Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 40



Aku akan segera keluar kantor.


Agika berjalan dengan sedikit tergesa-gesa setelah membalas pesan Hideki. Tiba-tiba saja Hideki menjemputnya pulang. Entah darimana ia menemukan alamat kantor penerbitan ini. Mungkin dokter pribadinya yang melacak.


Agika memang sibuk sehingga belum ada waktu untuk bertemu pria itu setelah pertemuannya di bandara. Sepertinya menjemputnya pulang adalah cara terakhir Hideki agar bisa menemuinya.


Tanpa perlu menoleh kesana kemari, Agika langsung menemukan pria tampan itu sedang menunggunya di depan kantor dengan mobil Porsche hitam. Ia masih mengenakan jas kantornya. Sepertinya ia juga baru pulang kerja. Kehadirannya menarik perhatian semua orang. Siapapun yang melihat Hideki pasti penasaran mengapa pria tampan nan kaya ini ada di kantor penerbitan kecil begini. Agika juga sedikit takjub pacarnya itu mau menunjukkan diri.


"Hideki." Sapa Agika.


"Aku sudah lama menunggumu."


"Maaf, tadi ada sedikit urusan penting."


Agika mengamati sekitarnya. Ia sedikit malu ketika pandangan semua orang beralih padanya. Apalagi saat Hideki meraih tangannya dan mengajaknya masuk ke mobil. Rasanya Agika ingin menutupi wajahnya saja. Berharap tak ada yang melihatnya pergi dengan pria mencolok ini. Atau setidaknya tak ada gosip tentangnya besok pagi di kantor.


"Kau kenapa?" Tanya Hideki sambil fokus menyetir.


"Apa?"


"Kau malu?"


"Oh, aku hanya takut mereka melihatku pergi denganmu. Aku tak mau jadi bahan gosip di kantor."


"Mereka tak akan mengenaliku."


"Bagaimana tidak? Kau kelihatan mencolok sekali dengan penampilanmu, mobil mewah dan …"


Agika menahan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Ia tak mungkin menyebutkan ketampanan Hideki dan semua yang ada di dirinya yang nyaris sempurna.


"Meski tak ada yang mengenalimu, orang-orang pasti akan mencari tahu. Bukankah kau ingin menyembunyikan siapa dirimu?" Lanjut Agika.


"Aku hanya tak suka mereka tahu statusku."


Agika mengangguk. Benar, dulu Hideki tak mau orang-orang tahu kalau dirinya adalah anak orang kaya, calon CEO dan pewaris perusahaan besar. Ia ingin teman-temannya di sekolah berteman dengannya tanpa batasan status. Bahkan untuk mengantarnya ke sekolah saja, pak sopir harus parkir cukup jauh dari sekolah agar tak ada yang curiga.


"Tapi aku tak pernah ingin menyembunyikan hubungan kita. Jadi kau tak perlu ikut bersembunyi." Kata Hideki lagi.


"Eh? Maksudmu …"


"Sudahlah. Aku ingin makan malam denganmu." Kata Hideki mengalihkan pembicaraan.


"Makan malam?"


"Sudah lama kita tidak makan bersama."


Akhirnya mereka sampai di sebuah restoran mewah. Lagi-lagi Agika takjub sekaligus heran kenapa Hideki membawanya ke restoran mahal. Agika bahkan tak tahu uang di dompetnya cukup untuk membayar atau tidak. Ini memang hal mudah bagi Hideki, tapi tak biasanya pria itu mengajaknya ke tempat berkelas begini.


Sambil menunggu makanan datang, Agika mencoba mencari topik pembicaraan.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanyanya basa-basi.


"Tak ada yang menarik."


"Sungguh?"


"Aku di sini karena ingin bertemu denganmu. Selebihnya aku hanya ingin membantu kak Ayashi yang akan menikah."


Agika terdiam. Hideki memang sejak dulu tak pernah menyukai statusnya sebagai pewaris perusahaan. Tapi ia menurunkan egonya untuk kembali ke Jerman dan fokus belajar menjadi CEO demi ayahnya. Setelah lima tahun, sepertinya ia belum sepenuhnya siap untuk mengemban tanggung jawab itu.


Kring kring kring!


Handphone Hideki berbunyi. Ia segera mengambilnya dari saku celana. Wajahnya berubah saat melihat display handphonenya, membuat Agika terheran.


"Ada apa?" Tanya Agika.


"Aku permisi sebentar."


