Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 61



"Kau sudah siapkan semuanya?"


"Tenang saja."


Hideki dan Tadashi keluar dari mobilnya setelah pak supir membukakan pintu. Ia sampai di perusahaan Landscape yang lumayan besar itu. Ini kunjungannya yang kedua setelah pertemuannya dengan Reina waktu itu. Hideki berjalan menuju lobby diikuti Tadashi.


"Begitu selesai, kau urus sisanya. Aku akan … Uhuk!"


"Tuan muda?"


Hideki menutup mulutnya dengan lengan saat mendadak batuk. Ia berhenti sebentar ketika kepalanya terasa berputar-putar. Tadashi mendekat. Wajah Hideki memang sedikit pucat. Sejak tadi pagi Hideki memang tidak fit. Sekarang malah jadi batuk dan pusing.


"Kau benar-benar demam. Apa sebaiknya kita tunda saja?"


"Tidak. Aku ingin ini cepat selesai."


Hideki kembali berjalan menuju lobby. Disana ia sudah disambut oleh beberapa pegawai yang sepertinya memang bertugas menyambutnya. Mereka menawari Hideki untuk menemui Reina di kantornya tapi Hideki menolak. Ia sengaja ingin bertemu wanita itu di ruang umum, karena terakhir ia meeting privat dengannya, semuanya jadi kacau.


"Selamat pagi, tuan Hideki."


Hideki melirik saat namanya dipanggil. Reina datang dengan senyum manis yang bahkan tidak disadari oleh pria dingin ini. Seperti biasa, wanita itu memakai pakaian kantor yang cukup membuat mata semua pria memperhatikannya.


"Aku ingin bicara denganmu." Kata Hideki.


"Bicara soal apa? Pertunangan kita? Aku akan selalu meluangkan waktu untuk calon tunanganku."


"Uhuk! Uhuk!"


Hideki terbatuk lagi. Kali ini bukan hanya karena demam, ia cukup kaget Reina memanggilnya begitu. Ia merasa tak nyaman.


Reina yang melihat Hideki terbatuk langsung mendekatinya. Ia duduk di sampingnya.


"Kau sakit? Wajahmu pucat …"


"Jangan sentuh."


Baru saja Reina hendak menyentuh wajah tampannya, Hideki langsung menolak. Ia mengangkat tangannya dan menghalangi tangan Reina yang akan menyentuhnya. Pria itu juga langsung menggeser duduknya.


"Kau dan aku akan bertunangan minggu depan. Kau masih jual mahal begini."


"Kita tak akan bertunangan."


Melihat reaksi Hideki yang masih sedingin itu, Reina mencoba bersikap sabar. Lagipula sebentar lagi pria tampan itu akan jadi miliknya. Reina kembali berusaha menyentuh tangan Hideki.


"Hideki, kita sudah tidur bersama …"


"Jangan menyentuhku!"


Kali ini nada bicara Hideki meninggi. Reina kaget. Bahkan semua pegawai yang ada di lobby ikutan terkejut. Mereka bahkan mulai memperhatikan pembicaraan Hideki dan Reina.


"Lagipula aku tak pernah tidur denganmu." Lanjut Hideki.


"Kau masih menyangkalnya?"


"Kau menjebakku. Dan meminta pegawai hotel untuk memfoto diriku seolah-olah aku sedang tidur denganmu."


"Hideki, foto-foto itu memang kecelakaan. Tapi jangan mengarang cerita lagi."


"Kau ingin bukti, nona?" Sela Tadashi.


Kali ini Tadashi masuk ke percakapan mereka. Ia tersenyum tapi malah membuat Reina gusar. Sejak awal bertemu, senyum asisten pribadi Hideki ini memang terlihat berbahaya.


Tadashi mengeluarkan foto-foto panas itu kembali lalu meletakkannya di meja. Hideki memalingkan wajahnya. Ia tak mau melihat hal memalukan itu lagi.


"Kenapa kau memfotonya, nona?"


"Aku tak tahu siapa yang memfoto. Kau tahu, kan? Itu di hotel. Hideki dan aku sama-sama orang penting, tentu ada yang ingin merusak nama baik kami. Tapi aku dan Hideki memang …"


"Foto ini memang terlihat seperti kau dan tuan muda sedang bercumbu. Tapi jika dilihat lagi, tuan muda tak seperti pria yang bernafsu."


"Apa maksudmu?"


