
Hari ini Agika lembur. Pekerjaannya sedang banyak. Ia sengaja menambah jam kerjanya di kantor seminggu ini karena ia ingin menghabiskan waktu dengan Hideki di akhir minggu. Pria itu mengajaknya berkencan, jadi Agika tak boleh memikirkan pekerjaan. Pokoknya harus selesai minggu ini juga.
Agika selesai membeli sekaleng kopi untuk mengurangi rasa kantuknya. Sebenarnya ini masih jam tujuh malam, tapi bekerja seharian membuatnya mudah lelah dan mengantuk.
"Kau Agika, ya?"
Agika menoleh saat seorang wanita memanggil namanya. Wanita berpakaian rapi dengan jas kemeja berwarna merah muda. Agika sedikit memiringkan kepalanya mengingat-ingat wajah wanita ini. Ia ingat pernah melihatnya.
"Ternyata ini benar kau! Beda sekali dibanding saat di pesta." Katanya lagi.
Reina berjalan mendekatinya. Agika baru mengingatnya setelah ia bilang pesta. Wanita ini adalah Reina. Wanita yang pernah ia temui di pesta yang ia datangi bersama Hideki.
"Oh, kau Reina."
"Tidak sopan sekali. Jelas-jelas kita ini berbeda."
Reina sedikit keberatan saat Agika memanggil namanya begitu. Agika masih tak mengerti.
"Berbeda apanya?"
"Sudahlah. Kau kerja disini?"
"Iya. Kenapa kau ada di sini?"
"Aku? Tentu saja menjadi narasumber di pesta itu. Pestaku akan jadi berita di salah satu majalah." Kata Reina dengan sombongnya.
"Oh, begitu."
Agika hanya menjawab singkat. Tadinya ia mencoba bersikap manis karena dia sepertinya teman Hideki, tapi ternyata sifatnya seperti ini. Ia mulai paham kalau wanita ini memang sengaja menyombongkan dirinya. Agika mulai tidak tertarik.
"Ternyata calon tunangan tuan Hideki hanya seorang staf di perusahaan penerbitan." Singgung Reina sambil melirik ID card Agika yang masih tertempel di bajunya.
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Ku pikir aku bersaing dengan siapa. Ternyata hanya seorang staf."
"Bersaing?"
"Ya. Bersaing."
"Maaf, kau tahu Hideki adalah kekasihku, kan?"
"Yap."
"Apa maksudmu dengan bersaing?"
Reina menghela napas. Ia mulai kesal dengan Agika yang tak paham maksudnya. Niatnya untuk memanasi perasaan wanita ini malah dia sendiri yang capek hati. Reina mendekat satu langkah pada Agika yang masih memasang wajah polosnya.
"Memangnya kenapa kalau dia kekasihmu? Kalian belum menikah, kan? Hideki masih bebas menjadi milik siapa saja."
"Kau …"
Ada apa dengan wanita ini? Selain sombong, Reina juga berusaha membuat masalah dengan Agika. Ia sengaja menyinggung perasaan Agika berkali-kali. Agika mulai merasa risih. Tapi karena ini di kantor, ia harus mengontrol emosinya. Agika tak mau menanggapi wanita ini. Ia mulai membalikkan badan.
"Lupakan saja. Hideki tak akan berpaling dariku. Kami saling mencintai." Kata Agika mencoba tenang.
"Cinta? Kau mencintainya karena ia seorang tuan muda?"
"Aku bukan dirimu. Aku mencintainya sejak SMA. Bahkan sebelum aku tahu kalau ia pewaris perusahaan. Sekarang kau paham bagaimana kami mempertahankan perasaan kami selama ini?"
Agika melirik Reina yang mulai tersulut emosinya. Ia sengaja menunjukkan siapa dirinya agar wanita itu menyerah. Tapi Reina malah terlihat kesal dan tersinggung. Ia memutar otak mencari pembenaran lain.
"Selama itu tapi sepertinya kau belum mendapat restu dari ayah Hideki ya?" Ucap Reina.
"Apa?" Agika menoleh.
"Tak ada media yang tahu saat Hideki mengumumkan ia akan bertunangan denganmu. Media pasti dibungkam. Berarti ayahnya tak ingin beritanya tersebar bukan?"
Kali ini Agika diam. Reina mendapatkan kelemahannya. Memang benar, selama ini kelemahan Agika adalah ayah Hideki yang keras. Agika tak pernah melihat kalau presiden direktur itu menyukainya. Hideki juga tak mau berusaha mencari cara agar ayahnya menyukai Agika.
"Asal kau tahu, ayahku adalah sahabat baik ayah Hideki. Kau mungkin lebih lama mengenal Hideki tapi aku bisa lebih cepat mendapatkannya." Lanjut Reina.
Reima tersenyum saat pendirian Agika goyah. Kelihatan sekali kalau gadis ini mulai turun kepercayaan dirinya. Di saat itu, Reina merasa sudah menang dari Agika. Ia langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan gadis itu dengan senyum kemenangan.
