
Seperti biasa Zujy tengah duduk di kursinya sembari membaca buku namun ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, ternyata Leo sekelas dengannya, bagaimana bisa ia tidak menyadarinya sebelumnya.
Beberapa hari ini ia sangat terganggu dengan kehadiran Leo yang terus mengikutinya kemanapun bahkan ia harus mengajari Leo sebelum jam pulang. Ia melirik Leo yang duduk tidak jauh darinya dengan tajam, ia takut apakah dengan keberadaan Leo identitasnya akan ketahuan? Zujy bahkan tidak menyadari guru telah masuk karna terus berada di dalam hayalannya.
"Anak - anak kita kehadiran murid baru." Lelaki masuk dengan gagahnya membuat para murid tidak berhenti menatapnya.
"Perkenalkan nama saya Yoel Charles, pindahan dari Inggris." Wajah lelaki itu benar - benar seperti bule asli walau dia benar bule asli namun sangatlah tampan.
Yoel melirik satu persatu murid dan tatapannya terhenti ke gadis yang tengah melamun menatap buku.
"Yoel ini sangat pintar jadi bahasa kita sudah dikuasainya, jadi jangan sungkan berbicara padanya," ucap guru tidak henti membuat para murid perempuan berbisik - bisik dengan teman sebangkunya.
"Kalau begitu untuk membantu Yoel berkeliling dan memperkenalkan sekolah kita saya serahkan ke ketua kelas," ucap Guru.
"Ketua kelas izin hari ini," ucap salah satu murid mengangkat tangannya.
Seluruh murid mulai heboh memperebutkan siapa yang mengantar Yoel berkeliling namun seketika terhenti saat Yoel tersenyum dan berkata. "Kalau begitu apa boleh Zui yang mengantar saya berkeliling? Kebetulan dia di kelas ini juga."
Berbeda dengan murid lain yang berbisik - bisik, Zujy terkejut mendengar "Zui" pasalnya itu adalah nama panggilan dari orang terdekatnya. Ia melirik ke depan dan semakin terkejut melihat Yoel yang dulunya adalah Cinta pertamanya dan mungkin saja sekarangpun ia masih mencintainya berdiri sembari tersenyum hangat kepadanya.
Leo yang mendengar "Zui" hanya menatap tajam Yoel.
"Zui?" tanya Guru.
"Oh, namanya Zujy Di-" ucapan Yoel terhenti saat Zujy menyela perkataanya.
"Ha - Hai Yoel," sapa Zujy membuat seluruh murid menatapnya.
"Siapa dia?" bisik - bisik para murid heran menatap Zujy.
"Lama tidak bertemu Zui." Zujy hanya bisa tersenyum dengan jawaban Yoel.
Sejujurnya ia ingin menangis saat itu karna berani menyela seisi kelas, bahkan tubuhnya tidak berhenti bergetar karna ketakutan.
Yoel duduk di kursi kosong di samping Zujy setelah dipersilahkan guru untuk duduk.
"Zui, kenapa penampilanmu?" tanya Yoel.
"Ayah menyuruhku," balas Zujy menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Bahasa indonesiamu bagus juga."
Yoel terkekeh dengan perkataan Zujy dan memperhatikan wajah Zujy beberapa saat.
.
.
.
Jam istirahat
Seorang lelaki menghampiri Irine yang tengah berbincang dengan Hida dan Riska, lelaki itu mengajaknya ke suatu bawah pohon yang berumorkan banyak pasangan yang bersama jika menyatakan cintanya di sana.
Irine hanya mengikuti lelaki itu dari belakang, ia sebenarnya tahu tujuan lelaki itu dan segera menghentikannya karna dia tidak akan bisa menerima lelaki itu bagaimanapun juga.
"Apakah tidak bisa di sini saja?" Lelaki itu berbalik menatap Irine.
"Tidak bisa, ini penting."
"Kalau kau tidak mau mengatakannya di sini aku akan pergi, aku tidak bisa membuang waktuku sia - sia hanya untuk pembicaraan tidak berguna," ucap Irine dingin sembari melipat tangannya di bawah dadanya.
Lelaki itu hanya terdiam sembari mengepal tangannya lalu dengan gugup mulai berbicara.
"Aku mencintaimu, kumohon jadilah pacarku," ucap Lelaki itu menundukkan badannya sembari menunggu jawaban Irine.
