Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 14



Hideki marah padaku. Setelah pertandingan itu, ia tak menyapaku. Aku juga tak menyapanya. Bagaimana bisa aku menyapanya saat ia sudah bilang tak mau jadi temanku? Aku tak mengerti kenapa ia marah. Setelah mendengar perkataan temannya Reiko ia kembali dingin dan tak bicara lagi. Padahal aku sudah berusaha untuk menjelaskan.


Hari ini aku juga tak bicara. Meski ia duduk bersebelahan denganku, dia memang berniat mendiamkanku. Aku mana mungkin mencoba mengawali pembicaraan. Aku bahkan tak tahu dia marah kenapa.



Aku berdiri dan keluar dari kelas membawa bekal makan siangku. Bosan. Tiap jam istirahat makan siang, Reiko selalu pergi ke ruang OSIS. Ia tak pernah lagi makan denganku karena kesibukannya. Dan Hideki, sejak tadi dia diam saja dan sibuk memainkan handphonenya. Aku tak mungkin mengajaknya makan siang denganku jadi terpaksa aku makan siang sendiri.



Aku berjalan menuju taman dekat sekolah seperti biasa. Bertengkar dengan satu orang saja tapi rasanya sepi sekali. Andai Kazuma sekolah disini.



“Hai, Agika.”



“Eh?”



Aku menoleh. Seorang laki-laki manis yang sedang menyapaku dan melambaikan tangannya padaku. Ia bahkan tak kelihatan habis kalah di pertandingan waktu itu. Ia sepertinya baru saja berpisah dari teman-temannya dan memilih untuk menyapaku. Dia mendekat.



“Mau kemana?” Tanyanya.



“K .... Kak Matsu. Aku mau makan siang.”



“Hee? Kebetulan sekali. Mau ku temani?”



Dia tersenyum sambil memperlihatkan sekotak kecil bekal makan siang yang ia sembunyikan dibalik tubuhnya. Ternyata ia juga membawa bekal. Aku langsung mengelak.



“Ti .... Tidak usah. Aku mau ....”



“Kenapa? Kau ada janji dengan seseorang?”



“Tidak.”



“Kalau begitu tidak masalah. Ayolah!”



Kak Matsu menarik lenganku dan membawaku duduk di kantin sekolah. Kami menikmati bekal bersama. Aku sebenarnya agak canggung duduk bersamanya. Bagaimana tidak, sepanjang koridor orang-orang terutama kakak kelas yang lewat memperhatikan kami. Mereka pasti heran kenapa aku bisa duduk dengan kak Matsu. Ah entah Hideki entah kak Matsu, jika bersama mereka aku tak bisa tenang. Tapi kak Matsu sepertinya tidak peduli sama sekali. Ia melahap makanannya tanpa berpikir apapun. Apa semua orang tampan tak peduli dengan pandangan orang-orang sekitar? Tak takut membawa sembarang gadis sepertiku ini berduaan? Ah mungkin kak Matsu mengajakku makan bersama karena kebetulan mendapat orang yang ssama-sama membawa bekal. Bukan karena apa-apa. Dia kan sudah berpacaran dengan Ayumi.



“K .... kak Matsu.” Panggilku.



“Hm?”



“M .... Memangnya kau tidak bersama Ayumi?” Tanyaku.



“Ayumi? Kenapa aku harus bersamanya?” Tanya dia balik.



“Eh? K .... Kalian kan berpacaran.”



“Haha. Memangnya kalau berpacaran harus selalu bersama? Tidak bukan.”



Dia tertawa lepas. Bukan itu yang ku maksud. Tapi bagaimanapun, rasanya bahagia melihatnya tertawa begitu. Semua perempuan di sini bilang dia sangat bercahaya. Cahaya itu sedang bersinar di sampingku sekarang.



“Lalu kau tak menemui Ayumi dan malah di sini bersamaku? Kalau Ayumi tahu, dia bisa salah paham.”



“Aku dan dia sedang ada masalah setelah pertandingan kemarin.”



“Eh?”



“Kau menonton pertandingannya kan, Agika?” Tanyanya penasaran.



“Iya. Apa karena kak Matsu kalah? Aku juga sedikit kecewa kak Matsu kalah kemarin.”



Aku hampir lupa soal pertandingannya. Kak Matsu kalah melawan Hideki. Karena bertengkar dengan pria dingin itu, aku jadi tak ingat kekalahan kak Matsu. Harusnya aku sedikit memikirkannya, kenapa malah Hideki yang terus muncul di pikiranku? Tak di sangka kak Matsu malah ada masalah dengan Ayumi. Bertengkarkah? Apa karena pertandingannya?



“Maaf ya membuatmu kecewa.” Kak Matsu tersenyum.



“Eh? Aku?”



