
Irine melirik sekitar, mereka berada di bawah pohon besar. Irine tahu ia sering mengajak Yoel ke sini namun sekarang kenapa Yoel mengajaknya ke sini. Apakah ia ingin mengajak Irine bermain game?
Irine kebingungan dengan raut wajah Yoel yang serius menatapnya, padahal beberapa hari ini Yoel menjauhinya namun sekarang malah membawanya ke sini, ataukah ia ingin meminta maaf karna menjauhi Irine?
"Kenapa?" Irine menatap heran wajah Yoel yang seiring waktu semakin memerah sembari menundukkan wajahnya.
Yoel memegang tangan Irine lalu menatapnya, wajah Irine sedikit memerah dengan tatapan Yoel.
"Aku ... aku."
"Aku?"
"Mm, Rin, ayo datang ke rumahku."
"Hah!?"
Irine melepas tangan Yoel. "Kau bilang kau sering datang ke sini walau bukan jam sekolah, jangan datang ke sini lagi selain jam sekolah, datang ke rumahku saja. Di rumahku ada jaringan Internet."
Irine terdiam semakin kebingungan, ia hanya tidak menyangka Yoel akan mengatakan hal ini.
'Jadi, kau menjauhiku hanya untuk mengatakan ini?' Irine bergumam dalam hatinya lalu tersenyum lebar menunjukkan giginya dan merangkul Yoel.
"Jadi ini? Seharusnya langsung bilang saja, jangan ragu - ragu hhhh."
Yoel tersenyum, ia hendak mengelus kepala Irine namun terhenti, ia menyimpan kembali tangannya ke saku celananya.
'Ternyata, aku belum sanggup Zui, maafkan aku.'
"Baiklah, aku akan datang sepulang sekolah ini."
Irine merangkul lengan Yoel lalu berjalan dengan senyuman di wajahnya.
Sepulang sekolah.
"Yoel." Irine berlari menghampiri Yoel yang berdiri di samping gerbang sekolah menunggunya.
"Aku tidak menemukan Zui," ucap Irine berjalan di samping Yoel.
"Tidak apa. Kita berdua saja."
Irine terdiam namun terus tersenyum hingga sampai di depan rumah Yoel.
"Villa?"
Yoel berjalan masuk di luan di ikuti Irine, Irine baru mengetahui jika ada villa keluarganya di desa ini.
"Bagaimana bisa ada jaringan internet di sini?" Irine duduk di sofa setelah melihat Yoel duduk di sana, ia duduk di samping Yoel.
"Kau putri keluarga Charles mustahil gak mengetahuinya."
Irine menatap Yoel heran, menunggu Yoel memberitahunya karna ia benar - benar tidak tahu.
"Kau gak tahu?"
"Tidak."
"Wifi pribadi keluarga Charles, tersambung langsung dari satelit keluarga charles. Jaringan pribadi keluarga charles ada di semua hp anggota keluarga charles, tapi aku meminta kakak untuk membuat wifi pribadi di villa ini."
Irine termenung mendengar penjelasan Yoel, ia benar - benar baru tahu tentang jaringan pribadi ini.
"Apa keluarga kita sekaya itu?"
Yoel menatap heran Irine, padahal Irine putri keluarga charles namun tidak mengetahui hal sepele ini.
"Sekaya itu, sampai mempunyai banyak pulau pribadi, banyak rumah di berbagai negara, banyak cabang perusahaan, satelit pribadi, banyak pesawat pribadi, dan masing - masing anggota keluarganya mempunya lebih dari 10 black card. Masih banyak lagi kekayaan keluarga charles, kau mau tahu apa lagi?"
Irine terkejut sendiri mendengar perkataan Yoel yang berbicara tentang kekayaan keluarga mereka dengan santai.
"Wah, t ernyata sekaya itu. Tapi aku sudah tahu semua itu kecuali satelit."
"Padahal kau pernah tinggal di kastil keluarga charles di inggris tapi malah tidak tahu ada jaringan pribadi."
"Saat itu aku masih kecil, aku terlalu sibuk belajar jadi tidak menyadarinya."
