
“Agika!”
Tiba-tiba doaku terkabul dengan cepat. Ada penyelamat yang berlari ke arah sini. Laki-laki berambut blonde. Sahabat baikku, Kazuma. Ia mencariku. Syukurlah bantuan datang. Kazuma segera menghampiriku.
“Hei, apa yang akan kalian lakukan pada Agika?!” Tanya Kazuma dengan tegas.
“Ada satu pengacau lagi?”
“Kazu, mereka memukul Hideki dan memaksanya ikut dengan mereka. Aku tak tahu masalahnya tapi Hideki sudah ....” Jelasku cemas.
“Pria ini?”
Kazuma pasti bingung kenapa aku sedang bersama Hideki sekarang. Ia melirik Hideki yang masih berusaha berdiri dengan susah payah.
“Hei, kalian segeralah menyingkir! Kami akan membawa tuan muda pulang.” Kata mereka.
“Tuan muda?” Kazuma juga heran.
“Kazu, bagaimana ini? Apa kita lapor polisi saja?”
“Kau tenang saja, Agika.”
Kazuma melepasku. Ia pelan-pelan berjalan mendekati mereka. Lalu ia memasang kuda-kuda seperti hendak berlatih tae-kwon-do. Ia bahkan masih memakai baju latihannya. Jangan-jangan Kazuma mau melawan mereka?
“Hei, kalian seharusnya tidak memaksa orang begitu.” Kata Kazuma.
“Ini perintah dari direktur. Kalian jangan ikut campur.”
“Direktur? Ah aku tak peduli apa masalah pria payah itu tapi dia tetap teman sahabatku. Aku juga pasti akan membantunya.”
“Kau mau menghalangi kami juga?”
“Tidak, tidak, tidak. Aku hanya ingin kalian pergi.”
“Beraninya kau ....”
Mereka berempat sedikit geram dengan Kazuma. Kazuma memang kelihatan menyebalkan kalau sudah sesombong itu. Mereka langsung mengepalkan tangannya dan berlari ke arah Kazuma. Kazuma tersenyum menyeringai.
“Ah baiklah, itung-itung latihan untuk persiapan lomba tae-kwon-do minggu depan.” Kata Kazuma santai.
Kazuma langsung melawan mereka. Ia menggunakan seluruh kemampuan tae-kwon-do nya untuk melawan orang-orang itu. Ia memang hebat. Hampir semua orang dipukul mundur olehnya. Setelah Kazuma merasa musuhnya sudah tak bisa berdiri, ia langsung menghampiriku.
“Agika, kau baik-baik saja?”
“Iya. Tapi Hideki ....”
Kazuma melirik Hideki yang masih berusaha bangun dengan susah payah. Wajahnya sudah lebam dan terdapat beberapa bekas pukulan. Ia terlihat kepayahan.
“Wah, belum sebulan kau disini tapi kau sudah punya teman-teman yang siap melindungimu, tuan muda.”
“Eh?”
Kazuma belum sempat mendekati Hideki tapi dibelakangnya muncul seseorang lagi. Aku dan Kazuma langsung melirik. Kali ini dia terlihat berbeda dibanding mereka yang berjas hitam itu. Pria manis berambut pirang. Umurnya sepertinya lebih tua hanya beberapa tahun dari kami. Ia memakai mantel, kacamata hitam dan topi baret. Penampilannya seperti orang luar negeri. Wajahnya pun wajah orang luar negeri tapi ia bisa lancar bicara dengan bahasa kami.
“Ma .... Maafkan kami, tuan Tadashi. Kami akan membawa tuan muda pulang. Tapi anak itu ....”
Seseorang dari pria berjas hitam itu mendekati orang asing bernama Tadashi. Dilihat dari gerak geriknya, Tadashi punya kedudukan lebih tinggi dari mereka. Mereka menundukkan pandangannya saat bicara dengan pria aneh itu. Tadashi langsung mengangkat tangannya dan memberi aba-aba.
“Pergilah. Biar aku yang urus.” Kata Tadashi.
Orang-orang itu akhirnya menuruti kata Tadashi. Hanya tersisa aku, Hideki, Kazuma dan pria aneh itu. Ia mendekat hingga Kazuma kembali memasang badan.