“Tapi Hideki memang hebat. Dia sangat berbakat. Aku harap dia bisa masuk tim sepak bola sekolah. Bukankah kau dekat dengannya?”



“Dekat? Ah kami memang berteman.”



“Kau hebat bisa berteman dengan orang dingin seperti dia. Haha.”



“Haha. Begitulah. Ngomong-ngomong soal Ayumi, apa tidak...”



“Hanya salah paham kok. Aku akan segera menyelesaikannya. Kau tak usah khawatir.” Katanya.



“Eh?”



“Saat ini aku memang tak ingin mengganggunya dulu. Aku juga butuh ketenangan jika ingin menyelesaikan masalah.”



Aku memperhatikannya. Ia tak mau aku tahu masalah ini dan segera mengkonfirmasi jika itu hanya salah paham. Dia juga ingin memberi Ayumi waktu untuk menenangkan diri. Ia juga menerima kekalahannya dan memuji Hideki sebagai lawannya. Kak Matsu benar-benar dewasa. Ayumi pasti beruntung memilikinya. Ternyata ada laki-laki sesempurna dia ya.



“Baiklah. Semoga kalian baik-baik saja.”



“Makasih ya, Agika. Kau sangat baik. Ehmm minggu ini sibuk tidak?”



“Eh? Aku belum ada acara sih.”



“Mau nonton denganku? Aku punya dua tiket nganggur. Haha.”



Nonton? Berdua? Apa itu artinya dia mengajakku pergi berkencan? Tapi kan kak Matsu sudah punya pacar. Kenapa tidak dengan Ayumi saja? Aku masih terdiam dan berpikir.



“Aku dan Ayumi sedang bertengkar. Rasanya ingin refreshing sejenak. Anggap saja sebagai balasan karena sudah menemaniku menghabiskan bekal.” Lanjutnya.



Ia seperti membaca pikiranku. Tak terasa bekal kami sudah habis. Aku tersenyum melihatnya tersenyum sambil berterima kasih padaku. Rasanya menenangkan. Tak apa kan sekali-kali menonton dengan kak Matsu? Kurasa kami bisa berteman baik. Aku juga sedang suntuk karena pertengkaranku dengan pria dingin itu.



“Aku ....”



“Agika tak akan pergi denganmu.”



Belum sempat aku menjawab tawarannya, seseorang mengagetkanku dan berdiri di belakang kak Matsu. Mata biru itu menatapku. Tatapannya tajam. Kak Matsu juga sedikit kaget. Kak Matsu langsung menoleh.



“Ah Hideki, ada apa? Kau mencari Agika ya?” Tanya kak Matsu ramah.




Hideki hanya melirik kak Matsu. Ia masih fokus terhadapku. Aku tak mengerti apa maunya tiba-tiba datang menemui kami dan bicara sinis begitu pada kak Matsu. Padahal kak Matsu sudah bicara dengan ramah dan baik.



“Hideki, jangan bicara begitu” Kataku.



“Kenapa? Kau mau pergi dengan laki-laki yang sudah punya pacar?”



“Kak Matsu hanya temanku.”



“Jadi begitu caramu berteman? Kau ajak dia berkencan?”



“Kencan? A ... Apa yang .... Ah, ini bukan kencan!”



Aku mencoba menjelaskan sampai terbata-bata. Bagaimana Hideki bisa bicara tidak sopan begitu? Aku mulai sedikit kesal padanya.



“Kau cemburu, Hideki? Kau hanya teman Agika sama sepertiku kan?”



Kak Matsu mulai ikut dalam perdebatan kita. Ia tersenyum manis saat bertanya seperti itu pada Hideki. Aku langsung mengenyitkan dahiku. Ini bisa jadi keributan. Hideki memang sedang bermasalah dengan malaikat ramah ini. Kemarin saja ia tersinggung padahal aku tak bilang kalau aku mendukung kak Matsu. Apalagi sekarang ia sedang melihatku bersama kak Matsu.



“Aku tak bicara denganmu.”



Benar kan? Hideki sudah mulai kesal. Ia mencengkeram lenganku dan menarikku pergi dari kak Matsu.



“Lepaskan. Hideki, apa-apaan kau ini?”



Aku sudah memohon agar Hideki melepaskan tanganku tapi ia tak menggubris. Ia diam sambil terus menarikku menjauh dari kak Matsu. Kak Matsu hanya mematung dan memasang wajah kebingungan.



“Lepaskan!” Kataku.



Hideki akhirnya melepaskan lenganku. Sejak kemarin ia selalu main tarik menarik tanganku seenaknya sampai merah begini. Aku masih tak mau menatap matanya.



“Kau .... Kau sudah puas mendiamkanku? Kau memanfaatkan ini untuk menghindar dariku dan mendekati pria itu?” Tanya Hideki.



