Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 13



Pertandingannya sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Seperti dugaanku, lapangan sekolah menjadi sangat ramai. Semua perempuan di sekolah ini mungkin tak ada yang langsung pulang. Semuanya ingin melihat kedua pria tampan itu bertanding. Sedangkan aku? Aku bukan ingin melihat keduanya tapi aku datang karena Hideki memintaku datang. Ya meskipun aku memang sedikit merindukan permainan kak Matsu di lapangan.



Bicara soal Hideki, ia ternyata memang mahir bermain sepak bola. Mungkin sepanjang pertandingan ini dialah yang jadi pusat perhatian di tim kelas kami. Apalagi semua perempuan berteriak histeris melihat dirinya bertanding di lapangan. Saat ia menggiring bola, mencetak gol, menghadang lawan bahkan saat mengusap keringat, aku akui dia memang terlihat keren. Aku baru tahu ketika laki-laki berolahraga ternyata ketampanannya bertambah 1000 persen.



Tapi di kubu sebelah juga tak kalah keren. Pria berambut coklat kemerahan itu sangat menawan. Jika sepanjang pertandingan Hideki terlihat cool, sebaliknya kak Matsu sangat mempesona dengan senyumannya. Ia terlihat ramah pada siapa pun di lapangan. Aku melihat Ayumi di bangku penonton juga. Gadis cantik itu terus memperhatikan kak Matsu. Ternyata gosip itu benar. Mereka memang sedang dekat. Aku adalah salah satu dari banyak perempuan yang patah hati melihatnya.



Gooolll!


Aku terlalu fokus memikirkan perasaan patah hatiku hingga tak sadar kalau pertandingan sudah selesai. Diakhiri dengan gol indah dari Hideki. Tim kelas kami memenangkan pertandingan ini. Tak disangka. Semua tim kami kelihatan sangat senang dan memberi tepukan pada Hideki. Ah dia sudah bisa bergaul dengan baik. Syukurlah. Ini mungkin menjadi sejarah kelas kami karena menang melawan kakak kelas.



Aku melirik kak Matsu yang berjabat tangan dengan seluruh tim kelas kami seusai pertandingan. Ia tersenyum ramah dan kelihatannya tidak kecewa sama sekali. Tapi aku tak tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan. Kak Matsu adalah kapten tim sepak bola sekolah. Kemampuannya tak diragukan lagi. Ternyata ia bisa kalah oleh Hideki. Mungkin ini adalah kekalahannya yang pertama. Aku sedikit kecewa.



“Agika, kenapa kau melamun?”



Reiko datang bersama beberapa teman saat aku hendak pergi dari lapangan. Mereka teman satu ekskul OSIS sekolah. Sepertinya mereka sedang membereskan beberapa property yang dipakai saat pertandingan.



“Tadi seru ya pertandingannya!” Kata Reiko bersemangat.



“Iya.” Jawabku pendek.



“Sayang sekali kak Matsu kalah oleh Hideki. Padahal sedikit lagi. Ternyata pria sombong itu memang hebat.”



“Haha. Reiko, jangan begitu.”



“Kalau Agika mendukung siapa?” Tanya seorang teman Reiko.



Aku tersentak. Benar, aku kesini karena Hideki menyuruhku datang. Tapi aku menurutinya juga karena melihat kelas kak Matsu yang bertanding di jadwal. Sudah lama aku tak melihatnya. Tapi mendengar Hideki menang, perasaanku sangat senang. Ah tapi melihat kak Matsu kalah aku juga sedih. Kenapa aku bingung begini?



“Agika selalu melihat kak Matsu bermain.” Kata seorang lagi.



“Benarkah Agika?”



“Ah tidak juga!” Jawabku mengelak.



“Sayang sekali kak Matsu kalah. Aku tak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Ia tak pernah kalah sama sekali selama di klub sepak bola.”



“Be .... Benar juga.”



“Tapi Hideki memang berbakat sih.” Kata yang lain.



Aku hanya tersenyum kalau mereka menyinggung soal kak Matsu. Memang benar, sejak SMP aku selalu mengajak Kazuma menonton pertandingannya. Jarang sekali aku tak datang, sampai Kazuma bosan menemaniku. Tapi sejak gosipnya berpacaran dengan Ayumi tentu saja aku sudah ketinggalan berita dan jadwalnya bertanding. Bagiku itu sudah bukan kepentinganku lagi.



