
"Pohon - pohonnya sangat besar," gumam Zujy melangkah dengan hati - hati.
Mata Yoel tidak henti mencari keberadaan Irine, ia sedikit curiga melihat pohon - pohon yang begitu besar yang seakan melindungi sesuatu, ia berjalan mendekati pohon itu dan mengelilinginya hingga terdapat jalan masuk ke dalam dari sela - sela pohon.
Ia mengintip ke dalam dan menemukan sebuah mansion yang sudah ditinggalkan, ia melangkahkan kakinya masuk dan itu di lihat seluruh orang di sana.
Tatapan Yoel tidak henti menatap mansion itu, ia seketika teringat foto ayah dan ibunya yang pernah tinggal di sebuah mansion di Indonesia.
Seluruh pengawal itu masuk mengikuti Yoel dan juga terkesima dengan mansion yang terlihat tidak lama ditinggalkan. Para ketua pengawal langsung mengerahkan seluruh pengawal menyebar ke luar dan dalam mansion.
Langkah Yoel semakin cepat, ia berlari masuk ke dalam mansion itu terlebih dahulu membuat Zujy berteriak memanggil Yoel.
Lelaki itu menemukan sebuah ruangan yang terang, ia berjalan masuk dan menemukan Rini yang tengah berdiri menghadap obor yang menyala terang, tatapannya menjadi marah ia memukul Rini dan tidak peduli kalau Rini adalah perempuan.
"DIMANA IRINE!!!" teriak Yoel dan BOMD!!!seketika seluruh ruangan menjadi panas, api di mana - mana.
Di sisi lain Irine yang baru saja keluar dari pintu belakang mansion, ia bersembunyi di semak - semak untuk beristirahat sebentar sembari berusaha menyalakan hpnya namun selalu tidak bisa.
Tatapannya seketika beralih ke dalam mansion kala ia mendengar suara Zujy memanggil nama Yoel, ia berdiri dan terkejut mendengar suara yang begitu besar, sesuatu sepertinya meledak.
Ia melangkah begitu cepat masuk ke mansion dengan perasaan khawatir. Ia memasuki ruangan itu dan terkejut menatap Yoel dan Zujy berdiri di depan kobaran api yang besar.
"Zui!! Pegang tanganku!!" teriak Leo menyulurkan tangannya namun tatapan Zujy melekat ke Irine.
"Syukurlah," gumam Zujy meneteskan air mata yang segera menghilang di panasnya api.
Rini terlihat menarik tangan Yoel ke kobaran api sembari menatap licik Irine, Irine langsung saja berlari menahan tangan Yoel membuat lelaki itu sadar kalau Irine ada di sana.
Yoel menepis kasar tangan Rini membuat Rini hampir terjatuh ke kobaran api itu kalau tidak menarik tangan Zujy, keduanya terjatuh. Sebuah api terkena baju Rini begitupun dengan rambut Zujy.
Leo dengan cepat mematikan api itu dengan tangannya dan berhasil, ia menggendong tubuh Zujy dan berlari pergi diikuti Yoel dan Irine.
Ditengah larian mereka seluruh pengawal baru ingin masuk untuk menyelamatkan mereka.
"Masih ada orang di dalam!!" ucap Irine membuat seluruh pengawal itu berlarian masuk.
Kobaran api mulai menyebar ke seluruh mansion hingga pepohonan yang menutupi mansion itu, Reihan dengan cepat menghampiri Zujy.
"Zui, kau baik - baik saja kan?" tanya Reihan khawatir dan Zujy mengangguk.
Zujy malah lebih mengkhawatirkan Leo dari pada dirinya sedangkan Yoel menggendong Irine dan berlari keluar dari hutan begitupun dengan lainnya.
Irine, Yoel, Irine dan Leo masuk ke dalam mobil dan Reihan yang mengemudi.
Seluruh pengawal berlari ke mobil masing - masing, dan Rini berhasil di selamatkan, ia kini bersama Pak Fin dan pengawal lainnnya.
Irine menatap khawatir Zujy yang rambutnya kini sepanjang pundak karna terbakar tadi.
"Irine, kau baik - baik saja kan?" tanya Yoel khawatir dan Irine menatapnya.
Irine mengeluarkan air mata begitupun dengan Yoel, gadis itu mengangguk pelan dan Yoel memeluknya erat.
"Syukurlah," gumam Yoel namun di dengar Irine.
Zujy terus menatap tangan Leo yang membekas terbakar tadi, air matanya terus mengalir.
"Tidak apa - apa," ucap Leo memeluk Zujy.
Zujy hanya terdiam dan membalas pelukan Leo.
Reihan melirik cermin mobil dan menjadi kesal namun sekaligus sedih.
.
.
.
Irine kembali ke keluarganya lagi, kedua orang tua itu memeluk Irine dengan erat dan merasa bersyukur Irine baik - baik saja.
Rini diberi hukuman dipenjara, ia terlihat seperti menggila, di punggungnya terdapat luka bakar bekas kebakaran di mansion.
Yoel berjalan masuk ke kamar Irine, ia melihat Irine yang tengah memainkan laptop. Kini Andre menyuruh Irine untuk tinggal bersama Yoel di Villa sembari menunggu hari kelulusan namun berbeda dengan Zujy, ia tetap berada di kosannya karna mungkin saja ini akan menjadi terakhir kalinya ia tinggal di kosan itu.
Irine melirik Yoel yang duduk di sampingnya.
