaki di depannya, ia memberikan Zujy pada lelaki itu.


"Kau bukanlah orang yang pantas menyentuh kakak," ucapnya dingin dan mengalihkan pandangannya pada Runi.


"Maafkan saya karna mengganggu anda, saya izin pamit ibu," ucapnya berjalan menjauh sembari menggendong Zujy.


"Kau pasti belum pernah melihat Arka ya?" ucap Runi menatap Arka yang berjalan menjauh.


"Lebih baik kau berhati - hati pada Arka, sikapnya itu sempurna bagi keluarga Dirni."


Chris menatap Runi dan kembali menatap Arka.


"Kalau kau melakukan satu kesalahan di depannya mungkin saja saat itu kau akan dikubur," kekeh Runi menatap Chris.


"Sekarang pulanglah, jangan berlama - lama di sini. Ikuti saja jalanmu tadi bisa sampai di sini untuk keluar."


Chris segera berpamitan dan melangkah pergi, ia kembali berjalan ke tempat obat tadi terjatuh namun obat itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.


Arka membaringkan kakaknya di kasur king size itu dan berdiri menatap kakaknya.


"Sifatku sekarang pantas untuk menemui kakak," ucapnya memberantakan rambutnya yang tadinya rapi.


"Tapi aku tidak ingin bersikap seperti ini dihadapan kakak, aku juga tidak pernah menyesali perbuatanku dulu. Karna faktanya kakak bebas setelah perbuatanku itu."


Ia duduk di kursi sembari terus menatap kakaknya.


"7 tahun."


Beberapa jam kemudian Zujy terbangun, ia menatap langit - langit yang sangat familiar.


Ketika ia mulai duduk, sakit menyerang kepalanya namun tidak lama.


"Bisa mengubah sifat," gumam Zujy dan tanpa sengaja menatap lelaki yang tertidur di sofa dekat ranjangnya.


"Siapa?!" gumam Zujy turun dari kasur dan terkejut melihat wajah yang dulunya imut sekarang menjadi begitu tampan dan dewasa.


"Alasanku datang ke sini karna mau melihatmu," gumam Zujy tersenyum hangat.


"Tapi aku tidak mau menganggumu tidur," kekeh Zujy berjalan pergi dan terkejut karna tangannya di tahan.


Sebuah pelukan hangat terasa, gadis itu merasakan punggungnya menjadi basah.


"Kenapa kau menangis? sekarang umurmu 17 tahun kan?" Kekeh Zujy ingin mengelus pundak Arka namun terhenti.


Ia bahkan merasa tubuhnya seperti anak kecil di peluk Arka.


Gerakan tangannya kembali mengelus Arka.


"Maafkan aku, aku menyesali perbuatanku saat itu. Aku memang sangat bodoh! aku berlagak seperti orang dewasa tapi malah mencelakaimu," isak Arka sama sekali tidak melepas pelukannya.


"Ya, kau memang bodoh," balas Zujy dengan tatapan dinginnya.


"Itu kenyataan, kalau aku mengatakan kau tidaklah bersalah itu kesalahan bagiku. Tapi sekarang kau berbeda kan?" ucap Zujy lagi.


Arka melepaskan pelukannya dan mengangguk menatap kakaknya.


Zujy membulatkan matanya, pipinya memerah.


'Ganteng sekali, bisa - bisa aku jatuh cinta pada adikku sendiri' ucapnya dalam benak memalingkan wajahnya.


"Ternyata kakak bisa menangis juga," ucap anak lelaki di pintu menatap kedua orang itu.


Tatapan mereka menatap anak lelaki itu, Zujy tersenyum bahagia dan berlari memeluk anak itu.


"Iaan!!!" seru Zujy memeluk Ian namun Ian hanya terdiam dengan wajah datarnya.


"Aku merindukanmu," ucap Zujy.


"Kita baru saja bertemu 3 hari yang lalu tapi kakak sudah rindu lagi?"


Zujy melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya.


Anak lelaki itu tersenyum, ia adalah adik kedua Zujy. Bryan Dirni, anak ketiga di keluarga Dirni dari Agler dan Runi. Rambutnya pirang dan bermata biru, sangat mirip dengan ayahnya dan sekarang berumur 7 tahun.


Arka kembali merapikan rambutnya dan berjalan mendekati adiknya.


"Kau bolos pelajaran lagi?" tanya Arka dengan tatapan dinginnya.


"Tidak," gumam Ian mengalihkan tatapannya.


"Jangan berbohong! di umur 7 tahun seharusnya kau sudah bisa menguasai 5 bahasa," ucap Arka.


"Aku tidak suka belajar!! Ini terlalu gila! Belajar 5 bahasa di saat yang sama terlalu gila!!" bentak Ian.


"5 bahasa itu terlalu..." ucap Zujy menatap adiknya.


"Ya kan! Kakak juga berpikiran seperti itu kan?!" tanya Ian memegang pundak Zujy.


"Itu terlalu mudah, di umur 7 tahun kakak belajar 10 bahasa sekaligus," kekeh Zujy membuat lelaki kecil itu terkejut.


"Aku juga, kau harus bersyukur karna diberi kemudahan. Jangan membolos lagi!" ucap Arka membuat Ian tambah terkejut.


"Dasar kalian monster jenius!!" teriak Ian berlari pergi.


Zujy hanya tertawa dan melirik Arka.


"Sikapnya itu tidak akan bertahan lama," ucap Arka berjalan mengikuti Ian.


.


.


.


Esoknya, Irine dan keempat lainnya kini berada di dalam pesawat pribadi Yoel.


Irine sibuk menatap laptopnya begitupun dengan ke empat lainnya.


"Pertemuan tahun ini diadakan di kapal pesiar," ucap Irine dengan tangan yang tidak henti mengetik.


"Aku sudah mengurusnya, kau akan datang sebagai teman undangan Irine," ucap Yoel yang juga tidak henti mengetik.


"Tidak jadi pelayan?" tanya Reihan dan Irine menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya, itu pertemuan apa?" tanya Reihan.


"Hanya pesta biasa."


"Kita akan menginap di kastil keluarga Charles, Zujy juga sudah di sana menunggu kita. Malam ini kita akan pergi ke lokasi pertemuan itu," jelas Yoel mematikan laptopnya.


"Kita akan di sana selama 3 hari, kau sudah mengatur hari liburmu kan?" tanya Irine dan Reihan mengangguk.


Irine melirik Hida yang terus memegang tangan Reihan.


"Maaf ya Hida, kami tidak bisa mengajakmu. Mengajak Reihan saja sangat susah."


Hida menatap Irine dan tersenyum.


"Selama kami pergi kau tinggal saja di kastil, kau aman di sana," ucap Irine dan Hida hanya tersenyum.


Sedangkan Leo hanya terus terdiam, mendengar lagu di headsetnya.


Bersambung.