“Aku tahu kau jago berkelahi. Aku tak mungkin melawanmu.” Kata Tadashi pada Kazuma.
“Kalau kau boss dari mereka, aku juga tak akan segan-segan melawanmu.”
“Oh, tapi tuan muda di belakangmu itu adalah atasanku juga. Lalu bagaimana?”
“Eh?”
“Aku tak suka memakai kekerasan seperti mereka. Aku hanya ingin bicara dengan tuan mudaku.”
Pria itu makin mendekat. Meskipun bilang begitu, ia kelihatannya tak takut kalau Kazuma akan menyerangnya. Pria ini berbeda. Pembawaan tenangnya justru membuatku lebih khawatir.
Aku membantu Hideki berdiri tapi ia menolak. Sejak pria bertopi baret itu datang, Hideki sangat terkejut. Kelihatan sekali kalau mereka saling kenal.
“Tadashi, untuk apa kau kemari?” Tanya Hideki tiba-tiba.
“Ah, tentu kau tahu kenapa aku jauh-jauh dari Jerman langsung kesini. Siapa lagi yang bisa menyuruhku kalau bukan direktur.”
“Aku tak akan pulang.”
“Ya, ya. Aku mengerti, tuan muda. Tapi jawaban seperti itu tak akan di terima direktur. Kau mengerti kan?”
“Aku tidak peduli.”
“Aku juga. Tapi kau pasti tahu kenapa direktur sampai menyuruhku kesini.”
“Eh?!”
Wajah Hideki tiba-tiba pucat. Ia sepertinya mulai menyadari sesuatu. Pria bernama Tadashi itu juga sedang serius membicarakan ini. Meskipun aku tak mengerti, aku tetap penasaran. Terutama soal Hideki. Soal direktur yang ia bicarakan itu. Dan soal pria ini.
“Direktur masih berbaik hati padamu. Jangan sampai direktur benar-benar kesini, tuan muda. Kau sudah tahu apa yang akan terjadi kan?”
“Kau .... Ukh!”
“Hideki!” Kataku cemas.
Hideki tiba-tiba memegangi kepalanya. Ia kesakitan. Sama seperti saat di ruangan guru Oshin. Aku dan Kazuma langsung kaget. Kenapa setiap kali membicarakan soal ayahnya ia selalu kesakitan? Seperti memikirkan sesuatu yang berat? Aku langsung menolongnya.
“Eh? Apa kau belum sembuh, tuan muda?” Tanya Tadashi lagi.
“Aku .... Aku perintahkan kau untuk pulang, Tadashi.”
“Sayangnya kau tak bisa memerintahku, tuan muda.”
“Pergilah!”
“Kau ingin direktur yang kesini menanganimu sendiri?”
“Ukh!”
“Hi .... Hideki, kau kenapa?” Tanyaku panik.
“Jangan sentuh .... Ukh!”
Sejak tadi ia terus mencengkeram kepalanya. Ia sudah tak peduli dengan lebam yang ada di wajahnya. Kepalanya lebih sakit. Tapi setiap kali aku ingin menolongnya ia menolakku.
Bruk!
Hideki tiba-tiba ambruk. Ia tak bisa menahan rasa sakit di kepalanya yang amat berat. Aku dan Kazuma langsung panik menolongnya.
“Hideki? Hei! Hideki?” Panggilku berkali-kali. Tapi dia tak merespon.
“Sepertinya dia pingsan. Kita bawa dia ke rumah sakit.” Kata Kazuma.
Aku hanya mengangguk. Aku sangat khawatir dengan kondisinya yang seperti ini. Baru pertama kali aku melihat pria dingin dan keras ini menjadi sangat lemah tak berdaya.
“Tidak usah. Aku dokter pribadinya. Dimana diantara kalian yang rumahnya paling dekat dari sini?”
Tiba-tiba pria yang berniat membawa Hideki pulang tadi menghampiri kami. Ia terus memperhatikan Hideki yang pingsan. Wajahnya berubah. Ia kelihatan lebih simpati pada Hideki. Benarkah pria semuda ini adalah dokter pribadi Hideki? Jadi siapa Hideki sebenarnya sampai harus dipanggil tuan muda? Anak direktur? Dan punya dokter pribadi semuda ini? Aku tak mengerti sama sekali.
***