"Aku lagi cari universitas yang bagus," ucap Irine tetap fokus ke laptopnya.
"Tentang Rini, dia adalah adik Gion dan tujuan dia menculikmu ingin membalas dendamnya."
Gerakan tangan Irine terhenti.
"Lebih tepatnya Rini anak ketiga dan Nafia adalah anak kedua, Nafia sama sekali tidak terlibat dalam kasus ini tapi Rini selalu menyebut kakaknya," ucap Yoel lagi.
"Selama tiga hari itu Rini sama sekali tidak menyakitiku, dia terus menunggu kakaknya," ucap Irine mengepal tangannya dan meletakkannya di dada.
"Bagaimana lukamu? Apa masih sakit?" tanya Yoel dan Irine menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Yoel! Aku hampir lupa mengatakannya, aku dan Zui mau satu universitas, kau juga harus!" seru Irine menatap Yoel.
Yoel tersenyum dan mengangguk. "Aku akan terus bersamamu," ucapnya mendekatkan wajahnya ke wajah Irine.
Wajah Irine dan jantungnya berdetak cepat, ia menutup matanya dan cup.
Bibir mereka bersatu, ciuman yang begitu lembut.
.
.
.
"Saya sudah memikirkannya, saya akan membatalkan pertunangan itu!" tegas Reihan membuat Agler memicingkan matanya.
"Alasanmu?" tanya Agler.
"Ada seorang yang lebih pantas dari saya untuk Nona dan saya rasa ini hidup Nona, ia berhak memilih siapa yang akan menjadi pendampingnya dan saya sadar, bukan saya yang dipilih!"
Agler tersenyum tipis.
.
.
.
Zujy memegang tangan Leo dan terus menatap tangan Leo yang sudah di perban.
"Mungkin bekasnya tidak akan bisa hilang," ucap Zujy sedih.
"Tidak apa Zui, aku bahkan rela kehilangan nyawaku untukmu....," ucap Leo dan mulutnya di tutup Zujy.
"Jangan berkata seperti itu! kalau kau tidak ada aku juga!"
Leo terkejut dan melepas tangan Zujy dari mulutnya. "Tidak, kau harus tetap hidup."
Gadis itu menggeleng - gelengkan kepalanya dan Leo hanya terdiam lalu mengelus pelan kepala Zujy.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu dengan rambut pendek," kekeh Leo.
"Kenapa?! Kau tidak suka?"
"Aku suka."
Zujy tersenyum dan pintu ruangan mereka dibuka seseorang, Reihan masuk dan menatap kedua pasangan itu.
"Tuan ingin bertemu denganmu," ucap Reihan membuat wajah Leo menjadi serius.
Leo mengangguk dan berjalan pergi namun Zujy menahannya.
"Aku percaya padamu," ucap Zujy sebelum Leo menghilang dari hadapannya.
Reihan mendekat dan Zujy menatapnya.
"Zui, izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya," ucap Reihan.
Beberapa saat Zujy hanya terdiam lalu mengangguk.
"Kita masih bisa berteman kan?" tanya Reihan memeluk erat Zujy.
"Iya."
Reihan memeluk tubuh Zujy begitu lama, ia harus kehilangan cinta pertamanya. Kini ia tahu bagaimana perasaan Zujy ketika harus meninggalkan Leo.
'Ternyata begitu sakit,' ucap Reihan dalam benaknya.
Di sisi lain Leo telah berdiri di hadapan Agler.
Agler menatapnya wajah serius Leo.
"Kau benar - benar mencintai anakku?" tanya Agler.
"Iya! sangat!"
Jawaban Leo membuat Agler tertawa kecil.
"Aku tidak menyangka hari ini akan datang juga, ketika anak perempuanku bisa melawan perintahku dan mencintai lawan jenisnya," kekeh Agler membuat Leo terkejut.
Leo pertama kalinya melihat Agler tersenyum seperti itu, senyumannya dipenuhi kesedihan.
"Baiklah, aku akan membatalkan pertunangan itu kalau kau bisa memasuki universitas yang sama dengan Zujy, aku yakin anakku akan memilih universitas yang tinggi untuk bekalnya dalam perusahaan ini."
Leo mengerutkan keningnya dan mengatakan. "Lalu bagaimana dengan perusahaan Dirni? Apa Zujy akan menanggung dua perusahaan?" tanya Leo.
"Ternyata nyalimu besar juga, aku bisa saja berubah pikiran," ucap Agler tersenyum tipis.
"Aku akan melanggar aturan itu untuk Zujy, maka itu kau harus masuk ke universitas dengan Zujy dan menjadikan dirimu pantas untuk anakku," tambah Agler.
Leo menelan ludahnya sendiri, apa ia bisa menjadi seperti itu?
"Kau tenang saja, aku akan membiayai semua kebutuhanmu."
Leo terus menatap luruh ke depan, ia harus bisa!
"Baik! Saya tidak mengecewakan anda!" tegas Leo.
"Tapi kalau gagal semuanya akan percuma, Zujy akan kembali bertunangan dengan Reihan."
Leo mengangguk, pembicaraan mereka telah berakhir. Leo berjalan keluar.
"Jangan mengecewakan Zujy," ucap Agler menghentikan langkah Leo.
Leo kembali berbalik menatap Agler yang berdiri menatapnya datar.
"Saya janji!" ucap Leo dengan lantang.
Bersambung.