
Hideki memilih jalan pulang dengan memutar sehingga kami menghabiskan waktu cukup lama. Belum lagi jalanan yang macet karena weekend. Positifnya adalah Hideki jadi ada waktu untuk istirahat. Ia tidur di pangkuanku cukup lama.
Kami sampai di rumahku jam 8 malam. Untung saja belum kemalaman. Hideki mengantarku sampai di depan rumah.
“Sampai jumpa besok, Hideki. Terima kasih untuk hari ini.”
“Agika.”
Hideki menahan lenganku saat aku mau masuk ke gerbang rumah. Ia menatapku dalam. Apa ada hal serius yang ingin ia katakan padaku?
“Kau benar-benar mencintaiku?”
“Eh? Ke .... Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Meskipun aku seperti ini?”
Seperti apa? Aku sudah berulang kali melihat pria yang kusukai ini. Ia baik. Meskipun dingin, ia sebenarnya peduli dengan orang lain. Ia juga tampan sekali. Matanya indah. Bibirnya manis. Tubuhnya bagus dan ideal. Belum lagi ternyata ia adalah seorang pewaris perusahaan besar. Entah itu masuk hitungan atau tidak tapi bagiku Hideki sangat sempurna.
“Aku tak sesempurna yang kau pikir.”
Astaga, ia bisa membaca pikiranku?!
“Aku tak punya kehidupan. Kau bisa melihat sendiri bagaimana ayahku mengatur hidupku. Takdirku sudah digariskan sejak lahir sebagai pewaris perusahaannya meski aku tak menyukainya. Faktanya ia tetap ayahku, dan aku adalah putranya, aku tak bisa lepas dari ikatan itu.”
Ia menunduk. Sepertinya ia memikirkan soal dirinya dan ayahnya. Kenapa ia tiba-tiba memikirkan itu?
Melihat wajahnya sekarang rasanya aku tak tega. Aku tak mau melihatnya bersedih. Ku sentuh wajahnya.
“Hei, kau punya kehidupan. Minimal kau punya kehidupan bersamaku sekarang. Bahkan sekarang aku adalah pacarmu. Kau punya aku.”
“Kau bersedia menanggung semua itu bersamaku?”
“Tentu saja. Tak peduli bagaimana kedepannya. Sudah kuputuskan aku akan selalu bersamamu.”
Aku tersenyum padanya. Aku mulai mengerti bagaimana perasaannya. Ia bukan anak SMA biasa yang hanya berkewajiban belajar dan bermain seperti aku dan Kazuma. Ia punya banyak masalah yang harus dihadapi. Aku hanya perlu mendukungnya.
“Jika besok aku tak datang ke sekolah, apa kau bersedia menungguku?” Tanyanya.
“Eh? Apa kepalamu sangat sakit?”
Kenapa ia bicara begitu? Seolah-olah ia memang merencanakan tak datang ke sekolah. Apa ia ingin istirahat karena tadi lelah bersamaku seharian?
“Aku hanya takut kau akan mencariku.”
“Apa maksudmu?”
“Pokoknya kau hanya perlu menunggu. Dan jangan mencari yang lain. Kau mengerti?”
Pria ini mulai possesif lagi padaku. Tapi bicaranya sangat serius. Bagaimana mungkin aku mencari yang lain? Aku baru saja menyatakan perasaanku. Ia takut aku akan bertemu kak Matsu saat ia tidak masuk sekolah? Lucu sekali.
Aku mencium pipinya pelan. Aku bisikkan hal-hal yang bisa membuatnya tenang.
“Kita baru saja berpacaran. Aku tak mungkin mencari yang lain. Hanya kau orang yang aku cintai.” Bisikku lembut ke telinganya.
Ia tertegun mendengarku. Aku berharap ia tenang tapi ia malah tersenyum. Mencengkeram kedua tanganku dan mendorongku ke tembok gerbang rumah.
“Benar. Agika hanya milikku.”