Hideki beranjak dari tempat duduknya. Ia menjauh untuk menerima telepon tepat saat pelayan mengantarkan makanan. Tapi Agika tak lagi tertarik dengan menunya. Ia lebih tertarik melihat wajah Hideki yang sedang menelpon di sudut restoran.


"Aku sedang ada acara. Ada apa?" Tanya Hideki pada orang yang menelpon.


"Acara apa? Tadashi bilang kau pulang kantor lebih awal."


"Ya. Aku pergi dengan Agika."


"Sudah ku duga kau mengambil kesempatan untuk bertemu dengannya."


"Tentu saja. Agika pacarku."


"Terserah. Aku hanya ingin bilang padamu untuk datang ke pesta yang diadakan perusahaan Landscape."


"Aku tidak tertarik."


"Hideki, kita sedang menjalin kerja sama. Apalagi direktur Ogawa adalah rekan bisnisku sejak lama. Kau tahu seni berbisnis bukan?"


Hideki terdiam. Ayahnya memang selalu tahu banyak hal tentang dirinya, meski terpisah jarak. Apalagi jika dokter pribadi itu ikut dengan Hideki kesini. Ia bisa jadi asisten sekaligus mata-mata berbahaya untuk ayahnya.


"Kalau begitu batalkan saja kontraknya." Jawab Hideki.


"Apa katamu?! Hideki, jangan membuat masalah denganku!"


"Jika kau tak suka, kesini saja dan urus sendiri."


"Begitu? Lalu apa kau mau kembali ke Jerman?"


Hideki tersentak. Bagi ayahnya, kehadiran Hideki ke kota ini adalah untuk mengurusi perusahaan. Jika Hideki melepaskan ini, berarti ia juga harus mau kembali ke Jerman. Itu berarti ia tak bisa bertemu Agika lagi. Hideki melirik Agika yang menatapnya dari jauh.


"Sebaiknya kau datang ke pesta itu, atau aku akan menjemputmu pulang!" Ancam sang ayah.


"Kau …"


Tanpa bicara apapun, sang ayah langsung menutup teleponnya. Itu artinya ia tak mau berdiskusi lagi. Mau tak mau Hideki harus menurutinya.


Agika masih fokus dengan Hideki yang kembali duduk. Wajahnya berubah setelah menerima telepon. Tak biasanya Hideki menyingkir saat bicara di telepon.


"Benar-benar seenaknya." Gumam Hideki kesal.


"Ada apa? Siapa yang menelpon?"


Hideki hanya menatap Agika yang masih menunggu jawabannya. Ia kelihatan peduli, tapi Hideki tak mau mengatakan kalau itu ayahnya. Itu hanya akan merusak makan malam yang sudah disiapkan Tadashi sejak kemarin.


"Agika, bisakah kau menemaniku datang ke sebuah pesta?"


"P … pesta?"


"Pesta dari perusahaan yang menjalin kerja sama denganku."


Agika sedikit terkejut. Tiba-tiba Hideki mengajaknya ke datang ke sebuah pesta. Agika tahu ini pasti bukan sembarang pesta. Dengan pekerjaan Hideki yang seperti ini, pestanya pasti didatangi pebisnis-pebisnis kelas atas. Dan pesta seperti itu memang selalu butuh pendamping.


"Apa tidak apa-apa?" Tanya Agika.


"Aku tidak tahu. Tapi aku harus datang demi si tua egois itu."


Hideki menyangga kepalanya di atas meja. Ia mendadak pusing memikirkan ini. Agika yang melihatnya juga jadi tidak tega. Apa ia dipaksa datang? Si tua egois yang dimaksud pasti presdir besar alias ayah Hideki. Agika tahu yang bisa memaksanya hanya ayahnya. Apa itu tadi telepon dari ayahnya?


Agika menyentuh tangan Hideki. Hideki langsung melihat ke arahnya.


"Baiklah. Jemput aku ya." Kata Agika sambil tersenyum.


"Kau mau?"


"Jika bukan aku, apa kau mau pergi dengan wanita lain?"


Agika menyunggingkan senyum manisnya. Sesungguhnya ia hanya ingin mood pria tampan itu kembali membaik. Apalagi makanan sudah datang. Agika tak mau tiba-tiba tak selera makan hanya karena hal begini.


"Tentu saja aku hanya ingin pergi denganmu." Jawab Hideki malu.


"Haha. Kalau begitu, mari kita makan."


Agika tertawa kecil, hal yang membuat Hideki terpesona. Sudah lama ia tak melihat senyum indah pacarnya. Ternyata rasanya masih sama. Senyum Agika selalu bisa membuat hatinya membaik.


💜💜💜