Tadashi tersenyum smirk. Ia mengangkat tangannya untuk memberi kode. Dan tiba-tiba seorang pria berseragam hotel datang dengan langkah ragu-ragu. Wajahnya pun terlihat takut.


"Kau mengenalnya, nona?"


"Tidak. Mana mungkin aku kenal dengan seorang pegawai hotel."


"Kalau begitu, biar aku tanya padanya. Apa kau mengenal nona Reina?"


"Sa … saya …"


Tadashi tersenyum padanya. Tapi senyum ancaman itu membuat sang pegawai makin takut. Hideki bahkan melirik pria itu dengan tatapan mata birunya yang tajam hingga pegawai hotel pun merasa terintimidasi.


"Malam itu saya diminta membawa tuan Hideki yang sedang pingsan ke kamar hotel dan memfotonya saat ia bersama nona Reina."


"Pingsan? Ah, jadi tuan muda pingsan. Pantas saja ia tak ingat apapun." Sindir Tadashi.


"Hei, bicara apa kau?!" Bentak Reina pada pegawai itu.


"Jadi tuan muda tak mungkin melakukan sesuatu denganmu, nona." Lanjut Tadashi.


Senyum Tadashi yang tak pernah hilang seakan menunjukkan kalau ia sedang diatas angin sekarang. Hati Reina sudah geram, tapi ia harus tetap tenang.


"Dia mengarang cerita. Kenapa kau percaya pada pegawai rendahan seperti dia?" Tanya Reina.


"Kau yang mengarang cerita." Kata Hideki.


"Sebelumnya, nona bekerja sama dengan pegawai nona untuk menjebak tuan muda dengan menaruh obat perangsang di minumannya, tapi karena dosisnya terlalu tinggi dan tuan muda tak pernah menyentuh obat semacam itu, ia malah pingsan." Jelas Tadashi.


"Dokter, jika kau ingin memojokkanku, kau harus punya bukti …"


"Sejak saat itu, tuan muda terus mengeluh pusing. Saya sudah melakukan medical check-up pada tubuh tuan muda. Saya punya datanya."


Hideki langsung melirik tajam wanita yang sejak tadi ada disampingnya itu. Ia merasa direndahkan karena dituduh meminum obat perangsang. Sejak tadi wanita itu juga tak mau mengakuinya. Reina yang merasa diperhatikan langsung tak bisa melanjutkan bicaranya. Hideki mendekatinya.


"Aku bisa dengan mudah memaksa pegawaimu bahkan sekretarismu untuk mengaku. Aku tak peduli pada kerjasama. Aku bisa menghancurkan perusahaan Landscape dengan mudah."


Reina gemetaran melihat mata biru Hideki yang bicara dengan dingin padanya. Ia merasa benar-benar diancam. Reina merasa sudah menakhlukan pria tampan ini tapi ternyata ia lebih dingin dan kejam daripada yang ia kira.


Reina makin gusar. Apalagi semua orang yang ada di lobby, dari pegawai sampai tamu, mulai memperhatikan pembicaraan mereka. Tak sedikit yang kemudian mencela Reina.


"Karena tuan muda pingsan, kau tak mungkin bisa menggodanya. Makanya kau minta seorang pegawai untuk memfoto dirimu dengan tuan muda yang pingsan seolah-olah kau tidur dengannya." Pungkas Tadashi.


"Jangan seenaknya bicara!"


"Aku punya banyak bukti yang akan mempermalukanmu. Tapi sebaiknya kau mengaku saja. Aku bisa menyelamatkan wajahmu, ayahmu dan perusahaannya." Kata Hideki.


"Atau saya laporkan ini sebagai percobaan pembunuhan? Tuan muda hampir overdosis karena obat perangsang yang kau berikan." Tambah Tadashi.


Reina menunduk. Ia tak bisa membantah lagi. Semua analisa dokter jenius itu memang benar. Semua rencananya memang gagal dari awal. Hideki malah pingsan dan tak bisa digoda meski sudah meminum obat semacam itu. Tapi karena Reina sudah jatuh hati sejak pertama bertemu pria tampan itu, kini ambisinya ingin mendapatkan Hideki apapun caranya. Makanya ia tetap membuat fitnah yang kejam seperti ini.


"Kenapa? Kenapa kau menyukai wanita seperti dia?" Tanya Reina yang masih menunduk.