“Aku tidak mengerti apa maksudmu. Lagi pula kau yang mendiamkanku. Kau yang marah duluan.”



“Benar. Aku marah. Kau tahu kenapa? Aku mendengarnya, kau kecewa dia kalah. Apa itu berarti kau tidak suka aku menang pertandingan kemarin?”



“Astaga, kau masih membahas ....”



“Tentu saja aku membahasnya. Kau menyukainya!”



Jika aku bicara dengan nada keras, Hideki malah bersikap makin mengeras. Aku memperhatikannya lagi. Sejak pertandingan itu sikapnya sangat berbeda. Dingin dan sedikit temperamental. Meski wajahnya sangat tampan tapi ia sangat berbeda dengan kak Matsu. Kak Matsu ramah sekali, dia dingin bagai es. Senyum pun jarang. Dia bahkan tak bisa bersikap dewasa jika bertengkar. Lagi pula kenapa jika aku menyukai kak Matsu? Kenapa ia mulai ikut campur dengan perasaanku?



Eh! Aku tersentak. Semua pertanyaanku tentang Hideki yang marah-marah tidak jelas hanya ada satu jawabannya. Hideki cemburu. Dia tak suka aku mendukung kak Matsu. Ia kecewa aku datang bukan untuknya. Ia kesal melihatku berduaan dengan kak Matsu. Tapi aku masih tidak percaya ini. Apa benar Hideki cemburu? Jika begitu berarti apa dia punya perasaan padaku?



“Memangnya kenapa kalau aku menyukainya?” Aku mencoba bertanya.



Hideki kelihatan terkejut. Ia memundurkan langkahnya. Menjauh dariku lalu memalingkan wajahnya. Ia masih tak mau bicara. Aku ingin mendengarkan kata hatinya daripada dia ngoceh-ngoceh tidak jelas. Jika dia benar-benar cemburu artinya dia menyukaiku.



“Kau sungguh menyukai pria tukang senyum itu?”



“Itu bukan urusanmu.”



“Benar. Itu bukan urusanku. Aku pergi sekarang.”



“Tunggu!”



Aku menahannya. Lagi-lagi tubuhku bergerak sendiri seolah tak mau pria dingin ini meninggalkanku dengan penuh amaraj begini. Aku ingin kejelasan. Hideki hanya melirik dibalik tubuhnya.



“Sebagai teman, aku sudah berusaha mendukungmu. Apa yang kurang sampai kau marah padaku?” Tanyaku lagi.



“Aku sudah bilang aku tak mau berteman denganmu.”



“Kenapa? Kau cemburu?”



Hideki langsung mencengkeram lenganku dan mendorongku ke tembok. Aku menutup mataku. Aku takut ia akan memukulku tapi nyatanya ekspresi wajahnya berubah. Ia kelihatan lebih tenang tapi matanya masih menatapku tajam.



“Ya! Aku cemburu! Aku tak bisa melihatmu bersama pria lain. Apa kau mengerti sekarang?”



“Itu artinya kau ....”



“Aku menyukaimu, Agika.”



“Eh?”



“Aku tak mau hanya menjadi temanmu saja.”



Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku sungguh terkejut. Sekian detik kami hanya saling menatap. Jantungku rasanya mau berhenti. Hideki menyatakan perasaannya padaku? Laki-laki ahli waris perusahaan besar ini tidak sedang bercanda bukan?



“Aku melihatnya. Kau sangat baik padaku sejak awal. Kau tak pernah menyerah berteman denganku meskipun kau tak pernah tahu siapa sebenarnya aku. Kau bahkan meminta Tetsuya agar mengajakku bergabung di tim sepak bolanya kan?” Jelasnya.



“Eh? Kau tahu?”



“Aku suka ketulusanmu padaku, Agika. Bisakah kau menyukaiku juga?”



Aku tak bisa menjawabnya. Lidahku kelu. Aku harus bilang apa? Sementara ia terus menatapku menunggu aku bicara. Aku memalingkan wajahku karena malu. Dia pasti melihat wajahku yang merah seperti tomat.



“Kau tak menyukaiku? Kau suka dengan laki-laki rambut coklat itu?” Tanya Hideki sekali lagi.



Aku menatapnya. Sorot matanya sedikit meredup. Apakah ia kecewa aku tak mengatakan apapun? Aku bahkan belum menjawabnya. Pria tampan ini membuatku tak bisa berpikir.



“Agi ....”



Tiba-tiba ia mencoba menyentuh lenganku. Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh hingga ia kaget. Aku tak berani menatapnya lagi. Aku segera pergi sebelum aku makin kacau.



“Ah, jam istirahatnya sudah habis. Aku harus masuk kelas. Sampai jumpa, Hideki.”



***