Wajahnya mendekat. Dekat sekali hingga aku tak berani menatapnya. Aku tutup mataku.
“Hi .... Hideki, kau mau apa.... Hmmph!”
Aku tak bisa bicara lagi. Hideki mengunci bibirku dengan ciumannya yang kuat. Ia menekannya lama sekali hingga aku tak bisa bernapas.
Hideki berhenti. Menyebut namaku dengan desahan yang berat, mengambil napas lalu mencium bibirku lagi sebelum aku bisa menolaknya. Kali ini ia melumat bibirku. Aku merasakan gerakan lidahnya di dalam mulutku. Seketika suhu tubuh kami menjadi sangat panas. Aku tak pernah mengalami ini sebelumnya.
“Ah .... Hideki. Uh ....”
Aku mengeluarkan desahan aneh saat ia mencoba memperluas area ciumannya sampai ke leherku yang terbuka. Kedua tangannya mulai menyentuh punggungku. Memelukku dan mendekatkan tubuhku padanya hingga tak ada jarak sesentipun. Ia tak berhenti menciumi leherku.
“Aku mencintaimu, Agika. Ah ....”
“Hentikan, Hi .... Hideki.”
“Katakan padaku kau juga mencintaiku.”
“Ah!”
Hideki membuka resleting belakang dressku lalu menurunkan lengan bajuku dengan sekali sentakan. Aku harus menahannya sisanya agar tak sampai terlihat bagian yang lain.
Ia mulai menghisap dan menggigit leher dan bahuku. Berusaha meninggalkan kiss mark disana. Bagaimana mungkin aku bisa menolak ini jika ia melakukannya sambil menyebut namaku dengan desahan yang indah?
“Katakan padaku, Agika ....” Bisiknya lirih.
“Hideki, aku mencintaimu.”
“Katakan lagi.”
“Sudah, le .... Lepaskan.”
“Katakan lagi, Agika. Ah ....”
Hideki mulai liar. Ia tak berhenti melakukan ini. Menciumiku berulang kali. Ia bahkan mulai meraba pahaku dengan tangannya yang lembut. Ia sangat bergairah. Aku harus menghentikannya sebelum terlalu jauh. Sebelum pak sopir atau orang lain melihat kami.
“Hideki, lepaskan. Sudah ....”
“Ah, Agi ....”
“Hentikan!”
Aku langsung mendorong dadanya hingga ia terkejut. Aku memalingkan wajahku yang merah karena baru saja bercumbu dengannya. Aku sangat malu dengan apa yang baru saja ia lakukan padaku. Ia langsung tersadar melihat diriku dengan penampilan seperti ini. Pria tampan ini langsung melepasku.
“Ma .... Maafkan aku.”
“Bagaimana jika ada yang lihat?"
“Maaf. Entah kenapa aku tak bisa menahannya.”
Ia langsung membantuku memperbaiki penampilanku yang sudah berantakan. Meskipun ia kelihatan malu, aku harus tetap membuat suasana tidak canggung. Hideki hanya mengikuti nalurinya sebagai laki-laki.
“I .... Istirahatlah. Kau pasti lelah.”
“Ya. Aku akan pulang.”
Hideki memalingkan wajahnya. Membuat situasi jadi kembali nyaman memang tak mudah setelah berciuman begitu. Ia langsung berbalik badan dan bersiap pulang. Aku meraih tangannya sambil tersenyum manis.
“Sampai jumpa besok.”
Melihatku yang tersenyum, ia langsung mendatangiku lagi. Ia mencium bibirku dengan lembut lalu melepasnya.
“Aku akan segera menemuimu lagi, Agika.”
Setelah itu ia pulang. Membiarkan aku mematung melihat mobilnya pergi menjauh sampai tak terlihat lagi. Eh? Ia membalas ucapan selamat tinggalku dengan bahasa yang aneh. Apa maksudnya? Ia tak mungkin bolos sekolah lama-lama lagi kan?
***