Dirinya terkejut mendengar suara tertawa walaupun hanya lewat seperti angin kecil, ia melirik Irine dan semakin terkejut saat melihat mimik wajah Irine yang dingin.
Lelaki itu hanya terus mengepal tangannya sembari dengan cepat berjalan menjauh menyembunyikan rasa malunya dan perasaan kesalnya pada telapak tangannya.
"Kau bahkan tidak berani menjawab perkataanku dengan percaya diri."
Irine tersenyum tipis membalikkan badannya dan terkejut melihat Yoel dan Zujy.
"Kau? Yoel kan?"
Irine seketika memeluk lelaki itu setelah mendapatkan balasan anggukan Yoel, Yoel membalas pelukan itu dengan hangat tersenyum bahagia.
Zujy menatap sedih Yoel karna selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan dan ia tahu betul Yoel mencintai Irine dengan tulus dan tidak akan pernah berubah. Ia mulai tersenyum menyembunyikan perasaanya dalam - dalam karna hanya itulah yang bisa dilakukannya dan juga ia sudah terlatih melakukannya.
"Reuniannya gak ngajak - ngajak," ucap Zujy lalu dengan cepat Irine menenggelamkannya dalam pelukannya bersama Yoel.
Leo yang melihat dari kejauhan hanya memasang wajah datar, entah kenapa ia selalu tau arti dari mimik wajah Zujy walau sudah lama tidak bertemu. Leo berjalan pelan mendekati ketiga manusia itu berniat ingin mengejutkan mereka.
"Cinta segitiga?" Ketiga manusia itu segera melepaskan pelukannya setelah mendengar perkataan Leo.
Leo sekilas menatap tajam Yoel lalu menarik pergelangan tangan Zujy meninggalkan Yoel yang menatapnya heran.
"Rin, kau gantikan aku mengajak Yoel berkeliling sekolah," teriak Zujy sebelum benar - benar hilang dari hadapan keduanya.
"Siapa dia?" tanya Yoel.
"Dia lelaki itu," balas Irine berjalan di samping Yoel.
"Apa masih karna masalah itu Om Agler menyuruhnya menyembunyikan identitasnya?" Yoel terdiam setelah Irine menganggukan kepalanya.
Walau ia hanyalah lelaki asing yang tiba - tiba masuk ke kehidupan kedua gadis ini ia tahu betul kejadian buruk yang menimpa Zujy.
"Kenapa kau ke Indonesia? dan lagi bersekolah di tengah hutan begini?" tanya Irine melirik Yoel.
Yoel adalah salah satu lelaki yang bisa Irine perlakukan dengan baik selain keluarganya mungkin karna Yoel sudah dianggap keluarganya sendiri padahal dulunya hanya anak berusia 5 tahun yang ditemuinya sendiri menangis di pemakaman di Inggris dan menjadi dekat karna Ayahnya mengadopsinya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang menyelamatkanku," ucap Yoel.
Namun perasaan sedih muncul di hati Irine.
"Sebenarnya ada kejadian buruk menimpaku saat kami kembali ke Indonesia," ucap Irine dan tentunya membuat Yoel terkejut.
Ia sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada kejadian buruk menimpa Irine, apakah Ayah Irine sengaja menyembunyikannya darinya?
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu Ayah tidak memberi tahumu ... aku melarangnya, aku ingin kau tahu langung dariku."
Yoel menghentikan langkahnya dan menatap serius Irine.
"Kalau begitu beritahu aku."
Irine menggeleng - gelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku ... sepertinya belum siap memberitahumu sekarang." Yoel sepertinya memaklumi perkataan Irine dengan mengelus pelan kepala Irine.
"Baiklah, tapi kau sudah tidak apa - apa kan?" tanya Yoel dan Irine mengangguk pelan.
"Itu, bagaimana dengan pekerjaanmu kalau kau ada di sini? menjadi model itu sangat sibuk."
"Kakak meliburkanku sampai lulus SMA, katanya aku harus menikmati masa muda," ucap Yoel dan Irine terkekeh, ia tidak menyangka kakaknya bisa berkata seperti itu padahal ia selalu mengutamakan pekerjaan.
"Yoel, tunggu sebentar aku akan mencari Zui sebentar, aku tidak bisa membiarkannya bersama lelaki itu terlalu lama," ucap Irine sebelum meninggalkan Yoel dan berjalan menuju pohon besar yang ia yakinkan Zujy berada di sana.
bersambung