"Berbeda denganmu yang setiap hari berada di kastil," ucap Irine lalu berdiri.
"Kemana?"
"House tour villa ini."
Yoel tersenyum lalu menuntun Irine menjelajahi villa berlantai empat itu, namun tidak sesepi yang dibanyangkannya karna banyak pelayan yang tengah bekerja.
"Sudah kuduga, mustahil kau tinggal sendiri di sini." Irine memasuki dapur Yoel, namun sama sekali tidak menemukan koki di sana.
"Aku bisa tinggal sendiri kalau aku mau, ini dapur pribadiku jadi tidak ada koki."
"Owh." Irine duduk di salah satu kursi di meja kecil yang sengaja di letakkan di dapur tersebut.
"Kau belum makan kan? Aku akan buatkan." Irine melirik Yoel yang mulai memasak.
Irine berniat membantu namun Yoel melarangnya dan menyuruhnya duduk sembari menikmati jaringan pribadi itu.
Setelah beberapa saat makanan yang dibuat Yoel telah jadi dan mereka segera memakannya, ditengah makan mereka sama sekali tidak berbicara karna adat keluarga mereka.
Irine baru memulai pembicaraan setelah selesai makan. "Yoel ... apa kita memang harus pergi Inggris?"
Yoel menatap Irine yang menundukkan wajahnya. "Inggris kampung halaman kita, apa kau tidak merindukannya?"
"Kau juga harus melihat kakakmu, kita bisa bertemu Zui kapan saja walau kita di Inggris." Irine terkejut dengan perkataan Yoel lalu menatapnya lekat.
"Yah, Zui juga akan meninggalkan negara ini dan menetap di Amerika. Bagaimanapun juga dia pewaris keluarga Dirni."
Entah bagaimana topik pembicaraan mereka berubah, keduanya terlihat bahagia menantikan masa kuliah mereka dan setelah kuliah mungkin saja mereka akan menjadi model.
"Besok mau ikut lari pagi?" tanya Irine sembari menatap hpnya.
"Iya."
"Oke jam 6 pagi ya."
.
.
.
Zujy berjalan melewati pagar, ia baru ingin pulang setelah berdiam diri di ruangan pribadinya bersama Reihan yang sekarang berjalan di sampingnya.
Wajahnya memerah karna menangis di hadapan Reihan, namun ia sedikit merasa nyaman saat meluapkan perasaannya pada Reihan.
"Pasti Yoel sudah menyatakan perasaannya."
Reihan melirik Zujy, ia juga pertama kalinya bersikap hangat pada seseorang. Ia dibesarkan tanpa ibu, ia sangat bangga pada Ayahnya yang sangat bekerja keras menghidupinya makanya ia juga bekerja keras untuk belajar dan akan menjadi orang kaya di masa depan nanti. Hidup mereka sangat terpenuhi berkat majikan Ayahnya yang sangat baik keluarga mereka, ia juga mengagumi tuan besar itu, walau sikapnya begitu dingin dan mudah marah namun bisa menghandle sebuah perusahaan besar, begitupun dengan sosoknya yang dikagumi banyak orang.
Reihan sedikit canggung dengan Zujy yang menceritakan semua perasaannya pada Yoel, ia tidak tahu akan menanggapi cerita Zujy jadi hanya diam sampai sekarang.
"Zui!!" Leo berjalan di samping Zujy sembari merapikan rambut Zujy yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
Ting
Sebuah pesan masuk ke hp Zujy, ia membukanya dan terkejut dengan isi pesan dari Irine yang mengatakan kalau dia sekarang berada di rumah Yoel dan Yoel ingin ikut lari pagi besok.
"Lari pagi?? Aku ikut Zui!!" ucap Leo dengan nada semangatnya seperti biasa.
"Tidak sopan mengintip hp orang lain." Zujy membalas iya lalu menyimpan kembali hpnya di saku jasnya.
"Aku juga ikut." Zujy melirik Reihan, ia sama sekali tidak bisa menolak karna telah merepotkan Reihan tadi.
"Baiklah, jam 6 pagi berkumpul di depan gerbang sekolah."
Bersambung.
terimah kasih sudah membaca