Kali ini Hideki mau menatap wanita yang sudah kehilangan akal ini. Apa ia mencoba mencari pembenaran dengan memojokkan Hideki sekarang? Hideki hanya menghela napas.


"Bukan urusanmu."


"Apa lebihnya gadis staf editor itu dibanding diriku ..."


"Terlalu banyak. Aku takut kau akan iri." Jawab Hideki.


Hideki bangkit sebelum Reina menghujaninya dengan banyak pertanyaan tidak berguna. Tubuhnya juga demam sekarang. Ia merasa sia-sia jika meladeninya. Tak ada yang perlu tahu seberapa besar ia menyukai Agika. Lagipula ada hal lain yang perlu ia selesaikan.


"Nona, sebelum ada masalah ini, tuan muda sudah menjalin hubungan dengan nona Agika. Mereka akan menikah." Jelas Tadashi.


"Menikah?"


"Tuan muda dan nona Agika saling mencintai. Saya harap anda tidak melakukan hal yang merendahkan diri anda seperti ini lagi."


💜💜💜


Hideki merasa lega sudah menyelesaikan masalahnya. Ia akhirnya kembali masuk ke mobilnya yang terparkir di depan perusahaan Landscape. Setelah membukakan pintu untuk majikannya, pak sopir bersiap-siap menyalakan mesin. Hideki terpaksa datang dengan sopir karena badannya tidak sehat hari ini.


"Uhuk! Uhuk!"


"Anda tidak apa-apa, tuan muda?" Tanya sang sopir yang sudah duduk di depan kursi kemudi.


"Ya."


"Tuan presdir tadi menelpon saya, meminta anda agar segera pulang. Sepertinya tuan presdir sangat khawatir pada anda."


"Ia tak akan khawatir padaku."


Hideki menyandarkan tubuhnya di punggung kursi penumpang. Ia memijat-mijat kepalanya. Rasanya pusing, tubuhnya juga mulai terasa hangat dan berkeringat. Demamnya benar-benar memburuk. Hideki melepas jas kantornya dan melonggarkan dasinya.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Hideki yang malas menengok jam tangannya.


"Pukul 12.00, tuan muda."


Tadashi yang baru datang langsung masuk ke mobil. Cuaca panas diluar membuatnya merasa hampir terbakar. Mobil langsung berjalan pergi dari perusahaan Landscape.


"Ya ampun! Wanita itu benar-benar merepotkan. Ia menangis sepanjang …" Keluh Tadashi.


Tadashi mulai sadar kalau mobil ini tak berjalan ke arah menuju pulang. Ia langsung melirik Hideki yang sedari tadi memijat-mijat kepalanya. Wajahnya makin pucat saja.


"Kita mau kemana?" Tanya Tadashi.


"Bandara."


"Apa? Kau ingin menemui nona Agika?"


"Ya."


Tadashi melihat jam tangannya. Ini sudah jam dua belas lebih. Ke bandara mungkin masih sempat tapi jika melihat kondisi tuan mudanya sepertinya demamnya makin parah. Tadashi langsung menyentuh dahi Hideki.


"Astaga! Demammu setinggi ini kau masih mau pergi?"


"Singkirkan tanganmu dariku! Uhuk!"


Hideki langsung menghempaskan tangan Tadashi yang menempel di dahinya. Tadashi sedikit marah karena tuan mudanya bersikap keras kepala begini.


"Pak, putar balik. Kita pulang sekarang." Perintah Tadashi pada sang sopir.


"Apa yang kau katakan?! Aku ingin bertemu Agika."


"Aku tak mengijinkanmu …"


"Tak ada gunanya aku menyelesaikan ini jika dia tetap pergi! Aku ingin Agika kembali … ukh!"


Saat Hideki ingin mencegah sang sopir putar balik, tiba-tiba pandangannya kabur. Kepalanya mendadak terasa berputar-putar.


"Tu … tuan muda?"


Bruk!


Tubuh Hideki akhirnya roboh. Tadashi menahan tubuh tuan mudanya yang sudah terasa hangat itu. Pria itu hampir pingsan dan terlihat sangat lemah.


"Tuan muda?! Hei, bertahanlah!"


Hanya terdengar suara napas Hideki yang terengah-engah dan tidak teratur karena demam. Badannya juga terasa panas. Ia sudah tak bisa bertahan. Tapi ia juga tak mau Agika pergi. Ini kesempatan terakhirnya.


💜💜💜