💜💜💜
Mobil hitam Hideki melaju pelan menuju apartemen Agika. Pria ini memang berniat menjemput Agika sejak tahu kalau gadis itu memaksakan diri untuk lembur sampai jam sembilan malam. Alhasil kelihatan sekali kalau saat ini Agika lelah. Sejak tadi ia diam saja. Wajahnya juga menunjukkan kalau moodnya sedang tidak bagus. Hideki meliriknya.
"Kau kenapa?" Tanyanya.
"Tak apa." Jawab Agika pendek.
"Kau lapar?"
"Aku sudah makan."
"Kau ingin apa?"
Sejak tadi Agika memang menjawab pertanyaan Hideki dengan singkat. Tak seperti biasanya. Biasanya ia banyak cerita. Meski Hideki pendiam, ia tak suka Agika yang seperti ini. Kini pria dingin itu yang harus memutar otak untuk memulai percakapan.
"Kau ada hubungan apa dengan Reina?" Tanya Agika sekarang.
"Apa?"
"Reina. Kau dekat dengannya?"
"Tidak. Hanya rekan bisnis."
"Klien?"
"Ya. Perusahaan ayahku bekerja sama dengan perusahaannya."
Wajah Agika mendadak makin suram. Ia memalingkan wajahnya dari Hideki dan memandang ke kaca jendela mobil di sampingnya.
Lampu merah di jalan menyala. Semua kendaraan mulai berhenti. Memberikan ruang untuk Hideki mencari tahu kenapa kekasihnya itu terlihat kesal setelah bertanya soal Reina. Dan kenapa Agika tiba-tiba membicarakan dia.
"Kau kenapa?" Tanya Hideki lagi.
"Tidak apa-apa." Jawab Agika dengan masih memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau bertanya soal Reina?"
"Memangnya tidak boleh?"
Hideki menghela napas. Agika masih bersikap kecut padanya. Padahal Hideki merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan. Kenapa gadis ini marah tanpa sebab?
Tangan Hideki meraih lengan Agika dan menariknya. Memaksa gadis itu menghadap padanya. Seketika Agika terkejut. Mata biru Hideki seakan mengurungnya agar tak berbalik arah lagi.
"Kau cemburu?" Tanya Hideki.
"A … apa?"
"Ah, kau cemburu rupanya."
Hideki langsung tahu saat melihat wajah Agika yang kesal. Agika cepat-cepat melepas tangan Hideki darinya sebelum pria itu menyadari rona kemerahan di wajahnya. Agika salah tingkah.
"Ti … tidak. Kenapa aku harus cemburu?"
Hideki tersenyum. Ini kali pertama ia tersenyum setelah sekian lama. Tapi senyum ini tak disukai Agika sama sekali. Kelihatan sekali kalau Hideki malah menggodanya.
"Benar. Kau tak perlu cemburu. Aku tak tertarik pada wanita lain."
"Tapi ayahmu pasti tertarik, kan?!"
"Hm? Apa maksudmu?"
"Tidak apa-apa!" Agika mengakhiri dengan kesal.
"Agi, apa yang terjadi?"
Hideki mencoba meraih wajah Agika lagi tapi moodnya kembali memburuk. Agika menolak tangan Hideki. Sebenarnya Agika kesal dengan ucapan wanita itu tapi ia tak mungkin mengatakan apa yang baru saja terjadi pada Hideki. Hubungan bisnis mereka bisa berakhir buruk. Ayah Hideki bisa saja marah dan kecewa pada putranya.
"Kenapa ayahmu tak menyukaiku?" Tanya Agika sambil menunduk.
"Kata siapa?"
"Hubungan kita masih rahasia karena ayahmu tak memberi izin. Kau bahkan tak berusaha …"
"Bukankah aku bilang aku ingin lebih serius?"
"Aku tak mengerti. Apa maksudmu?" Agika mulai heran.
Tin tin!
Suara klakson mobil di belakang Hideki menunjukkan kalau lampu sudah berganti hijau. Hideki sampai tak sadar. Ia kembali fokus menyetir.
"Aku tak bisa mengatakannya sekarang." Jawab Hideki.
Hideki hampir saja merusak rencananya sendiri. Ia memang akan melamar Agika. Tapi bukan sekarang. Ia sudah merencanakannya minggu depan. Lagipula ia juga sedang berusaha bernegosiasi dengan ayahnya, meski sebenarnya keputusannya menikahi Agika sudah tak bisa diganggu gugat.
"Kenapa? Apa karena ayahmu? Ayahmu menyusul kesini, kan?" Tanya Agika.
"Ayahku tak ada hubungannya dengan kita. Kau tak perlu khawatir."
"Tapi …"
"Agika, bukankah sudah ku bilang aku tak suka membicarakan pria lain saat bersama?"
Agika diam. Melihat Hideki yang kini memilih fokus menyetir membuatnya berdecak kesal. Ia sedikit kecewa dengan jawaban Hideki. Tapi ia malas berargumen lebih jauh. Lagipula matanya sudah mengantuk sejak tadi. Akhirnya ia menata diri. Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobilnya dan tertidur.
💜💜💜