Senyumku tertahan saat seseorang sedang berdiri tak jauh dari tempat aku mengobrol. Aku melirik sedikit. Ah itu Hideki. Ia sendirian dan masih memakai pakaian olahraganya. Apa ia sedang istirahat lalu kesini? Apa ia mencariku?



Cukup lama aku memperhatikannya. Tapi wajahnya kelihatan tidak senang meskipun memenangkan pertandingan. Tatapannya juga berbeda padaku. Aku langsung meminta ijin pada Reiko dan lainnya untuk pergi menemuinya begitu Hideki memalingkan wajahnya dariku dan menghindar. Aku mengejarnya.



“Hideki. Hai.” Sapaku dengan senyum.



Hideki masih berjalan dan tak peduli kalau aku sedang susah payah mengejarnya.



“Selamat ya! Kelas kita menang. Bisa mengalahkan kakak kelas itu sangat hebat loh.” Kataku lagi.



Aku berusaha menahannya. Memberinya ucapan selamat dan tersenyum lebar. Akhirnya Hideki berhenti berjalan dan menatapku serius. Aku bingung.



“Kau tidak suka aku menang.”



“Eh? Apa maksudmu?”




“Maksudmu kak Matsu?”



“Ya.”



“A .... Aku tidak ....”



“Wajahmu memerah.”



Aku diam. Bukan begitu. Aku senang dia menang tapi aku juga tak mau kak Matsu kalah. Aku mengaguminya. Kak Matsu sangat hebat bermain sepak bola tapi ternyata Hideki juga sama hebatnya.



Tiba-tiba Hideki mendekat padaku. Wajahnya yang tampan sangat dekat dengan wajahku. Aku sampai harus mundur beberapa langkah karena takut ia akan melakukan sesuatu. Langkahku terhenti karena terpojok oleh dinding tembok. Ah tatapan matanya sangat tajam. Ia bahkan tak mengijinkan aku menghindari mata biru itu.



“Hi .... Hideki, ada apa?”



“Katakan padaku, kau mendukung siapa?” Tanya Hideki.



“Haha. Kenapa kau ini?” Tanyaku gugup.



“Aku yang memintamu datang kesini tapi kau mendukung lawanku?”



“I .... Itu tak terlalu penting. Kau sudah menang. Kenapa menanyakan hal seperti itu?”



Aku mencoba menjelaskan. Rupanya ia mendengar pembicaraan aku dan teman-teman tadi. Ia jadi berpikir aku datang mendukung kak Matsu. Mungkinkah dia kecewa? Wajahnya kelihatan marah tapi tertahan.



“Sebagai temanmu, aku juga sudah datang. Apalagi yang kau inginkan?” Lanjutku.



Aku akhirnya bisa menghindar dari mata biru itu. Aku sangat malu. Ini masih di sekitaran lapangan. Masih banyak orang berlalu-lalang. Hideki tak memikirkan kalau ini akan menarik perhatian?



Setelah sekian detik ia menatapku dan hanya diam saja. Akhirnya ia melepasku.



“Benar. Itu tidak penting. Aku yang terlalu berekspektasi banyak.” Katanya lirih.



“Ekspektasi apa?”



“Lupakan. Aku akan pergi.”



Aku bingung. Aku sudah menuruti keinginannya untuk datang. Apa ia benar-benar cemburu dan mengira kalau aku mendukung kak Matsu? Hideki berbalik.



“Eh tunggu! kau sudah menang. Sebagai teman, aku akan mentraktirmu. Aku ajak Kazuma juga. Bagaimana?”



Aku coba tahan lengannya sebelum ia pergi. Rasanya masih ada yang mengganjal diantara kami. Aku ingin mencairkan suasana dan membuatnya tidak berpikir lagi soal aku mendukung kak Matsu. Mentraktir adalah cara mudah menunjukkannya. Tapi ternyata ia menghindari tanganku.



“Aku tak mau berteman denganmu.”



“Eh? Apa maksudmu?”



“Kau pikir saja sendiri.”



“Hideki ....”



Hideki melepasku. Ia jadi kembali dingin seperti saat aku bertemu dengannya. Ia pergi tanpa melihatku sama sekali. Aku tak mengerti. Apa yang salah? Apa ia benar-benar cemburu? Lalu aku harus bagaimana?



***